
Happy reading...
Alunan musik yang diputar radio terdengar sangat merdu. Menemani sore Alena dalam mobil yang dikemudikan Riky, kekasihnya. Semakin cepat laju mobil, semakin kencang pula debaran jantung yang dirasakan Alena.
Di sisi lain, sesekali Riky menoleh pada gadis manis yang duduk di samping kursi kemudinya. Gadis itu nampak gugup dengan tatapan yang tertuju ke luar jendela.
"Yang, udah dong santai aja. Mamaku nggak galak kok." Ucapnya dengan tangan yang menggenggam tangan Alena.
"Bagaimana kalau Mama Kak Riky tidak menyukai Lena?"
"Nggak mungkin, Len. Mama itu welcome sama siapa saja. Percaya deh," ujar Riky mencoba menenangkan.
Alena kembali melengoskan wajahnya. Dari yang ia dengar, ayah Riky merupakan salah seorang pejabat di pemerintahan. Dan ibunya, aktif dengan berbagai macam kegiatan yang menyangkut pekerjaan suaminya termasuk juga kegiatan sosial.
Selama ini mereka tinggal di rumah dinas. Dan sejak kemarin, mereka ada di rumah pribadi yang selama ini ditempati Riky.
Alena terkesiap, saat seorang pria membungkuk lalu membukakan pintu gerbang sebuah rumah. Berbeda dengan Riky yang sudah sering ke rumahnya, ini pertama kalinya Alena datang ke rumah pria tersebut.
Halaman rumah nampak luas dengan kolam ikan berada di salah satu sisinya. Bagunan rumah juga nampak megah dengan memadukan desian etnik klasik dan kontemporer. Sangat jauh dengan keadaan rumahnya yang terkesan sederhana. Membuat Alena merasa semakin gugup saja.
"Hei, kita sudah sampai. Ayo turun, Sayang," Ajak Riky lembut, menyadarkan Alena dari lamunannya.
Alena yang tersipu pun merapikan penampilannya. Ia mendelik pada Riky yang sedang memperhatikannya dengan tatapan berbinar.
"Selain cantik, kamu juga manis. Senyum ini yang terkadang mengganggu tidurku dan membuatku tidak sabar ingin segera bertemu." Pujinya dengan ujung jari menyentuh pipi Alena.
"Pujiannya di simpan aja. Alena lagi deg-degan nggak karuan, jadi pujian Kak Riky nggak akan membuat Lena meleyang." Sahutnya.
"Memangnya kamu hantu, kok bisa melayang?" kelakar Riky mencoba mencairkan suasana.
"Kalo Alena hantu, Kak Riky apa dong?"
"Aku pemburu hantu. Biar ku masukkan kamu ke dalam botol dan kubawa kemanapun aku pergi." Sahutnya santai.
Riky turun dari mobilnya lalu memutar untuk membukakan pintu Alena. Pria itu nampak bahagian karena akan memperkenalkan wanita yang dicintainya pada kedua orang tuanya.
Riky menggandeng tangan Alena memasuki rumahnya. Tidak ada siapapun di dalam rumah. Kemudian, mereka menuju teras di samping rumah.
"Mang! Coba pindahkan pot itu dan bersihkan rumput-rumput disekitarnya. Sekarang sudah mulai musim hujan, jadi rumput cepat sekali tumbuh. Potong juga ranting-ranting yang sudah tua, jangan dibiarkan begitu nanti ranting baru susah tumbuh." Tegasnya.
Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita yang sedang memberikan perintah. Dan sepertinya itu suara dari mamanya Riky.
"Sore, Ma, Pa!" sapa Riky.
__ADS_1
"Sore, Nak! Siapa itu?" tanya Papa Riky ramah.
"Sini, Sayang!" ajak Riky pada Alena yang masih berdiri diambang pintu.
Kedua orang tua Riky saling menatap. Mendengar panggilan Riky pada wanita muda tersebut membuat mereka bisa menebak siapa gerangan dia.
"Sore Om, Tante..."
Alena mencium punggung tangan keduanya secara bergantian.
"Sini duduk, Nak! Ini pasti Alena, betul kan?" tebak Papa sambil mempersilahkan Alena duduk di kursi yang bersebelahan dengannya.
"Iya, Om. Saya Alena," sahut Alena kikuk.
"Jangan panggil 'om', panggil saja 'papa'." Pintanya.
Alena merasa senang karena ternyata papanya Riky sangatlah ramah. Keramahan pria paruh baya itu mengurangi sedikit ketegangan yang dirasakan Alena. Akan tetapi tidak begitu dengan mamanya Riky.
Wanita paruh baya yang terlihat lebih muda dari usianya itu sedari tadi menatapnya lekat dan membuat Alena merasa tidak nyaman.
"Berapa umurmu?" tanya Mama datar.
"Sembilan belas tahun, Ma." Sahutnya ragu.
"Sebentar lagi dua puluh, Ma. Yang pentingkan sudah cukup umur," sahut Riky enteng.
"Dua puluh tahun apanya? Lihat mukanya, seperti masih anak sekolah. Coba Papa perhatikan deh! Jangan-jangan kamu bohongin kita ya?" Tuduhnya.
"Nggak lah, Ma. Bagus dong kalau Alena terlihat lebih muda, jadi imut ya kan?"
"Iya, dia kelihatan imut-imut. Nah kamu?" Mama menatap penuh tanya pada putranya.
"Amit-amit, hehe..."
Alena yang menjawab spontan itu cepat-cepat membungkam mulutnya.
"Ah, dasar ini mulut kok nyamber aja," batin Alena merutuki dirinya sendiri.
Alena merasa jantungnya berhenti berdetak saat matanya beradu dengan tatapan tajam dari mamanya Riky. Sementara itu, Papa yang sudah tidak bisa menahan tawanya terbahak dan ditimpali kekehan oleh putranya.
"Maaf," ucap Alena sambil tertunduk.
"Nggak apa-apa, Len. Santai aja," sahut Riky yang mengacak lembut rambut Alena.
__ADS_1
"Iya, benar. Dia imut-imut, kamu amit-amit, Rik." Kekehnya sambil mengusap wajah.
Alena tersenyum kecut melihat dua pria yang sedang terkekeh itu. Berbanding terbalik dengan Mama yang mendelik memperlihatkan rasa tidak sukanya.
"Papa udah dong. Anak sendiri kok ditertawakan." Protesnya.
"Iya, udah-udah. Tapi kok susah berhentinya," sahut Papa yang kembali terkekeh hingga tubuhnya berguncang.
Melihat suami dan putranya yang merasa bahagia, diam-diam Mama melirik Alena. Gadis muda itu terlihat seperti bingung harus berbuat apa.
"Ma, Alena sudah lama kehilangan Mamanya. Ia tumbuh dan besar dalam asuhan Om Evan yang sibuk dengan pekerjaannya. Riky harap, Mama bisa memaklumi jika nanti melihat banyak kekurangan dari Alena."
Mama mengingat kembali ucapan putranya. Sejauh ini kekurangan yang dibicarakan Riky belum nampak olehnya. Dan kesan pertamanya pada gadis ini tidaklah buruk.
Seorang pelayan datang menyuguhkan minuman. Dengan ramah Alena mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Dia anak yang sopan kok. Kenapa Riky selama ini sepertinya ragu membawanya ke rumah?" batin Mama.
"Ayo diminum, Nak. Ini juga, makanlah. Jangan sungkan, anggap papa ini seperti Papamu sendiri. Begitu juga dengan Mama. Iya kan, Ma?"
Mama hanya menyeringai kecil sambil menyeruput teh. Alena yang sudah dipersilahkan pun menyeruput minumannya.
"Kapan kalian akan menikah?"
Uhhuk... Uhhuk...
Alena dan Mama secara bersamaan tersedak. Riky menepuk pelan punggung Alena sambil menatap pada sang mama.
"Pelan-pelan dong, Ma. Kok bisa barengan? Jangan-jangan kalian sudah sehati." Kelakarnya.
"Benar, Rik. Mama kenapa? Yang ditanya kan Alena, kok Mama ikut-ikutan."
"Siapa yang ikut-ikutan? Alena yang ngikutin Mama. Iya kan? Hayo ngaku," ujar Mama tak mau kalah.
Alena bingung dengan situasi yang sedang dihadapinya. Riky dan kedua orang tuanya nampak sedang tersenyum dan Alena belum paham apa yang membuat mereka tersenyum.
"Nggak kok, Tante. Alena nggak ikut-ikutan." Gelengnya.
Sontak raut wajah ketiganya yang semula tersenyum jadi menatap tak percaya pada Alena. Semenit kemudian, Riky dan Papanya kembali tergelak. Sedangkan Mama menatapnya dengan kedua manik yang membulat sempurna.
Alena semakin bingung harus berbuat apa. Gadis itu hanya bisa nyengir dan menggaruk pelan tengkuk lehernya.
"Maaf, Tante." Ucapnya pelan.
__ADS_1