Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
acara malam ini


__ADS_3

Happy reading...


Senja yang menjingga terlihat indah di langit kota London. Deretan gedung yang menjulang terlihat mempesona dengan lembayung sebagai backgroundnya.


Disalah satu gedung itu, ada Amiera yang sedang menikmati perawatan kecantikan dari seorang beautician yang didatangkan langsung ke penthousenya.


Sebenarnya Amiera tidak berkepentingan di acara malam ini. Acara yang hanya dihadiri oleh para petinggi perusahaan Al-Azmi dan juga klien pentingnya. Namun karena Daddy Salman tidak ada yang mendampingi, maka Amiera pun ikut ke acara tersebut.


"Amie, nanti kamu berangkat sama Daddy dan Zein ya."


"Lho, Kak Alvin sama siapa?"


"Kakak mau ajak Rendy pakai mobil kamu," sahut Alvin.


Amiera tersenyum tipis. Mabil sport miliknya memang hanya untuk dua orang. Dan ia merasa senang karena Alvin mau mengajak Rendy bersamanya.


Menjelang malam, Bella datang menjemput Tuan Salman. Bella yang biasa tampil cuek terlihat anggun saat mengenakan gaun.


Amiera bahkan sampai memujinya berkali-kali. Begitu juga dengan Alvin. Pria itu mengacungkan dua ibu jarinya untuk Bella. Membuatnya bersemu karena malu.


Lalu bagaimana dengan penampilan Amiera? Jangan ditanya. Tampil natural pun gadis itu terlihat cantik, apalagi dengan sapuan make-up dari ahlinya. Bella sampai tertegun dan berdecak kagum saat melihatnya.


"Vin, kalau boleh aku tahu siapa yang lebih cantik dari dua adikmu?" tanya Bella.


"Adikku ada tiga, Bel. Selain Meydina dan Amiera, ada lagi Alena." Sahutnya.


"Alena? Apa Alena yang waktu itu datang bersama orang tua Rendy?"


"Iya. Alena yang itu," sahut Amiera.


"Benarkah dia adikmu? Bukankah dia sepupunya Rendy?" Bella terlihat bingung.


"Memang iya. Rendy itu putra pamanku."


"Apa dia juga Al-Azmi?" Bella semakin tidak mengerti.


"Bukan. Ceritanya panjang, tapi yang pasti Rendy itu sepupuku dari Papa. Sudahlah, kau tidak akan paham. Tanyakan pada Mike jika kau ingin lebih jelas lagi," ujar Alvin sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, nanti akan kutanyakan. Lalu siapa yang cantik diantara mereka? Aku tahu mereka bertiga cantik. Tapi jika seperti ini, mengenakan gaun. Siapa yang lebih cantik?"


Alvin nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya. Sementara itu Amiera hanya tersenyum tipis melihat sikap kakaknya tersebut.


"Ah, sebaiknya kita tanyakan saja pada Zein," ucap Alvin merasa terselamatkan dengan kedatangan Zein.


Kebetulan Zein yang baru keluar dari kamar kakeknya menghampiri mereka.


"Auntie siapa?" tanya Zein polos. Anak itu tidak mengenali Bella dalam balutan gaunnya.


"Auntie.. Miss London this year," akunya bangga.


Amiera terkekeh melihat ekspresi wajah Zein yang mengerutkan dahinya sambil mengerling. Begitu juga dengan Alvin. Ia bahkan sampai memegang perutnya.


"Hahaha... Oh My God, perutku sampai sakit." Kekehnya.

__ADS_1


Bella memajuka bibirnya saat menyadari kakak beradik itu sedang menertawakannya.


"Bella, kenapa tidak sekalian kau mengaku sebagai Miss England atau Miss World, heh?"


"Ah, kaliah ini. Sudahlah! Oh iya, Riky kemana? Kok aku tidak melihat dia," tanyanya.


"Dia pergi jalan-jalan. Ingin menyendiri katanya. Ingin menikmati malam kota London sebelum besok kembali lagi," sahut Alvin.


"Besok kalian jadi pulang? Jam berapa?"


"Mungkin malam. Supaya Zein bisa istirahat," sahut Alvin.


Bella mengangguk pelan. Sebenarnya ia berharap Riky ikut ke acara malam ini. Ia merasa Riky menjaga jarak darinya. Pria itu bahkan menolak menginap di kediamannya.


***


Lain di penthouse, lain pula di kediaman Salman. Dengan tangan yang mengganjal kepala bagian belakangnya, Maliek menatap langit-langit kamarnya.


Sesekali ia mengusap surai istrinya yang sedang terlelap. Sudah hampir dini hari, tapi ia tidak bisa memejamkan mata lagi setelah olah raga malam yang baru saja selesai dilakukan bersama wanita tercintanya.


Ucapan Rafael saat di club tadi mengganggu pikirannya. Ia ingin tidak mempercayai cerita pria mabuk itu. Tapi entah mengapa itu sangat mengusik rasa ingin tahunya.


Maliek meraih ponselnya yang berada dalam nakas. Ia kemudian menelepon Riky.


📱 "Aduh, Bos! Please, deh. Gue ingin menyendiri, ingin menikmati malam ini. Kalau loe kangen sama gue, sabar dong sayang besok kan abang pulang."


📱 "Sialan loe! Dasar asisten durhaka. Gue kutuk jadi curut baru tahu rasa," gerutu Maliek.


📱 "Loe nggak ikut acara itu, Rik?"


📱 "Nggak ah. Gue pengen nyegerin otak dulu. Otak abang perlu di reset, Bos!"


📱 "Abang, emang loe jualan bakso di sana."


Riky tergelak mendengarnya.


📱 "Rik, loe ingat temen gue si Bagas? Yang pake kacamata itu,"


Riky terdiam. Mungkin pria itu sedang mengingat-ingat.


📱 "Ingat nggak?" tanya Maliek lagi.


📱 "Iya, ya-ya. Sepertinya gue ingat. Memangnya kenapa?"


Maliek menceritakan apa yang didengarnya dari Rafael. Riky nampak serius mendengarkannya. Pria itu bahkan terdengar terkejut saat Maliek memanggil namanya.


📱 "Rik, loe ngerti nggak maksud gue?"


📱 "Iya, gue ngerti. Tapi besok ya. Malam ini gue mau happy-happy. Heran gue, nggak anak nggak bapak cinta banget sama gue."


📱 "Iddih, amit-amit." Decihnya.


Riky tergelak. Ia membayangkan ekspresi wajah Maliek saat ini.

__ADS_1


***


Acara yang diadakan malam ini berlangsung disebuah ruangan khusus di sebuah hotel bertaraf internasional. Saat Salman melangkah masuk dengan tangan yang menggandeng Amiera, sontak semua pandangan tertuju pada mereka.


Bukan hanya itu saja, kehadiran cucu pertamanya juga menarik perhatian mereka. Putra Maliek dan Meydina itu seakan menyadari dirinya sedang jadi pusat perhatian.


Zein mengatur langkahnya. Ia terlihat lucu dengan gayanya yang ingin terlihat cool tersebut.


Beberapa orang datang dan membungkuk ingin menyalaminya. Namun Zein menatap mereka aneh dan tentu saja mereka jadi urung menyalaminya. Sebagai gantinya, mereka hanya mengangguk sambil tersenyum.


Setelah bertegur sapa, Salman mulai berbaur dengan para tamunya. Sementara itu Zein berada dalam pengawasan Alvin. Daddy Alvin dengan sabar mengikuti kemanapun Zein Maliek melangkahkan kaki.


Amiera hanya menatap Alvin dan Zein sambil menahan tawa. Ia benar-benar memuji kesabaran Alvin kali ini. Berjalan mondar-mandir sambil menyuapi pasta kesukaan keponakannya itu tanpa rasa malu.


Beberapa wanita menatap kagum pada Alvin. Bahkan ada yang menawarkan diri menyuapi Zein dan tentu saja Alvin menolaknya.


Di kejauhan, Amiera melihat Rendy yang sedang berbincang dengan beberapa orang. Begitu juga dengan Bella dan Mike. Mereka semua seolah melupakan keberadaan Amiera.


"Sendiri?"


Amiera terkejut dengan sosok yang tidak disadari keberadaannya.


"Iya." Sahutnya.


"Mau?" Tawarnya.


"No, thanks. Aku tidak minum alkohol."


"Benarkah? Kau benar-benar sesuatu Amiera. Berbeda dari kebanyakan wanita. Baiklah jika kau tidak suka ini, aku akan ambilkan yang lain.


Amiera menatap punggung wanita yang baru saja menyapanya. Sophia masih tetap ketus padanya. Amiera menyeringai kecil, tidak ingin memperdulikan bagaimana orang memperlakukannya.


Tidak lama kemudian, Sophia kembali dengan segelas sirup berwarna hijau. cerah.


"Ini, cobalah. Minuman rasa melon yang cukup enak."


Amiera mengambil gelas tersebut. Aroma melon tercium dari minuman itu.


"Manis. Cukup enak," gumam Amiera.


"Baguslah kalau kamu menyukainya. Maaf ya, aku tinggal dulu. Aku tidak ingin Miss Bella mencariku."


Amiera mengalihkan pandangannya ke arah Rendy. Pria itu terlihat buru-buru memalingkan wajahnya. Amiera mengulumkan senyuman. Sepertinya, Rendy baru saja memperhatikan dirinya.


"Anda sedang tersenyum pada siapa, Nona?"


Lagi-lagi Amiera dikejutkan oleh suara seseorang yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.


"Kau..."


"Aku Mark, Nona. Sepertinya anda tidak mengingatku."


Amiera tersenyum kecut pada pria bule yang sedang menatap lekat pada dirinya itu.

__ADS_1


__ADS_2