
Happy reading...
Satu bulan kemudian..
Awan hitam yang menggelayut di langit, membuat pemandangan sore ini terasa mencekam. Hembusan angin yang cukup kencang membawa serta daun-daun yang berguguran.
Dari balik kaca jendala kamarnya, Salman termenung seorang diri. Menatap awan yang akan menghalangi sinar rembulan malam nanti.
Rembulan yang dimilikinya telah pergi. Meninggalkan ia bersama bintang-bintang yang bertaburan menghiasi kehidupannya sampai saat ini.
Bagi Salman, Anita adalah rembulannya. Ia pernah merasakan kegelapan saat rembulan itu meninggalkannya. Dan cahaya itu kembali ada walau hanya sebentar saja.
Kini, ketiga anak dan cucu-cucunyalah yang menemani masa tuanya. Laksana bintang yang menghiasi kegelapan malamnya.
Salman terkejut merasakan tangan Meydina yang memasangkan syal di lehernya. Putrinya itu tersenyum manis dan melingkarkan tangan memeluknya dari belakang.
"Ayah kenapa melamun di sini? Ke luar yuk, anak-anak sedang main di depan tv." Ajaknya.
Salman menundukkan matanya, menyembunyikan air mata yang sempat menetes begitu saja. Penyesalan tak berujung selalu dirasakannya. Tidak disangka anak yang belasan tahun ia sia-siakan justru yang memberinya kebahagiaan.
Pekikan riang Zein dan Amar terdengar manakala melihat sang kakek keluar dari kamar. Fatima yang sudah bisa berjalan bergegas menghampiri kakeknya. Salman menyambutnya dan menempatkan Fatima dalam dekapan. Gadis kecil itu terkekeh pelan saat Salman mencium setiap bagian pada wajahnya.
Salman tidak ingin mengulang kesalahan di masa lalunya. Dengan kehadiran Fatima, ia bisa merasakan bahwasanya anak perempuan itu istimewa.
Mendengar tawa riang ketiga cucunya, membuat Salman bahagia. Sejenak ia melupakan diagnosa dokter yang siang tadi didengarnya.
Salman menoleh ke arah Meydina yang sedang sibuk menata meja. Ia merasa heran, tidak biasanya Maliek di jam segini tidak ada di rumah.
"Ayah mau ini?" tawar Meydina.
"Saleeg?"
"Saleeg ala-ala Meydina, Yah." Sahutnya.
Salman tersenyum melihat makanan berupa bubur dengan suwiran daging ayam sebagai topingnya. Perlahan ia mulai menyuapkan bubur itu. Bubur yang dibuat dari campuran kaldu ayam dan susu itu terasa gurih berpadu dengan berbagai rempah.
"Sekarang kamu sudah mulai pintar memasak ya, Mey." Pujinya.
"Mey mau ngapain lagi, Yah? Ya, nyoba-nyoba resep. Siapa tahu enak," sahut Meydina.
"Mau, Kek," pinta Amar.
Salman menyuapkan bubur itu pada Amar. Si bungsu Fatima juga tidak mau ketinggalan disuapi kakeknya.
"Zein, mau?" Tawarnya.
"Enggak. Kakak nggak suka. Yeek," sahut Zein yang terlihat jijik.
"Coba dulu dong, Kak. Sini, Mami suapin."
"Nggak mau, Mami. Kakak nggak suka. Untuk Amal sama Baby aja," sahut Zein yang asik dengan mainannya.
Meydina menyuapi Amar dan Fatima bergantian.
"Kakak mau apa dong? Samosa mau?"
"Mau," angguk Zein.
Meydina meminta seorang pelayan membawakan sepiring samosa buatannya. Samosa mozarella adalah kesukaan Zein. Kedua adiknya juga tidak mau ketinggalan, mengambil dan mengunyahnya bersama bubur dalam mulut mereka.
"Iih, kok cayul?" pekik Zein saat samosa yang digigitnya berisi sayuran.
__ADS_1
"Sini untuk kakek aja," pinta Salman.
Zein pun memberikannya pada Salman. Anak itu meminta Maminya memilihkan samosa yang berisi keju mozarella.
"Maliek kemana, Mey? Di luar gelap sekali, apa dia masih di kantor?"
"Kak Maliek ada perlu, Yah. Menjemput seseorang di bandara."
"Bandara, saat cuaca seperti ini? Menjemput siapa? Kenapa tidak menyuruh Budi?"
"Sekalian pulang dari kantor, Yah. Mereka sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi juga sampai," sahut Meydina.
Tidak berselang lama, suara klakson mobil Maliek terdengar di luar. Meydina melarang anak-anaknya ke luar karena angin yang berhembus sangat kencang.
"Amar! Kakak Zein! Fatum!" seru gadis kecil yang berlari dari arah pintu.
"Queen! Mami ada Queen!" seru Amar kegirangan.
"Daddy!" seru Zein berlari ke arah Alvin.
"My Boy!" sambut Alvin membungkuk merentangkan kedua tangannya.
"Huft. Zein berat sekarang ya..." Ujarnya.
"Kakak kan sudah besal, Daddy," sahut Zein.
"Masih belum bisa bilang 'er'?" tanya Alvin setengah menggoda.
"Bialin.." Sahutnya malu.
"Hai Amar, hai cantik!" Sapanya.
"Uncle, turunin kakak. Amar juga mau," pinta Amar.
"Kakak sama Papi," ujar Maliek yang menggendong Amar dan membuat putranya itu kegirangan.
Queena menggandeng Fatima, menyusul Mommy Laura menuju kakek mereka.
"Sehat, Yah?" tanya Laura sambil mencium punggung tangan Salman.
Salman tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang bahagia. Ia mengusap pucuk kepala Laura yang sedang menyalaminya.
"Eeh, kok jadi pada manja?" tegur Meydina pada kedua putranya. Meydina menggelitiki satu persatu putranya membuat mereka semakin mengeratkan lingkaran tangannya.
Alvin menurunkan Zein dan menyalami Daddy-nya.
"Kamu nggak ngasih kabar kalau mau pulang?" tanya Salman.
"Surprise dong, Dad." Sahutnya.
Setelah menanyakan kabar masing-masing, mereka mulai mengobrol. Anak-anak berhamburan kesana-kamari dengan riangnya. Pekikan suara mereka seolah ingin menandingi suara gemuruh di luar.
***
Dinginnya malam, sayang dilewatkan begitu saja. Peluh yang menetes seolah bukti bahwa tidak semua insan merasakannya.
Dengan nafas yang terengah Maliek merebahkan dirinya di samping Meydina yang tak kalah lelahnya. Pria itu tersenyum menatap wajah cantik istrinya dalam keremangan lampu kamar.
"Capek?" goda Meydina.
"Pastinya. Kamu selalu bisa membuatku merasa enggan menyudahinya," sahut Maliek yang mencoba mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Papi yang hebat, bisa bertahan lama." Pujinya.
Maliek tersenyum mendengar pujian Meydina lalu menariknya dalam pelukan.
"Sudah ada kabar dari Dokter Agus?"
Meydina mengangguk pelan. Dokter Agus adalah dokter yang selalu dikunjungi Salman untuk memeriksakan kesehatannya.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, Meydina meminta dokter itu memberi tahukan tentang keadaan Salman setiap kali melakukan check up. Dan kabar yang didengarnya tadi sore membuatnya sangat terpukul.
"Kapan Amiera kembali?"
"Mungkin dalam minggu ini."
"Dia dan Rendy akan tinggal di sini?"
"Rendy masih harus di sana sampai proyeknya selesai. Dia akan pulang satu bulan sekali. Mereka juga akan mempersiapkan rumah untuk tempat tinggal mereka setelah Rendy kembali ke sini. Jangan bilang Kak Maliek masih cemburu sama Rendy?"
"Tidak juga. Mereka sudah mau punya anak. Itu artinya dia sudah bisa move on dari kamu. Tapi tetap saja, jangan terlalu dekat ya." Pintanya dengan tatapan yang lekat.
"Iya, iya.. Papi kalau cemburu itu lucu. Marah-marah nggak jelas," sahut Meydina sambil mengeratkan pelukannya.
"Kamu nggak tahu aja, walau kamu sudah punya anak lima sekalipun banyak laki-laki di luar sana yang mengincarmu."
"Hmm, pantesan Mey dikurung di rumah. Cuma boleh keluar kalau sama tuannya. Kak Maliek berlebihan, dasar posesif." Gerutunya.
"Aku bukan tuanmu, Sayang. Aku suami yang takut kehilanganmu. Karena apa? Karena aku sangat-sangat mencintaimu," ujar Maliek mencium gemas kening istrinya.
"Idih gombal," decih Meydina dengan wajah yang tersipu.
***
Pagi ini suara cicitan burung kalah ramai dari suara anak-anak yang sedang bermain air di kolam renang. Meydina sampai menggeleng pelan, melihat Alvin yang sedang menuruti keinginnan putra sulungnya, Zein.
Tadi saat bangun dari tidurnya, Zein merengek pada Alvin agar mau berenang bersamanya. Cuaca dingin setelah hujan tidak menyurutkan keinginnan anak laki-laki itu. Alhasil, Alvin meminta pada pelayan pria yang memang di tugaskan untuk mengurus kolam renang untuk menghangatkan air kolam.
"Zein, Amar! Sebentar lagi ya, Sayang! Kan mau sekolah," seru Meydina dari pintu samping rumahnya.
"Iya, Mi!" sahut mereka bersamaan.
"Alvin itu, mau-maunya nurutin keinginan Zein."
"Zein tahu kalau mintanya sama Papi nggak bakalan diturutin. Makanya minta sama Daddy-nya," sahut Meydina.
"Kok kamu ikut-ikutan manggil Alvin Daddy-nya Zein sih, Mey."
"Emang gitu kan Zein manggil Kak Alvin."
"Ya, kamu jangan ikut-ikutan dong sayang. Laura, kamu nggak keberatan Zein manggil begitu ke Alvin?" tanya Maliek pada Laura yang sedang membantu Meydina menyiapkan sarapan.
"Enggak. Kenapa harus keberatan?" sahut Laura santai.
"Jadi cuma aku ya yang merasa risi dengan panggilan itu?"
Meydina dan Laura mengangguk bersamaan sambil tersenyum.
"Bukan cuma kamu, ayah juga nggak suka Zein memanggil Alvin dengan panggilan begitu. Mey, minta Zein membiasakan untuk memanggil Alvin dengan panggilan 'uncle', atau 'Om'. Jangan panggil daddy. Orang di luar sana akan berfikiran lain nantinya," tutur Salman.
"Setuju, Yah. Ayah memang the best deh," timpal Maliek dengan kedua ibu jari yang diacungkan.
"Ayah bukan membela kamu. Tapi memang harusnya begitu," ujar Salman mendelik pada Maliek. Membuat menantunya itu tersenyum kikuk dan menggaruk pelan tengkuknya.
__ADS_1
"Iya, Yah. Akan Mey coba." Sahutnya sambil melirik pada suaminya.