Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
kakak cengeng


__ADS_3

Happy reading...


Riuh suara anak-anak terdengar saling bersahutan di pekarangan rumah Ibu Anita. Hari ini Salman beserta keluarga kecil Alvin dan Meydina menghabiskan waktu di rumah itu. Tidak hanya mereka, Evan dan Alena juga ada di sana.


Kebetulan cuaca cerah berawan, Fatima yang didudukkan di kursinya berjingkrak-jingkrak melihat ketiga saudaranya yang kejar-kejaran bersama Alena.


"Oma!" seru Zein yang berlari diikuti Amar dan Queena menyambut kedatangan Resty. Tidak lama kemudian Bram juga menghampiri mereka.


"Oma, apa itu?"


"Cake, Sayang."


"Mau, Oma," pinta Amar sambil menengadahkan tangannya.


"Oma, Amal minta!" seru Zein.


"Nanti, Sayang. Ke dalam yuk!"


Zein dan Amar mengikuti langkah Oma Resty, sementara Queena di pangku Opa Bram.


"Hai, Princess!" sapa Oma Resty pada Fatima yang terlihat senang melihat kedatangan Oma-nya.


"Alena, Sayang! Apa kabar?"


"Baik, Tante."


"Tante ke dalam dulu ya."


"Iya, Tan."


Sore nanti, Alvin dan keluarganya akan berangkat ke kota tempat kedua orang tua Laura berada. Setelahnya, mereka akan kembali ke negara K. Dan siang ini, Alvin sengaja meminta Meydina berkunjung ke rumah ibu Anita. Siapa sangka, keluarga yang lain pun ikut berkumpul di sana.


Bila ada acara kumpul keluarga, Resty memang paling antusias. Bagi Resty keluarga besar Meydina sudah menjadi keluarganya. Itu sebabnya ia tidak pernah absen dari acara dalam keluarga menantunya tersebut.


"Mama kenapa bawa cake juga? Ini pesanan Mama sudah diantar kesini," ujar Meydina.


"Ya nggak apa-apa, Mey. Amar kan suka banget cake. Oh iya, Mey. Malam ini Amar boleh menginap di rumah Mama ya?"


Meydina tersenyum lalu bertanya pada Amar yang meminta didudukkan di atas meja.


"Amar mau bobo di rumah Oma?"


"Mau," angguk Amar sambil menunjuk cake yang baru saja dibuka Maminya.


"Kak, tolong ambilkan pisau kue di laci yang kedua," pinta Meydina pada Laura.


Karena sudah tidak sabar, tangan Amar mencomot cake itu dengan tangan lalu menyuapkannya. Alhasil disekitar mulutnya belepotan oleh krim kue tersebut. Melihat hal itu, Meydina dan Laura terkekeh.


"Amar, pake sendok sayang. Sebentar ya, Mami potongkan."


Namun Amar sepertinya punya cara tersendiri menikmati makanan kesukaannya. Ia melakukan hal yang sama untuk yang kedua kali.


"Kakak mau?" tanya Amar dengan mulut yang penuh dengan cake.


"Nggak. Amal jolok, iiih."


Zein naik ke kursi didekat Amar.


"Mami, Amal mau nginep di rumah Oma?


"Hmm, kakak juga mau?"


Zein menggeleng. Kemudian ia memekik karena Amar yang tanpa sepengetahuannya menyuapkan cake ke mulutnya dan membuat sebagian wajahnya belepotan.

__ADS_1


"Amal! Kakak nggak mau! Huaaa, Mami! Amal nakal..."


Amar terkekeh pelan melihat sang kakak yang menunjuk jijik pada wajahnya sendiri. Zein menangis histeris, saat ujung jarinya tidak sengaja terkena krim tersebut.


Resty segera datang memangkunya dan mengusap wajah Zein dengan tisu basah.


"Kakak, masa sih gitu aja nangis? Kakak Zein cengeng," goda Alena dengan nada mengejek.


"Auntie nakal. Oma, auntie nakal." Adunya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Auntie, nggak boleh gitu. Kakak Zein pinter kok, nggak cengeng," hibur Oma Resty.


"Ah masa sih?"


Alena dengan sengaja mencolekkan ujung jarinya yang terdapat krim ke ujung hidung Zein.


"Huaaa, jolok!" Pekiknya.


Alena terpingkal-pingkal melihat ekspresi Zein yang merasa jijik. Amar juga terkekeh sambil berusaha ingin menggapai kakaknya dengan tangannya yang penuh dengan krim dari cake yang di makannya. Namun dicegah oleh Meydina.


"Amar, udah sayang. Kakak nggak suka kue, nanti Papi marah lho."


"Enak, Mi." Ujarnya sambil menjilati krim di yang ada di jari-jarinya.


Meydina menahan tawanya melihat Zein yang cemberut saat Alena kembali menggodanya.


"Auntie sana mainnya sama Baby, sama Queen!" seru Zein.


"Nggak mau. Auntie maunya main sama kakak. Gemes auntie lihat kakak," sahut Alena yang terus menggoda Zein.


"Oma," rengek Zein sambil melingkarkan tangannya di leher Oma Resty.


"Auntie nakal ya, Oma pukul nih..."


Amar terkekeh melihat Alena. Kemudian Zein pun ikut terkekeh.


Dari kejauhan, Evan menggeleng pelan melihat tingkah putrinya. Kehadiran Queena dan ketiga anak Meydina membuat putrinya itu menjadi pribadi yang ceria.


"Vin, kapan ke sini lagi?" tanya Bram.


"Belum tahu, Om. Tadi sudah dibicarakan sama Daddy, ada rencana pindah ke sini. Tapi mungkin tahun depan. Laura betah di sini dan ingin Queena sekolah di sini juga."


"Bagus, dong. Bisa bareng sama Amar sekolahnya. Sudah ada orang yang kira-kira bisa dipercaya?"


"Ada, Om. Tapi yaa, kita lihat aja dulu."


"Zein mau masuk playgroup tahun ini, Mey?" tanya Evan pada Meydina yang datang sambil menggendong Amar.


"Iya Om, sama Amar sekalian. Biar mereka belajar bersosialisasi dengan teman-temannya."


"Amar mau sekolah sama kakak?" tanya Maliek yang mengambil alih Amar dari gendongan Meydina.


"Mau, Pi?"


"Pintar. Kakak cengengnya di kurangin ya. Nanti di colek temannya, Kakak nangis," goda Maliek.


"Nggak, nggak nangis. Nanti sama Amal dipukul temannya," sahut Zein santai. Ia duduk di samping papinya.


"Oh ya?"


Amar mengangguk, kemudian mengusap wajah Zein dengan sebelah tangannya.


"Nggak kebalik itu?" kekeh Alvin.

__ADS_1


"Memang biasa begitu, Vin. Kalau umur segini justru adik yang lebih mandiri dari kakaknya. Apalagi kalau kakaknya laki-laki. Beda lagi kalau kakaknya perempuan," tutur Evan.


"Iya, makanya Queena cepetan punya adik. Kalau perempuan biasanya suka ngasuh adiknya," timpal Resty.


"Nanti aja lah, Tan. Nunggu Queen agak besar," sahut Alvin.


Mereka pun menikmati kebersamaan di rumah itu. Walau pemiliknya sudah tiada, nyatanya rumah itu tetap bisa menyatukan beberapa keluarga.


***


London


Setelah kembali dari kampusnya, Amiera langsung pulang ke apartemennya. Saat ini, ia sedang berkutat dengan tugas-tugas yang pekan kemarin sempat terlewat.


Tanpa sengaja, ia melihat dus kecil yang tadi dibelikan Bella. Diraihnya benda itu dan ditatapnya untuk sesaat.


"Apa sebaiknya aku minum sekarang? Disini tertera harus teratur waktu minumnya. Kalau aku minum setiap jam segini, Kak Rendy tidak akan tahu." Gumamnya.


Amiera beranjak ke ruang makan dan mengambil segelas air. Ia kemudian meminum satu diantara deretan pil itu. Amiera kemudian berjalan menuju kamarnya. Menyembunyikan obat itu agar tidak ketahuan suaminya.


Amiera tentu punya alasan sendiri dalam setiap keputusannya. Kuliahnya baru saja di mulai. Ia juga belum siap menjadi ibu di usianya yang masih sangat muda.


Selain itu, ia ingin menikmati dulu kebersamaannya dengan Rendy. Bila mengingat sikap Rendy pagi ini, ia yakin suaminya itu bisa segera menerimanya.


Waktu terus berlalu, tanpa disadari sore hari sudah menyapa. Suara pintu yang terbuka menyadarkan Amiera, ia terkejut saat melihat waktu pada ponselnya.


"Sedang apa? Tugasnya banyak?" tanya Rendy.


"Lumayan banyak. Nggak kerasa udah sore. Mau kopi?" Tawarnya.


"Nggak usah. Aku buatkan salad ya, biar seger."


"Boleh," angguk Amiera senang.


Dari pakaiannya yang sudah berganti, bisa dipastikan Rendy sudah pulang ke apartemennya. Selain itu, ia juga sudah terlihat segar.


Rendy langsung menuju lemari pendingin. Mengeluarkan beberapa buah yang ada di sana. Sementara itu, Amiera kembali dengan tugasnya. Ia ingin segera menyelesaikannya. Karena tugas untuk minggu ini sudah menanti.


Sesekali Amiera menoleh pada suaminya. Bila kebetulan tatapan mereka beradu, keduanya pun tersipu.


"Sudah selesai?" tanya Amiera pada Rendy yang duduk di sebelahnya.


"Cobalah!"


Rendy menyodorkan satu mangkuk cukup besar pada Amiera. Sepertinya pria itu sengaja membuat agak banyak untuk dinikmati berdua.


"Enak. Coba deh, a..."


Rendy refleks membuka mulutnya. Ia tersipu saat ada yang tersisa di ujung bibirnya. Ia kemudian mengambil alih mangkuk itu dan gantian menyuapi sementara Amiera melanjutkan pekerjaannya.


Setelah salad itu habis, Amiera beranjak dari tempatnya. Ia akan membersihkan diri untuk menghilangkan penat yang dirasanya sedari tadi.


Sepeninggalnya Amiera, Rendy merapikan beberapa kertas yang berserakan. Ia tersenyum saat melihat hasil karya goresan tangan istrinya. Diakuinya Amiera memang berbakat. Pantas saja ia sangat terobsesi dengan profesinya saat ini.


Rendy menggeleng pelan sambil tersenyum ringan. Bagaimana bisa ia membayangkan kelak anaknya juga akan pintar menggambar mewarisi bakat dirinya dan juga Amiera. Setelah agak rapi, Rendy pun menyusul Amiera ke kamarnya.


Rendy berdiri didepan pintu kamar mandi. Senandung lagu yang terdengar dari dalam seakan menghipnotisnya. Entah disadarinya atau tidak, Rendy memutar pegangan pintu kamar mandi.


Membuka perlahan dan terlihatlah pundak Amiera yang sedang berendam dalam bathtub. Rupanya suara guyuran air membuat Amiera tidak mendengar suara pintu yang dibuka perlahan lalu ditutup kembali.


Langkah Rendy sangat pelan mendekati tempat istrinya berada. Dilihatnya Amiera yang sedang menyiram-nyiramkan air ketubuh bagian atasnya. Dari bibirnya juga masih terdengar alunan lagu yang dinyanyikannya.


Saat Amiera mendongak sambil bersandar, ia terkejut mendapati Rendy sedang menatapnya.

__ADS_1


"Kak Rendy, sejak kapan di sini?"


__ADS_2