Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
mobil siapa?


__ADS_3

Mohon maaf baru sempat up🙏


Happy reading...


Rafael hanya cengengesan mendapat tatapan aneh dari ketiga sahabatnya.


"Wah! Jangan main-main loe, Bro. Sejelek-jeleknya Alya, dia itu keponakan bokap gue. Artinya juga sepupu gue. Nggak gitu dong, Raf," ujar Alvin.


"Enak aja loe bilang Alya jelek, Vin. Dia itu cantik, body aduhai dan gue juga nggak main-main. Kali ini gue serius, beneran. Gua suka sama dia sejak pertama kenalan, Vin. Percaya deh," sahut Rafael.


"Emang loe kenalan sama Alya dimana?" tanya Riky datar.


"Gue ketemu dia di club ini. Terus, kelanannya di apatemen gue."


"Apartemen loe?" tanya Riky dan Alvin hampir bersamaan.


"Waah! Parah loe, Raf.." Ujar Riky.


"Sialan loe! Eh, walaupun loe br*ngsek jangan rusak saudara teman dong. Cari mati loe, heh!" umpat Alvin.


Melihat reaksi Alvin yang tidak pernah ia sangka, Rafael mulai merasa gusar. Disisi lain, Maliek melirik pada Alvin. Ia tersenyum tipis melihat sakip Alvin. Sikap yang hampir sama ketika sahabatnya itu mengetahui Meydina bermalam di apartemennya.


"Tunggu dulu, Vin. Loe jangan salah sangka. Gue nggak ngapa-ngapain Alya. Berani disamber gledek gue. E, eh, nggak jadi deh. Gue cuma gantiin bajunya Alya. I swaer, Vin."


Rafael kelimpungan menjelaskan pada ketiga sahabatnya, terutama pada Alvin. Sebabnya, mereka sudah mengenal bagaimana sepak terjang dirinya.


***


London


Sepanjang hari ini, suasana butik agak berbeda. Karyawan satu dengan yang lainnya saling berbisik dan menggunjingkan mobil sport mewah yang terparkir di depan tempat kerja mereka. Bahkan beberapa pelanggan yang datang ada yang menanyakan mobil itu milik siapa.


Tidak terkecuali Diana. Ia yang berada di ruangan atas bersama Amiera tak henti-hentinya memikirkan siapa pemilik mobil itu.


"Vey, menurutmu siapa pemilik mobil itu? Pastinya dia orang yang sangat kaya. Aku penasaran, dia pria atau wanita ya?" tanya Diana pada Veya, asistennya. Wanita itu menatap ke arah mobil dari jendela kaca ruangannya.


"Saya justru heran, Nona. Kenapa mobil itu parkir di depan butik? Apa pemiliknya tidak takut ada yang mencurinya?" ucap sang asisten.


"Kurasa mobil itu ada dari semalam," ucap Diana lagi.


"Bagaimana kalau ternyata mobil itu hasil curian, Nona? Bukankah akan mendatangkan masalah bagi Miss Julie dan butik ini?"


"Kau benar, kenapa aku tidak berpikir kesana? Memang aneh mobil semewah itu parkir dimana saja," sahut Diana.


Veya sang asisten mengangguk menyetujui ucapan Diana.

__ADS_1


Diana menatap tajam pada Amiera. Rivalnya itu sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi hal yang sedang hangat di bicarakan. Ia pun mendekati Amiera yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Hei, Kau. Bukankah kau yang datang lebih awal tadi pagi?" tanya Diana ketus.


"Iya, kenapa?" sahut Amiera tanpa menoleh.


"Apa mobil itu sudah ada disana saat kau datang?"


"Belum," sahut Amiera singkat.


"Kau jangan bohong! Kalau mobil itu tidak ada di sana saat kau datang, lalu siapa yang memarkirkannya?" pekik Diana.


Amiera yang mendengar suara Diana yang meninggi, mendelik tak suka.


"Aku. Aku yang memarkirkannya disana. Mobil itu milikku, puas? Berhentilah menggunjing! Apa kau tidak punya pekerjaan, heh?" tegas Amiera.


Diana tampak sedang menahan tawanya, begitu juga dengan asistennya. Lalu tawanya menggema dalam ruangan itu.


"Amiera, Amiera. Apa kau sedang bermimpi? Maka ku sarankan, bangunlah. Kau tidak tahu berapa harga mobil itu kan? Sepuluh tahun gajimu pun tidak akan bisa membeli mobil seperti itu. Dasar bodoh," kekeh Diana.


Wanita itu berjalan kembali ke meja kerjanya sambil memegang bagian perutnya. Hal sama juga dilakukan oleh asistennya.


"Apa kau bilang, aku bodoh?" geram Amiera. Ia hendak mendatangi meja Diana, namun asistennya menahannya.


"Nona, sudahlah. Tidak usah didengarkan," ucap asistennya pelan.


***


Malam ini Meydina cukup kesulitan saat meninabobokan putra sulungnya, Zein Malik Bramasta. Anak itu terus merengek ingin di temani, sementara kedua adiknya sudah tertidur pulas.


"Kakak kenapa belum bobo, Sayang?"


"Cini, Mi." Rengeknya.


"Sebentar ya," ucap Meydina. Ia kemudian membetulkan posisi tidur Fatima dan juga Amar.


Meydina menghampiri putranya dan berbaring di sampingnya. Dari dekat ia bisa melihat raut wajah Zein seperti merasa tidak nyaman. Meydina meletakkan punggung tangannya di kening Zein. Dan ia pun terkejut.


Zein demam, suhu tubuhnya terasa hangat sekali.


"Sini sama Mami, Sayang."


Meydina menggendong Zein dan melangkah ke lemari P3K yang menempel di salah satu bagian dinding kamar tersebut.


"Apa itu Mi, tembak-tembakkan?" tanya Zein dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bukan, Sayang. Seperti tembak-tembakkan Kakak ya?" tanya Meydina sambil mengarahkan alat tersebut yang tak lain adalah thermogun.


"Amar juga punya, Mi." Celotehnya.


"Oh, iya. Mami lupa," sahut Meydina.


Meydina sebisa mungkin tidak panik. Suhu tubuh Zein 38,4 derajat Celsius dan itu terbilang cukup tinggi. Ia heran, karena putranya tadi tidak menunjukkan gejala apa-apa.


Sambil menggendong Zein, Meydina mencoba menghubungi Maliek. Namun ternyata ponsel suaminya itu tidak aktif.


Meydina membuka lemari P3K itu kembali, beruntung ada obat penurun panas anak disana. Setelah membaca aturan pakainya, Meydina memberikannya pada putranya.


Meydina Menggendong Zein menggunakan gendongan Fatima.


"Kakak tidur ya," pinta Meydina sambil mengecuk kening putranya.


Zein menolak saat Maminya mencoba memasangkan plester kompres di keningnya. Anak itu sampai terisak karena Meydina setengah memaksa memasangkannya.


"Nggak mau, Mi. Kakak nggak mau," tolak Zein.


Meydina pun menyerah. Ia kemudian mengayun-ayunkan Zein yang berada dalam gendongannya.


"Mi, kepala Kakak cakit," keluh Zein.


"Iya, Sayang. Sebentar lagi sakitnya hilang. Kakak pinter ya minum obatnya," hibur Meydina.


"Manis, acem," celoteh Zein.


Meydina tersenyum tipis menatap putranya. Zein sangat jarang sakit, wajar rasanya jika Meydina merasa khawatir. Ia kemudian mencoba lagi menelepon Maliek. Dan lagi-lagi tidak tersambung.


Meydina menatap jam dinding, pukul sepuluh malam. Ayahnya pasti sudah tidur. Terlebih lagi ia tidak ingin Ayahnya khawatir. Dalam hati Meydina memanggil-manggil Maliek, berharap suara hatinya sampai pada suaminya itu.


"Kak, Maliek. Kakak dimana sih? Pulang dong, Kak. Zein demam, Kak." Batinnya.


***


London


Sudah saatnya para karyawan butik meninggalkan tempat kerjanya. Satu persatu mereka pulang. Dalam benak mereka masih tersimpan tanda tanya besar tentang siapa pemilik mobil sport itu, terutama Diana.


Tadi Diana menelepon Miss Julie dan membicarakan perihal keberadaan mobil tersebut. Atasannya itu mengatakan bahwa salah satu karyawan butik itu yang membawanya.


Diana semakin penasaran. Ia dan juga asistennya Veya sengaja pulang paling akhir agar bisa melihat siapa pemilkknya. Saat merasa semua karyawan telah pulang dan mobil itu masih di tempatnya, ia pun merasa heran. Lalu siapa karyawan yang di maksudkan Miss Julie?


Suara high heels yang menuruni anak tangga terdengar sangat jelas di ruangan yang kosong. Diana dan Veya bersembunyi disalah satu pilar yang ada dilantai bawah butik itu. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang di tutup. Karena penasaran, dua orang itu mengintip di balik kaca.

__ADS_1


Seorang wanita berjalan mendekati mobil tersebut, di lihat dari penampilannya Diana merasa tidak asing. Dan saat wanita itu membuka pintu mobil, keduanya pun sontak berseru, "Amiera!"


__ADS_2