
Happy reading...
Dari kejauhan Riky sudah dapat melihat sosok Alena yang sedang bersama teman-temannya. Gadis periang itu nampak sedang terkekeh melihat aksi lucu salah satu temannya.
Setelah menepikan mobilnya, Riky berjalan menghampirinya. Penampilannya yang cool sukses membuat terpana beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya.
"Alena." Panggilnya.
"Kak Riky, sedang apa di sini?"
Beberapa teman Alena menatap kagum pada pria perlente di hadapan mereka. Riky yang menyadarinya tersenyum dan salah tingkah.
"Aku datang menjemput kamu," sahut Riky.
"Jemput Lena? Tapi Papa..."
"Papa kamu ada urusan. Jadi aku yang jemput. Udah selesai belum? Yuk, pulang!" Ajaknya.
"Lena, kenalin kita sama kakak kamu dong," pinta salah satu temannya dan langsung mendapat anggukkan dari teman yang lainnya.
"Hai, kakak ganteng!" sapa seorang lainnya sambil melambaikan tangan.
Tanpa sungkan mereka memperkenalkan diri satu persatu sambil bersalaman. Riky menanggapinya dengan cengiran dan menyebutkan namanya. Sementara itu Alena mengulumkan senyumnya melihat ekspresi sahabat kakaknya tersebut. Karena Riky terlihat bingung saat ada yang meminta nomer ponselnya.
"Cie, yang punya banyak fans. Sering-sering dong main ke kampus Alena. Siapa tahu dapat pacar baru," goda Alena.
"Ngomong apa sih kamu?" delik Riky.
"Hmm, kura-kura dalam perahu. Tapi senang kan?"
"Senang apanya? Aku malah geli lihat sikap mereka. Anak gadis zaman sekarang pada agresif ya? Zaman kakak dulu yang maju duluan itu anak cowok, hhmm."
"Yee, namanya kesetaraan gender. Udah nggak zaman perempuan malu-malu, Kak Riky." Sahutnya.
"Ya tapi jangan malu-maluin dong, Lena. Harus menghargai diri sendiri. Perempuan itu harus dikejar, didapatkan, bukan menawarkan diri."
"Terus Alena malu-maluin, gitu? Emangnya maling dikejar, didapatkan, terus digebukin deh," gerutu Alena.
Riky mengulumkan senyumnya melihat Alena yang cemberut. Perbedaan usia mereka memang terpaut jauh, jadi wajar jika dalam hal ini mereka tidak sependapat.
"Sudah makan?"
"Udah, tadi beli bakso." Sahutnya masih dengan nada kesal.
"Mau pulang atau mau mampir kemana dulu?" Tawarnya.
Alena spontan menghadapkan wajahnya pada Riky.
"Ke T*mezone yuk, Kak!" Ajaknya.
"Aduh, aku kok bisa lupa ya. Om Evan kan berpesan kalau kamu jangan minta diantar-antar," ujar Riky yang menggaruk tengkuk lehernya.
"Ish, Alena kan nggak minta. Kakak yang nawarin," ujar Alena dengan mata yang mendelik.
__ADS_1
Riky terkekeh dan menyanggupi ajakan Alena. Ia terkesiap melihat Alena yang kembali ceria.
Sampai di tempat parkiran, Alena begitu antusias dan menggandeng Riky dengan raut bahagianya. Riky sampai menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Begitu juga saat di tempat permainan, tanpa canggung Alena bergelayut manja di lengan Riky.
Sembari menunggu Riky mengantri untuk kartu permainan, Alena melihat-lihat seakan menandai permainan apa saja yang akan ia mainkan.
"Ini," ucap Riky yang menyodorkan kartu permainan itu pada Alena.
"Terima kasih," ucap Alena riang.
Riky mengekor dibelakang gadis itu. Tatapannya tidak lepas dari keceriaan wajah Alena. Sesekali ia terkekeh saat Alena memajukan bibirnya karena kalah dalam permainan dan sesekali juga ia ikut membantu Alena memainkannya.
"Ada yang ingin kamu beli?" tanya Riky saat mereka melewati deretan toko dalam mall tersebut.
Alena mengatupkan bibirnya sambil menggeleng.
"Kalau ingin sesuatu, bilang aja. Kak Riky yang belikan," tawar Riky. Dari raut wajahnya, Ia merasa Alena menginginkan sesuatu namun enggan diutarakan.
"Enggak ah. Nanti Papa marah," sahut Alena pelan.
"Bilang aja dibelikan kakak. Masa iya Papa kamu marah."
"Nanti Papa tanya kenapa, untuk apa, kapan, dan ujung-ujungnya pasti bilang 'kenapa nggak bilang sama Papa kalau kamu ingin beli barang itu?'" tutur Alena.
Riky mengacak pelan rambut Alena. Ia mengerti mengapa Evan melakukan hal tersebut.
"Kesana yuk!"
Belum sempat Alena menjawab, tangannya sudah ditarik memasuki sebuah toko tas di depan mereka.
"Beneran kakak mau beliin Lena tas?" tanya Alena dengan tatapan tidak percaya.
"Iya. Memangnya untuk apa aku narik kamu ke sini," sahut Riky sambil memilih-milih.
"Tapi di sini kan tasnya mahal-mahal. Di tempat lain aja yuk!" ajak Alena pelan.
Sekali lagi Riky mengacak rambut Alena. Ia tetap meminta Alena memilih tas yang diinginkannya.
Langkah Alena terasa ringan dengan tas baru dalam paper bag yang dijinjingnya. Gadis itu tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Riky berniat mengajak Alena makan di sebuah restoran fast food namun ditolak Alena. Akhirnya mereka pun memutuskan pulang karena hari mulai petang.
"Dapat tas aja kamu senang sekali, Len-Len."
"Senang dong, namanya juga gratis. Mahal lagi. Terima kasih ya, Kak. Kak Riky baik deh," puji Alena.
"Iya, sama-sama. Sampai bosan aku dengarnya juga," kekeh Riky.
"Kak Riky emang nggak sayang uangnya dibuang-buang?"
"Dibuang? Siapa yang buang uang?" Riky terlihat heran.
"Maksud Alena, cowok itu biasanya kan ngasih sesuatu ke pacarnya atau istrinya, dan pastinya akan ada timbal baliknya. Tapi Kak Riky ngasih ke Alena yang nggak bisa ngasih apapun sebagai balasannya. Memangnya nggak rugi?"
__ADS_1
Riky terkekeh mendengar ucapan Alena yang menurutnya polos itu.
"Kamu ini ngomong apa sih? Kenapa aku harus merasa rugi? Aneh. Memangnya Alvin belum pernah ngasih apa-apa sama kamu?"
"Belum. Kak Alvin cuma ngasih kartu buat Alena belanja, tapi belum pernah dipakai."
"Kenapa? Pasti gede itu limitnya."
"Kapan-kapan lagi aja kalau Alena pengen banget. Uang dari Papa juga cukup, lebih malahan. Belum lagi suka dikasih sama Om Wira, Tante Nura, Kak Rendy juga. Dia suka transfer buat jajan kalau udah gajian." Tuturnya.
"Wah! Banyak dong uang kamu. Tahu begitu tadi aku minta ditraktir sama kamu, Len." Guraunya.
"Boleh. Kapan-kapan ya, kalau sekarang udah sore. Nanti Papa marah kalau tahu Alena belum pulang." Sahutnya.
Riky mengulumkan senyumnya. Tidak menyangka gadis disampingnya ini menanggapi serius ucapannya.
Alena tersenyum tipis melihat keluar jendela. Entah kenapa hari ini ia merasa senang. Entah karena bisa puas bermain atau karena tas barunya. Atau mungkin juga karena ada teman bicara.
Dalam keluarganya, Alena memang yang paling muda. Selama ini ia menjalani semuanya bersama Papa dan juga keluarga Wira. Kehidupannya nyaris sempurna dengan orang-orang yang mencintainya.
Papa Evan sangat menjaganya. Begitu juga anggota keluarga lainnya. Dan karena hal itu terkadang membuat Alena merasa takut mengecewakan mereka. Ia tidak berani berekspresi berlebihan apalagi memperlihatkan kesedihan. Karena sebenarnya ia sering merasa kesepian sepeninggal ibunya.
"Hei!" Riky menjentikkan dua jarinya di depan wajah Alena dan tentunya membuat gadis itu terkejut.
"Ngelamunin apa sih? Dari tadi diajak ngomong malah bengong," ujar Riky santai.
"Emang iya?"
"Hmm," angguk Riky.
"Maaf, Kak Riky."
"Kamu lagi mikirin apa?"
"Nggak ada," sahut Alena pelan.
"Kirain lagi mikirin cowok ganteng disamping kamu," canda Riky.
"Idih, ge-er." Deliknya.
Riky terkekeh pelan.
"Kak Riky mau jadi teman Alena?"
Riky menautkan alisnya.
"Teman?"
"Iya, teman yang bisa diajak curhat. Yang mau dengerin Alena bicara dan memberi saran kalau Alena membutuhkan. Soalnya kebanyakan teman Alena maunya didengarkan tapi nggak care kalau Alena ngomongin sesuatu." Tuturnya.
"Hmm, kamu nggak adil."
"Nggak adil? Maksudnya?" tanya Alena heran.
__ADS_1
"Ya nggak adil. Dulu aja waktu pertama kali ketemu Alvin kamu mau dia jadi pacar kamu. Kok sama aku cuma teman sih?"
Wajah Alena merona seketika. Ia tidak menyangka Riky masih mengingat tingkahnya malam itu di club bersama Alvin dan ketiga sahabatnya.