
Happy reading...
Alex melangkah mendekati seseorang yang berbaring tak berdaya dengan hampir di sekujur tubuhnya di balut perban. Ia menyeringai menatap lawannya yang belum lama ini terlihat angkuh namun kini terkapar koma.
"Heh, aku sudah memperingatkanmu agar jangan mencampuri urusanku. Sekarang tanggung sendiri akibatnya, dasar bod*h!" Umpatnya pelan.
Alex mendekatkan tangannya pada wajah yang dibalut perban itu.
"Kau ingin menghancurkan hidupku? Sekarang nikmatilah perjalananmu menuju ke neraka," ujar Alex sambil melepas selang oksigen yang terpasang di mulut pasien.
Alex menyeringai mendengar bunyi alat pendeteksi detak jantung yang menunjukkan garis lurus. Dengan angkuhnya ia melangkah menuju pintu hendak meninggalkan ruang ICU.
Alex terkejut mendapati pintu yang dibuka seseorang saat langkahnya bahkan belum sampai di pintu. Mike berdiri menghalangi jalannya dan beberapa orang dokter masuk ke dalam.
"Tangkap dia," ujar seorang pria memberi perintah.
Alex berontak, namun kalah jumlah dengan orang-orang yang menekuk tangannya ke belakang.
"Sudah terlambat, Pak. Pasien sudah tidak ada," ujar Dokter yang memeriksa.
Alex menyeringai puas. Namun senyumnya memudar saat sosok Rendy terlihat sedang berjalan di belakang Mike mendekati mereka.
"Apa! Dia baik-baik saja, lalu siapa yang baru saja..."
"Kau terkejut? Tapi aku tidak," ujar Mike santai.
"Tuan Mike, aku.."
"Kau akan membusuk di penjara. Salahmu sendiri membuatku repot," delik Mike.
"Pak Polisi, untuk melengkapi laporan saya. Kita akan minta rekaman CCTV ruangan ini," ujar Mike.
"Baik. Kita bawa dia ke kantor dulu," sahut pria tadi.
"Kak Rendy," ucap Amiera yang muncul di pintu dengan nafas yang terengah-engah.
Kehadiran Amiera mengalihkan perhatian mereka. Rendy merasa heran mendapati istrinya ada di tempat ini. Ia melirik pada Mike sambil menghampiri Amiera yang langsung memeluknya.
"Kakak nggak apa-apa kan?" tanya Amiera dengan maniknya yang berkaca-kaca.
"Aku nggak apa-apa, Amie." Sahutnya sambil mengusap lembut punggung istrinya.
Seorang pun tidak ada yang menyadari keterkejutan Alex. Pria itu tertegun menatap wanita yang tadi ingin ditemui ada dihadapannya sambil memeluk pria yang dianggapnya musuh.
"Ada hubungan apa dia dengan Rendy?" Batinnya.
Amiera melihat sekilas pria yang digelandang oleh beberapa pria termasuk Mike. Ia mengernyitkan dahi merasa mengenali sosok pria itu.
"Dia kan...."
"Kamu kenal dia?"
"Kalau Amie tidak salah, dia temannya Bella."
"Dimana kamu bertemu dengannya?" tanya Rendy sambil mengajak Amiera meninggalkan ruangan tersebut.
"Kakak ingat cerita Amie waktu belanja dengan Bella? Dia pria yang bersama wanita itu," sahut Amiera.
"Benarkah?"
"Hmm. Tapi Kak, kenapa dalam berita itu.."
"Sstt, sudahlah. Kita lupakan saja." Pintanya sambil menarik lengan Amiera agar melingkar di pinggangnya.
Walau penasaran, Amiera memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Melihat suaminya baik-baik saja itu sudah cukup baginya.
"Kak, Amie mau es krim." Pintanya.
"Seperti anak kecil saja. Lagi pula perutmu nanti sakit lagi."
"Tapi Amie mau," rengek Amiera.
"Hmm, baiklah." Sahutnya pasrah.
"Tapi yang di taman kemarin ya."
__ADS_1
"Taman mana?"
"Taman B," sahut Amiera senang.
"Itu kan jauh dari sini, Amie. Beli saja di minimarket yang ada di samping Rumah Sakit ini."
"Nggak mau. Mau yang di sana," ucap Amiera dengan wajah memelas.
Rendy tersenyum tipis dan mau tidak mau menyanggupi keinginan istrinya.
Sementara itu, di kantor polisi Mike yang sedang melengkapi berkas laporannya sesekali melirik pada Alex. Ia merasa geram dan ingin sekali menghabisinya.
Namun pria yang sedang tersandung masalah itu sepertinya sedang memikirkan hal lain. Raut wajahnya penuh tanda tanya. Banyak hal yang tidak ia mengerti di sini.
Kasus yang menjeratnya ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Tapi mengapa Mike di sini sebagai pelapor? Dan pria yang di ruang ICU itu, jika bukan Rendy lalu siapa? Apa jangan-jangan orang suruhannya? Kalau benar itu dia, lalu siapa yang sedari pagi berbalas pesan dengannya?
Belum satu pun pertanyaan itu terjawab, pekikan seorang wanita mengalihkan perhatiannya.
"Alex, apa ini? Kenapa mereka memaksaku memberikan kunci mobilmu?" ujar Kiran yang terkejut melihat tangan Alex yang terborgol.
"Mobil itu terekam dalam CCTV basement apartemen Tuan Rendy, Nona," sahut seorang petugas polisi.
"Rendy, Rendy Atmadja? Heh, dugaanku benar bukan? Aku sudah memperingatkanmu," ucap Kiran setengah berbisik pada Alex.
"Terserahlah, aku tidak ada urusan dengan semua ini. Bye, Alex. Aku tidak mau berurusan dengan orang dalam penjara." Ujarnya sambil berlalu meninggalkan Alex yang menatapnya tak percaya.
Mike menyeringai mendengarnya. Membuat Alex merasa geram karena seringaiannya itu.
"Tunggu, Tuan Mike. Boleh aku tahu kenapa kamu mencampuri urusanku dengan Rendy?"
"Kamu ingin tahu? Karena aku bertanggung jawab atas semua hal yang berhubungan dengan Tuan Salman di negara ini." Sahutnya.
Alex terlihat semakin bingung.
"Dengar, wanita yang tadi kamu lihat itu putri Tuan Salman. Dan pria yang ingin kamu celakai itu suaminya. Dengan kata lain, kamu berusaha mencelakai menantu Tuan Salman Al-Azmi. Itu artinya, kamu berurusan denganku." Tegasnya.
Alex tertohok dengan penuturan Mike. Ia tidak menyangka Amiera putri atasannya. Dan Rendy... Nampaknya kali ini ia harus mengakui ucapan Kiran. Karena nama belakang yang sama, ia pun bernasib sama dengan Bagas.
***
Ini sudah kali kedua Amiera memuntahkan isi perutnya. Rendy tidak habis pikir kenapa beberapa hari ini istrinya itu selalu muntah saat pagi. Dan anehnya, setelah tidur lagi Amiera akan segar kembali.
"Amie juga nggak tahu. Udah ah, Amie mau tidur lagi." Ucapnya sambil memeluk tubuh Rendy.
Beberapa hari ini Rendy selalu datang terlambat ke tempat kerjanya. Ia merasa tidak enak karena sebagai PM seharusnya ia memberi contoh yang baik untuk bawahannya.
"Amie, kita ke Dokter ya? Atau minta Dokter ke sini untuk memeriksa keadaanmu," ucap Rendy.
"Hmm, terserah," sahut Amiera malas.
"Mau sekarang atau nanti pulang kerja aku jemput?"
"Hmm, terserah."
"Sayang, di jawab dong. Bukan cuma terserah." Rendy mencubit gemas hidung mancung istrinya.
"Ih, Kakak. Ganggu aja deh. Amie kan mau tidur, gimana sih?" gerutu Amiera.
Rendy mengulumkan senyumnya menahan geli merasakan wajah Amiera yang terbenam di ketiaknya.
"Oke, deh. Nanti sore aku jemput ya."
Hening, tidak ada jawaban dari istrinya. Rendy mengusap pelan surai Amiera. Tatapannya menerawang mengingat semua hal yang terjadi belakangan ini.
Kehadiran Amiera membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Ia kini harus siap dengan segala konsekuensi menjadi menantu Al-Azmi.
***
Menjelang sore, Rendy menjemput Amiera di butik. Beberapa rekannya yang melihat merasa penasaran pada sosok pria tampan yang sering menjemput rekannya itu. Termasuk juga Julie. Karena menurut yang ia dengar dari Bella, Amiera sudah menikah.
"Apa pria itu suaminya? Pria yang diakui Brian sebagai temannya. Kalau benar, apa pernikahan mereka juga disembunyikan?" gumam Julie. Ia menatap kepergian Amiera dari balik jendela kaca ruangannya.
Lain Julie, lain pula Diana.
"Sepertinya Amiera sudah punya kekasih. Jadi kalau aku mendekati pria ini pasti tidak masalah," gumam Diana sambil memperhatikan kartu nama Dave.
__ADS_1
Diana memang sebisa mungkin tidak terlibat masalah dengan Amiera. Raut wajah Daddy Amiera masih melekat jelas dan menghantuinya.
Sementara itu...
"Kak, nanti beli es krim lagi ya." Pintanya.
"Amie, stop dulu makan es krimnya. Aku sengaja tidak membelikanmu banyak agar kamu tidak selalu memakannya. Kasihan perutmu. Aku yakin semua itu karena es krim yang kamu makan."
"Tapi Amie suka," ucap Amiera pelan.
"Aku tidak melarangmu makan es krim. Tapi jangan terlalu sering dan banyak juga. Beli saja yang di minimarket."
Amiera terdiam mendengar ucapan suaminya. Ia juga tidak mengerti kenapa hanya menginginkan es krim yang dijual di taman itu.
Di sisi lain Rendy merasa tak enak hati dengan ucapannya barusan. Diamnya Amiera membuatnya merasa seperti pria yang kejam.
Rendy menepikan mobilnya di depan rumah sakit terdekat. Berdasarkan keluhan Amiera yang merasa tidak enak di bagian perutnya, petugas Rumah Sakit menyarankannya untuk mengunjungi Dokter Umum.
Amiera dan Rendy merasa heran, karena setelah mengutarakan keluhan Dokter menyarankan mereka ke bagian Obgyn.
"Amie, menurutmu untuk apa kita menemui Dokter Kandungan? Apa mungkin kalau kamu hamil? Tapi kan kamu meminum obat itu," ucap Rendy bingung.
Amiera terdiam mendengar ucapan suaminya.
"Hamil, mungkinkah?" batin Amiera.
Seorang perawat mempersilahkan mereka masuk. Dokter itu tersenyum ramah pada pasangan muda dihadapannya.
mengutarakan keluhannya, Amiera diminta untuk tes urine. Setelah selesai, Dokter itu tersenyum dan mempersilahkan Amiera berbaring.
"Selamat, Tuan dan Nyonya. Kalian akan memiliki seorang bayi."
Rendy dan Amiera saling menatap dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
"Anda yakin, Dok? Maaf, bukan maksud saya meragukan. Tapi sebelumnya istri saya pernah mengkonsumsi pil pencegah kehamilan," ujar Rendy ragu.
"Saya mengerti karaguan Anda. Boleh saya tahu berapa lama anda mengkonsumsinya, Nyonya?"
"Tidak sampai satu bulan, Dok."
Dokter itu mengangguk-angguk kecil.
"Begini, jadi memang ada dua kemungkinan. Minum Pil KB bisa menyebabkan ovulasi lebih baik dan ada kemungkinan membuat dinding rahim lebih tebal. Jadi ya, bisa saja sebenarnya setelah berhenti minum jadi lebih subur. Apalagi mengkonsumsinya pun tidak sampai berbulan-bulan atau sampai tahunan. Dan melihat hasil tes urine juga memperlihatkan garis dua, itu artinya anda positif hamil nyonya."
Rendy tersenyum bahagia. Ingin rasanya ia memeluk Amiera namun urung menyadari ada dokter di sana. Dokter pun lalu menerangkan gambar yang tertera di layar monitor. Amiera mengulumkan senyumnya melihat Rendy yang sangat fokus memperhatikan penjelasan dari Dokter.
Setelah berada dalam mobil pun Rendy masih terlihat bahagia. Ia memeluk Amiera erat dan menghujaninya dengan ciuman di sekitar wajahnya.
"Terima kasih, aku tidak tahu kamu berhenti meminum pil itu." Ucapnya dengan tatapan haru.
"Kebahagian kakak segalanya untuk Amie." Sahutnya.
"No, Sayang. Kebahagianmu segalanya untukku," sahut Rendy.
Amiera terharu mendengar ucapan Rendy. Ia tersipu malu saat Rendy mengecup perutnya berkali-kali.
"Mau es krim?" tawar Rendy.
"Katanya nggak boleh," sahut Amiera.
"Mmm, kalau dipikir-pikir mungkin saja itu bawaan dari kehamilanmu. Iya kan?"
"Sepertinya begitu."
"Oke, kalau begitu. Aku temani kamu makan es krim sepuasnya," ucap Rendy dengan semangat.
"Yakin?" goda Amiera.
"Yakin dong."
"Nanti sakit perut," gurau Amiera.
"Demi kalian sakit perut nggak apa-apa deh." Sahutnya.
"Kalian?"
__ADS_1
"Hmm, kamu dan calon bayi kita."
Wajah Amiera langsung merona. Ia tidak menyangka Rendy akan sebahagia ini.