Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
amarah Salman


__ADS_3

Peringatan : Dalam episode ini terdapat adegan kekerasan.


Happy reading...


Sophia menberanikan diri bertanya pada Mike.


"Maaf, Tuan. Apa terjadi sesuatu? Oh iya, tadi kalau tidak salah saya melihat Nona Amiera." Ujarnya.


Mendengar nama Amiera, sontak ketiga pria itu menoleh kepada Sophia.


"Dimana?" tanya Salman dengan suara meninggi.


"Tadi saya tidak sengaja melihat nona menggunakan lift menuju lantai paling atas." Sahutnya dengan raut wajah yang takut melihat sorot mata Tuan Salman yang tajam.


"Lantai atas? Mau apa dia di lantai atas?" gumam Salman.


Mike memijit tombol angka menuju lantai paling atas.


"Kamu yakin itu Nona Amiera?" tanya Mike. Ia khawatir Sophia melakukan kesalahan saat tuannya sedang dalam keadaan kesal.


Sophia mengangguk yakin.


"Ada apa di lantai atas? Apa ada taman di sana?" tanya Salman.


"Setahu saya tidak ada, Tuan. Lantai atas terdiri dari beberapa kamar presidential suite," sahut Mike.


"Kamar? Mau apa Amiera di sana dan bersama siapa?" batin Alvin. Tiba-tiba saja ia merasa sangat khawatir. Dugaan kemungkinan terjadi sesuatu pada adiknya mumbuatnya jadi gusar.


Saat pintu lift terbuka, Salman yang paling depan melangkah. Ketiga pria di depannya berjalan cepat hingga Sophia kesulitan mengikuti langkah besar mereka.


Satu persatu pintu kamar meraka dorong namun terkunci. Dalam hati Sophia bersorak sudah tidak sabar ingin melihat adegan selanjutnya.


Mereka berdiri di pintu terakhir. Salman sendiri yang mendorong pintu itu.


Brak.


Pintu yang tidak terkunci itu terbuka dan mengagetkan orang didalamnya, yakni Rendy dan Amiera.


Rendy yang sejenak terlelap merasa terkejut dan langsung turun dari tempat tidur. Begitu juga dengan Amiera. Kepalanya menyembul dari selimut ingin melihat siapa yang datang. Keduanya nampak memucat melihat Salman ada di sana.


"Rendy!" seru Alvin dalam hati.


"Rendy Atmadja!" batin Mike.


"What! Kenapa Rendy yang bersama Amiera? Dimana Mark?" batin Sophia memekik.


Salman mengepalkan kedua lengannya dan melangkah mendekati Rendy. Sementara itu Rendy kebingungan menjelaskan yang terjadi dengan keadaannya yang sedang bertelanjang dada.


"Tuan, ini tidak seperti yang anda lihat." Ucapnya mencoba menenangkan Salman.


Bugh.


Satu tinjuan Salman mengarah langsung ke wajah Rendy. Amiera memekik dan spontan menyingkap selimutnya berlari ke arah Rendy.


"Amiera!" hardik Alvin.

__ADS_1


Amiera terkejut dan baru menyadari dirinya hanya mengenakan kemeja milik Rendy.


"Keluar Mike!" bentak Alvin pada Mike yang sedang memalingkan muka.


"Keluar sebelum kukeluarkan matamu, Mike!" bentak Salman dengan tatapannya yang sangat marah.


Mike bergegas keluar.


"Kau juga!" hardik Alvin pada Sophia.


Sophia yang tadi masih mematung pun terhenyak dan langsung berlari keluar kamar. Alvin menutup kamar itu sekaligus menguncinya.


Salman menatap nyalang pada Rendy yang sedang mencoba menyeimbangkan tubuhnya. Sedangkan Amiera duduk bersimpuh dan Alvin menyelimutinya.


"Bangunlah!" titah Alvin. Nada suaranya terdengar datar dan dingin.


Amiera berdiri dan duduk ditepi tempat tidur. Ia menjerit saat lagi-lagi Salman menghantamkan tinjunya pada Rendy. Amiera menangis histeris melihat Salman menginjak punggung Rendy yang tersungkur.


"Dad, Rendy menolong Amie. Bukan dia yang berniat buruk pada Amie, Dad!" Amiera bersimpuh lagi sambil menangis. Ia tidak tega melihat Rendy yang meringis menahan rasa sakit di bawah kaki Daddynya.


"Amiera!" bentak Alvin.


"Kak Alvin, minta daddy berhenti memukul Rendy. Bukan Rendy, Kak. Amie bersumpah dia tidak bersalah. Rendy hanya ingin menolong Amie," isak Amiera memohon di kaki kakaknya.


Alvin mulai bimbang. Ia bingung harus percaya atau tidak pada ucapan Amiera. Ia tahu bagaimana Rendy, namun ia juga tidak bisa menutup mata dengan keadaan mereka berdua.


"Suruh Mike menyiapkan pesawat! Kita pulang malam ini juga," titah Salman.


Alvin yang masih belum tahu harus berbuat apa pada Rendy dan Amiera hanya bisa menuruti perintah daddynya.


***


Alvin keluar dari kamar dan mendapati Mike masih berada di luar kamar tersebut. Sophia juga masih di sana. Gadis itu bergidik takut membayangkan raut wajah Salman yang terlihat sangat bengis. Selain itu ada Bella yang menggendong Zein yang tertidur. Tadi Mike meminta Sophia memanggil adiknya itu.


"Mike, minta pilot dan semua kru pesawat kita memajukan jadwal kepulangan kami. Daddy ingin pulang malam ini juga." Ujarnya.


Mike terkejut dengan keputusan Tuan Salman. Tapi ia tidak berani mempertanyakannya sekalipun itu pada Alvin. Pria itu mengangguk dan berlalu dari hadapan Alvin.


"Ada apa, Vin? Apa yang terjadi pada Amiera?" tanya Bella.


Alvin hanya diam. Ia sedang mencoba untuk berpikir jernih. Bella yang menunggu jawaban dari Alvin merasa bingung lantaran Mike juga tidak mengatakan apa-apa.


"Bella, berikan Zein padaku. Tolong ambilkan pakaian lengkap Amiera. Kurasa lemarinya tidak terkunci. Cepatlah!" Pintanya.


Alvin menggendong Zein. Bella yang masih belum mengerti keadaannya hanya bisa mengangguk.


"Daddy," gumam Zein saat menyadari Alvin yang menggendongnya.


"Tidurlah, Boy." Alvin mengusap-usap punggung Zein.


Alvin mengalihkan pandangannya pada Sophia yang berdiri di bagian sudut tempat itu.


"Aku hanya memperingatkanmu satu kali. Jangan sampai mulutmu itu terbuka! Karena jika ada yang tahu kejadian ini, itu pasti dari dirimu. Dan akan ku pastikan kau menyesalinya. Aku tidak main-main, kau dengar! Pergilah."


Sophia mengangguk pelan dan dengan cepat berlalu dari hadapan Alvin. Kini hanya tinggal Alvin dan Zein yang tertidur dalam dekapannya. Ia tidak mungkin membawa Zein masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Saat Alvin merogoh ponselnya, ia merasa heran melihat ada panggilan tak terjawab beberapa kali dari Rendy. Ponselnya memang dalam mode silent. Ia lalu menoleh ke arah pintu.


Alvin pun menelepon Riky. Sialnya pria itu sepertinya sedang berada di sebuah club. Riky kesulitan mendengar suara Alvin di ujung ponselnya. Dengan kesal akhirnya Alvin mengirimkan pesan pada sahabarnya itu.


📨 [Siap-siap, kita pulang malam ini juga.]


📩 Riky [What! Loe nggak lagi ngeprank gue kan?]


📨 [Terserah kalau loe nggak mau ikut pulang.]


📩 Riky [Sinis banget. Lagi PMS loe? Hehe.]


Alvin menghela nafasnya. Ia tidak berminat membalas gurauan Riky. Sebuat notifikasi pesan diterima Alvin.


📩 Riky [Oke, Bro. Sekarang gue balik ke hotel, terus ke tempat Amiera. Tungguin gue! Awas aja kalau loe sampai ninggalin.]


Tidak lama kemudian Alvin menerima panggilan dari Mike. Pria itu memberitahukan bahwa para kru pesawat termasuk pilot sedang menuju bandara untuk memastikan kesiapan pesawat.


Selama ini para kru tersebut menempati hotel yang sengaja di persiapkan untuk mereka. Dan mereka tahu benar jika mereka harus selalu siap kapanpun Tuan Salman membutuhkan mereka. Dan hal itu memudahkan tugas Mike.


Di dalam kamar, Amiera ingin membantu Rendy untuk duduk. Namun hardikkan Salman membuat ia mengurungkan niatnya.


"Menjauh darinya, Amie! Apa kau tidak sadar pahamu terlihat oleh pria b*jingan ini, hah!"


Amiera beringsut menjauhi Rendy sambil menutupi pahanya dengan ujung selimut. Air matanya berderai melihat Rendy yang berusaha untuk duduk sambil menahan rasa sakit.


Sementara itu, Salman sebisa mungkin menahan emosinya terhadap Amiera. Bagaimanapun juga ia tidak terbiasa bersikap kasar pada wanita, apalagi pada putrinya.


Salman yang berdiri membelakangi tidak jauh dari posisi mereka sesekali menoleh dan mendelikkan matanya. Tatapannya masih terlihat sangat marah pada keduanya.


Setengah jam kemudian, Bella datang membawa pakaian Amiera. Alvin mempersilahkan ia masuk dan sangat terkejut melihat kondisi Rendy. Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya, namun ia tidak berani bertanya melihat Tuan Salman yang sangat marah.


Amiera mengganti bajunya di kamar mandi. Terdengar isakan dari dalam kamar mandi membuat orang yang mendengarnya menduga yang tidak-tidak.


Alvin meminta izin kembali ke penthouse bersama Bella dan juga Zein. Ia harus mempersiapkan semua hal sebelum keberangkatan.


Amiera keluar dari kamar mandi sambik membawa kaos dalam dan kemeja milik Rendy. Salman memintanya dan melemparkan pakaian itu pada wajah Rendy.


Rendy yang sedari tadi menahan hawa dingin pun mengenakannya. Amiera merasa sangat kasihan melihat Rendy kesulitan memakai bajunya. Ingin sekali ia membantu memakaikannya namun tatapan Salman membuatnya hanya bisa diam.


***


"Ada apa ini, Vin? Rendy dan Amiera..."


"Entahlah Bella. Aku juga tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang telah terjadi."


Bella terdiam. Ia tidak mungkin mencecar Alvin dengan pertanyaan saat pria itu juga merasa bingung.


"Jadi kalian akan pulang malam ini juga?" Tanyanya.


"Begitulah. Daddy sangat marah," sahut Alvin.


"Lalu Rendy?"


"Sepertinya Daddy akan menyeretnya pulang bersama kami."

__ADS_1


Bella hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban Alvin.


__ADS_2