
Happy reading...
Beberapa minggu kemudian...
Sinar mentari terasa hangat di pagi ini. Setelah semalaman di guyur hujan lebat, penduduk kota London pagi ini mulai menggeliat. Memulai kembali aktivitasnya dengan dorongan semangat dari sang mentari.
Sinar itu nampak sangat dekat, manakala kita sedang berada di udara. Akhirnya Rendy merasa lega karena sudah mengudara.
Semalam Rendy hanya bisa pasrah saat mengetahui jadwal penerbangannya diundur karena cuaca yang buruk. Ia dan penumpang lainnya hanya bisa menunggu jadwal keberangkatan di pagi buta ini.
Pria itu nampak gelisah. Entah kenapa ia merasa tidak tenang dan ingin segera sampai di rumah dan bertemu istrinya.
"Semoga Amiera baik-baik saja," gumam Rendy.
Sejak mendengar Amiera sering merasakan kontraksi, Rendy sudah berniat akan pulang. Namun Amiera yang tidak ingin membuatnya khawatir selalu mengatakan bahwa itu kontraksi palsu. Dan beberapa hari yang lalu saat berbicara dengan istrinya itu, Rendy mengatakan bahwa ia sudah memesan tiket untuk pulang.
Sementara itu di kediaman Salman..
Dari kaca jendela kamarnya, Amiera dapat melihat anak-anak yang baru saja pulang sekolah berhamburan dari dalam mobil yang dikemudikan Laura. Tawa riang mereka terdengar nyaring di telinga. Dan sepertinya teman mereka yang bernama Zenita main lagi ke rumah.
Sejak Queena masuk ke playgroup yang sama dengan dua saudaranya, Laura lebih sering mengantar mereka. Sedangkan Meydina selalu berada di rumah begitu juga dengan Pak Budi, supir mereka.
Amiera merasa kalau kedua saudarinya itu sengaja berbagi tugas. Mereka bergantian menemani anak-anak ke sekolah dan juga menjaganya. Daddy dan kakak-kakaknya pasti khawatir karena kehamilan Amiera sudah mendekati tanggal kelahiran yang diperkirakan dokter.
"Akh..." Ringisnya.
Sambil mengusap-usap perutnya, Amiera berjalan kesana-kemari di dalam kamarnya dengan langkah perlahan. Belakangan ini Amiera memang sering merasakan kontraksi. Namun hari ini ia merasakan lebih lama dari biasanya.
"Apa sebaiknya aku bilang pada Kak Mey?" Gumamnya dengan raut wajah yang meringis. Amiera terduduk di salah satu sisi tempat tidurnya.
"Aww!" pekik Amiera pelan saat kontraksi yang dirasanya sangatlah kuat. Karena menahan sakit yang teramat, Amiera sampai meneteskan air mata.
"Kak.. Cepatlah datang." Ucapnya lirih.
Di bagian lain rumah itu, ruang bermain anak-anak terdengar sangat ramai. Canda tawa mereka terdengar saling bersahutan.
Keempat cucu Salman dan seorang temannya yang bernama Zenita itu asik bermain dengan pengawasan Mbak Uli dan beberapa pengasuh lainnya. Tidak hanya anak-anak, namun para pengasuh mereka juga terlihat akrab. Meydina yang menyempatkan melihat sejenak nampak senang melihat pemandangan tersebut.
"Mereka masih bermain?" tanya Salman.
"Iya, Yah. Sebentar lagi mau dipanggil untuk makan siang. Ayah mau makan sekarang?" Tawarnya.
"Nanti saja bersama mereka. Tidak biasanya Amiera belum keluar," ujar Salman dengan tatapan heran tertuju pada pintu kamar Amiera.
"Satu jam yang lalu Mey lihat ke kamarnya, Amie sedang tidur. Mungkin semalam dia kurang tidur, Yah."
"Coba lihat lagi, Mey."
Meydina mengangguk dan beranjak menuju kamar Amiera. Ia mengetuk sekali dan langsung masuk ke dalam kamar tersebut.
Amiera masih berbaring dan menyembunyikan dirinya dibalik selimut. Namun ada yang janggal, karena terdengar isakan dari balik selimut tersebut.
__ADS_1
"Amie, ada apa?" tanya Meydina sambil menyingkap selimut tersebut.
"Perut Amie sakit, Kak." Isaknya.
"Sejak kapan? Mengapa tidak bilang? Ayo kita bersiap ke rumah sakit," ajak Meydina yang beranjak menuju walk-in closet untuk mengambil tas yang sudah ia siapkan.
"Masih bisa bangun? Kakak ambil kursi roda ya, tunggu sebentar."
Masih dengan raut wajahnya yang meringis, Amiera mencoba untuk duduk. Tak lama Laura datang menghampiri dengan tangan yang memegang ponsel menelepon Alvin, suaminya.
"Sudah terasa?"
Amiera mengangguk pelan.
"Sejak kapan?"
"Baru saja, Kak. Tadi sakitnya masih bisa ditahan. Amie berbaring, kalau berdiri takut keluar." Sahutnya lirih sebisa mungkin menahan rasa sakit.
"Sudah telepon Alvin?"
"Sudah, Yah. Sebentar lagi datang," sahut Laura.
"Minta Alvin mengurus keperluan di rumah sakit. Kita akan berangkat dengan Budi."
"Baik, Yah." Laura tanpa menunggu lama langsung menelepon Alvin.
"Dad.."
Salman mendorong kursi roda. Meydina yang dibantu seorang pelayan terlihat sedang memasukkan semua yang dibutuhkan ke dalam mobil. Sementara Laura sedang menelepon Alvin.
"Ayah akan ikut?" tanya Meydina.
"Ayah akan bersama Laura. Kamu duluan saja, Mey. Alvin ada di sana," ujar Salman.
"Baiklah."
"Semua akan baik-baik saja, Amie." Ujarnya sambil mengecup tangan putrinya tersebut.
"Iya, Dad." Sahutnya. Amiera mencoba tersenyum kepada Salman.
"Duluan ya, Yah," pamit Meydina.
Salman mengusap kasar wajahnya. Ia menatap mobil yang berlalu dengan tatapan khawatir.
"Alvin sudah di sana?" tanya Salman pada Laura yang menghampirinya.
"Sudah, Yah. Baru saja tiba."
"Syukurlah. Bagaimana anak-anak?"
"Anak-anak sebentar lagi makan siang."
__ADS_1
"Auntie, Mami kemana?" tanya Amar.
"Mami mengantar Auntie Amiera ke rumah sakit, Sayang."
"Auntie mau melahirkan Baby, ya."
"Benar, Sayang. Ayo, makan dulu! Auntie sama Kakek mau ke rumah sakit."
"Amar ikut."
"Nanti ya kalau Baby-nya sudah lahir. Sama Papi nanti ke rumah sakit, oke?"
"Oke. Papi kapan pulang?"
"Nanti sore."
"Yaa, masih lama." Amar terlihat kecewa. Salman mengacak lembut rambut cucunya tersebut. Dan putra Meydina itu berlari menghampiri saudaranya.
"Kakak, Amar mau lihat Baby Auntie nanti sama Papi."
"Queen ikut! Mommy..."
"Kakak juga mau ikut!" seru Zein.
"Iya-iya, semua ikut. Tapi nanti ya, sama Papi Maliek. Sekarang kalian makan, terus bobo siang. Mommy sama Kakek mau menyusul ke rumah sakit. Zeni mau bobo siang sama Queen, sama Fatum?"
Zenita mengangguk senang. Sejak Queena tinggal di rumah itu, kamar Amar dan Zein terpisah dengan kamar Queena dan Fatum. Kamar mereka bersebelahan.
***
Diruangannya, Amiera sebisa mungkin menahan sakit luar biasa yang kini tengah dirasakannya. Meydina mengusap kening Amiera yang mengeluarkan keringat dingin sambil sesekali mengusap-usap punggung adiknya tersebut.
Jika melihat pada perkiraan kelahiran, masih ada lima hari kelahiran bayi Amiera. Dan menurut dokter yang memeriksanya, jalan lahir itu baru pembukaan empat. Namun Amiera sudah merasakan sakit yang luar biasa.
Nura yang baru saja tiba, langsung memeluk dan memberikan dorongan semangat pada menantunya. Wanita paruh baya itu merasa kasihan melihat Amiera yang meringis kesakitan.
"Ma, belum ada kabar dari Kak Rendy?"
"Belum, Sayang. Mungkin dia sedang dalam pesawat. Sabar ya, suamimu pasti datang."
"Amie ingin ada Kak Rendy," rengek Amiera.
"Sabar, Sayang. Sabar sebentar lagi ya," bujuk Nura.
"Coba jalan-jalan di ruangan ini, Amie. Kakak bantu bergerak berdiri lalu agak jongkok. Mau?"
Amiera mengangguk pelan. Ia mengikuti saran Meydina dari mulai berjalan perlahan hingga berpegangan pada Meydina untuk mencoba pose berdiri-jongkok.
Sementara itu di luar ruangan..
Salman yang baru datang langsung menanyakan banyak hal pada Alvin. Ia menanyakan kemungkinan untuk Amiera menjalani operasi caesar.
__ADS_1
"Amie tidak mau, Dad. Dia masih menginginkan persalinan normal," sahut Alvin.