Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
berita mengejutkan (bagian 1)


__ADS_3

Happy reading...


Rendy menatap wajah Ameira yang sudah terlelap. Seperti halnya Amiera, ia juga berencana akan berangkat ke proyeknya setelah agak siang. Ia ingin memastikan istrinya itu baik-baik saja.


Perlahan ia melepaskan dekapan Amiera dan bermaksud ingin menelepon asisten barunya. Setelah berhasil turun dari tempat tidurnya, Rendy meraih ponselnya dan berjalan perlahan keluar dari kamar.


"Anda mau kopi, Tuan?" tawar seorang pelayan.


Rendy mengangguk pelan. Tatapannya saat ini sedang tertuju pada layar ponselnya.


"Ada apa ini? Mengapa sepagi ini mereka meneleponku?" gumam Rendy heran.


Ponselnya yang dari semalam ia pasang dalam mode silent dibanjiri panggilan tak terjawab. Selain itu juga notifikasi pesan yang tidak sedikit diterimanya dari beberapa orang yang dikenalnya. James, Bella, Sophia, Mike, dan bahkan beberapa orang di proyek barunya juga ada yang meneleponnya.


"Sebaiknya aku menelepon Mike terlebih dulu." Batinnya.


Baru saja niatnya terbersit, Mike sudah lebih dulu menghubunginya.


📱 "Halo, Tuan Mike. Apa terjadi sesuatu yang aku tidak tahu?"


📱 "Tuan Rendy, bisa tolong dengarkan aku?"


📱 "Iya, ada apa?"


📱 "Untuk hari ini saja, jangan menerima telepon atau membalas pesan dari siapapun juga kecuali aku tentunya. Tidak juga dari James."


📱 "Bisa jelaskan padaku ada apa ini, Tuan Mike?" tanya Rendy heran.


📱 "Aku akan jelaskan setelah urusannya selesai. Oh iya, jangan juga membaca atau membalas pesan. Aku akan menghubungi anda lagi."


Rendy semakin merasa heran. Mike sudah mengakhiri panggilannya.


"Apa ini ada hubungannya dengan pria tadi malam?" Gumamnya.


Rendy beranjak mencari kunci mobilnya di tempat biasa ia menyimpan.


"Apa penjaga itu lupa menaruhnya lagi?"


Ia pun berjalan mengarah pada pintu dan menanyakan dua pria yang berjaga semalam pada salah satu penjaga yang berada di depan pintu.


"Apa dua penjaga semalam sudah bangun? Jika belum, tolong tanyakan dimana mereka menyimpan kunci mobilku." Pintanya.


"Maaf, Tuan. Tapi mereka tidak di sini."


"Maksudmu?"


"Sejak semalam mereka tidak kembali lagi ke atas."


Rendy berfikir sejenak dan bergegas menuju lift. Sesampainya di basement, ia dikejutkan dengan mobilnya yang tidak ada di tempatnya.


"Ada apa ini sebenarnya, dan kemana perginya dua penjaga itu membawa mobilku?" Gumamnya bingung.


"Hai, Tetangga! Ada apa pagi begini kamu seperti orang bingung?" tanya Dave yang baru saja keluar dari lift.


"Bukan urusanmu," sahut Rendy malas.


"Oh ya, Tetangga. Apa hari ini kamu tidak kerja?" tanya Dave heran.


"Dave, namaku bukan tetangga. Namaku Rendy, oke? Dan jangan terlalu banyak bertanya tentang sesuatu yang bukan urusanmu," sahut Rendy kesal. Ia tahu Dave bertanya seperti itu karena melihat dirinya yang masih mengenakan boxer dan kaos oblong.


"Rendy? Aku heran kenapa hari ini sering sekali mendengar nama itu," ucap Dave pelan sambil berlalu.


Rendy mengernyitkan dahinya.


"Tunggu, Dave! Kamu bicara apa barusan?"


"Apa? Yang mana?" ucap Dave dengan nada mengejek.


"Yang kamu bilang mendengar nama Rendy," ujar Rendy menahan kesal.


"Oh, kamu belum melihat berita pagi ini? Nama itu sedang banyak diberitakan. Ah, sudahlah. Lagi pula bukan urusanku," decih Dave.


"Berita?" gumam Rendy sambil menatap Dave yang berlalu menuju mobil miliknya.


Rendy bergegas kembali ke penthouse. Ia langsung menyalakan televisi. Selain itu ia juga membaca berita online.

__ADS_1


Raut mukanya menegang melihat namanya diberitakan menjadi korban kecelakaan beberapa jam yang lalu. Matanya terbelalak melihat foto mobil yang ringsek itu bernomer sama persis dengan plat nomer mobilnya.


Cepat-cepat ia mematikan televisinya. Rendy tidak ingin Amiera sampai melihat berita itu. Ia juga menelepon Mike untuk meminta penjelasannya.


***


Kiran menyeringai melihat Alex yang tertawa senang. Pria itu merasa puas setelah mendengar berita pagi ini.


"Aku tidak menyangka akan mendengar berita kecelakaan itu sepagi ini. Tadinya ku pikir mungkin akan mendengarnya siang nanti, haha." Alex kembali tergelak.


"Jangan senang dulu, dia belum mati."


"Maka akan ku pastikan dia mati hari ini. Dia pikir aku akan membiarkannya begitu saja," decih Alex.


"Hari ini kamu akan kemana?" tanya Alex pada Kiran.


"Bertemu temanku. Aku akan membawa mobilmu, tidak apa kan?"


"Pakai saja, aku bisa membawa mobilku yang lain. Dan ini, aku berikan ini karena aku sedang merasa senang." Ucapnya sambil memberikan sebuah kartu pada Kiran.


"Terima kasih, sering-seringlah seperti ini."


Alex menyeringai sinis. Ia kemudian tersenyum membayangkan wajah cantik designer yang hari ini akan ditemuinya.


Sementara itu, Amiera yang baru bangun dari tidurnya mencari-cari sosok suaminya.


"Apa aku tadi tidur sangat pulas? Sampai-samapi Kak Rendy pamitpun aku tidak tahu." Gumamnya.


Ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat kerja. Setelah semua selesai, Amiera pun berangkat.


Melihat mobil suaminya tidak ada di tempat parkir membuatnya merasa yakin, Rendy sudah berangkat ke kantornya. Saat melewati bagian depan gedung, Amiera mengernyitkan dahinya.


"Itu seperti mobil Uncle Mike. Tapi mana mungkin Uncle Mike ada di sini sepagi ini. Mungkin mobil orang lain yang kebetulan sama," gumam Amiera.


***


"Ada apa ini, Tuan Mike? Bagaimana bisa nama dan mobilku ada dalam berita itu? Kamu lihat kan aku baik-baik saja, lalu siapa korban yang dibicarakan itu?" selidik Rendy dengan tatapannya yang tajam.


Saat ini mereka berada dalam apartemen Rendy yang dulu. Mike memintanya bertemu di situ karena tidak mungkin membicarakannya di penthouse.


"Begini, Tuan. Saat anda menceritakan kecurigaan akan seseorang yang membuntuti anda, saya langsung memeriksa CCTV basement ini."


"Lalu? Apakah sama dengan orang yang semalam?"


"Pria pertama yang membuntuti anda adalah Alex. Itu bisa diketahui dari mobil yang dipakainya. Dan pria di hari-hari berikutnya adalah orang suruhannya. Dan anda tahu itu siapa?"


Rendy menatap dengan tatapan menyeledik.


"Staf keuangan itu?"


"Benar. Dia orang yang semalam anda lihat."


"Lalu dimana dia sekarang? Jangan bilang orang dalam kecelakaan itu dia. Karena tidak mungkin kan kalau salah satu orangmu."


"Anda benar, itu memang dia." Sahutnya santai.


Rendy menatap dengan tatapan tak percaya pada Mike.


"Lagi-lagi kalian membunuh seseorang? Oh My God, aku tidak percaya ini. Rasanya seperti aku hidup di lingkungan mafia."


"Kami tidak membunuhnya. Aku hanya memintanya mengendarai mobilmu yang sebelumnya telah ia rusak hingga rem-nya blong. Jadi ya bukan salahku jika dia kehilangan kendali dan mengalami kecelakaan."


Raut wajah Mike terlihat sangat santai. Membuat Rendy kesulitan menebak isi pikiran pria itu.


"Lalu Alex?"


"Sekarang giliran dia. Aku akan menjebaknya di ruang ICU. Aku tinggal mengantongi satu bukti lagi untuk menyeretnya ke dalam penjara. Dan akan ku pastikan dia membusuk di sana."


"Maksudmu? Dia akan mengunjungi orang yang terbaring di ruang ICU karena berfikir itu aku? Bagaimana kalau dia tidak datang?"


"Dia pasti datang," ucap Mike sambil memperlihatkan isi pesan Alex pada ponsel yang diambilnya dari pria semalam.


"Dia akan dijerat pasal pembunuhan berencana," ujar Mike lagi.


Rendy tertegun, tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin berterima kasih berkat kesigapan Mike kecelakaan itu tidak menimpanya. Namun cara Mike menyelesaikan masalah benar-benar di luar nalarnya.

__ADS_1


"Tuan Mike, kumohon ini yang terakhir kalinya. Jangan anggap murah nyawa orang lain," pinta Rendy.


"Aku tidak janji, Tuan. Aku melakukan ini karena anda menantu Tuan Salman. Jika tidak, anda mati hari ini pun aku tidak perduli." Tegasnya.


"Bersiaplah, aku akan menunggumu di bawah. Kita akan ke rumah sakit." Ucapnya lagi sambi berlalu menuju pintu.


Rendy teringat pada Amiera yang tadi masih terlelap. Di dalam kamar ia mencari-cari sosok istrinya itu.


"Istriku sudah pergi?" tanya Rendy pada seorang pelayan.


"Iya, Tuan."


Pelayan itu terlihat heran karena sebelumnya, Amiera juga melakukan hal yang sama.


***


Alex melangkah keluar dari butik. Ia harus kecewa karena designer bernama Amiera tidak datang juga. Ia akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan urusannya di rumah sakit. Setelah itu, ia akan kembali lagi ke sini.


Selang beberapa menit setelah mobil Alex berlalu, Amiera menepikan mobilnya. Ia melenggang anggun menuju tempat kerjanya.


"Nona, mobil siapa yang anda kemudikan tadi?" tanya Rey.


"Mobilku, memangnya kenapa?"


"Ah, tidak. Sangat berbeda dengan mobil yang biasa anda bawa," sahut Rey jujur.


Julie yang mendengar percakapan mereka mencoba melihat ke bawah dari jendela ruangannya.


"Itu kan mobil pria yang menjemput Amiera waktu itu. Teman kampus Brian," batin Julie.


Amiera dan Julie membahas mengenai gaun untuk pelanggan mereka yang kemarin dikunjungi Amiera.


"Miss, aku yang akan membayar ini."


"Kenapa? Apa maksudmu?"


"Aku ingin memberikan gaun ini sebagai hadiah ulang tahunnya," ucap Amiera sambil menatap desain gaun yang baru saja dibuatnya.


"Terserah kamu saja," ucap Julie sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu. Aku permisi ke ruanganku. Aku lupa belum minta maaf karena datang sangat terlambat. Maafkan aku, Miss." Ujarnya.


"Tidak perlu minta maaf. Jika kamu merasa belum sehat sebaiknya istirahat saja."


"Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih."


Amiera meninggalkan ruangan Julie dan menuju ke ruangannya. Tidak ada siapapun di ruangan itu. Sepertinya Diana dan dua orang rekannya sedang berada di ruang produksi.


Tidak lama kemudian, mereka bertiga masuk hampir bersamaan. Mereka terdengar berbisik-bisik membicarakan sesuatu. Amiera hanya tersenyum tipis menanggapi kebiasaan rekan-rekannya yang suka bergosip.


"Aku harap pria itu masih bisa diselamatkan," ucap Veya.


"Hmm, aku pun berharap begitu," timpal Rey.


"Aku tidak perduli dia hidup atau mati. Siapa suruh dia mengemudi dalam keadaan mabuk," ujar Diana sinis.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Amiera pelan pada Rey yang berdiri disampingnya.


"Tadi pagi di salah satu ruas jalan raya terjadi kemacetan parah. Menurut yang ku dengar, dini hari tadi terjadi kecelakaan."


"Biasanya itu orang-orang yang mengemudi dalam keadaan mabuk. Mereka baru pulang dari club dan berakhir di rumah sakit," decih Diana.


"Lihatlah, Nona. Bagian depan mobilnya sangat hancur, sepertinya ini masuk ke bagian bawah mobil besar."


Amiera melirik sekilas pada ponsel Rey. Awalnya ia melakukannya karena tidak enak bila mengabaikan rekannya tersebut. Namun kedua maniknya terbelalak melihat nama yang tertera. Ia langsung mengambil ponsel itu dan menggerakkan jarinya untuk membaca berita tersebut.


"Tidak mungkin. Bagaimana bisa nama dan nomer mobilnya sama. Tidak , ini tidak mungkin." Batinnya.


Ketiga rekan Amiera menatap heran padanya. Mereka semakin heran saat melihat butiran air mata menetes di pipi Amiera.


"Ada apa Amiera, kamu mengenal pria itu?" tanya Diana heran.


"A-aku harus pergi," ucap Amiera sambil beranjak dan membawa sling bag-nya.


Amiera bergegas mengemudikan mobilnya. Saat ini ia tidak bisa berpikiran jernih.

__ADS_1


"Aku yakin Kak Rendy tadi pagi ada di sampingku. Dia bahkan memberiku minum. Tidak mungkin suamiku. Tapi kenapa nama dan mobilnya sama?" ucap Amiera bingung.


__ADS_2