Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
kebersamaan di penthouse


__ADS_3

Happy reading...


Ada yang berbeda di penthouse Amiera kali ini. Gelak tawa terdengar menggema menghangatkan suasana dalam ruangan. Salman, Amiera dan Mike sedang menyaksikan kelucuan tingkah Zein Maliek yang selalu mencari perhatian mereka.


Mike membukakan pintu saat bel berbunyi. Ternyata Alvin, Riky dan Bella baru saja tiba di sana.


"Daddy!" seru Zein. Ia berlari ke arah Alvin dengan riangnya.


"My Boy!" sambut Alvin.


"Sudah mandi?" Tanyanya pada Zein yang kini dalam dekapannya.


"Belum," geleng Zein.


"Hmm, pantesan ada yang bau acem."


"Kakak mau belenang, Dad. Please," pinta Zein sambil menangkup kedua tangannya.


"Boleh nggak ya?" Alvin berpura-pura mempertimbangkannya.


"Boleh, boleh, Daddy. Uncle mau belenang?" tanya Zein pada Riky.


"Boleh. Kebetulan uncle belum mandi, hehe..."


"Pantesan bau. Bel, mobil kamu harus langsung dicuci tuh. Kamu bawa Riky dari Cambridge, kumannya nempel dimana-mana." Kelakarnya.


Peryataan Alvin tanpa sadar membuat mereka semua memperhatikan Riky dan Bella bergantian. Membuat keduanya salah tingkah.


"Ups! Daddy keceplosan, Zein. Yuk ah, kita berenang aja. Kabuur..."


Alvin berlari kecil membuat Zein yang ada dalam dekapannya terguncang-guncang dan terkekeh kegirangan.


"Kalian datang bersama?" tanya Mike ragu-ragu. Tatapannya tajam pada Bella.


"Mike, aku akan jelaskan nanti. Kami tidak sengaja bertemu. Sungguh," sahut Bella.


"Dia benar, Mike. Hanya kebetulan," timpal Riky.


"Maaf aku tidak bertanya padamu, Riky."


"Ciee... Ehhem, ehhem. Uncle jangan galak-galak dong serem tahu," goda Amiera.


Mike mengurungkan niatnya mengintrogasi Bella. Tidak mungkin ia melakukannya di depan Salman. Namun Bella tentu tahu bagaimana kakaknya itu.


Riky ikut bergabung dengan Alvin dan Zein. Mereka bertiga bermain air dengan riangnya. Sementara itu Salman dan Mike berbincang di sofa yang berbeda. Amiera pamit untuk berganti pakaian. Dan Bella, diam-diam memperhatikan kedekatan Alvin dan keponakannya.


"Kenapa anak itu memanggil Alvin dengan panggilan Daddy?" batin Bella.


Setelah selesai, Alvin yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang melewati Bella sambil menggendong Zein. Ada desiran dalam hati yang tidak bisa Bella ingkari. Bagian perut Alvin yang six pack terlihat sangatlah sexy.


Suara pintu kamar Alvin yang di tutup mengembalikan kesadaran Bella. Ia menyeringai seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.


"Woy! Senyum-senyum sendiri. Bel, ambilkan bajuku dong!" pinta Riky.


Riky yang hanya mengenakan handuk terduduk di samping Bella.


"Aku? Heh, yang benar aja." Decihnya. Bella menggeser posisi duduknya. Ia merasa risih saat tanpa sengaja menatap bagian paha Riky yang tersingkap.


"Ya terus, masa iya harus aku. Malu dong," sahut Riky.


"Kenapa harus malu? Itu kan bajumu," sahut Bella ketus namun wajahnya bersemu merah.


"Ya malu laah. Bajuku kan ada dalam tasku yang masih di mobilmu," ujar Riky.

__ADS_1


"Ish, kamu sengaja ya? Kenapa tadi nggak diambil dulu sebelum berenang," gerutu Bella.


"Sorry. Lupa, Non." Sahutnya.


Walau kesal, Bella tetap mengambilkan ransel Riky yang tertinggal di mobilnya. Saat di dalam lift, Bella merutuki dirinya sendiri.


"Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat ingin? Apa karena aku melihat tubuh Alvin? Ah, sial! Terlalu lama aku tidak melakukannya," gumam Bella.


***


Penthouse Amiera hanya memiliki tiga kamar. Itu artinya, tidak ada kamar untuk Riky di sana. Saat mereka makan malam, entah sengaja atau tidak Alvin meminta Mike mengizinkan Riky menginap di rumahnya. Dan Mike pun mengizinkannya.


"Kakak mau makan sendiri, Dad," pinta Zein sambil mengunyah makanannya.


"Susah, Sayang. Mejanya terlalu tinggi," sahut Alvin.


Alvin dengan telaten menyuapi Zein. Di tempat itu tidak ada kursi khusus anak, jadi Zein kesulitan meraih makanannya.


"Kakak malam ini bobo sama auntie ya," ujar Amiera.


"Nggak mau. Mau sama Daddy," sahut Zein.


"Kan semalam di pesawat sama Daddy. Sekarang sama auntie ya."


"No," geleng Zein.


Amiera memajukan bibirnya dan Zein pun terkekeh pelan.


Tidak lama kemudian, Meydina melakukan panggilan video. Zein dengan semangatnya menceritakan semua yang dialaminya pada sang Mami. Gelak tawa kembali menggema.


Bella masih memperhatikan Alvin. Pria itu terlihat sangat manis saat berbicara dengan istri dan putri kecilnya.


Setelah selesai makan malam, Mike berpamitan pada Salman. Begitu juga Bella dan Riky.


"Amie, beri Daddy alasan mengapa kamu memilih menyulitkan dirimu sendiri."


"Amie tidak merasa sulit, Dad. Amie hanya ingin punya penghasilan sendiri. Amie ingin mandiri. Dan sejauh ini, Amie menikmatinya."


"Dengan membiarkan orang lain merendahkanmu?"


"Tidak selama Amie masih bisa memakluminya," sahut Amiera.


"Dad, menurut Alvin biarkan saja Amiera menikmati prosesnya. Dia ingin meniti karir dari bawah. Mungkin dengan begitu Amiera bisa lebih termotivasi untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya."


Salman mengalihkan pandangannya pada Alvin.


"Lalu apa maksudmu menempatkan Amiera di gedung yang sama dengan putra Wira? Kau pikir aku tidak tahu kalau Mike memilih gedung ini atas permintaanmu? Secara tidak langsung kau menitipkan adikmu padanya. Memalukan," decih Salman.


Amiera terkejut mendengar hal tersebut. Tapi tidak bagi Alvin. Ia sudah mengenal bagaimana Daddynya. Salman selalu memantau setiap pergerakan anak-anaknya. Tangan kanan dan mata-matanya memang ada dimana-mana.


"Tidak ada maksud apa-apa, Dad. Alvin hanya berfikir, Amiera pasti senang bila ada seseorang yang dikenalnya tinggal dekat dengannya. Terlebih Rendy itu sepupu Alvin, Dad. Dan Amiera adik Alvin. Jadi tidak salahkan kalaupun memang Alvin menitipkan Amiera."


"Huft. Apa karena aku bertambah tua kalian jadi menjengkelkan seperti ini, heh? Aku mengerti jika itu Meydina, karena aku tidak membesarkannya. Tapi kalian, apa kalian sengaja melakukan ini?"


"Maaf, Daddy. Tapi Amiera benar-benar ingin melakukannya," ujar Amiera yang merangkul Salman dengan manja.


"Melakukan apa? Membuatku jengkel?"


"Bukan. Sekali ini saja, please."


"Jadi kau akan tetap bekerja di butik itu?"


Amiera mengangguk pasti.

__ADS_1


"Dengan wanita yang menjengkelkan tadi?"


"Hmm," angguk Amiera lagi.


"Amie bisa mengatasinya. Tentunya dengan cara Amie," jawab Amiera pasti.


"Jangan terlalu dekat dengan pria tadi," ucap Salman.


"Siapa, Brian?"


Salman mengangguk.


"Amie akan menjaga jarak darinya. Lagi pula Amie tidak terlalu menyukainya."


"Baguslah. Lalu, apa ada seseorang yang kau sukai?"


Amiera tersenyum malu.


"Ada? Siapa?"


"Rahasia," bisik Amiera.


Salman terkekeh. Alvin tersenyum menatap keakraban mereka. Ia sangat bahagia mengetahui Salman perduli pada Amiera. Jika mengingat masa lalu, rasanya ia tidak pernah menduga perubahan ini akan terjadi pada diri Daddynya.


***


Dari jendela kaca besar dalam kamarnya, Alvin bisa melihat keindahan malam kota ini. Kota kelahirannya yang menyimpan banyak kenangan antara ia dan juga Mommynya.


Kota ini menjadi saksi perjuangan Mommy Lucy membesarkannya. Kota ini juga tempat awal pertemuan Mommynya dengan pria yang sekarang menjadi Daddy bagi Alvin.


Di kota ini, Alvin pertama kali bertemu ketiga sahabatnya. Kota yang menyimpan kenangan dan ceritanya dengan wanita bernama Bella.


London, benar-benar kota sejuta kenangan untuk Alvin.


"Kakak belum tidur?" tanya Amiera yang masuk tanpa mengetuk.


"Belum. Hmm, sayang di sini tidak ada minuman. Jika ada, malam ini akan semakin lengkap."


"Idih Kak Alvin. Mau di marahin Daddy?"


Alvin terkekeh.


"Terima kasih, Kak."


"Untuk?"


Amiera hanya tersenyum. Gadis itu memeluk kakaknya.


"Kamu masih mencintainya?"


Amiera mengangguk.


"Lalu dia?"


"Sepertinya masih mencintai Kak Mey," sahut Amiera pelan.


"Memang tidak mudah melupakan seseorang yang pernah singgah di hati kita. Tapi sepertinya sikap Rendy padamu lebih baik dari sebelumnya."


"Hmm," angguk Amiera.


"Jika kau ingin dia membalas perasaanmu, bersabarlah. Buat dia menyadari perasaanmu yang sesungguhnya."


"Iya, Kak. Amiera akan mencobanya," sahut Amiera.

__ADS_1


Alvin tersenyum tipis sambil mengusap pucuk kepala Amiera.


__ADS_2