
Happy reading...
Angin yang bertiup terasa sejuk. Cicitan burung terdengar riang seolah menyemangati mereka yang akan memulai aktivitasnya.
Alena yang baru selesai mengenakan pakaiannya keluar kamar dan meniti anak tangga. Di luar Papa Evan sedang berolahraga ringan menggerakkan badan.
"Pagi, Nak!" Sapanya.
"Pagi, Papa." Sahutnya sambil mulai menikmati camilan yang ada di atas meja.
"Berangkat ke kampus jam berapa, Len?"
"Agak siangan, Pa. Kenapa? Kalau Papa nggak bisa nganter, Lena bisa naik ojek online."
"Jangan, Papa akan coba memundurkan jadwal meeting pagi ini."
"Jangan dong, Pa. Nggak enak kan sama rekan kerja papa."
"Terus, kamu mau pergi sama siapa? Alvin juga pasti sudah berangkat ke kantor," sahut Evan yang kini menghampiri meja.
"Tuh! Yang mau ngantar datang," tunjuk Alena pada mobil Riky yang memasuki halaman rumahnya.
"Kamu ya.. Bilang dong dari tadi kalau memang sudah janjian sama Riky. Pakai alasan ojek online segala," delik Evan sambil mengulumkan senyumnya.
"Nggak kok, Pa. Beneran, Alena nggak janjian sama Kak Riky," sahut Alena.
"Pagi, Om! Wah, pagi-pagi telinga Riky sudah panas aja nih."
"Pagi, Rik. Ini lho Alena bilang kamu tukang ojek." Kelakarnya.
"Iih, Papa bohong. Nggak kok, Kak. Papa bercanda," kilah Alena sambil tersipu.
Evan tersenyum melihat raut wajah putrinya yang memerah. Ia menuangkan teh dan menyodorkannya pada Riky.
"Kapan datang, Rik?"
"Tadi malam, Om."
"Gimana di sana? Tanggung jawabmu bertambah ya. Tapi kamu sudah terbiasa kan selama dengan Maliek. Jadi nggak terlalu kaget," ujar Evan.
"Iya, Om. Tapi masih sering banyak bertanya pada Maliek."
"Ya kalau itu harus, karena bagaimanapun juga kita tidak bisa memutuskannya sendiri."
Riky mengangguk pelan. Diliriknya Alena yang menatapnya sambil tersipu. Rindu, pasti keduanya merasa rindu. Apalagi Riky sengaja pulang tanpa memberitahu. Namun saat ini ada Evan di sana yang membuat mereka tidak lelusa melepaskan kerinduan.
Seolah mengerti arti tatapan keduanya, Evan pun pamit pada mereka. Namun baru saja ia akan beranjak, Riky sudah menghentikannya.
__ADS_1
"Om. Riky boleh minta waktunya sebentar?"
"Ada apa?" Tiba-tiba saja Evan merasakan dadanya berdegup kencang. Ia sudah bisa menduga apa yang ingin dibicarakan pria muda dihadapannya ini.
"Riky, berniat serius dengan Alena. Semoga Om tidak keberatan dan merestui kami." Ucapnya.
"Sejujurnya Om tidak keberatan, Rik. Tapi kalau untuk menuju pernikahan kalian pikirkan dulu matang-matang."
"Pa.."
"Om tidak akan melarang, karena Om tidak mau nantinya justru hal itu jadi beban untuk Om. Dan Om juga tidak akan menentukan kapan kalian boleh menikah. Karena kalian sendiri yang akan menentukannya. Jadi ya intinya, silahkan."
"Terima kasih, Om." Riky tersenyum bahagia dan menoleh pada Alena yang juga terlihat bahagia.
"Hanya saja Om berpesan, kalian harus tahu batasannya. Tapi seandainya kalian sudah tidak tahan, ya silahkan rencanakan pernikahan."
"Yang benar, Om?" Riky seakan tidak percaya Evan sudah memberinya lampu hijau menuju pernikahan.
"Dari pada married by accident," sahut Evan sambil tersenyum menggoda pada putrinya.
Alena tersipu malu. Evan mengusap lembut pucuk kepala Alena dan pamit bersiap akan ke kantor.
Riky mencubit gemas ujung dagu Alena. Binar matanya menunjukkan betapa ia sangat bahagia. Di teras samping rumah Alena mereka menghabiskan waktu sampai gadis itupun harus bersiap pergi kuliah dengan diantar Riky tentunya.
***
Seorang pria berjalan sambil menarik suitcase. Sebelah tangannya menggenggam wanita yang berjalan di sampingnya. Mereka berdua keluar dari terminal kedatangan sebuah bandara internasional di ibukota.
Dari kejauhan seorang wanita paruh baya melambaikan tangannya dengan raut wajah yang gembira. Sedang pria di samping wanita itu tersenyum menatap anak dan menantunya yang baru saja tiba.
"Amiera! Apa kabar, Sayang?" Sapanya.
"Baik, Ma. Mama sama Papa bagaimana kabarnya?"
"Baik. Cucu Oma bagaimana kabarnya?" tanya Nura sambil mengusap perut Amiera.
"Sehat, Ma."
"Syukurlah."
Wira bergantian menyapa anak menantunya. Setelah itu, ia mengemudikan kendaraannya menuju rumah besannya.
Hari ini, selain menyambut kedatangan Amiera dan Rendy mereka juga akan menyambut kedatangan Salman. Nanti sore, Alvin yang akan menjemput Daddy-nya tersebut.
Suasana di kediaman Salman sangat ramai. Selain Oma Resty dan Opa Bram, Alya dan juga Rafael ada di sana. Tidak hanya mereka, Alena juga ikut bersuka cita bersama mereka. Namun tanpa kehadiran Papa Evan dan juga Riky.
Riky sudah kembali ke kota tempatnya bekerja. Sedangkan Evan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
__ADS_1
Nyaring suara anak-anak berpadu dengan obrolan para wanita. Seperti biasa, Resty selalu sibuk menyiapkan kue dan camilan lain untuk anggota keluarga lainnya.
Laura dan Meydina ikut membantu Resty. Kemudian, Alya juga ikut nimbrung walau sebatas mencicipi kue buatan Resty. Mereka berempat nampak asik berbincang mengenai kuliner kekinian yang sedang digandrungi kaula muda.
Seperti biasa, Alena selalu suka menggoda putra sulung Meydina. Zein sampai histeris kala menghindari Alena yang terus saja mengganggunya.
Di sisi lain, Rafael sedang asik bermain dengan Amar, Queena dan juga Fatima. Ketiga anak-anak itu terlihat senang saat Rafael membiarkan mereka bergantian naik ke atas punggungnya.
"Auntie, udah jangan kejar kakak! Kakak mau naik kuda," pekik Zein sambil menunjuk pada Rafael yang merangkak karena Queena sedang ada di atas punggungnya.
Tanpa mereka sadari, Alya yang sedari tadi memperhatikan tingkah suaminya merasa terenyuh. Seandainya saja ia dan Rafael bisa memomong anak secepatnya, mungkin kebahagian pria itu akan berlipat ganda.
"Kak Alya, coba ini deh. Kalo topingnya almond lebih enak lho," ujar Meydina yang membuyarkan lamunan Alya.
"Coba sini," ucap Alya meminta kue buatan Resty yang baru saja dikeluarkan dari pemanggang.
"Enak kan, Kak?" tanya Meydina.
"Hmm," angguk Alya sambil terus mengunyah hingga habis.
"Itu Auntie datang!" seru Amar berjingkrak senang melihat mobil Wira yang baru saja tiba.
Zein dan ketiga saudaranya berlarian ke teras menyambut kedatangan Amiera. Begitu juga dengan Alena dan anggota keluarga lainnya.
"Auntie! Auntie! Auntie!" pekik anak-anak itu bersamaan.
Alvin membukakan pintu mobil untuk Amiera. Pria itu langsung memeluk adik perempuannya.
"Kak.."
"Apa kabar, Amie?"
"Baik."
"Hai, Ren! Apa kabar?"
"Baik, Kak Alvin."
"Hai!" sapa Amiera sambil melambaikan tangan pada anak-anak yang menyambutnya dengan gembira.
"Auntie pelutnya besal," celoteh Zein.
"Hehe, ada Baby di sini, Kak," sahut Amiera sambil mengusap perutnya.
"Sepelti Mami ya, ada Baby di pelutnya. Sekalang Baby-nya udah kelual," kelakar Zein yang menunjuk pada Fatima.
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Zein. Satu persatu, mereka menyapa pasangan muda itu. Amiera terlihat bahagia berada di tengah-tengah keluarganya. Rasa lelahnya seakan hilang bersama canda tawa mereka.
__ADS_1