
Happy reading...
Kabar kehamilan Amiera membuat keluarganya juga keluarga Atmadja bahagia, terutama Mama Nura. Anak Rendy dan Amiera akan menjadi cucu pertama dalam keluarga Atmadja.
Namun kebahagiaan mereka tidak lantas menular pada menantu mereka yang lainnya.
"Kenapa loe, Bro. Gue perhatiin dari tadi banyak diamnya, lagi ada masalah?" tanya Riky yang merasa heran karena sikap Rafael tidak seperti biasanya.
"Rik, menurut loe mungkin nggak kalau gue jadi kurang subur gara-gara dulu gue suka buang seenaknya?" tanya Rafael pelan.
Riky menautkan alisnya.
"Loe kenapa? Bukannya sebelum married udah tes kesuburan?"
"Iya, sih. Tapi kok bisa adik iparnya Maliek dulu yang hamil, bukan istri gue?"
Riky menatap aneh pada sahabatnya sambil berkata, "Mana gue tahu."
"Padahal gue gempur tiap malam sampai Alya gempor, kok nggak jadi ya?"
"Loe kalau bukan teman gue, udah gue siram Raf. Nanya begituan sama gue, ada-ada aja. Bodo amat mau loe gempur tiap malam, tiap jam juga, nggak ada urusan sama gue." Sahutnya kesal.
"Makanya loe married dong Rik. Biar nyambung kalau ngobrol sama gue," sambung Rafael.
"Kok ujung-ujungnya jadi ke gue? Eh dengar ya, loe nggak usah mikirin kenapa ini? Kok begini, kok begitu? Udah loe pasrah aja, kan yang penting udah usaha."
"Gue juga pengen seperti Maliek, Rik. Banyak anak banyak rezeki..."
"Terus kalau udah banyak rezeki? Nambah istri, gitu?"
"Boleh juga, Rik. Tapi nggak deh, kasihan Alya-gue."
"Idih, dasar bucin. Gimana Maliek nggak banyak rezeki, dia kan menantunya Al-Azmi sama ama adik ipar loe. Tapi yang pasti sebanyak apapun rezeki Maliek, nggak bakalan berani nambah istri."
"Iya lah, kecuali dia mau di sunat dua kali. Haha.." Kelakarnya.
Rafael dan Riky terbahak-bahak, entah apa yang mereka bayangkan. Bicara dengan sahabatnya membuat beban pikiran Rafael berkurang.
***
Kediaman Salman selalu ramai dengan suara ketiga anak Maliek dan Meydina. Salman menatap mereka yang sedang terbenam di antara mainan. Ada Zein yang suka sekali dengan pesawat mainan-nya, Amar dengan lego-nya, dan Fatima dengan mainannya yang mengeluarkan suara-suara. Mereka asik dengan kesukaannya masing-masing.
"Semoga nanti Queena bisa menetap di sini. Bagitu juga dengan anak Amiera," gumam Salman.
Ia berharap anak-anak dan cucu-cucunya bisa berkumpul. Walaupun tidak di bawah atap yang sama, setidaknya akhir pekan mereka bisa berkumpul bersama.
"Amal, Kakak pinjam dulu!" pekik Zein.
"Nggak boleh. Amar cedang pake," sahut adiknya.
"Zein.. Masih banyak mainan yang lain, Nak. Jangan rebutan sama adiknya," cegah Salman.
"Kakak mau itu, Kek." Rengeknya.
__ADS_1
"Amar, boleh Kakak Zein pinjam?"
"Nggak boleh. Ini helikopter Amar, Kek." Sahutnya.
"Zein kan punya banyak pesawat. Mainkan yang nggak di pakai Amar ya," bujuk Salman.
"Kakak mau yang sepelti itu, Kek." Rengeknya sambil menunjuk.
"Oke, Kakek foto dulu. Nanti Aldo akan membelikannya untuk Kakak," ucap Salman.
"Holee! Telima kasih, Kek. Kakak sayang Kakek," ucap Zein mencium pipi Kakeknya.
"Amar, boleh Kakek pinjam sebentar?"
Amar memberikan helikopter mainannya. Kemudian Salman memotretnya dan memerintahkan Aldo untuk membelikan yang serupa. Tidak hanya Zein, Amar dan Fatima juga dipesankan mainan oleh Salman.
Zein kembali ceria. Karena senang, anak itu sampai menggoyangkan pinggulnya mengiringi Fatima yang membunyikan musik pada mainannya.
Salman terkekeh melihat tingkah Zein, juga Fatima yang ikut-ikutan menggerak-gerakkan tangannya. Sementara Amar hanya menggoyangkan kepalanya sambil asik bermain dengan legonya.
"Kakek boleh tahu ini apa, Amar?"
"Ini kantor Papi," sahut Amar.
"Oh ya? Waah, Amar pinter. Kantor Papi ada tempat helikopternya?"
"Iya, nanti Kakak Zein jemput Papi di cini," tunjuk Amar.
"Di cini rumah Mami, ini Fatum, ini Kakek. Nanti Papi kerjanya diantar Kakak," lanjut Amar.
"Amar kan yang bikin ini, Kakek." Sahutnya.
"Ooh. Ini Mami mau kemana?" tanya Salman, saat Amar menggerakkan mainan orang-orangannya.
"Mami mau belanja ke cini." Tunjuknya lagi.
Salman mengangguk-anggukkan kepalanya. Menatap kagum pada penyandang nama Al-Azmi tersebut. Ia menoleh pada Zein yang masih sibuk memijit-mijit piano mainan Fatima.
"Baby kakak pinjamin pesawat ya. Kakak pinjam ini," ucap Zein memberikan mainan dipegangnya dan mengambil alih mainan adiknya.
Zein dengan santainya berdendang tak karuan sambil memijit tuts piano, sementara adik bungsunya melempar-lempar mainannya.
"Baby, jangan dilempar. Ini punya kakak, nanti lusak." Zein memungut mainan miliknya.
"Ini kakak kembalikan," ucap Zein memberikan mainan Fatima. Gadis cilik itu nampak senang dan kembali memainkannya dengan riang.
Zein terlihat kecewa.
"Kakak cini! Pecawat kakak dicimpan di cini," tunjuk Amar pada lego yang baru saja disusunnya.
Zein mendekatinya dan menuruti adiknya.
"Kalo di sini boleh?" tanya Zein.
__ADS_1
"Boleh," angguk Amar.
Kedua kakak beradik itupun mulai bermain bersama. Memadukan bangunan lego Amar dengan mainan pesawat Zein dan kendaraan lainnya. Salman menatap haru melihat ketiga cucunya yang saling melengkapi.
"Sayang, mainnya sebentar lagi ya!" seru Meydina yang baru memasuki kamar anak-anaknya.
"Bobo siang ya, Mi?" tanya Zein.
"Iya, Kak."
"Ayah kenapa?" tanya Meydina yang mendapati ayahnya sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Enggak apa-apa, Mey. Ayah merasa bahagia."
"Pasti karena sebentar lagi Amiera punya baby."
"Tidak hanya itu, ayah senang melihat anak-anak kamu tumbuh dengan kepribadian mereka," sahut Salman.
Meydina menatap heran namun kemudian tersenyum tipis.
***
Setelah makan siang dengan Rafael, saat ini Riky bertemu dengan Evan. Ia mewakili Maliek yang tidak bisa hadir karena ada urusan yang lain.
Cukup lama Riky membahas perkembangan kerjasama mereka. Sampai kemudian Evan menerima panggilan dari putrinya.
"Ada apa, Om?" tanya Riky menatap heran pada Evan yang terlihat bingung.
"Om lupa harus menjemput Alena."
"Lalu?"
"Om sudah janji dengan klien sepuluh menit lagi," sahut Evan.
"Ya sudah, biar Riky saja yang jemput Alena. Kebetulan searah, tinggal belok sedikit."
"Kamu yakin, Rik? Om nggak mau ngerepotin kamu," ujar Evan.
"Nggak repot kok, Om. Tenang aja," sahut Riky.
"Baiklah. Om nitip Alena ya. Lihat ini, Om sudah di telepon klien."
Riky tersenyum menatap ayah Alvin, sahabatnya itu. Pria itu nampak serius bicara dengan kliennya.
"Maaf ya, Rik. Om jadi merasa tidak enak," ucap Evan.
"Nggak apa-apa, Om. Santai aja."
"Oke, kalau begitu. Om duluan ya, bilang sama Alena harus langsung pulang, jangan minta diantar kemana-mana."
Riky mengangguk sambil tersenyum. Kemudian berlalu menuju mobilnya.
-----
__ADS_1
Happy weekend, Readers...