Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
berkumpul di rumah Salman (2)


__ADS_3

Happy reading...


Senja mulai menyapa saat mobil yang dikendarai Alvin menepi di depan teras rumah. Salman nampak menautkan alis melihat mobil Bram dan Wira terparkir di halaman rumahnya.


"Mereka ada di sini?"


"Iya, Dad."


"Itu mobil siapa?" Tunjuknya.


"Mobil Rafael. Dia dan Alya juga ada di dalam."


"Apa ada acara di rumah kita?" Salman terlihat heran.


"Kakek!" seru Zein yang berlari kecil dari ambang pintu.


Melihat keceriaan cucu kesayangannya, senyum Salman mengembang. Ia segera turun dan membungkukan badannya untuk mencium kening Zein. Salman terbelalak saat melihat Amiera keluar dari dalam rumah. Dirinya tidak pernah menyangka akan melihat Amiera saat kepulangannya.


"Amiera?" Gumamnya.


"Dad..."


Amiera menghampiri Salman dan langsung memeluknya. Amar dan kedua saudarinya berhamburan menyambut sang kakek.


"Apa kabar, Yah?"


"Rendy, kalian kapan datang?" tanya Salman saat Rendy mencium punggung tangannya.


"Tadi siang, Dad. Ayo masuk!" sahut Amiera.


Amiera menggandeng tangan Daddy-nya masuk ke dalam rumah. Sementara itu Rendy membantu Alvin dan Aldo mengeluarkan barang bawaan Salman. Zein nampak berjingkrak kegirangan saat melihat Alvin mengeluarkan mainan pesawat yang menggunakan remot dari dalam mobilnya.


"Mana untuk Amar, Uncle?"


"Daddy, Queen sama Fatum juga mau.."


"Iya. Sebentar, Sayang."


Anak-anak kegirangan mendapatkan mainan kesukaan mereka. Zein langsung mengajak Rendy memainkan pesawatnya.


"Ayo, Uncle!" Ajak Zein yang menarik tangan Rendy.


"Oke, di sebelah sana yuk."

__ADS_1


"Hole... Dadah Amal, Kakak mau main pesawat sama Uncle."


Amar melambaikan tangannya dan bergegas menyusul Queen dan Fatima. Keluarga besar itu sangat bahagia. Mereka berbincang bersama sambil menikmati camilan juga oleh-oleh yang dibawa Salman.


"Kak Mey, ingat nggak waktu kita pertama kali makan ini?" tanya Alena sambil memperlihatkan kurma setengah matang yang sedang dipegangnya.


"Ingat dong. Waktu itu kamu malah makan yang masih mentah." Sahutnya dan dijawab anggukan oleh Alena.


"Al, kamu suka ini nggak?" tanya Nura.


"Suka, Ma. Enak, manis ada renyahnya juga."


"Kalau gitu nanti pulang bawa yang banyak, Tante. Sekalian untuk Om Evan," ujar Meydina.


"Siap, Mey." Sahutnya.


Alena menghampiri Amar, Queena dan Fatima yang asik dengan mainan mereka. Anak-anak itu memadukan mainan mereka agar bisa bermain bersama.


Di luar, Pekikan Zein terdengar saling bersahutan dengan tawa Opa Bram. Putra sulung Meydina itu sedang memainkan pesawatnya dengan arahan dari Rendy.


Resty dan Nura sepakat menyiapkan makan malam. Mereka akan mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan di halaman samping rumah itu.


Maliek dan Alvin juga istri mereka mempersiapkan semua peralatan di luar. Sesekali dua pasangan itu saling menggoda. Tawa mereka terdengar menggema di luar.


Pria itu menundukkan kepala dan menoleh pada Amiera yang memanggilnya dari dalam walk-in claset. Ia tersenyum melihat Amiera yang sedang mengenakan gaun malamnya yang elegan. Istrinya itu nampak seksi dengan perutnya yang besar.


"Kamu merasa bahagia, Sayang?" tanya Rendy yang memeluknya dari belakang.


"Hmm. Tapi sayangnya Kakak nggak lama di sini."


"Sabar sebentar lagi, Sayang. Besok mau pergi kemana?"


"Jalan-jalan, belanja barang-barang untuk Baby?"


"Setuju," sahut Rendy sambil mengecup pundak istrinya.


"Keluar sekarang?" tanya Amiera sambil menatap wajah suaminya yang masih memeluknya. Amiera tersenyum melihat Rendy yang memajukan bibirnya. Tanpa ragu ia pun melingkarkan tangannya dan meraup bibir suaminya.


Sementara itu dari salah satu sofa yang terdapat di ruang keluarga, Salman menatap sendu pada anak-anak dan cucunya.


Flashback on


Dari balkon ruang kerjanya, tatapan Salman tertuju pada taman anggrek Anita. Setahun yang lalu ia sudah memindahkan pusara Badr ke pemakaman keluarga. Ia tidak tahu apakah Anita menyetujui keputusannya. Namun yang pasti, kelak ia ingin dimakamkan di samping pusara putranya.

__ADS_1


"Salman, sedang apa di sini? Kamu jangan banyak melamun di luar. Ayo bicara di dalam," ajak Said.


"Sejak kapan kamu berani mengaturku?" Deliknya.


"Kamu masih saja arogan," kelakar Said.


"Aku memang terlahir begini. Jika tidak, mungkin aku sedang meratapi diri," sahut Salman datar.


Said tersenyum melihat raut wajah Salman yang diakuinya tidak banyak berubah sejak terakhir mereka bertemu.


"Tadinya aku pikir kamu akan stres menghadapi cucu-cucumu. Tapi ternyata aku salah. Buktinya kehadiran mereka membuat wajahmu terlihat awet muda." Kekehnya.


"Stres? Yang benar saja... Kau tahu, hariku tidak berwarna jika tidak bertemu anak-anak Meydina. Dan Zein, sampai sebesar ini dia belum bisa melafalkan huruf 'r' dengan benar. Tapi anak itu terlahir cerdas. Begitu juga Amar, dia berpendirian kuat dan Fatima... Haha, dia lucu sekali. Wajahnya mirip dengan Meydina saat dia seusianya. Terkadang saat aku menggendongnya, aku seperti melihat bayanganmu atau Ahmed yang sedang menggendong Meydina."


Said terkesiap mendengar ucapan dan gaya bicara Salman. Ia merasa lega mengetahui Salman yang bahagia.


"Lalu, siapa diantara dua putra Meydina yang akan menjadi penerusmu?"


"Zein, karena aku dan Bram sudah sepakat. Amar akan meneruskan Bramasta Corp." Sahutnya.


"Wah, luar biasa. Mereka sangat beruntung. Tapi terdengar lucu, Zein Maliek Bramasta memimpin Al-Azmi Corp. Dan Amar Maliek Al-Azmi memegang kendali Bramasta Corp. Apa tidak tertukar?"


"Tidak apa. Aku percaya Amar akan menjaga nama baik keluarga kita. Dia pasti bisa dibanggakan. Kamu tahu kenapa? Aku sudah bisa melihat ketertarikannya pada bidang ini. Dia suka sekali membangun apa saja dari mainan legonya. Kelak dia akan lebih baik dari aku. Dan ketegasannya akan membuat siapapun segan padanya," tutur Salman bangga.


"Kalau begitu, jangan membuat mereka kecewa. Anak-anak dan Cucumu."


"Maksudmu?" Salman terlihat heran.


"Jaga kesehatanmu. Bila perlu aku akan minta kenalanku memberikan dokter terbaiknya untuk merawatmu."


"Apa maksud ucapanmu, Said?"


"Berhenti berpura-pura bahwasanya semua baik-baik saja. Aku tahu semuanya, Salman. Meydina yang memberitahuku," sahut Said.


Deg. Salman tertegun. Tidak mungkin Meydina mengetahui keadaannya saat ini. Jika Meydina tahu, apakah Alvin dan Amiera juga tahu?


"Apa kau tidak ingin menikmati kebahagiaan ini lebih lama? Kau tidak ingin melihat cucu-cucumu tumbuh besar? Pikirkan itu, Salman. Hati anak-anakmu hancur mengetahui ayah mereka bahkan tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk merawatnya. Dan saat ini kau menikmati kebahagiaanmu sendiri, karena anak-anakmu merasa sedih dengan kau menyembunyikan perihal sakit itu dari mereka."


Flashback off


Salman tertegun melihat satu persatu anaknya. Kedatangan Alvin dan Amiera di rumah, pasti ada hubungannya dengan semua ini. Apakah ketiga anaknya sedang membungkus luka dalam tawa? Apakah keterbukaannya bisa sedikit membuat mereka merasa lega?


Salman merogoh ponselnya. Ia menelepon Said, sepupunya.

__ADS_1


📱 "Said, minta temanmu menyiapkan dokter terbaik yang mau merawatku di rumah. Kau benar, aku ingin lebih lama bersama mereka." Ucapnya sambil tersenyum menatap anak-anaknya yang sedang tertawa.


__ADS_2