
Happy reading...
Riky mengemudikan mobilnya menuju rumah Alena. Raut wajahnya cerah dengan senyum yang menghiasinya. Sesekali ia menoleh pada wanita yang duduk di kursi samping kemudi. Alena yang asik bermain ponsel pun menyempatkan untuk menoleh dan membalas senyumnya.
"Kak Riky lagi senang?"
"Hmm. Memangnya kamu nggak senang?"
"Biasa aja," sahut Alena cuek.
"Aku pacar yang keberapa kamu, Len?"
"Pertama. Kalau Alena, pacar keberapa Kak Riky?"
"Ke dua."
"Ah, masa. Pasti Kakak bohong. Kak Alvin sama Kak Rafael aja pacarnya banyak."
Riky terkekeh mendengar ucapan Alena.
"Itu bukan pacar, Sayang. Diantara mereka cuma aku yang pernah punya pacar," sahut Riky bangga.
"Memangnya pacar Kak Riky kemana, direbut orang ya?" tanya Alena penasaran.
"Pacar pertamaku sudah meninggal," sahut Riky pelan.
"Oh maaf, Kak."
"Nggak apa-apa. Aku dan dia bertemu di universitas. Kami menjalani hubungan hanya sekitar dua tahun. Dia meninggal karena sakit yang dideritanya," kenang Riky.
Alena terdiam mendengarkannya. Riky menoleh lalu mengusap dagu Alena.
"Kenapa diam?"
"Kakak pasti sangat mencintainya. Buktinya kakak tidak pernah punya pacar lagi. Dia pasti cinta pertama kakak."
"Dia memang cinta pertamaku, Sayang. Tapi kamu akan jadi yang terakhir dan satu-satu di hatiku."
Wajah Alena yang merona membuat Riky gemas melihatnya. Alena dikejutkan oleh penselnya yang berdering. Papa Evan menelepon dan mencecarnya dengan pertanyaan.
Riky tersenyum melihat kekasihnya yang bingung menjelaskan. Sepertinya gadis itu tidak terbiasa menyembunyikan sesuatu dari Papa Evan.
"Papa bilang apa?"
"Kok Papa? Biasanya manggil Om," tanya Alena heran.
"Kan Om Evan papa kamu. Berarti dia jadi papaku dong."
"Ya enggak lah."
"Iya, deh. Bukan Papa, tapi papa mertua. Betul kan?"
Alena tersenyum membuang muka.
"Alena, will you marry me?"
Alena terkesiap. Bagaimana bisa pria ini menanyakan dua hal sekaligus dalam jeda beberapa jam saja.
"Aku serius, Sayang." Ucapnya sambil mencium punggung tangan Alena yang digenggamnya.
"Kak Riky kenapa sih? Tiba-tiba ngajak pacaran, sekarang ngajak nikah. Kakak sehat?"
"Haha.. Aku sehat, waras alias nggak gila. Kamu ini ya," sahut Riky mencubit gemas ujung hidung Alena.
"Ya kali aja. Aneh sih, semua serba tiba-tiba."
Riky menyaringai tipis. Gadis ini bukannya menjawab, justru menganggap aneh pertanyaannya. Ditengah perjalanan, mereka singgah di sebuah rumah makan. Setelahnya, mereka meneruskan perjalanan pulang.
Riky memarkirkan mobilnya di depan rumah Alena. Di teras rumah ada Evan yang sedang menunggu kepulangan putrinya.
Alena merasa gugup. Jam pada mobil Riky menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
"Kak Riky pulang aja ya," pinta Alena.
"Ya enggak dong, Sayang. Aku harus menemui Papamu dulu. Ayo turun!"
__ADS_1
Alena merasa ragu. Tapi tidak mungkin ia akan berdiam di mobil itu. Ia menoleh ke luar, melihat Papanya yang sudah berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana.
Riky membukakan pintu untuknya. Pria itu juga menggenggam tangannya dan bawanya mendekati Papa Evan.
Evan menautkan alisnya, melihat putrinya yang tertunduk dengan tangan yang digenggam oleh Riky.
"Selamat malam, Om!"
"Selamat malam, Rik. Kalian dari mana?" tanya Evan datar.
"Maaf, Pa," ucap Alena yang langsung memeluk papanya.
"Maaf, kenapa?" Evan menatap heran pada putrinya.
"Sudah membuat Papa khawatir," sahut Alena pelan.
"Memangnya kamu dari mana?" Evan mengusap surai putrinya.
Alena menengadahkan wajahnya, menatap Papa Evan yang juga menatap wajahnya.
"Alena dari rumah Kak Mey, pulangnya main dulu ke pantai. Jangan marah ya, Pa."
Evan tersenyum tipis melihat raut wajah Alena.
"Ya sudah, sana masuk." Ucapnya lembut.
Alena menoleh pada Riky yang mengangguk pelan. Ia kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ini sudah malam. Kamu juga pulang ya, Rik."
Riky nampak ragu, ada hal yang ingin ia bicarakan dengan Evan.
"Kalau ada yang ingin dibicarakan, lain kali saja." Ujarnya seolah mengerti arti raut wajah Riky.
"Baik, Om. Kalau begitu, saya permisi. Selamat malam." Pamitnya.
"Selamat malam. Hati-hati ya, Rik."
Riky mengangguk pelan dan berlalu mengemudikan mobilnya meninggalkan pelartaran rumah Alena. Dari jendela kamarnya, Alena menatap kepergian Riky. Gadis itu terpaku disana untuk beberapa saat lamanya.
"Ada apa, kenapa bajumu belum ganti?"
"Nggak ada apa-apa, Pa. Sebentar lagi Lena ganti baju," sahut Alena pelan.
"Sudah makan?"
"Sudah, tadi waktu mau pulang."
Evan menatap lekat pada putrinya. Ia tahu ada yang ingin disampaikan oleh Alena. Pria itu merentangkan tangannya, meminta putrinya masuk kedalam dekapannya.
Alena tersipu dan memeluk Papanya.
"Ceritakan pada Papa, apa saja yang terjadi hari ini." Pintanya.
"Pa..."
"Mmm, apa?"
"Tadi Kak Riky ngajak Alena pacaran," ucap Alena pelan.
"Lalu, kamu menerimanya?"
Alena mengangguk pelan. Ia merasakan tangan Evan yang membelai surainya.
"Kak Riky juga ngajak Alena menikah," lanjut Alena.
Gerakan tangan Evan yang sedang membelai terhenti. Pria itu terkesiap mendengar ucapan putrinya.
"Lalu?" tanya Evan dengan perasaan yang tidak menentu.
"Alena belum jawab. Lena mau Papa yang putuskan," sahut Alena.
Evan menatap haru pada putrinya. Di dekapnya Alena dengan mata yang berkaca-kaca.
***
__ADS_1
Dinginnya malam nyatanya tak membuat dua insan yang bermandikan peluh merasa kedinginan. Mereka menikmati malam yang panas dengan saling memuaskan.
Deringan ponsel yang berkali-kali membuat kesal. Lengan wanita yang sedang dalam kungkungannya mencoba meraihnya dan memperlihatkan layar ponsel itu.
"Ah, sialan. Si Riky ganggu aja." Umpatnya.
Mau tidak mau ia pun mempercepat permainan. Menaikkan tempo dan membuat wanitanya sampai melenguh merasakan kenikmatan.
Ia menjatuhkan diri di samping wanitanya. Mencoba mengatur nafanya yang terengah. Lagi-lagi ponselnya berbunyi, dengan kesal ia pun mengangkatnya.
📱 "Halo, Rik! Sialan loe ganggu aja."
📱 "Sorry, Vin. Tapi udah selesai kan?"
📱 "Ya udah lah, masa iya gue ngomong sambil main."
📱 "Sorry, Bro. Bilang sama Laura gue minta maaf."
📱 "Iya, udah nggak apa-apa. Ada apa? Tumben loe nelpon gue jam segini."
📱 "Vin, gue mau minta izin sama loe."
📱 "Izin? Izin apa?"
Alvin terlihat heran. Laura yang melihatnya, mendekatkan diri dan memeluk suaminya.
📱 "Izinkan gue menikahi Alena."
📱 "What! Loe nggak lagi mabuk kan?"
📱 "Enggak dong. Gue lagi di rumah."
📱 "Loe serius? Memangnya kalian pacaran, sejak kapan?"
📱 "Gue serius, Vin. Baru tadi sore gue nembak dia, hehe."
📱 "Gila, Loe. Pacaran belum sehari udah mau ngajak married."
📱 "Alena kan bukan orang yang baru gue kenal, Vin. Terlebih dia juga adik loe."
📱 "Loe udah ngomong sama Papa?"
📱 "Belum. Tadi gue mau ngomong. Tapi kata bokap loe lain kali aja."
📱 "Terus maksud loe minta izin sama gue apa?"
📱 "Loe kan kakaknya. Loe juga sahabat gue. Jadi izinin ya, Vin. Biar gue bisa tidur malam ini."
Alvin tergelak mendengar permintaan sahabatnya itu. Ia tidak menyangka hal seperti itu mampu membuat Riky kesulitan memejamkan mata.
📱 "Gue belum bisa jawab. Sorry, ya Rik. Siapa suruh loe ganggu kenikmatan gue cuma karena loe nggak bisa tidur. Bye."
📱 "Vin! Vin, tega loe sama gue. Halo, Vin jawab dulu."
📱 "Jawaban gue adalah jawaban Papa. Jadi loe ngomong sama dia. Oke!"
Alvin memutus sambungan teleponnya. Laura menatap penuh tanya pada Alvin.
"Hubby, ada apa? Riky mau married sama siapa?"
"Dia mau menikahi Alena."
"Oh ya?"
"Kalau dia jadi menikah dengan Alena, itu artinya ketiga sahabatku menjadi kerabatku. Ini permainan takdir yang aneh. Kita bergelut dengan orang yang sama. Aku menikahimu yang merupakan sepupu Alena. Dan Amiera juga menikahi pria yang merupakan sepupuku. Ah, pusing aku mengurutkannya."
Laura mengulumkan senyumnya. Menatap Alvin yang terlihat sedang menerawang.
"Kalau dipikir-pikir, semua ini berkat Mommy Lucy. Mommy yang membuatku berada diantara keluarga Al-Azmi dan keluarga Atmadja. Aku rasa Mommy tidak ingin aku hidup sendirian. Mengubah takdirku yang semula hanya memilikinya seorang dan setelah kepergiannya, aku memiliki keluarga besar."
"Ini yang terbaik dan kita harus mensyukurinya, Hubby."
"Kamu benar, Sayang. I love you Mommy, terima kasih sudah melahirkan Alvin ke dunia ini." Gumamnya.
---------
__ADS_1
Happy weekend, Readers!😁😁