
Happy reading...
Senja mulai menjingga. Amiera dengan semangat pulang ke apartemennya. Pikirnya, Rendy pasti sudah pulang dan sedang menunggunya.
Amiera menyempatkan diri mampir ke apartemen suaminya. Namun saat membuka pintu, ruangan itu masih gelap gulita.
"Rendy belum pulang?" Gumamnya heran.
Amiera lalu menelepon suaminya. Ternyata malam ini pria itu lembur dan akan pulang pukul sepuluh. Amiera mencoba memaklumi, Rendy pasti sangat sibuk karena terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.
"Ahha! Nasi goreng seafood. Aku akan mengantarkan makanan kesukaannya," batin Amiera.
Amiera bergegas menuju penthouse. Ia memanggil pelayan dan meminta diajari cara membuat nasi goreng.
Seperti sebelumnya, mengajari Amiera memasak membutuhkan kesabaran yang ekstra. Sampai akhirnya wanita itu bisa membuatnya dengan rasa yang menurutnya tidak akan mengecewakan.
Amiera bersiap dan mengenakan pakaian casual. Langkahnya pasti menuju basement gedung apartemen tersebut.
Sementara itu di gedung Al-Azmi. Sophia yang mengetahui Rendy belum pulang segera menuju keruangannya. Pria itu nampak terkejut saat melihat Sophia yang masuk tanpa mengetuk.
"Kamu belum pulang, Ren?"
"Belum. Aku masih banyan pekerjaan," sahut Rendy malas. Ia kembali fokus pada berkas-berkas dihadapannya.
"Mau ku temani?"
Sophia berjalan menuju meja kerja Rendy. Saat mulai mendekati, Rendy memberinya tatapan yang sangat tajam.
"Pergilah, jangan menggangguku!" Tegasnya.
"Ayolah, Ren! Wajahmu itu sudah terlihat sangat lelah. Aku bisa memijatmu agar sedikit rileks," ucap Sophia dengan suara yang sangat lembut dan berusaha lebih dekat dengan Rendy.
"Sophia!" Bentaknya.
Sophia yang kaget, mundur selangkah dan tertunduk dengan wajahnya yang berubah sendu.
"Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu."
"Aku hanya ingin membuatmu nyaman," ujar Sophia pelan.
"Sekali lagi maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak ingin diganggu."
"Ren, aku..."
Suara pintu yang dibuka membuat mereka menoleh kearahnya. Amiera nampak mengernyitkan keningnya melihat Sophia yang berdiri tidak jauh dari suaminya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Amiera sinis.
"Amie, dia hanya.."
"Aku hanya akan menemani Rendy. Kenapa, tidak boleh?"
"Tentu saja tidak boleh. Pergilah!" Usirnya.
"Aku tidak mau. Memangnya kamu siapa berani mengusirku," decih Sophia.
Amiera menyeringai, sementara itu raut wajah Rendy mulai menegang.
"Apa perlu aku mengingatkanmu tentang siapa diriku, heh?"
Amiera meletakkan tampat makanan yang dibawanya di atas meja Rendy.
"Makanlah. Aku membuatkanmu makan malam kesukaanmu," ujar Amiera.
Harum makanan itu mengalihkan perhatian Rendy. Sedari tadi ia memang menahan lapar karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sophia mendelik melihat ekspresi wajah Rendy. Perlahan ia mulai undur diri.
"Kamu sudah makan?" tanya Rendy saat mulai menyuapkan makanan yang dibawa Amiera.
"Belum," geleng Amiera.
"Lalu kenapa hanya membawa satu?" Tanyanya sambil mengacungkan sendok yang dipegangnya.
"Kan biar bisa dipakai berdua," sahut Amiera dengan raut wajah menggoda.
__ADS_1
Rendy tersenyum tipis dan kembali memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Amiera merasa sangat senang melihat Rendy makan sangat lahap.
"Aku keluar sebentar ya," ujar Amiera melangkah ke arah pintu.
"Mau kemana?"
"Sebentar..."
Rendy kembali menikmati makanannya. Ia menyeringai mengingat spaghetti asin yang pernah dibuat Amiera.
"Lumayan ada kemajuan," gumam Rendy.
Sementara itu...
"Sophia, tunggu!" seru Amiera.
Sophia menoleh dan urung masuk ke dalam lift.
"Mau apa?" Tanyanya sinis.
"Mau ngucapin terima kasih."
"Terima kasih, untuk?" Sophia mengernyitkan keningnya tidak mengerti arah pembicaraan Amiera.
"Terima kasih, karena minuman yang kamu berikan ternyata membuatku dekat dengan Rendy."
"Yang benar saja, kamu mabuk hanya karena minuman itu?"
"Hmm.. Dan berkat dirimu, Rendy jadi milikku. Terima kasih, bye." Amiera berlalu dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
"Heh, dasar bodoh! Dia pikir minuman dariku yang membawanya ke kamar hotel itu. Dia tidak tahu Mark-lah yang telah menjebaknya. Tugasku hanya menggiring Tuan Salman agar memergoki dia dan Mark. Tapi, sial! Justru Rendy yang kepergok sedang bersamanya." Batinnya menggeram.
***
Sementara itu di kamar Alya, Rafael sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya. Ia sedang mencoba mengganggu tidur nyenyak istrinya.
Alya melenguh pelan merasakan kecupan Rafael di bagian dada. Tangan pria itu dirasanya sedang mer*mas salah satu gunung kembarnya.
"Kamu kapan beresnya sih, hmmm?" tanya Rafael sambil mencium pipi Alya yang sudah terbangun.
"Yang..." Rengeknya.
"Hmm," Alya pura-pura tidak mengerti maksud suaminya.
"Pengen..."
"Jam berapa ini?"
Alya menghela nafasnya memandang wajah Rafael yang terlihat sayu. Pria itu sepertinya memang sedang bernafsu.
"Sekarang?" tanya Alya sambil menggoda.
Rafael mengangguk cepat dan sangat senang. Ia buru-buru memasang mode siap dengan posisinya yang terlentang.
Alya menahan tawa melihat kelakuan suaminya. Sejak mereka resmi menyandang status suami istri, setiap pagi dan malam ia harus mau melakukan hal ini sebagai ganti dirinya yang belum bisa melayani.
Alya mengawali aksinya dengan menurunkan boxer yang dikenakan Rafael. Miniatur monas itu berdiri tegak seakan ingin memberitahukan kegagahan pemiliknya.
Rafael tersenyum seakan sudah tidak sabar merasakan sensasi yang bisa membuat angannya melayang. Dengan delikan menggoda, Alya memulai tugasnya. Menganggap 'milik' suaminya seperti es krim yang menggoda.
***
Back to London
Rendy menoleh pada wanita yang terduduk disamping kemudinya. Saat ini ia dan Amiera sedang berada dalam mobil Amiera.
Malam sudah mulai larut dan Amiera terlelap saat dalam perjalanan pulang. Awalnya Rendy nampak ragu, namun akhirnya ia membopong Amiera juga.
Karena takut merasa malu jika bertemu penghuni apartemen lain di dalam lift, Rendy pun menggunakan lift yang menuju tempat tinggal Amiera. Sesampainya di sana, penjaga bergegas membukakan pintu untuknya.
Setelah meletakkan Amiera di tempat tidur dan menyelimutinya, Rendy pun kembali ke apartemennya. Saat Rendy hendak berbaring, pesan Mamanya kembali terngiang di telinganya. Dengan enggan Rendy pun kembali ke tempat Amiera.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Amie." Ucapnya pelan.
Rendy menatap Amiera yang tertidur menghadapnya sambil memeluk bantal guling. Ia pun akhirnya membiarkan mimpi memjemput membawa serta rasa lelahnya.
__ADS_1
Keesokan harinya...
Rendy mengerjap-ngerjap saat ia merasa ada yang mengecup pipinya.
"Selamat pagi, Suamiku!"
Raut wajah cantik yang terlihat cerah itu sedang mengamati wajahnya. Rendy menjauhkan sedikit wajahnya, agar ada jarak dengan wajah Amiera.
"Pagi, Amiera." Sahutnya.
Diliriknya jam dinding, dan ternyata saat ini masih sangat pagi.
"Mau tidur lagi?"
"Sebentar lagi saja. Aku sangat lelah," sahut Rendy.
Ia mencoba kembali memejamkan matanya. Dan agak terkejut merasakan tangan Amiera melingkar pada pinggangnya.
"Ren, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," ucap Amiera pelan sambil mengecup dada suaminya lalu mengeratkan pelukannya.
Rendy tertegun. Posisi Amiera yang sedang memeluknya membuatnya tidak bisa terlelap, apalagi setelah mendengar pengakuan Amiera.
Seakan ada yang menariknya, tangan Rendy bergerak dan mengusap surai Amiera. Dan terhenti saat si empunya menyadari apa yang telah dilakukannya.
"Amie, maafkan aku." Hanya itu kata yang bisa diucapkan Rendy saat ini.
Amiera mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya yang juga sedang menatapnya. Ia mengangguk-anggukkan kepala membuat Rendy menahan tawa karena merasa geli dengan gerakan dagu Amiera di atas dadanya.
Amiera pun akhirnya menggelitiki pinggang Rendy. Pria itu terbahak dan memohon ampun padanya agar menghentikan aksinya.
Rendy balas menggelitiki Amiera. Saat Amiera menepuk-nepuk pundaknya pertanda ia sudah tidak tahan geli, Rendy langsung terhenti. Gerakan Amiera yang kegelian tanpa sengaja menyingkap baju atasan yang dikenakannya.
Rendy berdehem sambil membuang muka. Ia kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Amiera mengulumkan senyumannya. Menatap ke arah pintu sambil memeluk gemas bantalnya.
Pagi ini, Amiera sengaja meminta pelayan memberikan privasi untuknya dan juga suaminya. Ia sendiri yang akan mengiapkan sarapan untuk Rendy.
"Kamu sedang apa?" tanya Rendy heran melihat Amiera sibuk di ruang makan.
"Menyiapkan sarapan," sahutnya singkat.
"Tidak usah. Aku akan kembali ke kamarku." Tolaknya.
"Kak, kemarilah."
Rendy mau tidak mau menghampirinya.
"Ada apa?"
"Bagaimana kalau Kakak pindah saja ke sini? Kita kan sudah menikah, masa iya tinggal terpisah."
"Sewa apartemenku masih tiga bulan lagi, Amiera. Sayang kan kalau dikosongkan," sahut Rendy.
"Lalu, kita harus bagaimana? Ya nggak apa-apa kan, pindah aja."
"Nggak bisa gitu dong, Amie. Aku sewa apartemen itu dengan uang hasil kerjaku sendiri. Mungkin untukmu itu tidak seberapa, tapi untukku itu besar."
"Maaf. Amie tidak bermaksud seperti itu, Kak." Sesalnya.
"Dan satu lagi, hari ini aku akan mencari mobil untuk kita berdua. Aku tidak percaya diri membawa mobil sport limited edotion milikmu itu. Jadi kalau kamu tidak suka dengan mobil yang ku beli nanti, kamu bisa memakai mobilmu itu sendiri." Tegasnya.
Rendy menatap datar Amiera yang mendekat padanya.
"Amie pasti akan suka, Kak." Ucapnya yang kini sudah melingkarkan tangannya di pinggang Rendy.
"Tapi aku tidak bisa membeli mobil mahal, Amie. Mungkin kamu akan malu saat berada di dalamnya nanti."
Rendy masih menatap datar pada Amiera yang bergelayut pada pinggangnya.
"Tidak kalau itu dengan suami Amie. Dan Kakak adalah suami Amie. Amie akan menerima apapun yang Kakak berikan. Amie janji tidak akan protes," ujar Amiera dengan wajah menggemaskan.
Rendy tersenyum tipis. Amiera terkejut merasakan tangan Rendy menekan punggungnya untuk mengikis jarak diantara keduanya. Amierapun mengeratkan kembali pelukannya.
Ahh, andai waktu bisa berhenti. Amiera berharap bisa tetap seperti ini. Semoga saja waktu bisa segera menggerakkan hati suaminya agar secepatnya bisa menerima dirinya dan membalas perasaannya.
__ADS_1