Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
keputusan Rendy


__ADS_3

Happy reading...


Sepeninggal Alya, empat sekawan itu kembali terlibat perbincangan serius. Mereka membicarakan kakak beradik yang mereka waspadai, yakni Bagas dan Kiran. Namun sepertinya, hanya Alvin yang belum mengerti duduk persoalannya.


"Tunggu, ceritain ke gue apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ada nama Om Wira?" tanya Alvin heran.


"Gini lho, Vin. Satu waktu gue nggak sengaja lihat Om Wira lagi ngobrol sama Bagas. Dan si Bagas itu, pernah terlibat penipuan sama salah satu teman gue. Ternyata dia udah biasa dengan hal seperti itu. Tapi sayangnya dia selalu bisa bebas dengan jaminan," tutur Rafael.


"Terus, maksud loe dia lagi melancarkan aksinya dengan mendekati Om gue, gitu? Bukannya adiknya ada kerjasama sama loe, Maliek?" tanya Alvin.


"Iya. Tapi dia cuma mewakili perusahaannya," sahut Maliek.


"Menurut laporan dari orang suruhan Riky di London, Kiran juga ikut terlibat tapi nggak secara langsung," ujar Maliek.


"Kok loe nggak ngasih tahu gue waktu di London?" tanya Alvin kesal.


"Ya gimana gue mau ngasih tahu? Baru aja Maliek selesai nelepon gue, Loe kirim chat ngajak pulang. Itu sebabnya gue suruh orang cari infonya," kilah Riky.


"Kalau begitu kita akan buat rencana untuk menjebak mereka. Kasihan Om Wira kalau sampai kena tipu. Tapi kenapa mesti Om gue ya?"


"Itu karena bisnis resto Om Wira lagi naik, Vin. Gue dengar dia tahun ini mau buka lima cabang sekaligus. Kan perusahaan konstruksi Om Evan yang megangnya juga," papar Riky.


Alvin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang tidak terlalu terlibat dengan persoalan bisnis keluarga Atmadja.


"Gimana Amiera, Vin? Rendy bakal tetap nolak nikahin dia?" tanya Riky.


"Nggak tahu juga. Sekarang Rendy ada di kantor Daddy. Kita lihat aja besok apa keputusan dia. Gue harap sih dia mau menikah sama Amiera," ujar Alvin.


"Whats! Rendy adiknya Alya? Maksud kalian Rendy mau nikah sama Amiera adik loe, Vin?" Rafael terlihat sewot.


"Iya, itu juga kalau dia mau."


"Terus, gue sama Alya gimana? Rendy mau ngelangkahin kakak perempuannya? Kan nggak boleh," protes Rafael.


"Emang kita hidup di jaman dulu, heh? Loe kencengin dong usahanya, biar Om gue mau nerima loe. Om Wira itu nggak sama dengan Papa, pergaulannya juga beda. Jadi wajar kalau dia agak gimana gitu waktu tahu latar belakang loe."


Rafael terlihat lesu mendengar penuturan Alvin. Dirinya tidak menyangka gaya hidupnya yang hedonis akan berefek pada masa depan yang ingin dibangunnya.


***


Kicauan burung yang saling bersahutan di pagi yang cerah membuat pagi Rendy enggan beranjak dari tidurnya. Jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh mau tidak mau memaksanya beranjak juga.


Hembusan udara pagi menerpa wajahnya saat ia membuka jendela kamarnya. Satu helaan nafas dibuangnya saat mengingat ini adalah hari dimana ia harus mengutarakan keputusannya.


Flashback on


"Kau sudah memutuskan?" tanya Salman datar.


"Belum, Tuan." Sahutnya.


Rendy yang baru saja duduk, merasa canggung sekaligus bingung harus menjawab apa pada Salman yang bertanya tanpa basa-basi.


"Apa kau berubah pikiran?"


"Saya belum tahu," sahut Rendy pelan.


"Kau harus tahu, kenapa aku memutuskan memilihmu jadi pendamping Amiera. Bukan atas dasar perasaan bersalahku atas kejadian malam itu, karena kau sendiri pun memaklumi posisiku sebagai seorang ayah."


"Iya, Tuan. Saya mengerti," sahut Rendy.


"Alasanku adalah yang pertama, Amiera mencintaimu. Dan dia hanya menginginkan dirimu yang jadi suaminya. Yang kedua, karena aku tahu kamu pria yang pantas untuk putriku. Aku mengenal keluargamu dan menurut informasi yang aku dengar, pergaulanmu juga sehat. Setidaknya kau tidak suka mabuk seperti Maliek dan Alvin. Aku tidak mengerti mengapa mereka suka melakukan hal seperti itu," ujar Salman.


"Tapi saya bukan pengusaha sukses seperti Pak Maliek. Saya hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan konstruksi." Ujarnya merendah.


"Ya wajar kalau kau hanya karyawan biasa. Keluargamu tidak menggeluti bisnis yang sama denganmu. Kau juga masih muda, usiamu sama dengan Meydina. Betul kan? Tapi yang ku dengar kau sangat kompeten. Itu sebabnya Mike memilihmu."


"Terima kasih."


"Aku mengerti permasalahannya adalah hati. Dan keputusan sepenuhnya ada di tanganmu. Tapi asal kau tahu, kau bisa lebih maju dan sukses dengan dukungan dariku. Aku bisa memberikan apapun keinginanmu sebagai hadiah pernikahan. Mungkin kau ingin punya perusahaan konstruksi sendiri," tawar Salman.


Rendy terdiam. Memang benar adanya, menjadi menantu Salman akan sangat mendukung karirnya. Tapi haruskah?

__ADS_1


Flashback off


"Ren, Rendy! Ayo sarapan, Nak!" seru Mama Nura.


"Iya, Ma."


Setelah mencuci wajahnya, Rendy menghampiri ruang makan. Ini memang akhir pekan, semua akan berkumpul di rumah sepanjang hari. Tapi hari ini, mereka akan ke rumah Salman Al-Azmi.


"Ren, loe nggak berubah pikiran kan? Awas loe, ya!" ujar Alya ketus.


"Al, adiknya jangan ditekan gitu dong," pinta Mama Nura.


"Kali aja dia berubah pikiran, Ma."Deliknya.


Wira menatap sekilas pada putranya. Ia hanya berharap putanya bisa menentukan sendiri masa depannya.


***


Di kediaman Salman, suasana terasa sangat ramai. Mama Resty dibantu Meydina dan Laura sedang menyiapkan camilan berupa kue dan cake untuk tamu mereka. Sesekali terdengar gelak tawa di sana.


Sementara itu Alvin dan Maliek sedang menemani dua jagoannya dan juga Queena. Salman dan Aldo sedang berbincang di teras samping. Lalu Amiera? Gadis itu sedang menemani Fatima yang terlelap di kamarnya.


Dua jam lagi menuju waktu yang di tentukan. Sejak semalam Amiera sudah merasa tidak karuan.


Seandainya Rendy setuju menikah dengannya, semua cita-citanya akan tercapai. Menikah dengan pria yang dicintai, sekaligus meraih mimpinya menjadi seorang fashion designer profesional. Tapi bila Rendy tidak setuju, pupus sudah semua mimpinya itu.


"Amie, hei bangun! Ayo bersiap, dandan yang cantik." Meydina tersenyum masin pada adiknya.


Amiera terkejut saat menyadari waktu tinggal setengah jam lagi. Ternyata ia ketiduran disamping Fatima.


"Eeh, kok malah melamun," tegur Meydina.


"Kak Mey, kalau Rendy..."


"Sssttt. Jangan berandai-andai. Kalau Rendy jodoh kamu, pasti akan terlaksana. Kalau bukan jodohmu, percayalah Tuhan telah menyiapkan pengeran tampan nan baik hati untuk kamu, adikku sayang."


Amiera tersenyum tipis lalu memeluk Meydina sambil berucap, "Terima kasih, Kak."


***


Waktu yang ditunggu pun tiba. Suara mesin mobil yang dimatikan, membuat Amiera terkesiap.


Alvin dan Maliek juga Aldo menyambut kedatangan mereka di teras depan. Saat mereka memasuki ruang utama, Resty dan Meydina datang menghampiri.


Resty yang merupakan teman arisan Nura langsung terlibat percakapan yang cukup heboh. Entah apa yang dibicarakan dua ibu sosialita tersebut.


"Hai, Mey!" sapa Rendy pelan.


"Masih sakit?" tanya Meydina sambil menyentuh wajah Rendy yang masih terlihat membiru dengan ujung jarinya.


"Udah enggak dong," sahut Rendy sambil tersenyum.


Meydina hendak tersenyum namun ujung matanya menangkap sorot mata suaminya yang menajam.


"Syukur deh," ucapnya sambil tersenyum canggung.


Setelah di persilahkan, mereka berkumpul bersama di ruangan tersebut. Amiera terduduk diapit Resty dan Meydina. Tepat di hadapannya, Rendy duduk diapit kedua orang tuanya.


Salman menatap datar, entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Bagaimana, sudah kau putuskan?" Tanyanya.


"Yah, jangan tegang gitu dong!" pinta Meydina.


"Ayah memang seperti ini, Mey." Sahutnya.


"Bagaimana Ren? Apa keputusanmu?" tanya Evan.


Rendy mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Ia menoleh pada kedua orang tuanya secara bergantian. Ia kemudian menatap Meydina sesaat.


Tatapan Rendy mengarah pada Amiera. Kemudian ia berkata dengan tegas, "Saya setuju menikah dengan Amiera."

__ADS_1


Seketika terdengar sorakan Resty dan Nura.


"Kita besanan, Jeng!" seru Resty. Meskipun Amiera bukan putri kandungnya, tapi Resty sudah menganggapnya sebagai putri.


"Ren! Apa-apaan sih? Pa, nggak bisa gitu dong. Terus Alya gimana?" protes Alya.


"Kak Alya tenang dulu," ujar Alena.


"Gimana mau tenang? Dasar adik durhaka loe, Ren."


"Alya! Yang sopan, Nak."


"Mama gitu sama Alya. Mentang-mentang mau punya mantu anak orang kaya. Mama matre!" pekik Alya.


"Alya, duduk!" bentak Wira.


"Pa..." Rengeknya.


"Papa akan menikahkan kamu dengan Rafael. Sore ini suruh dia ke rumah," tegas Wira.


Semua anggota keluarga Atmadja termasuk juga Alvin dan Maliek menganga mendengar keputusan Wira. Alya bahkan sampai menepuk-nepuk pelan pipinya.


"Mas, kamu yakin?" tanya Nura.


"Kita akan membicarakan ini di rumah," ujar Wira pelan.


Alvin dan Maliek bertukar pandangan. Tatapan mata mereka seolah mengisyaratkan banyak pertanyaan.


"Baiklah kalau kau sudah diputuskan, kita akan adakan acaranya akhir pekan ini. Bagaimana Wira?"


"Bagaimana baiknya saja, Tuan."


"Rendy punya syarat," ucap Rendy tiba-tiba.


Semua tatapan langsung tertuju padanya.


"Syarat apa, Ren? Jangan aneh-aneh deh," tanya Wira.


"Tidak apa-apa, Wira. Biarkan putramu bicara," ujar Salman.


"Rendy mau acara pernikahan yang sederhana. Rendy tidak mau pernikahan ini di publikasikan kepada media." Ujarnya.


"Hanya itu? Boleh aku tahu apa alasanmu?" tanya Salman datar.


"Mengingat status sosial keluarga saya dan keluarga Amiera jauh berbeda, saya tidak ingin orang lain berpikir yang tidak-tidak tentang keluarga saya." Ujarnya.


Wira menatap bingung wajah putranya.


"Apalagi akan ada pernikahan Kak Alya. Saya tidak ingin membebani orang tua saya dengan pernikahan saya, Tuan. Biarkan mereka mempersiapkan pernikahan Kak Alya sebaik mungkin." Imbuhnya lagi.


Hening, sesaat ruangan itu kembali terasa menegang.


"Baiklah. Aku setuju. Lagi pula pernikahan ini mendadak. Jadi bagaimana kalau kita putuskan hanya keluarga besar kita yang hadir. Tidak terkecuali keluargaku yang ada di Timur Tengah. Mereka tentu akan datang kesini," ujar Salman.


"Tentu," sahut Rendy.


Semua terlihat lega. Dalam diamnya, Amiera tersipu bahagia. Sesekali ia mencuri pandang pada pria yang akan mempersuntingnya.


"Selamat ya Amiera," ucap Meydina sambil memeluk adiknya.


Satu persatu Amiera mendapat ucapan selamat dari anggota keluarganya. Rona bahagia terpancar jelas dari wajahnya.


"Terima kasih, Dad." Ucapnya saat memeluk Salman.


"Kau bahagia?" tanya Salman yang langsung mendapat anggukan dari putrinya.


"Syukurlah," ucap Salman sambil mengusap lembut surai Amiera.


Tidak lupa mereka pun memberikan selamat pada Rendy. Pria itu sekilas menatap Amiera yang bergelayut manja pada Daddy-nya.


"Heh," batinnya menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2