Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
maaf...


__ADS_3

Happy reading...


Rendy terkejut membaca tulisan yang tertera. Kebetulan suara pintu kamar mandi dibuka oleh Amiera. Sambil menatap tajam Rendy bertanya, "Apa maksudnya ini, Amiera?"


Amiera tertegun, merasa bingung harus menjawab apa. Rendy mendekatinya sambil memegang kunci mobil di satu tangannya dan satu kaplet pil itu di tangan lainnya.


"Jadi selama ini kamu meminum pil ini?" tanya Rendy dengan raut wajah kecewa. Dihempaskannya kaplet pil itu tepat di depan Amiera.


"Kak, Amie.."


Kalimatnya terhenti, Amiera menatap nanar punggung suaminya yang berlalu meninggalkan kamarnya. Suara pintu yang ditutup kasar membuatnya terperanjak.


Dengan lemas ia memungut kaplet pil yang tadi dijatuhkan suaminya. Kekecewaan Rendy terbayang jelas di matanya. Apa itu artinya Rendy ingin mereka punya momongan secepatnya?


Di sisi lain, Rendy yang kesal meninjukan kepalan tangannya ke dinding lift. Ia tidak habis pikir mengapa Amiera tidak meminta pendapatnya sebelum mengambil keputusan untuk menunda kehamilan. Lalu dianggap apa ia selama ini, jika Amiera tidak bisa menghargainya sebagai suami.


Setelah mengambil belanjaan Amiera, Rendy keluar dari apartemen itu menuju apartemen miliknya. Ia tidak membiarkan Amiera menjelaskan alasan dari keputusannya yang sepihak.


Amiera terduduk lemas di sofa. Ia merutuki dirinya yang ternyata belum bisa bersikap dewasa. Tatapannya mengarah pada pintu, berharap suaminya kembali dan meminta penjelasan darinya.


"Sepertinya Kak Rendy ada di apartemennya," gumam Amiera.


Amiera beranjak dari duduknya, berlalu menuju apartemen suaminya. Ia merasa ragu saat hendak mengetuk. Lalu dicobanya pelan-pelan memutar gagang pintu. Namun Amiera terpaksa kecewa, karena nyatanya Rendy mengunci pintu apartemennya.


Sementara itu, Rendy sengaja berlama-lama di kamar mandi. Ia ingin mendinginkan pikirannya dengan guyuran air dingin. Untung saja masih ada baju yang tersisa dalam lemari pakaiannya. Setelah selesai, ia menjatuhkan dirinya di atas temoat tidur.


Tatapannya menerawang melihat langit-langit. Sebisa mungkin ia mencoba menepis prasangkanya terhadap Amiera.


Rendy mengusap perutnya yang berbunyi. Ia baru ingat tadi siang tidak sempat makan. Dengan malas Rendy mengarahkan langkahnya menuju lemari pendingin, berharap ada sesuatu yang bisa ia makan untuk sekedar pengganjal rasa lapar.


Rendy harus kecewa, karena dalam lemari pendinginnya hanya ada beberapa botol air mineral. Sambil menghela nafas, Rendy menutupnya lagi.


Setelah berfikir sejenak, diarahkannya langkah kaki menuju pintu. Saat pintu terbuka, ia mendapati Amiera sedang berdiri sambil tersenyum padanya.


"Kak, dengar dulu penjelasan Amie." Rengeknya.


Setelah mengunci pintu, Rendy melangkah menuju lift. Amiera yang bergelayut manja di lengannya seolah tidak perduli bila ia tidak mengacuhkannya.


Di dalam lift, Amiera memeluk erat tubuh suaminya. Berharap sikapnya bisa sedikit melunturkan rasa kesal di hati Rendy, suaminya.


"Kak, maafkan Amie ya. Amie janji nggak akan meminum obat itu lagi." Ucapnya saat mereka baru memasuki penthouse.


Rendy menatap istrinya nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya yang tajam seolah mencari kebenaran. Ia kemudian meminta pelayan meninggalkan mereka.


Mereka masih berdiri, dengan tangan Amiera yang masih melingkar di pinggang suaminya. Setelah yakin para pelayan itu sudah pergi, ditatapnya lagi wajah Amiera yang terlihat begitu menggemaskan.


"Apa artinya aku untukmu, Amiera?"


"Kakak segalanya untuk Amie," sahut Amiera cepat.


"Lalu kenapa kamu tidak bertanya dulu padaku sebelum memutuskan sesuatu?" tanya Rendy datar.


"Amie minta maaf," sahut Amiera pelan sambil tertunduk.


"Apa karena pendidikan dan juga karirmu?" tanya Rendy sambil menatap pucuk kepala istrinya.


Amiera hanya mengangguk pelan.


"Saat bicara tatap aku, Amiera." Tegasnya.


Perlahan Amiera mengangkat wajahnya. Ia menberanikan diri menatap wajah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Rendy terkejut melihat Amiera yang seperti mau menangis.

__ADS_1


"Apa sikapku berlebihan?" Batinnya.


"Kenapa menangis?" tanya Rendy mencoba tidak terpengaruh.


"Amie minta maaf," ucap Amiera lagi.


Rendy yang sudah tidak bisa lagi mengabaikan raut wajah itu, merengkuh Amiera. Memeluknya erat lalu mencium pucuk kepalanya.


"Amie minta maaf. Amie tidak tahu kakak akan semarah ini. Amie janji tidak akan meminumnya lagi," ucap Amiera dengan suara yang berat kemudian terisak.


Rendy terdiam mendengar isakan istrinya. Ia tidak menyangka Amiera akan menangis dan hanya bisa menyesali sikapnya yang berlebihan.


"Aku juga minta maaf, Sayang." Ucapnya.


Rendy mengusap wajah sembab Amiera. Ia tersenyum mencoba menghibur hati istrinya.


"Dengar, Sayang. Aku tidak keberatan jika kamu mau menunda kehamilan. Aku bisa mengerti alasan dibalik keinginanmu itu. Tapi setidaknya bicarakan dulu denganku, Amiera. Karena dengan begitu artinya kamu menghargaiku," ujar Rendy.


Amiera mengangguk. Ia mengulumkan senyum mendengar suara dari dalam perut suaminya.


"Kakak lapar ya?"


Rendy tersenyum malu dan memeluk Amiera sekali lagi.


"Makan yuk! Cacingnya kalo demo berisik," gurau Amiera.


"Maaf sudah membuatmu menangis," bisik Rendy yang dibalas anggukkan oleh istrinya.


Saat menikmati makan malam, Amiera bercerita tentang keseruannya belanja dengan Bella. Tak lupa ia juga menceritakan perihal wanita yang memandangnya rendah hanya karena harga sepasang hihg heels yang kebetulan diinginkannya.


Rendy hanya mendengarkan sambil sesekali tersenyum. Ia juga mengusap bibir Amiera karena istrinya itu bicara sambil mengunyah.


Setelah makan, mereka menonton genre film kesukaan Amiera. Film romantis yang membuat hubungan mereka semakin manis.


Amiera yang berapa di pangkuan suaminya melihat ke sekitar. Sepi, karena pelayan sudah diminta keluar.


"Di sini yuk!" Ajaknya, diakhiri kedipan sebelah mata.


"Yakin?"


Amiera mengangguk. Rendy mematikan televisi yang sedari tadi menganggur, sementara Amiera melepas celana dalamnya.


Kimono tanktop dress yang dikenakan Amiera memudahkan mereka. Hanya dengan menurunkan sedikit boxer yang dikenakan Rendy, mereka bisa bersenang-senang tanpa membuka pakaian.


***


Pagi hari ini cuaca di luar sangat cerah. Begitu juga dengan wajah Amiera yang tak kalah berseri menyambut pagi. Ia sudah selesai berdandan. Sambil menunggu suaminya selesai mandi, ia menyiapkan tas yang akan dibawanya.


Amiera memasukkan barang-barang yang akan dibawanya. Saat ia membuka laci untuk mencari power bank, tatapannya tertuju pada kaplet pil yang diletakkannya kemarin.


Amiera mengingat ucapan Rendy. Suaminya itu memang tidak keberatan jika ia menunda kehamilan. Namun jika kehadiran seorang anak bisa menambah kebahagiaan mereka, kenapa tidak?


Setelah menatap sebentar, ia memantapkan hatinya untuk membuang pil-pil itu. Ia dan Rendy hanya tinggal menunggu sampai Tuhan memberi mereka kepercayaan dengan menghadirkan buah cinta mereka.


***


Di ruang rapat, perdebatan kecil sedang terjadi. Mike yang mendapat laporan dari Rendy meminta Alex dan staf keuangannya untuk datang pagi ini.


Mike mempertanyakan tentang keuangan proyek bulan lalu yang masih juga belum ada laporannya. Alex berkilah bahwasanya hal itu wajar saat terjadi pergantian PM di lapangan.


"Tuan, aku tidak mengerti mengapa anda seperti orang baru dalam bisnis ini. Apa karena anda mendapat laporan dari orang terdekat anda, lalu begitu saja menerimanya dan mempertanyakannya pada saya?"

__ADS_1


"Dengar Alex! Dalam hal ini, hanya PM yang digantikan. Bukan bagian staf keuangan. Semua sudah terinci dari awal, seharusnya itu tidak jadi masalah walaupun ada pergantian PM di lapangan. Dan lagi menurut orangku, biaya yang sudah dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil kerja di lapangan." Mike menatap tajam pada Alex.


Raut wajah Alex mulai menegang, apalagi staf keuangan yang ikut bersamanya menghadap Mike.


"Aku beri waktu sampai besok pagi. Aku ingin laporan itu sudah ada di meja kerjaku. Dan mulai sekarang, akan ada tim audit yang datang tanpa pemberitahuan. Jadi kalau sampai aku menemukan sedikit saja kecurangan, aku tidak akan segan turun tangan. Kalian paham?"


Keduanya mengangguk pelan. Tatapan Mike yang tajam seakan siap menerkam siapa saja yang berani main-main dengan perusahaan.


Setelah pertemuan mereka selesai, Alex keluar dan berjalan dengan langkahnya yang lebar. Tangannya yang terkepal kuat memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih.


Ketegangan di wajah Alex meregang saat ia bertemu Bella di lobi perusahaan.


"Miss Bella, anda dari luar?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Ah, tidak apa-apa. Boleh saya tahu wanita yang kemarin bersama anda, siapa namanya?"


Bella menyeringai tipis.


"Maaf, tapi saat di kantor sebaiknya kita hanya membicarakan urusan pekerjaan. Dan lagi pula kemarin saya sudah katakan bahwa dia sahabat saya dan dia tidak ada urusan apapun dengan pekerjaan kita. Saya permisi," pamit Bella.


Sophia yang mendengarkan pun menduga-duga.


"Alex, aku ingin katakan ini padamu. Dia sudah menikah, jadi jangan pernah menanyakannya lagi padaku."


Bella berlalu begitu saja dari hadapan Alex.


"Tadinya ku pikir pria itu menanyakan Amiera. Tapi kalau Bella mengatakan dia wanita yang sudah menikah, berarti bukan." Batinnya.


Sementara itu Alex hanya menyeringai sinis.


"Heh, kakak beradik sama-sama menyebalkan." Gumamnya.


"Memangnya kenapa kalau wanita itu sudah menikah? Sepertinya dia suka sekali belanja. Satu saja informasi ku dapatkan tentang dia, akan ku pastikan akan mendapatkannya. Aku yakin hanya dengan sebuah kartu, dia akan mengekor dibelakangku."


***


Alex mengarahkan mobilnya menuju ke suatu tempat. Ia merasa geram dan ingin bertemu langsung dengan orang yang berani mengusik kesenangannya.


Selama ini, ia selalu berhasil bekerja sama dengan staf keuangan yang dipilihnya dalam memanipulasi data keuangan proyek. Selalu ada pihak ketiga yang bisa ia jadikan kambing hitam dalam setiap rencana yang dijalankan.


Namun sekarang, baru satu bulan ini ia bermain-main sudah ada yang mengganggunya. Rencananya bahkan baru berjalan, tapi pria bernama Rendy itu sudah jadi penghalang. Al-Azmi Corp, merupakan sasaran empuk karena uang di setiap proyeknya bernilai sangat fantastis. Dan sepertinya ia harus segera menyingkirkan serangga kecil bernama Rendy Atmadja ini.


"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya security lokasi proyek.


"Pagi, aku ingin bertemu PM kalian. Tuan Rendy Atmadja," ucap Alex.


Setelah menjelaskan sedikit siapa dirinya, security itupun mengizinkan mobilnya masuk ke area proyek.


"Anda siapa dan ingin bertemu siapa?" tanya James, asisten Rendy.


"Namaku Alex. Aku ingin bertemu Rendy Atmadja." Ujarnya.


"Alex?" gumam asisten Rendy.


"Ada apa James?"


"Tuan. Ada yang ingin bertemu dengan anda," sahut James.


Alex menoleh dan menatap sinis pada Rendy.

__ADS_1


"Jadi ini yang bernama Rendy Atmadja," batin Alex.


__ADS_2