Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
extra-part (Baby twins)


__ADS_3

Maaf ya telat up, baru sempat🙏


Happy reading...


Beberapa minggu kemudian...


Pulang sekolah Meydina membawa anak-anak ke 'Queen Resto'. Restoran mewah milik Laura itu ada di samping mall ternama. Mereka sengaja datang untuk menikmati menu baru yang hari ini dilaunching khusus untuk anak-anak.


Restoran itu tak ubahnya taman bermain anak. Anak-anak itu berlarian di tengah area restoran yang terdapat taman serta arena bermain untuk mereka.


Banyak dari pengunjung yang tertarik lantaran foto Zein bersaudara yang diposting Laura. Sebuah ketidak sengajaan, karena awalnya ia hanya berniat mengabadikan kebersamaan anak-anak itu saat berada di restorannya.


"Mommy!" seru Queena yang baru turun dari mobil.


"Hai, Sayang. Kakak Zein, Fatima, Amar! Hai, Zeni, ayo masuk!" Sapanya.


"Rame, Kak?" tanya Meydina.


"Lihatlah. Pesona keponakanku luar biasa," puji Laura, Meydina terkekeh menanggapinya. Kedua ibu muda itu menggelengkan kepala melihat tingakah anak-anak yang bergaya saat terkena blitz kamera, kecuali Amar yang nampak tidak acuh berlalu begitu saja.


"Selamat siang, Nyonya!" sapa seorang pegawai Laura.


"Siang," sahut Meydina.


Meydina dan Laura masuk ke bagian dapur memeriksa persiapan acara. Sementara anak-anak bermain dengan diawasi Mbak Uli, pengasuh Zenita.


"Bagaimana, sudah ada kabar dari Alya?"


"Belum, Kak. Menurut Tante Nura jadwal operasinya nanti sore."


"Oh. Semoga saja lancar."


"Aamiin," angguk Meydina.


Hilir mudik anak-anak di restoran itu, nampaknya hampir serupa dengan apa yang dilihat Alya saat ini. Sedari tadi suaminya mondar-mandir tak karuan sampai membuatnya kesal.


"Yang, udah dong. Pusing aku lihatnya juga," gerutu Alya.


"Iya, Raf. Duduk diam apa susahnya sih?" mama Rafael ikut menimpali ucapan menantunya.


"Kamu nggak ngerti, Beib. Aku ini sekarang deg-degan gimana gitu," sahut Rafael sambil mendekati Alya.


"Iya, aku ngerti. Tapi kalau begini yang ada nanti aku stres." Keluhnya.


"Jangan dong, Sayang. Kamu harus tenang ya. Biar kelahiran baby twins kita lancar."


"Aku udah tenang kok. Kamu yang gelisah," delik Alya.


Nura dan besannya hanya bisa tersenyum tipis. Bagaimanapun juga, operasi C-section atau caesar termasuk operasi besar. Jadi wajar jika Rafael merasa khawatir.


"Sudah ada nama untuk baby twins, Raf?" tanya Mama Nura.

__ADS_1


"Sudah, Ma." Sahutnya, sambil mengusap-usap perut istrinya.


"Karena ini twins berarti masing-masing kita dapat satu ya, Jeng," kelakar mama Rafael.


"Iya, betul. Saya yang perempuan ya, biar sepasang sama Arka." Nura mananggapi ucapan besannya.


"Boleh. Kalau begitu berarti saya yang laki-laki." Sahutnya.


Kedua wanita paruh baya itu tergelak membuat pasangan suami istri yang ada di sana menatap horor ke arah mereka. Dokter memprediksi bayi yang dikandung Alya kembar fraternal atau kembar tidak identik.


Waktu terus berlalu, sebisa mungkin Rafael bersikap tenang. Begitu juga dengan Alya. Kehadiran orang tuanya juga mertuanya menjadi penyemangat tersendiri baginya.


Tiba saatnya dokter dan beberapa perawat datang, kemudian membawa Alya ke ruang persalinan. Rafael berkali-kali mengcup kening Alya dan menyemangatinya. Ia juga meminta salah seorang dari mereka mengabadikan kelahiran anak kembarnya.


"Kamu harus tenang, Sayang. Aku ada di luar menunggumu dan juga anak-anak kita." Ucapnya sebelum meninggalkan ruangan itu.


Alya tersenyum untuk memastikan dirinya baik-baik saja. Ia mengangguk pelan saat Rafael melambaikan tangan sebelum menutup pintu ruangan.


Derap langkah yang menggema di lorong rumah sakit sesaat mengalihkan ketegangan yang dirasa Rafael. Pria itu mondar-mandir di depan pintu kaca ruangan tersebut.


Evan, Alena dan juga Riky datang menghampiri mereka. Rafael maksakan senyum saat Riky menepuk pundaknya.


"Kapan datang, Rik?" tanya Wira.


"Baru saja, Om."


"Kalian dari bandara?" tanya Wira pada Evan dan Alena.


Nura mengusap lembut punggung Alena. Sambil tersenyum ia berkata, "Kapan kalian nyusul?"


"Belum, Tante. Alena masih mau fokus kuliah," sahut Alena ragu.


Nura mengangguk dan sekilas melirik pada Riky. Pria itu tersenyum masam mendengar penuturan istrinya.


Tangisan bayi yang menggema dari dalam ruangan seketika membuat degup jantung Rafael berhenti. Ia menatap tak percaya pada Riky dan dijawab anggukan oleh sahabatnya itu.


"Selamat, Bro. Loe udah jadi seorang ayah." Ucapnya.


"Ini beneran kan, Rik? Gue nggak lagi berhalusinasi kan? I-itu tangisan anak gue, Rik?" Tanyanya seolah tak percaya dengan mata yang berkaca-kaca. Lagi-lagi Riky mengangguk dan membuka kedua tangannya untuk memberi selamat pada Rafael.


"Thank you, Rik." Ujarnya sambil memeluk sahabatnya tersebut.


Rafael menoleh pada mamanya yang memberinya tatapan kebahagiaan.


"Selamat ya, Sayang. Jagoan Mama sudah jadi ayah."


"Terima kasih, Ma. Sekarang Mama juga sudah jadi Oma," sahut Rafael yang tidak bisa menyembunyikan keharuannya di pundak sang mama.


Satu persatu mereka memberi selamat. Ingin rasanya Rafael menerobos masuk dan memeluk Alya, istrinya. Setelah semua selesai, mereka dipersilahkan masuk ke ruang perawatan pasca persalinan.


Ruangan itu diliputi rasa bahagia dan juga haru yang bercampur jadi satu. Baby twins terlihat menggemaskan walau mereka terlahir dengan berat badan terbilang kurang. Namun keadaan keduanya yang stabil tidak mengharuskan mereka dirawat di ruangan khusus.

__ADS_1


"Oh My God! Welcome to the world, My Twins." Rafael menitikkan air mata saat menatap kedua buah hatinya yang terlelap.


"Yang mana kakaknya, Dok?" tanya Mama Nura pada dokter yang datang mengucapkan selamat pada keluarga sekaligus memeriksa keadaan pasiennya.


"Yang putra, Oma." Sahutnya.


"Berarti adiknya yang ini ya?" tanya mama Rafael sambil menunjuk ranjang cucu perempuannya. Dokter itu mengangguk dengan senyum yang ramah.


"Kak Riky mau ya?" goda Alena saat tatapan Riky terlihat gemas pada kedua bayi tersebut.


"Mau banget, Sayang." Sahutnya sambil berbisik.


"Sabar ya, nunggu Alena beres kuliah."


"Iya, apa sih yang enggak buat kamu." Sahutnya pasrah.


"Siapa namanya, Al?" tanya Riky sambil menoleh pada Alya.


"Siapa, Yang?" tanya Alya pada suaminya.


"Kan kamu yang ngasih nama, Beib," sahut Rafael sambil mengusap lembut pipi Alya dengan punggung telunjuknya.


"Siapa kak, Alya?" tanya Alena penasaran.


"Mmm... Nara dan Raya, gimana?" Alya menoleh pada Rafael.


"Setuju," sahut Rafael.


"Hai, Kakak Nara! Adik Raya!" sapa Alena dengan gaya khasnya.


"Hai, Auntie!" sahut Riky menirukan suara anak kecil sambil menggerakkan telapak tangannya.


Alena tersipu menatap wajah suaminya yang sedang menggoda. Sudah dua minggu mereka tidak bertemu. Sorot mata Riky tak bisa menyembunyikan rasa rindu itu.


Sejak menikah, Riky pulang seminggu sekali. Namun dua minggu ini, ia menahan diri karena kesibukan yang tidak bisa dihindari.


"Hei, hei kalian! Pulang sana kalau mau kangen-kangenan. Jangan di sini. Kasihan dong sama gue yang harus puasa lama," delik Rafael.


"Tahan dong, jangan macam-macam. Kan udah ada twins," sahut Riky.


"Siap, gue akan tahan."


"Yakin loe?" goda Riky.


Rafael tersenyum kikuk, seakan meragukan dirinya sendiri.


"Awas kalau macam-macam!" ujar Alya dengan tatapan yang tajam.


"Nggak, Beib. Aku nggak akan macam-macam. Tapi kalau lagi pengen dibantu ya," ujar Rafael dengan raut wajah memelas.


Alya mendelik sambil mengulumkan senyum. Begitu juga dengan para orang tua dan juga Riky beserta istrinya.

__ADS_1


__ADS_2