
Happy reading...
Sebelum menuju kantornya, Rendy menuju gedung Al-Azmi Corp. Pagi ini ia ada janji dengan salah satu staf keuangan proyek yang dipegang Alex. Kebetulan Mike sedang tidak di tempat. Begitu juga dengan Bella.
Di ruangan Rendy mereka bicara empat mata. Sayup-sayup terdengar perdebatan kecil dari dalam ruangan tersebut. Tidak lama kemudian staf itu keluar dengan wajah yang kesal. Ia pun menelepon atasannya dan meminta segera bertemu.
Rendy yang tak kalah kesal melangkah meninggalkan ruangannya. Saat melewati lobi, ia menyadari beberapa orang manatap sinis padanya. Karena ia sudah terlambat, Rendy pun bergegas meninggalkan gedung tersebut.
"Jadi dia orangnya?" tanya seorang karyawan.
"Benar. Kamu mengenalnya?" staf yang tadi bertemu Rendy balik bertanya.
"Namanya Rendy Atmadja. Dia salah satu PM yang baru bergabung dengan perusahaan ini. Ku dengar dia dekat dengan Tuan Mike dan Miss Bella," sahut karyawan lainnya.
"Apa, dia hanya seorang PM? Heh, atas dasar apa dia meminta laporan keuangan proyek lain. Memangnya dia siapa? Sial! Sepertinya aku dipermainkan," umpat staf itu.
"Dia meminta laporan proyek lain? Hmm, sepertinya dia ingin mengambil alih proyek itu. Aku yakin dia berani melakukan ini karena merasa dekat dengan Tuan Mike."
"Kurasa begitu."
"Serakah juga dia ya. Padahal proyeknya lumayan besar," ujar salah satu dari mereka.
Setelah meninggalkan gedung Al-Azmi Corp, staf itupun kembali ke tempat kerjanya. Banyak hal yang harus ia laporkan pada atasannya.
***
Kelap-kelip lampu di salah satu jalanan kota London nampak indah di malam hari. Seorang pria sedang menikmatinya sambil mendengarkan suara di ujung ponselnya. Kepulan asap dari sig*ret yang dihisap seakan menyembunyikan seringaian di wajahnya.
"Ada apa?" tanya seorang wanita dari atas tempat tidurnya.
"Ada serangga kecil yang mencoba menggangu rencanaku." Sahutnya.
"Hari ini kamu pasti tidak pergi kerja. Jika tidak, kamu akan mendengar laporan anak buahmu itu tadi siang."
Pria itu menyeringai.
"Apa ini tentang proyek yang baru kamu pegang?"
"Hmm. Ada seorang PM bernama Rendy Atmadja meminta laporan keuangan. Berani sekali dia mengusikku."
"Heh, kenapa akhir-akhir ini aku sering mendengar nama Atmadja. Apakah di dunia ini banyak orang menggunakan nama itu?" decih si wanita.
Wanita itu turun dari tempat tidur dan menuangkan minuman untuk mereka berdua.
"Memangnya siapa orang bernama belakang Atmadja yang kamu maksud?"
"Wira Atmadja. Gara-gara berurusan dengan pria itu Bagas jadi masuk penjara. Dan karena menantu sialannya itu juga Bagas tidak bisa dibebaskan dengan jaminan."
"Bagas, kakakmu? Dia dipenjara? Oh My God, aku tidak percaya ini. Akhirnya ada juga yang mematahkan langkahnya," kelakar pria itu.
"Alex, jaga bicaramu! Sebaiknya kamu juga berhati-hati dengan orang bernama belakang Atmadja itu. Aku harap nasibmu tidak seperti Bagas yang berubah sial setelah berurusan dengan nama itu." Ujarnya ketus.
Pria itu terkekeh mendengar ocehan teman wanitanya yang tak lain adalah Kiran.
***
Akhir pekan ini, Rendy dan Amiera tidak ada rencana pergi bersama. Mereka punya kesibukan masing-masing.
Amiera berusaha keras agar bisa lebih cepat menyelesaikan study-nya. Ia ingin fokus dengan rencana karir dan masa depannya.
Begitu juga dengan Rendy yang ingin membuktikan keberadaannya. Beberapa hari yang lalu ia merutuki dirinya yang tidak ada untuk membantu Papanya. Rendy merasa lega ada Rafael yang menyelamatkan Papa Wira.
Mengenai kasus yang menimpa Papanya, mungkin ia masih bisa memaafkan dirinya. Karena saat ini ia berada jauh dari keluarganya. Tapi kalau sampai ia tidak bisa menghentikan langkah Alex dan membuktikannya bersalah, mau ditaruh dimana harga dirinya dihadapan sang mertua.
Sepulang dari kampusnya, Amiera ada rencana belanja dengan Bella. Mereka janjian bertemu di cafe yang berada di sebuah mall ternama. Setelah memarkirkan mobilnya, Amiera bergegas menuju tempat Bella.
"Hai, Bella! Maaf ya menunggu lama, aku baru selesai dengan tugas dadakan yang di berikan dosenku."
"Santai saja, aku juga belum lama. Mau pesan sesuatu?"
Amiera mengangguk dan memesan sesuatu pada pelayan.
"Hari ini mau beli apa?" tanya Bella.
"Aku ingin membeli beberapa high heels."
"Amiera, setelah kakimu terkilir kamu masih ingin membeli high heels?" tanya Bella dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Iya. Lagi pula sebenarnya bukan high heels yang membuat kakiku terkilir. Itu hanya dugaanmu saja," delik Amiera.
"Bukan, lalu karena apa?"
"Aku terpeleset di kamar mandi."
"Hah! Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?"
"Saat itu ada Dave, aku malu."
Bella mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Bella penasaran.
"Biarkan aku habiskan ini dulu. Nanti sambil berjalan aku akan menceritakannya. Tapi janji ya, kamu tidak akan menertawakanku." Pintanya.
"Oke," sahut Bella singkat.
Setelah makanannya habis, Amiera mengeluarkan bulatan pil kecil lalu meminumnya. Bella memperhatikannya dengan raut wajah heran.
"Bukankah itu pil yang waktu itu ku beli?"
"Hmm." Angguknya.
"Kenapa minumnya siang hari begini? Bukankah pil itu diminum hanya saat akan berh*bungan suami istri?"
Amiera menggeleng.
"Bukan seperti itu. Ini ada aturan minumnya." Amiera menunjukkannya pada Bella. Kemudian mematikan bunyi alarm pada ponselnya.
"Aku bahkan sampai memasang alarm agar tidak lupa," ucap Amiera lagi.
"Oh, begitu."
"Ayo, kita mulai berpetualang mencari mangsa." Ajaknya.
"Kamu salah Amiera. Yang ada, kita berdua ini yang dianggap mangsa oleh para penjual di sini."
"Oh iya, ya. Hehe.." Kekehnya.
"Oke. Aku mulai dari mana ya? Mmm, bagaimana kalau dimulai dari saat aku terkejut mendapati suamiku sedang memperhatikanku yang t*lanjang di dalam bathtub?"
"Apa!"
"Ssstt!" Amiera menutup mulut Bella dengan telapak tangannya. Hampir saja orang-orang memperhatikan mereka karena mendengar pekikan Bella.
"Jadi kamu tergelincir saat b*rcinta? Oh My God, Amiera! Benarkah begitu?" Ucapnya pelan
"Kamu ini selalu menduga-duga. Dengarkan dulu ceritaku," geram Amiera.
"Oke-oke," angguk Bella.
Amiera menceritakan kejadian saat ia tergelincir. Siapa sangka tiba-tiba Bella tergelak. Amiera sangat malu dan tersenyum kikuk pada orang-orang yang memperhatikan mereka.
"Aww!" pekik Bella karena Amiera mencubit lengannya.
Amiera membulatkan matanya. Sambil meringis, Bella mencoba menghentikan tawanya.
"Miss Bella?"
Bella dan Amiera menoleh ke arah suara.
"Hai, Alex! Kebetulan bertemu di sini." Sahutnya.
"Anda terlihat bahagia sekali, Miss." Ucapnya sambil melirik pada Amiera.
Alex yang saat ini sedang bersama Kiran menatap lekat pada Amiera. Ia terpesona oleh kecantikan wanita berwajah ala Timur Tengah yang bersama dengan Bella.
Sementara itu, Kiran memperlihatkan ekspresi wajah tak sukanya. Matanya mendelik pada dua wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Miss, apakah Nona cantik ini juga salah satu PM di perusahaan?" Tanyanya.
Bella melirik pada Amiera. Wanita di sampingnya itu tersenyum kikuk sambil menggeleng pelan.
"Bukan, Lex. Ini sahabatku," sahut Bella.
Sepertinya Alex ingin berkenalan dengan Amiera. Namun karena wanita yang digandengnya mengajak ke suatu tempat, Alex mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Berkali-kali Alex menoleh ke arah Bella dan Amiera. Ia terlihat kecewa saat kedua wanita itu menghilang entah pergi kemana.
Bella dan Amiera berkeliling mencari barang yang mereka inginkan. Toko-toko yang berjejer di sana semua dari brand ternama.
Saat melewati toko yang memajang beberapa heels cantik, Amiera merasa terpanggil untuk masuk ke dalamnya. Setelah melihat-lihat, pilihan Amiera jatuh pada salah satu heels cantik yang berjejer di bagian atas.
"Aku mau lihat itu," ucap dua wanita hampir bersamaan.
Amiera menoleh, begitu juga si wanita di sampingnya. Mereka sama-sama terkejut karena baru saja mereka berpisah sekarang sudah dipertemukan lagi.
"Kiran, sudah ada yang kamu inginkan?" tanya pria dari arah belakang Amiera.
Amiera menoleh, pria itu terkejut sekaligus senang.
"Nona, anda juga di sini. Apa sudah ada heels yang anda inginkan?"
Kiran membulatkan matanya, tidak percaya Alex menawarkan sesuatu pada wanita tepat dihadapannya.
"Alex, aku mau itu." Tunjuknya.
"Kebetulan sekali, aku juga mau heels yang itu," ucap Amiera.
Alex kini terlihat bingung. Kiran menatapnya tajam sementara teman Bella, walaupun ia mendelik sinis tapi terlihat sangat manis.
"Aku yang lebih dulu menginginkannya," tegas Kiran.
"Kalau begitu silahkan. Aku akan mencari yang lain," delik Amiera.
"Heh, kamu lihat ini. Aku tidak yakin kamu bisa membeli barang semahal ini," decih Kiran.
Amiera mendelik melihat harga yang diperlihatkan Kiran. Ia menyeringai sinis saat Kiran merasa bangga karena bisa memilikinya.
Amiera lalu menunjuk beberapa pasang heels. Setelah dirasa cocok, ia pun membayarnya.
Kiran terpaku menatap kotak-kotak sepatu mahal itu dimasukkan kedalam paper bag oleh kasir toko. Ia menatap heels-nya yang tadi dibanggakannya ternyata tak sebanding dengan yang dibeli wanita yang sempat direndahkan olehnya.
"Sudah belum, Amie? Maaf aku lama," ucap Bella.
"Sudah. Apa masih ada yang ingin kamu beli?"
"Sepertinya tidak. Mau pulang sekarang?"
Amiera mengangguk. Bella berpamitan pada Alex. Tapi tidak dengan Amiera. Wanita itu melenggang tanpa keinginan menoleh lagi ke belakang.
***
Menjelang sore, Rendy dan Amiera tiba di apartemen hanya berbeda sekitar setengah jam. Amiera tiba lebih dulu, lalu Rendy menyusul setengah jam kemudian.
"Jadi tadi belanja dengan Bella?"
Amiera mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Amie mandi dulu ya, Kak."
"Mau mandi bareng?" Godanya.
Baru saja akan menjawab, ponsel Rendy sudah berdering. Alhasil Amiera memberinya isyarat bahwa ia duluan ke kamar mandi.
Cukup lama Rendy berbicara dengan seseorang di ujung ponselnya. Setelah selesai, ia menyusul Amiera ke kamar.
Rendy melihat-lihat ke sekitar kamar. Ia juga kembali melihat ke arah sofa.
"Katanya tadi belanja, tapi kok belanjaannya nggak ada." Gumamnya.
"Amie! Dimana belanjaanmu?"
"Masih di dalam mobil, Kak!" sahut Amiera.
Rendy menggeleng sambil tersenyum.
"Kunci mobilnya dimana, Sayang?"
"Di tas Amie yang di atas tempat tidur."
Rendy mengambil tas Amiera. Sambil tersenyum ia mengambil kunci itu dari tas istrinya. Keningnya berkerut melihat obat yang terdapat dalam tas tersebut. Karena penasaran, Rendy pun mengambilnya.
Rendy terkejut membaca tulisan yang tertera. Kebetulan suara pintu kamar mandi dibuka oleh Amiera. Sambil menatap tajam Rendy bertanya, "Apa maksudnya ini, Amiera?"
__ADS_1