
Happy reading...
Suara cicitan burung yang saling bersahutan seakan ingin menyaingi tangisan Fatima yang terdengar nyaring di dalam kamar. Bayi cantik itu menangis karena mainannya direbut oleh sang kakak, Amar.
"Amar, disayang dong Fatum-nya."
Meydina berucap sambil mengambilkan mainan lain yang berada tidak jauh dari Fatima.
"Sayang, tolong pakaikan dong!" pinta Maliek yang melangkah keluar dari walk in closet sambil memegang dasi yang kemudian diberikannya pada Meydina.
"Terima kasih," ucap Maliek sambil mengecup bibir istrinya.
Maliek yang semula mandiri, seiring berjalannya kebersamaan dengan Meydina menjadi manja dan selalu ingin dilayani istrinya. Namun begitu, ia tak segan turun langsung mengurus ketiga buah hatinya.
"Uwwu sayang papi," ucap Maliek menghibur putrinya.
Meydina naik ke atas tempat tidur lalu menyusui Fatima. Dan Maliek menempatkan Amar diatas pangkuannya.
"Hari ini Kak Alya masuk kerja?" tanya Meydina.
"Mungkin besok dia baru masuk. Ayah jadi pulang besok?"
"Katanya sih iya. Acaranya kan malam ini," sahut Meydina.
"Zein nggak rewel?"
"Udah enggak. Cuma ya itu, samua kemauannya harus dituruti. Kak Alvin sama Pak Riky jadi sasarannya," kekeh Meydina.
"Biarkan saja. Riky jadi ada kerjaan di sana. Nih lihat! Katanya 'ampun bos! Aku mendingan kerja daripada harus ngasuh Baby boss'."
Meydina terkekeh melihat isi chat Riky di ponsel suaminya.
"Mey, mulai sekarang jangan suka bawa-bawa motor lagi ya. Sekarang kan sudah ada Pak Budi."
"Iya, tapi nggak janji lho."
"Kok begitu? Nanti motornya aku buang," ancam Maliek.
"Awas kalau berani buang motor Mey! Itu kan motor kenangan dari ibu," tegas Meydina dengan raut wajah yang serius.
"Iya Sayang, aku tahu. Lagian mana berani aku buang barang-barang milik kamu."
Maliek tersenyum sambil mengusap wajah Meydina. Ia tidak menyangka istrinya itu menanggapi serius candaannya.
"Amar papi bawa kebawah ya," ujar Maliek. Ia menggendong Amar dan melangkah keluar kamar.
***
Maliek melajukan mobilnya ke sebuah restoran ternama. Pagi ini ia ada janji dengan sahabat sekaligus kliennya, Rafael. Mereka akan membicarakan kelangsungan kerjasama pembangunan resort milik keluarga Rafael.
Saat Maliek melangkah ke dalam restoran, Rafael sudah berada di salah satu sudut restoran tersebut.
"Hai, Bro! Sendirian?" sapa Rafael.
"Seperti yang loe lihat. Riky sedang liburan, Alya sedang cuti. Dari kemarin gue kerja sendirian." Sahutnya.
"Alya cuti?" tanya Rafael heran.
"Iya. Loe kan pacarnya, masa iya dia nggak ngomong ke eloe."
Rafael tidak berkata apa-apa lagi. Melihat ekspresi wajah sahabatnya yang bingung, Maliek pun bertanya.
"Kenapa, Kalian lagi bertengkar?"
"Nggak apa-apa. Hanya ada sedikit kesalahpahaman," sahut Rafael pelan.
__ADS_1
"Kalau loe ada masalah sama dia, secepatnya selesaikan. Kalau perlu datengin rumahnya," saran Maliek.
Maliek semakin bingung melihat Rafael yang mengusap kasar wajahnya. Kelihatannya sahabatnya itu sedang banyak pikirkan.
"Ada yang bisa gue bantu?" tawar Maliek.
Sesaat Rafael tidak mengacuhkan Maliek. Namun kemudian ia berkata, "Bisa minta tolong loe suruh Alya kesini nggak?"
"Kesini, sekarang?" tanya Maliek heran. Rafael mengangguk cepat.
Maliek berfikir sejenak, kemudian ia menelepon sekretarisnya tersebut.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Maliek hendak pamit ke kantornya. Saat ia akan meninggalkan meja, Alya datang dengan wajahnya yang kesal. Kini ia mengetahui Maliek sudah membohonginya.
"Loe bohongin gue, Liek?"
"Sorry, Al." Sahutnya sambil melirik pada Rafael.
"Mau aja loe disuruh dia," deliknya.
"Al, dengar dulu penjelasan gue tentang kemarin itu. Kamu salah paham," ujar Rafael mencoba memegang tangan Alya namun ditepis.
"Loe mau belain orang selingkuh, Liek? Dasar emang ya, jangan-jangan loe selingkuhin Meydina!" tuduh Alya.
"Enak aja! Nggak lah," bantah Maliek tegas.
"Loe selingkuh, Raf? Kalo loe belum tobat, jangan pacaran sama dia. Loe lupa janji loe sama Alvin, heh!"
"Gue nggak selingkuh, Liek. Katanya loe mau bantuin gue, tapi kok malah ikut-ikutan nuduh gue sih." Gerutunya kesal.
Maliek terlihat bingung. Ia tidak pernah ikut campur dalam urusan pribadi sahabat-sahabatnya. Ia tidak tahu harus memihak siapa.
Maliek tahu benar bagaimana Rafael. Jadi wajar kalau ia mempercayai ucapan Alya yang menurut Rafael hanya tuduhan belaka.
"Terserahlah. Selesaikan urusan kalian! Dan kamu Alya! Jangan sampai hanya karena masalah sepele ini, kamu jadi tidak masuk kerja. Saya tidak akan segan-segan memecat kamu," tegas Maliek dengan gaya formal.
"Suka-suka gue. Dia kan bawahan gue," delik Maliek. Pria itu kemudian meninggalkan mereka.
***
London
Alvin dan Riky berjalan beriringan sambil memegang tangan Zein. Dua pria tampan itu, mengekor dibelakang Amiera dan juga Bella.
Saat ini, mereka sedang berada di pusat perbelanjaan ternama di kota London. Di tempat itu toko barang-barang branded bertebaran dimana-mana.
Alvin dan Riky terlihat seperti bodyguard yang setia mengikuti langkah majikannya. Namun bedanya, mereka tampan dan mempesona.
"Menurutku yang ini cocok untuk Zein. Bagaimana Amiera?" tanya Bella.
"Mmm, warnanya terlalu gelap."
"Oke, kita cari yang lain."
Mereka kembali berpetualang menelusuri satu persatu toko-toko di tempat tersebut. Meraka mencari pakaian yang pas untuk dikenakan dalam acara nanti malam.
Para pria termasuk Zein sudah mendapatkan apa yang mereka cari. Namun tidak dengan kedua wanita itu. Ada saja yang belum mereka dapatkan.
Alvin dan Riky memutuskan menunggu di salah satu restoran cepat saji. Zein terlihat mulai bosan. Begitu juga dengan kedua pria yang bersamanya.
***
Sejak mulai melangkah masuk, dentuman musik sudah terdengar menggema. Suaranya seolah ingin mengimbangi riuh histeria para penikmatnya.
Maliek sebenarnya enggan untuk datang. Namun ia mengkhawatirkan sahabatnya yang sepertinya mabuk berat.
__ADS_1
Setelah menutup panggilan dari Rafael, susah payah ia meyakinkan Meydina. Banyak janji yang ia buat pada istrinya itu demi seorang sahabatnya.
Maliek tidak bisa tidak mengacuhkan Rafael. Karena saat ini, dua sahabatnya yang lain sedang tidak bersamanya.
"Selamat malam, Tuan Maliek!" sapa Bobi.
"Rafael di atas?"
"Iya. Belakangan ini bos Rafa tidak suka ditemani," sahut Bobi.
Maliek berlalu menuju ruang VVIP yang biasanya mereka gunakan. Ia mengerti maksud dari kalimat bartender tadi. Jadi Rafael sudah tidak mau ditemani j*lang? Apa itu artinya pria itu memang sudah serius dengan Alya?
Maliek menggelengkan kepala saat melihat botol kosong yang berjejer diatas meja. Tidak hanya itu saja, bahkan beberapa botol tergeletak didekat kaki sahabatnya.
"Heh, Raf! Loe minta gue kesini cuma buat ngelihatin loe t****, hah!" tanya Maliek dengan suara meninggi.
Rafael menyeringai seperti orang bodoh.
"Loe nggak tahu gue. Kalau cuma segini sih nggak akan buat gue t****."
Maliek mengibas-ngibaskan tangannya. Aroma alkohol tercium sangat menyengat dari mulut Rafael.
"Loe kenapa sih? Masih urusan yang tadi siang? Masa urusan sepele gitu aja loe nggak bisa beresain. Apalagi ini cuma sama Alya," ucap Maliek. Ia menyandarkan punggungnya di sofa tepat dihadapan Rafael.
"Cuma? Emang loe nggak kelenger kalo Meydina marah-marah karena cemburu yang nggak jelas, heh? Walaupun Alya itu bukan anak sultan seperti istri loe, tapi buat gue dia itu segalanya. Perempuan yang bisa membuat seorang casanova jatuh cinta. Hebat kan dia?"
Maliek menyeringai tipis. Ia tidak menyangka Rafael benar-benar menyukai Alya.
"Terus masalahnya apa? Dia nuduh loe selingkuh? Dan nggak percaya saat loe jelasin duduk perkara yang sebenarnya, gitu?"
Rafael mengangguk-anggukkan kepala yang sudah dirasanya sangat berat.
"Hehe, loe sekarang udah sama hebatnya dengan Alvin kalau soal perempuan. Ya iya laah, kalian kan udah pada punya bini. Tapi yang gue heran, kok si Riky yang jomblo bisa juga ya nasehatin soal perempuan? Hehehe," kekeh Rafael. Pria itu sudah sangat mabuk.
"Gue antar pulang yuk! Loe tahu kan gue nggak bisa lama-lama di sini," ujar Maliek.
"Kalau gue nanti married sama Alya, gue juga pengen seperti loe. Nggak boleh ke club, nggak boleh dekat sama cewek lain." Ucapnya sambil tersenyum dengan raut wajah menerawang.
"Siapin dulu mental loe! Baru di cemburuin gitu aja udah frustasi. Lah ini malah ngebayangi dilarang-larang sama bini," gerutu Maliek.
Rafael menyeringai.
"Liek, loe ingat nggak sama Bagas? Itu tuh, temen loe yang tampangnya culun."
"Iya, gue ingat. Belum lama ini juga gue ketemu sama dia. Emang kenapa?"
"Loe ketemu dia?"
"Iya. Adiknya mewakili perusahaan yang jadi klien gue. Namanya Kiran," tutur Maliek.
"Kiran," gumam Rafael dan diangguki oleh Maliek.
"Kenapa?"
"Hati-hati Liek sama mereka. Sama kakak beradik itu."
"Maksud loe?"
"Mereka orang-orang bermasalah. Gue juga ada masalah sama Alya gara-gara mereka. Gue kaget ternyata mereka mengincar loe juga. Kerena satahu gue Om Wira salah satunya yang jadi incaran mereka saat ini." Tuturnya.
Maliek menatap bingung. Ia tidak tahu apakah harus percaya pada ucapan sahabatnya yang sedang mabuk tersebut.
--------
Hai, Readers!
__ADS_1
Happy weekend 😊