
Happy reading...
Beberapa bulan kemudian...
Raut bahagia terpancar jelas dari wajah Riky saat menatap gaun pengantin yang berjejer rapi di ruangan itu. Ia sudah tidak sabar ingin segera melihat calon mempelainya keluar dari ruang ganti.
Suara tirai yang dibuka dengan cepat mengalihkan perhatian Riky. Pria itu terpana menatap sosok cantik yang nampak anggun dengan gaun yang dikenakannya.
"Cantiknya..." gumam Riky tanpa sadar.
"Bagus nggak, Kak?" tanya Alena, membuyarkan lamunan Riky.
Riky mengangguk cepat lalu menghampiri Alena. Pria itu menatap penuh selidik sambil memperhatikan Alena dengan seksama.
"Ini beneran kamu kan, Yang?" tanya Riky polos membuat pegawai butik yang ada di sana mengulumkan senyumnya.
"Memangnya Kak Riky berharap Lena ini siapa, Nia Ramadhani?" tanya Alena sambil mendelikkan mata.
"Ya nggak lah, itu kan istri orang. Aku nggak nyangka aja kamu bisa seanggun ini," jawab Riky jujur.
"Oh, jadi Kak Riky suka perempuan anggun ya. Yang jalannya begini," ujar Alena melenggang menirukan gaya model berjalan di catwalk.
"I-iya."
"Terus kenapa bisa suka sama Alena? Kan Alena jalannya nggak ada anggun-anggunnya?" Alena berjalan dengan langkah besar yang kaku seperti biasanya ia berjalan sambil mengangkat gaun pengantin yang dikenakannya.
"Ya nggak gitu juga, Sayang. Jalannya biasa aja. Memangnya kalau suka harus ada alasannya ya?" cegah Riky. Pria itu mengkhawatirkan kalau-kalau Alena terkilir karena high heels yang dikenakannya.
"Ya iya dong. Ya kan, Mbak?" tanya Alena pada pegawai butik yang memegangi bagian belakang gaunnya yang menjuntai dan mengikuti langkah Alena sedari tadi.
Pegawai itu hanya mengangguk pelan, tidak tahu harus berpihak pada siapa. Seorang lainnya mempersilahkan Riky mencoba setelan jas yang akan dikenakannya di ruang ganti.
Sambil menunggu, Alena berdiri dihadapan cermin yang menampilkan pantulan dirinya yang nampak sempurna. Sekilas gurat kesedihan nampak di wajah cantiknya. Kesedihan yang membuat seseorang mempertanyakannya.
"Kenapa? Sepertinya kamu tidak bahagia," ujar Mama Riky yang baru saja tiba di ruangan itu.
"Alena bahagia, Ma. Hanya saja kebahagiaan Alena terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Mama." Sahutnya pelan sambil menundukkan kepala.
"Kenapa seperti itu? Berapa kali Mama katakan sama kamu, anggap Mama ini seperti Mamamu sendiri. Bagi Mama kamu bukan hanya menantu, tapi sudah seperti anak bungsu." Ujarnya sambil merapikan gaun yang dikenakan Alena.
"Terima kasih, Ma."
Alena menatap haru Mama Riky dari pantulan cermin. Wanita paruh baya itu mengusap lembut surainya seolah menenangkan.
Raut wajah Alena berubah malu saat menyadari dua pria sedang menatap ke arahnya. Riky dan Papanya tersenyum tipis melihat kedekatan Alena dan juga calon mertuanya tersebut.
"Gantengnya," puji Mama saat berbalik menatap Riky.
"Siapa dulu dong Papanya," ucap Papa berbangga diri.
"Yee, Papa ke-pede-an. Siapa dulu Mamanya." Deliknya.
"Hmm, siapa dulu dong istrinya..." Riky menggoda dengan mencolek dagu Alena, membuat wajah gadis itu bertambah merona.
__ADS_1
"Iya deh, sekarang kamu punya Alena. Tapi Alena punya Mama ya, jadi jangan macam-macam!" Mama membulatkan matanya pada Riky.
"Nggak macam-macam kok, Ma. Hanya satu macam aja..."
"Apa?" tanya Mama dengan raut menggoda.
"Ngasih Mama cucu yang banyak," sahut Riky asal.
"Ish, Kak Riky." Alena mencubit lengan Riky.
"Aww," pekik Riky pelan.
"Kalau itu Mama setuju. Mendukung kamu seribu persen." Ucapnya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Iih, Mama." Alena merengut manja membuat kedua orang tua Riky terkekeh bahagia.
Akhir pekan ini pesta pernikahan Riky dan Alena akan digelar. Sebuah gedung menjadi pilihan tempat diadakannya resepsi pernikahan. Sementara untuk akad, keduanya sepakat melaksanakan di kediaman Evan.
Seperti biasa, Nura dan Resty selalu jadi panitia inti. Kedua wanita itu dengan semangat menyusun persiapan dengan sangat matang. Tidak hanya mereka, Ibu Laura pun turut serta. Mengingat Alena merupakan putri almarhumah saudarinya.
Alena merasa sangat beruntung. Meskipun tak ada sosok ibu di hari bahagianya, ketiga wanita itu sudah menjalankan tugas ibunya dengan tidak kurang sedikitpun. Di tambah lagi ia akan memiliki sosok ibu jika sudah menjadi istri Riky nanti.
"Anak Papa harus bahagia. Jangan sedih begini," tegur Evan.
Alena membalikkan badannya dan memeluk sang papa. Dari tempatnya berdiri, Evan bisa melihat Nura dan yang lainnya dengan semangat menyusun persiapan sambil sesekali diselingi tawa.
"Alena bahagia, Pa. Sangat bahagia," ucap Alena yang kini membenamkan wajahnya di dada bidang Evan.
"Terima kasih, Pa."
***
Hari bahagia pun tiba...
Setiap orang terlihat sibuk mempersiapkan penampilan mereka yang sempurna. Di kediaman Wira, sedari pagi buta Alya sudah bersolek karena tidak ingin tertinggal mengikuti acara. Butuh waktu lama baginya untuk terlihat mempesona.
"Sudah cantik, Sayang. Kalau di tambah lagi nanti orang bisa ketukar, menyangka kamu pengantinnya," puji Rafael dari atas tempat tidurnya.
"Masa iya pengantin perutnya besar begini," sahut Alya dan suaminya menimpali dengan kekehan ringan.
"Sana mandi! Aku nggak mau nunggu," ucap Alya manja.
"Oke, bisa pake gaunnya?"
"Ambilin..."
"Siap, Sayang."
Rafael mengambilkan gaun sekaligus setelan berwarna senada yang akan dikenakannya. Setelah menggantung pakaian miliknya, Rafael membantu Alya mengenakan gaunnya.
"Tuh kan udah nggak cukup lagi," gerutu Alya.
"Mama kan bilang, tambahin sedikit ukurannya. Kamu yang nggak mau," sahut Rafael.
__ADS_1
"Kamu nyalahin aku?" Alya menatap tajam pada suaminya.
"Enggak, Sayang. Kalau bertambah besar, berarti baby-nya tumbuh dengan sehat. Kalau kamu nggak nyaman dengan gaun ini, kamu bisa pakai gaun lain. Kan masih banyak," bujuk Rafael.
"Nggak mau. Aku maunya yang ini," sahut Alya manja.
"Nyaman nggak?"
Alya mengangguk.
"Kalau nyaman ya nggak apa-apa. Coba ku lihat. Istri siapa sih ini? Seksi banget," sanjung Rafael.
"Tapi perutnya besar," rengek Alya.
"Memangnya kenapa? Disini ada baby twins. Kita harus bersyukur, minta satu dikasih bonus satu. Buy one get one free," kelakar Rafael.
"Apaan sih? Kok disamain sama barang diskonan," delik Alya.
"Nggak, Sayang. Aku cuma bercanda. Aku mandi dulu ya," ujar Rafael berlalu setelah mengecup bagian perut Alya.
Alya tersipu memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia tidak pernah menyangka akan mengandung dua bayi sekaligus.
Usia kandungan Alya yang memasuki tujuh bulan memang terlihat lebih besar dari wanita lain pada umumnya. Masih terbayang olehnya raut bahagia suaminya saat mendengar bayi yang dikandungnya ternyata kembar.
Suasana di kediaman Salman juga tidak jauh berbeda. Sejak pagi, penghuni rumah itu sudah disibukkan dengan persiapan acara pernikahan. Penata rias sudah datang sejak pagi buta. Bahkan sejak kemarin, tiga wanita dalam keluarga Al-Azmi itu sudah melakukan perawatan diri.
Lain dengan para mommy, lain pula dengan anak-anak mereka. Para perias dibantu beberapa pengasuh kewalahan menghadapi mereka yang tidak mau diam. Zein dan ketiga saudaranya seolah sengaja menggoda mereka dengan berlarian kesana kemari seperti sedang kucing-kucingan.
"Tuan muda, ayolah. Nanti Mommy bisa marah kalau terlambat," bujuk salah satu dari mereka.
"Amal, itu lihat di belakang!" pekik Zein.
Amar menoleh dan berlari menghindari pengasuh yang hendak mengenakan jas padanya.
"Nona, jangan dilepas."
Lagi-lagi perias itu hanya bisa menghela nafas melihat Fatima menarik bando lucu yang sengaja dipasangkan. Gadis kecil itu melempar bandonya ke sembarang arah dan dipungut Amar dan dijadikan objek lemparan dengan Zein, kakaknya.
Fatima terkekeh mengikuti kedua kakak lelakinya sambil menarik aksesoris yang dikenakannya. Sementara itu, Queena nampak anggun duduk menerima perlakuan para perias itu. Sampai tiba-tiba sebuah kaos kaki melayang mengenai rambut Queena.
"Zein! Jorok!" Serunya.
"Amal, ambil! Cepetan," pekik Zein.
Amar berlari menuju Queena namun kaos kaki itu sudah dilemparkan Queena pada Fatima.
"Fatum, lempar ke sini!" Serunya.
"Baby, lempal ke Kakak aja!" seru Zein.
Sementara Zein dan Queena saling menimpali dengan pekikan, Fatima menatap Amar yang sedang berjalan ke arahnya dengan gaya yang menakut-nakuti.
"Huaaa! Mami, ada zombi!" Pekiknya.
__ADS_1