
Happy reading...
Dari dalam mobilnya, Amiera melihat kearah mobil yang baru saja terparkir.
"Mobil siapa itu, apakah Julie?" gumam Amiera.
"Ah benar, ternyata Julie. Aku harus beralasan apa jika dia menanyakan tentang mobil ini?" Gumamnya lagi.
Amiera merasa bingung mencari alasan yang akan dia kemukakan. Ia semakin panik saat melihat Julie mendekati mobilnya.
Amiera pun keluar dari mobilnya.
"Selamat pagi, Miss." Sapanya canggung.
"Amiera? Aku kira tadi seorang pelanggan," sahut Julie. Wanita itu memperhatikan mobil Amiera.
"Jangan salah paham, ini mobil temanku. Aku tadi mengira akan terlambat, jadi ku pinjam dulu." Dustanya. Amiera terlihat kikuk dan salah tingkah.
"Mobil ini pasti miliknya. Kenapa Amiera tidak jujur? Jadi benar dia tidak ingin orang tahu siapa dirinya," batin Julie.
"Oh begitu, ya sudahlah. Kau pasti tidak membaca dengan benar isi perjanjian itu."
"Iya, jadinya aku terburu-buru." Amiera tersenyum malu.
"Aku hanya akan membuka butik dan menggambil sesuatu. Jadi hari ini aku tidak akan ada di butik. Tidak masalah kan?" tanya Julie.
"Tidak apa," sahut Amiera.
Julie melangkah menuju pintu butiknya. Sementara itu Amiera bernafas lega sambil bergumam, "Huft, untung saja."
"Apa yang untung, Cantik?"
Suara seorang pria yang tiba-tiba muncul dari belakangnya mengagetkan Amiera. Dengan cepat tangan Amiera menjauhkan wajah pria itu darinya.
"Aww! Untung kau cantik, aku jadi tidak bisa marah padamu." Ujarnya.
"Iih, kenapa banyak orang aneh di kota ini," decih Amiera. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya sambil manatap wajah pria itu.
"Apa kita pernah bertemu?"
Pria di hadapan Amiera berlagak seolah ia ingin Amiera mengingat-ingat wajahnya. Tapi yang terjadi, Amiera justru memberi tatapan tidak suka pada pria itu.
Amiera meninggalkan pria yang sedang mencari perhatiannya itu. Ia menghampiri Julie yang sudah keluar dari butiknya.
"Miss, pria aneh itu datang bersamamu?" tanya Amiera sambil menunjuk pada Brian yang juga menghampiri mereka.
"Pria aneh? Kalian saling mengenal?" Julie terlihat heran.
"Tidak, aku tidak mengenalnya."
"Kita saling mengenal, Nona. Aku pernah memperkenalkan diriku padamu di tepi jalan beberapa hari yang lalu."
"Oh, jadi kau pria yang waktu itu. Ku tarik ucapanku. Ku rasa hanya kau pria aneh di kota ini," ucap Amiera sinis.
Julie bergantian menatap keduanya dengan heran. Ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Itu mobilmu?" tanya Brian.
"Bukan. Itu milik temanku," sangkal Amiera.
"Ku kira itu milikmu. Hati-hatilah mengendarainya, sedikit goresan saja akan sangat mahal untuk memolesnya." Pesannya.
__ADS_1
Amiera tersenyum hambar.
"Siapa namamu? Aku Brian Winston," ucap Brian.
"Jadi dia adikmu?" tanya Amiera pada Julie. Ia menanyakan hal itu karena mengetahui nama belakang Julie.
"Iya," angguk Julie.
"Oh. Miss, aku kedalam dulu. Ada yang harus ku kerjakan," pamit Amiera.
Brian yang melihat Amiera berlalu segera menyusulnya.
"Hei, aku belum tahu namamu. Bagaimana kalau nanti siang kita makan bersama? Kau mau kan?"
Amiera merasa kesal melihat sikap Brian. Untung saja karyawan lain belum datang. Tepat sebelum Amiera naik tangga, gadis itu memutar badannya.
"Kau," tunjuk Amiera.
Hampir saja Brian menubruk Amiera yang berhenti mendadak. Pria itu tersenyum malu.
"Jangan mengganggu saat aku bekerja, paham?" tegas Amiera dengan suara pelan.
"Ta-tapi."
Amiera ingin sekali menghardik pria di hadapannya itu. Namun kemudian, ia menyadari tatapan Julie ke arah mereka. Selain itu, beberapa karyawan sudah mulai berdatangan. Sebisa mungkin ia tidam memperlihatkan sikap arogannya. Setelah mendelik, ia meninggalkan pria itu.
Brian yang mendapat perlakuan seperti itu, bukannya tersinggung justru merasa bahagia. Pria itu tersenyum mengingat wajah Amiera yang menggemaskan saat marah.
Disisi lain dalam diamnya, Julie merasa bimbang. Semalam ia mencari tahu di internet tentang nama besar keluarga Amiera.
Di artikel yang di bacanya, pria yang bernama Salman Al-Azmi hanya ketahui memiliki seorang putri. Itupun sudah menikah. Walaupun ada wajah Amiera dalam foto itu, tidak ada keterangan kalau wanita muda itu putri pengusaha asal timur tengah tersebut.
"Sepertinya Tuan Al-Azmi pun menyembunyikan status putrinya. Karena menurut berita, putri pertama pun terekspos sebelum ia menikah. Apa ini menyangkut keselamatan mereka? Bisa jadi kan," batin Julie bermonolog.
"Tidak ada apa-apa. Kau mengenal Amiera?"
"Amiera? Jadi namanya Amiera," gumam Brian.
"Jangan bilang dia wanita yang ceritakan kemarin," todong Julie.
"Memang iya. Dan jangan bilang, dia juga yang Kakak ceritakan padaku."
Julie berfikir sesaat, kemudian menjawab, "Ah, bukan. Bukan dia, ada karyawan lain."
"Aku kira dia yang Kakak katakan anak orang kaya. Tapi tadi dia bilang mobil itu milik temannya, berarti memang bukan dia."
Julie hanya bisa tersenyum tipis melihat binar kebahagiaan di mata adiknya. Akan tetapi, sejujurnya Julie tidak setuju Brian mendekati Amiera. Ia tidak ingin adiknya mendapatkan masalah.
***
Masih di London, tepatnya di gedung Al-Azmi Corp. Mike sedang berbincang dengan Rendy, salah satu PM yang akan menangani proyek hotel milik perusahaannya.
Mike tentu tidak mengetahui bahwa pria yang duduk di hadapannya ini sahabat Meydina, putri atasannya. Karena Mike sendiri belum pernah bertemu langsung dengan Meydina.
Namun menurut yang di dengarnya dari Aldo, Tuan Salman selalu mengalah dan menuruti keinginan putrinya itu. Dan yang Mike bayangkan, sosok Meydina adalah seorang tuan putri yang arogan.
"Saya tertarik dengan perencanaan anda. Semoga kami bisa mengandalkan kemampuan anda," tegas Mike.
"Terima kasih, Tuan. Saya akan berusaha keras untuk mewujudkannya," sahut Rendy.
"Tuan, Asisten Miss Bella ada disini," ujar Sekretaris Mike.
__ADS_1
"Suruh dia masuk."
"Baik, Tuan. Silahkan, Nona!"
Asisten Bella yang tidak lain adalah Sophia, berjalan menghampiri meja Mike. Entah sengaja atau tidak, ia melirik pada pria yang tengah fokus membaca berkas di tangannya.
"Rendy?" Sophia terkejut melihat Rendy ada disana.
Rendy menoleh, pria itu terkejut seperti halnya Sophia. Ia merasa jengah, karena selain harus bekerja di perusahaan ayah Meydina, ternyata ia juga harus bertemu dengan Sophia.
"Anda mengenalnya, Tuan Rendy?" tanya Mike.
"Tentu, Tuan. Dia teman dekat saya. Rendy.."
"Kami teman satu kampus, Tuan Mike." Rendy menegaskan.
"Kalau begitu, semoga kami juga bisa mengandalkan anda, Nona..."
"Sophia. Sophia Baker," sahut Sophia bangga.
"Nona Sophia, semoga anda bisa bekerjasama dengan Bella."
"Tentu, Tuan." Jawabnya.
***
Di sebuah club ternama ibukota, empat sahabat berkumpul bersama seperti biasanya. Namun kali ini tentu ada yang berbeda, karena Maliek dan Alvin hanya memesan koktail sebagai minuman mereka.
Mereka memang pria yang dikenal dengan sejuta wibawanya. Akan tetapi, mereka menghindari amarah Salman dan juga istri mereka. Selain itu, mereka tidak ingin memberi contoh buruk bagi anggota keluarganya.
Tidak hanya tentang perubahan minuman Maliek dan Alvin, ada juga pemandangan yang tidak biasa diruang VVIP club itu. Yakni tidak ada wanita malam yang menemani mereka.
Dan saat ini, Maliek, Alvin dan juga Riky menatap aneh pada sahabat mereka, Rafael. Pria Casanova itu berkali-kali menolak di temani para wanita yang menggodanya. Tentu itu bukanlah hal biasa, karena ketiga sahabatnya tahu benar bagaimana Rafael selama ini.
Rafael menyadari tatapan sahabat-sahabatnya. Namun ia berusaha bersikap tak acuh terhadap tatapan mereka.
"Bro, loe nggak lagi mengidap penyakit tertentu kan?" todong Riky.
"Penyakit apaan?" tanya Rafael. Awalnya Rafael bersikap tenang, beberapa saat kemudian pria itu baru menyadari maksud pertanyaan Riky.
"Sialan, Loe! Emangnya loe pikir gue punya penyakit kel*min, hah!" seru Rafael yang kemudian memukulkan bantal sofa ke wajah Riky yang duduk tidak jauh darinya.
"Ya, kali aja. Anehkan kalau loe tiba-tiba nggak mau sama j*lang. Ya nggak Vin, Liek?" ucap Riky dengan posisi tangan didepan wajahnya. Kalau-kalau Rafael memukulnya lagi.
Rafael yang memang hendak memukulkan kembali bantal sofa itu menyempatkan menoleh pada dua sahabatnya yang lain. Dan ternyata ia mendapat anggukkan dari Alvin juga Maliek.
Rafael menaruh kembali bantal sofa di tempatnya semula. Ia kemudian menatap satu persatu sahabatnya. Sikap Rafael yang tidak biasa itu di tanggapi serius oleh tiga sahabatnya. Dalam benaknya, mereka menebak-nebak apa gerangan yang terjadi pada Rafael.
"Sepertinya, gue akan mengakhiri petualangan gue selama ini." Tegasnya.
Riky menuangkan minuman ke dalam gelasnya dan juga Rafael.
"Kenapa?" tanya Riky heran. Namun dalam hati ia bersyukur. Riky kemudian menyesap minumannya.
"Gua udah punya pacar."
"Uhhuk, uhhuk.." Riky melongo sambil mengusap minuman yang hampir menetes di dagunya. Ia kemudian menoleh pada Alvin dan Maliek yang memperlihatkan ekspresi yang sama.
Seolah ada yang memberi aba-aba, mereka kompak bertanya, "Siapa?"
Rafael tersenyum melihat raut wajah sahabat-sahabatnya. Kemudian menjawab, "Alya Wira Atmadja."
__ADS_1
"Hah!" seru ketiganya.