
Happy reading...
Sinar mentari yang mengintip dari ventilasi memantul pada cermin dan membangunkan tidur sang pengantin. Alena mengerjap dan terpaku menatap wajah tampan yang terlelap tepat di depan wajahnya.
Senyuman tersungging di wajahnya manakala ujung telunjuk menyentuh lembut ujung hidung pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya.
Suami?
Alena terhenyak, raut wajahnya menatap horor pada piyama yang kini ia kenakan. Kedua alisnya tertaut mengingat-ingat sesuatu yang mungkin saja ia lupakan.
"Seingatku tadi malam belum ganti baju," gumam Alena heran.
Alena beranjak dari tempat tidur dan menatap bingung pada gaun pengantin yang tergeletak begitu saja di sofa.
"Nggak sakit, berarti belum kan?" Gumamnya lagi saat melangkah menuju pintu dan menoleh pada Riky yang sedang terlelap.
Alena menuruni tangga masih dengan ekspresi bingung. Papa Evan menatap heran pada dirinya yang menarik kursi di meja makan.
"Selamat pagi, Sayang! Kenapa, kok seperti orang linglung?" tanya Evan dengan senyum yang terkulum.
"Pagi, Pa. Alena lagi bingung, kok baju Alena bisa ganti sendiri ya?" Ucapnya sambil memperhatikan baju piyama yang dikenakannya.
"Ada-ada saja kamu ini," kekeh Evan.
"Beneran, Pa. Semalam Alena ketiduran waktu nungguin Kak Riky di kamar mandi. Jadi belum sempat ganti baju," tutur Alena.
"Berarti suamimu yang menggantikan."
"Masa sih, Pa? Kok nggak kerasa," ucap Alena pelan.
"Hayo! Jangan bilang kamu lagi cerita soal malam pertama sama Papa," todong Alvin.
"Enggak. Kak Alvin sok tahu." Deliknya.
"Ah, masa sih. Riky belum bangun?"
"Belum. Terima kasih, Mbak." Alena menerima susu hangat yang disodorkan asisten rumah tangganya.
"K.O di ronde keberapa dia, hmm?" goda Alvin.
"Ronde apaan sih, Kak Alvin. Engga juga," delik Alena.
"Enggak? Yang benar, emang tahan?" Selidiknya.
"Vin," tegur Papa Evan.
"Bercanda, Pa." Kilahnya.
Alena mendelikkan matanya menghindari sorot mata kakaknya yang penuh tanya.
"Morning!" seru Rafael dari arah pintu depan.
"Bawa apa, Raf?" tanya Alvin melirik pada plastik yang dibawa sahabatnya.
__ADS_1
"Ini dari Mama untuk sarapan, kebetulan tadi bawain buat Alya. Sengaja bawa banyak mungkin kalian bosan dengan menu makanan sisa acara kemarin," sahut Rafael.
"Sampaikan terima kasih Om sama Mama kamu, Raf."
"Siap, Om. Ciee... manten kita udah bangun aja nih, nggak kepagian bangunnya?" goda Rafael.
"Apaan sih Kak Rafael? Datang-datang nanya begituan," gerutu Alena.
"Pasti kerjaannya Riky ini ya? Pagi-pagi kamu udah bad mood. Padahal aku udah suruh lho buat ngikutin tutorial biar tahan lama sampai puas. Ah, dasar si Riky. Dibilangin nggak nurut," tutur Rafael.
Pria itu tidak menyadari Alena menatap horor padanya. Begitu juga dengan Alvin dan Evan.
"Serius kamu nyuruh gitu, Raf?" tanya Alvin.
"Iya," sahut Rafael polos.
"E-emang salah ya?" tanya Rafael yang menyadari bahwasanya mereka sedang menahan tawa kecuali Alena yang membulatkan mata ke arahnya.
"Nggak juga sih."
"Kak Alvin!" seru Alena.
"Iya, cuma bercanda kok. Ya kan, Raf?" Rafael mengangguk walau sebenarnya ia belum mengerti apa yang terjadi.
***
Sorak gembira anak-anak menggema saat mereka turun dari mobil yang mengantar ke bandara. Zein kegirangan melihat badan pesawat dari dalam ruangan.
"Sebentar, Kak. Auntie Alena sama Queena belum datang. Auntie Alya juga," sahut Meydina.
Zein nampak kecewa, namun kembali ceria saat Amar memanggilnya untuk melihat pesawat milik Kakek mereka dari pintu kaca.
"Kek, ayo sekalang naik pesawatnya!" Rengeknya.
"Kak, tunggu sebentar ya. Kakek sedang bicara sama Om Pilotnya," ujar Maliek kemudian memangku Fatima.
Zein bergelayut manja pada lengan Salman yang sedang berbincang dengan beberapa pilot dan petugas bandara. Setelahnya, Salman menyanggupi permintaan Zein yang tentunya sudah dibicarakan dengan para awak pesawat.
Siang ini, untuk pertama kalinya Salman membawa seluruh keluarga dan juga sahabat Alvin ke pulau pribadi miliknya. Pulau itu terletak disalah satu sisi sebuah negara termasyhur di Timur Tengah.
Tak lama kemudian, Mobil Wira menepi dibagian depan bandara. Rendy yang memangku Baby Arka menyambut kedatangan kakak dan kedua orang tuanya tersebut.
"Hai, Sayang! Cucu Oma yang ganteng! Sini, Oma mau pangku dulu."
Nura mengambil alih Baby Arka, sementara Rendy membantu Rafael mengeluarkan barang bawaannya.
"Hati-hati di sana ya, Al. Harus ingat kandunganmu," pesan Papa Wira.
"Iya, Pa." Sahutnya sambil melingkarkan tangannya pada lengan Wira.
Tidak lama kemudian mobil Evan juga datang.
"Queen! Mami Queen udah datang!" pekik Amar kegirangan.
__ADS_1
Meydina meraih tangan Queena yang berlari ke arahnya.
"Alena! Gimana, sukses?" goda Meydina.
"Apaan sih, Kak Mey?" Alena tersipu malu. Namun kembali ceria saat Queena mengajaknya masuk saat melihat Zein yang sudah ada di dekat tangga pesawat.
"Oma, kenapa Oma tidak ikut?" tanya Amar.
"Oma harus menemani Opa, Sayang. Lain kali ya, Oma pasti ikut," sahut Resty.
"Janji ya, Oma."
"Iya, Sayang." Resty memeluk serta mengecup semua bagian wajah cucunya itu.
"Mey, Ayahmu dimana?" tanya Wira.
"Salman sama Maliek sudah di dalam. Zein udah nggak sabar ingin masuk," sahut Bramasta.
"Al, gimana? Yakin ikut?" tanya Resty setengah menggoda. Pasalnya ia sudah tahu dari Nura bahwa Alya sangat antusias dengan rencana Maliek dan menantunya tersebut.
"Yakin dong, Tante." Sahutnya sambil mengusap perutnya.
"Hati-hati ya. Nanti di sana jangan di kamar atas. Raf, harus extra perhatiannya," pesan Resty.
"Siap, Tante!" sahut Rafael.
Satu persatu mereka mulai masuk ke lapangan udara. Dari kejauhan histeria Zein terdengar saat ia memanggil Amar dan juga Queena.
Sementara itu, Rafael yang menarik kopernya menatap heran pada Riky yang terlihat sangat suntuk.
"Kenapa, Loe? Baru sekarang gue lihat pengantin baru nggak happy." Ujarnya.
Rafael menoleh pada Alvin yang tersenyum tipis. Tingkah dua sahabatnya yang berlawanan itu membuatnya penasaran.
"Gue baru bangun, Raf."
"Wah! Lembur dong, menang banyak loe, Rik."
"Menang apaan? Gue nggak bisa tidur semalaman. Gue on sampe pagi, gara-gara obat dari loe itu. Sialan, gue kapok! Nggak akan minum obat begituan lagi. Tersiksa, mana gue ganti bajunya Alena." Gerutunya.
Alvin terbahak mendengar penuturan Riky. Sementara Rafael hanya bisa tersenyum masam sambil bertanya, "Kenapa nggak Loe bangunin aja si Alena?"
"Kasihan laah. Gue ganti bajunya aja dia nggak sadar," sahut Riky yang tersenyum melihat kegembiraan Alena bersama anak-anak.
"Kalau gitu, ntar di pesawat hajar aja. Kita bakalan tutup telinga. Ya nggak, Vin?" Seperti biasa, Rafael selalu dengan ide konyolnya.
"Gila, ada bokapnya Meydina. Nggak sopan loe. Bisa-bisa gue dilempar dari atas," sahut Riky kesal dan lagi-lagi Alvin terbahak mendengar ucapannya.
Satu persatu anggota keluarga itu berpamitan dan melambaikan tangan saat memasuki pintu pesawat. Raut bahagia terlihat jelas dari wajah mereka.
Nura dan Resty nampak berat melepas kepergian cucu mereka. Selama dua minggu kedepan, mereka akan menjalani hari yang sepi tanpa canda tawa anak-anak.
"Bye, Sayang! Hati-hati!" seru Resty sambil melambaikan tangannya begitu juga dengan Nura dan ketiga pria yang bersamanya.
__ADS_1