
Happy reading...
"Hehe... Ternyata wajah cantikmu pasaran juga ya, Amiera. Untung disamakan dengan anak pengusaha kaya coba kalau dengan anak peminta-minta, jatuh harga dirimu. Iya kan?" kelakar Brian.
Pria itu terkekeh pelan, sementara Amiera dan Rendy bernafas lega.
"Tapi kenapa banyak sekali yang menduga hal itu? Aku jadi penasaran." Gumamnya heran.
"Brian, ini sudah larut. Sebaiknya kita pulang saja. Kasihan Amiera juga harus istirahat," ujar Rendy.
"Kalau kamu mau pulang, ya pulang saja. Aku masih mau di sini menemani Amiera. Tidak apa kan, Amiera?"
"Maaf, Brian. Tapi kamu juga harus pulang. Lihatlah para penjaga itu! Mereka sudah diperintahkan untuk mengusir tamu yang melebihi jam sembilan malam." Dustanya.
"Benarkah?" Brian menatap tak percaya. Tapi melihat tubuh kekar para penjaga itu, nyalinya menciut juga.
"Baiklah kalau begitu. Ayo, Ren!" Ajaknya kemudian.
Setelah mereka berpamitan, Amiera baru bisa benar-benar menghirup udara dengan leluasa.
***
Pagi ini di kediaman Salman, anak-anak dengan riangnya berlarian kesana-kemari.
"Amal, kejal Kakak!" seru Zein sambil berlarian.
Amar yang mendapat aba-aba itupun berlari megejar kakaknya. Tidak lama kemudian, terlihat Queena yang dituntun pengasuhnya. Gadis kecil itu melepaskan pegangan tangannya dan berlari mengejar Amar.
Menyadari dirinya dikejar oleh Queena, Amar lupa tujuan awalnya. Ia berlari menghindari Queena yang terus saja mengejar Amar sambil tertawa.
Zein menghentikan langkahnya saat tahu Amar tidak sedang mengejarnya. Ia berbalik dan berteriak mencari perhatian adiknya.
"Amal! Kakak yang dikejal, bukan Queen!" pekik Zein sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Merasa tidak diacuhkan, Zein pun berlari mengejar Queena. Karena merasa kesal telah mengganggu kesenangannya.
Melihat sang kakak yang mengejar Queena, Amar berbalik arah mengejar gadis cilik itu juga. Alhasil, Queena kewalahan menghindari dua bersaudara tersebut.
"Kakek, tolong!" seru Queena pada Kakeknya yang baru keluar dari kamarnya.
Salman dengan sigap memangku Queena dan dua bocah itupun mengejarnya.
"Aah, Kakek kalah. Ampun!" seru Salman berpura-pura. Menjatuhkan dirinya di atas sofa.
Cucu-cucunya pun menggelitiki Salman termasuk juga Queena yang berada dalam dekapannya. Salman balas menggelitiki ketiga cucunya dan mereka pun tergelak bersama.
"Sayang, sarapan kalian sudah siap. Sini, Nak! Sini," panggil Laura.
Satu persatu anak-anak itu menghampiri Laura. Mereka terlihat riang didudukkan di kursi makan yang khusus disediakan untuk mereka.
Ketiga anak itu sengaja didudukkan saling berhadapan. Mereka dapat saling berbagi makanan meskipun sebenarnya menu mereka sama.
"Ini untuk Amal," ucap Zein sambil menaruh sayuran yang ada di piringnya ke atas piring Amar.
"Bilang makacih gitu," ucap Zein mengajari.
__ADS_1
"Makacih," angguk Amar.
"Queen mau?" tawar Zein pada Queena yang memperhatikan apa yang dilakukannya. Queena mengangguk senang.
"Nggak boleh. Queen udah punya. Punya Kakak buat Amal semua."
Dengan cueknya Zein meletakkan semua sayuran dari piringnya pada piring Amar. Queena hanya bisa menatap dengan gerakan bola matanya yang mengikuti gerakan tangan Zein.
"Bilang apa cama Kakak?"
"Makacih," angguk Amar lagi.
Laura yang memperhatikan tingkah ketiga anak itu mengulumkan senyuman. Begitu juga dengan Salman.
"Zein, belajar makan sayur dong Sayang," ucap Salman yang sedang menikmati sarapannya.
Posisi ketiga anak itu berada tidak jauh dari meja makan.
"Nggak mau, nggak enak. Kakak suka pasta," sahut Zein tanpa menoleh. Ia mulai menyantap makanannya.
"Mami!" seru Zein saat melihat Meydina turun sambil menggendong Fatima. Ia mengacungkan sendoknya.
"Pinter Kakak makan sendiri. Sayurnya dikasih ke Amar lagi?" tanya Meydina menatap tidak suka.
Zein mengangguk, begitu juga dengan Amar.
"Makacih, Mi," ucap Amar.
Meydina tersenyum. Ia mengusap pucuk kepala putranya tersebut.
Satu persatu anggota keluarga itupun berdatangan. Bahkan Aldo juga ada bersama mereka. Pagi ini, Salman memanggilnya untuk datang lebih awal.
"Dad, sepertinya Alvin akan kembali lagi ke negara K pekan depan. Tapi sebelum itu mau ke rumah orang tua Laura dulu."
"Kapan itu?" tanya Salman.
"Mungkin empat hari lagi," sahut Alvin.
"Bagaimana kalau kamu ikut Daddy ke London dulu? Cuma dua hari. Lusa Aldo akan ada pertemuan penting, jadi dia tidak bisa menemani," ujar Salman.
Alvin menoleh pada istrinya. Laura mengangguk sambil tersenyum.
"Kapan Ayah akan berangkat?" tanya Maliek.
"Lusa, kenapa? Mau ikut?" tanya Salman.
"Tidak, bukan begitu. Malam ini Riky berangkat ke Cambridge. Bagaimana kalau nanti pulangnya ikut dengan Ayah? Dia bisa liburan satu atau dua hari di London."
"Setuju. Lumayan ngirit iya kan, Liek?" kelakar Alvin.
Maliek menanggapi dengan mengangkat sebelah alisnya. Suami Meydina itu juga menyambut tossan dari Alvin.
"Kapan ya kita berempat bisa ngumpul lagi di sana? Mengenang masa-masa kuliah," ujar Alvin pelan.
"Ya, kapan-kapan lagi aja," sahut Maliek terkekeh.
__ADS_1
"Daddy, Kakak ikut.." Tidak disangka Zein menyimak pembicaraan mereka.
"Ikut kemana, Sayang? Uncle Alvin mau pergi sama Kakek. Jauh, mau ke rumah Auntie Amiera," ujar Maliek.
"Ikut..." Rengeknya.
"Bilang dulu sama Mami. Tanyain Kakak boleh ikut Daddy nggak?" tanya Alvin.
"Boleh ya, Mi. Please," ucap Zein dengan kedua tangan ditangkupkan.
"Kakak mau ikut Uncle? Jauh, Kak."
"Aaa... Kakak mau ikut! Kakak mau naik pesawat, Mi..." Rengeknya.
"Bolehin aja, Mey. Perginya juga pakai pesawat Ayah kan? Di sana ada Amiera, ada pelayan juga," ujar Laura.
Meydina nampak ragu, namun sepertinya tidak dengan Maliek.
"Iya nggak apa-apa, Mey. Cuma dua hari ini kok," timpal Maliek.
"Tapi Kak.."
"Zein di sana rewel nggak?" tanya Maliek pada putra sulungnya.
"Enggak," tegas Zein sambil mengangguk.
"Enggak kok ngangguk," ucap Alvin menahan tawanya.
Cepat-cepat Zein menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Janji sama Papi ya? Kalau Zein rewel, nanti si rewelnya dibuang sama Kakek dari pesawat," kelakar Maliek.
"Nggak mau dibuang! Maunya ikut,," protes Zein.
"Enggak katanya, Mi. Kakak udah janji nggak rewel," ucap Maliek menoleh pada istrinya.
Meydina masih nampak ragu. Bagaimanapun juga ia tidak terbiasa jauh dari putranya.
"Iya, Mey. Buat ngeramein di perjalanan. Bolehin aja ya. Kak Alvin janji akan ngurusin Zein selama di sana."
"Alvin ahlinya kalau ngurus anak, Mey. Queena juga Daddynya yang urus," ujar Laura sambil tersenyum.
"Iya, deh. Tapi cuma dua hari ya, Yah." Meydina menoleh pada Ayahnya.
Salman mengangguk. Dalam hati ia sangat gembira Zein akan menemani perjalanannya. Sebenarnya sedari tadi ia ingin meyakinkan Meydina, tapi urung karena tidak ingin membuat Meydina semakin bingung.
"Sepertinya kalau udah gede Zein bakalan jadi pilot deh. Iya nggak, Kak? Biar tiap hari bisa naik pesawat," ujar Laura.
Zein mengangguk senang. Begitu juga dengan Amar dan Queena yang ikut bahagia sambil mengunyah makanan mereka.
"Amal, Kakak mau naik pesawat. Mau ikut?" tanya Zein pada sang adik.
"Mau," angguk Amar.
"Hmm, nggak boleh. Amal nggak akan diajak. Kakak pelginya sama Daddy, bukan sama Papi. Wleek..."
__ADS_1
Zein menjulurkan sedikit lidahnya. Ia mungkin berpikir Amar akan merengek pada Maminya kemudian menangis. Namun nyatanya, adik yang hanya selisih satu tahun dengannya itu tidak menanggapinya. Amar hanya menggelengkan kepalanya.