Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
bingung


__ADS_3

Happy reading...


Baru saja ia selesai mengatur nafasnya, Amiera tiba-tiba datang memeluknya. Rendy terpaku, diam tidak merespon apa-apa.


Sesaat kemudian Rendy menyadari ada yang berbeda dari Amiera. Nafasnya terasa berat dan tangannya mulai meraba-raba bagian tubuh Rendy yang lainnya.


"Amiera! Apa-apaan loe?" bentak Rendy sambil melepaskan pelukan Amiera.


"Gue... Gue udah nggak tahan, Ren." Sahutnya.


Rendy mengernyitkan dahinya. Ia terkejut dan memalingkan wajahnya saat Amiera mulai menurunkan lengan gaunnya.


"Amiera, stop!" pekik Rendy tanpa menoleh.


"Gue juga nggak tahu, Ren. Rasanya di sini ada sesuatu yang bikin gue pengen apa gitu," ujar Amiera bingung.


Rendy tertegun. Selama ini ia cukup mengenal Amiera. Walaupun terkadang bersikap arogan, tapi tidak mungkin ia bersikap seperti wanita murahan.


"Diamlah, j*lang! Setelah ini kita bersenang-senang."


Rendy kembali teringat pada kalimat Mark yang tadi membuatnya sangat marah.


"Apa Mark mencampur minuman Amiera dengan obat perangsang? Jadi ini rencana yang dia maksud. Sial, gue harus gimana buat nyadarin si Amiera. Nggak mungkin kan kalau gue tidur sama dia," batin Rendy bermonolog.


"Ren," rengek Amiera yang mendekat dan memeluk Rendy lagi.


Rendy masih terpaku. Ia mencoba tetap berpegang teguh pada prinsipnya untuk tidak meniduri wanita yang bukan istrinya. Pasalnya Rendy tetaplah pria normal yang tidak bisa hanya diam bila berhadapan dengan wanita secantik Amiera.


Amiera mulai menghujani Rendy dengan ciuman. Mulai dari pundak, bagian leher, lalu naik ke wajah. Ia bahkan sampai berjinjit untuk menggapai pipi Rendy.


Rendy memalingkan wajahnya saat Amiera mencoba mencium bibirnya. Pria itu berfikir keras tentang bagaimana cara menyadarkan Amiera.


Lalu tiba-tiba ia membungkuk dan terdengar pekikan Amiera.


"Lepas, Rendy! Turunin gue!"


Rendy menggendong Amiera tak ubahnya seperti sedang memunggu sekarung beras. Kedua tangan Amiera memukul-mukul punggung Rendy. Sedangkan kedua kakinya terus meronta.


"Diam, Amie! Nanti loe jatuh," bentak Rendy.


"Loe mau apain gue, Rendy!" Pekiknya.


Rendy melangkah ke arah kamar mandi.


"Gue mau loe sadar. Berhenti melakukan hal seperti tadi." Tegasnya.


Rendy memasukkan Amiera ke dalam bathtub. Belum sempat Amiera bangun dari posisi duduknya, Rendy memutar keran air dingin dan tentu membuat Amiera histeris.


"Rendy! Gila loe ya! Dingin, Ren!"


"Gue nggak punya cara lain, Amiera. Udah, loe diam aja dulu. Dinginkan nafsu loe yang mendidih itu!" seru Rendy. Ia memaksa Amiera kembali duduk saat gadis itu berusaha keluar dari bathtub.


Amiera pun pasrah. Ia membiarkan dirinya terendam air dingin dalam bathtub. Tidak hanya itu, Rendy bahkan mengguyur kepalanya menggunakan shower.

__ADS_1


Rendy tertegun melihat Amiera yang mulai menggigil. Ia merasa kasihan dan menyadari sikapnya yang sudah berlebihan.


Rendy menutup keran air dingin, lalu memutar keran air panas sampai dirasa air dalam bathtub itu jadi hangat.


"Amiera, loe nggak apa-apa kan?"


Rendy mulai khawatir melihat wajah Amiera yang memucat. Gadis itu masih menggigil sambil memeluk lututnya. Rendy membasuh wajah Amiera agar terasa hangat. Ia juga menyiram-nyiramkan air hangat itu kebagian atas tubuh Amiera.


Amiera masih terdiam, membuat Rendy jadi semakin khawatir. Rendy meminta Amiera untuk berdiri dan keluar dari bathtub. Kemudian ia mengambil semua handuk yang ada di lemari kecil dalam kamar mandi tersebut dan diletakkan di atas wastafel.


"Kemarilan," ucap Rendy sambil menarik pelan lengan Amiera.


Amiera masih menggigil dengan kedua tangan yang dieratkan di dada. Rendy mengosok-gosokkan handuk di kepala Amiera sampai dirasa air pada rambutnya berkurang.


"Keringkanlah badanmu. Aku akan menelepon Miss Bella." Ujarnya sambil memberikan dua handuk pada Amiera.


Rendy merasa semakin tidak tega saat Amiera mengeluarkan air mata. Amiera mengusap-usap bagian tubuhnya dengan tangan yang menggigil.


Baju Amiera basah kuyup, tidak mungkin ia mengenakan baju itu di malam dingin seperti saat ini. Setelah berpikir sejenak, Rendy melepas satu persatu kancing kemejanya.


"Mau ngapain loe?" tanya Amiera dengan suara bergetar karena bibirnya menggigil.


"Loe lepas baju loe, terus pake ini. Gue mau nelepon Miss Bella dulu ya," ucap Rendy lembut.


Rendy melepas kemeja dan juga kaos dalamnya. Ia merutuki dirinya yang melepas jas yang tadi dikenakannya dan menaruhnya disandaran kursi.


Rendy keluar dari kamar mandi dan berusaha menelepon Bella. Beberapa kali ia mencoba, namun panggilannya dialihkan. Sepertinya saat ini Bella memang sengaja tidak ingin menerima panggilan dari siapapun juga.


Rendy membalikkan tubuhnya saat mendengar pintu kamar mandi dibuka. Amiera sudah mengenakan kemejanya. Kemeja itu hanya sebatas paha atas Amiera.


"Loe tunggu aja di sana. Biar nggak kedinginan." Ujarnya sambil menunjuk ke arah tempat tidur.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Amiera berjalan menuju tempat tidur. Ia naik ke atas tempat tidur dan membenamkan tubuhnya dalam selimut agar terasa hangat.


Amiera melamun, diam membisu. Air matanya berderai begitu saja. Isakan pelan pun terdengar. Rendy terkejut mengetahui Amiera menangis dalam selimut tebal yang membungkusnya.


Rendy menghampiri Amiera. Ia mengusap bagian kepala gadis itu.


"Amiera, sorry ya gue udah keterlaluan." Ucapnya lirih.


Amiera tidak menjawabnya. Gadis itu malah semakin terisak, membuat Rendy kebingungan harus bagaimana.


Rendy melepas sepatu yang dikenakannya. Sebisa mungkin ia menahan rasa dingin pada tubuhnya yang tidak mengenakan apa-apa.


Sejenak Rendy ingin merilekskan dirinya. Setelah apa yang dilaluinya barusan. Membuat Rendy lemas kehabisan tenaga.


Rendy berbaring disamping Amiera yang bersembunyi dibalik selimut. Ia bingung harus bagaimana. Mencoba menelepon Alvin pun percuma. Lagi-lagi panggilannya tidak terjawab.


***


Sementara itu di ruang pertemuan, Alvin mulai mencari-cari Amiera. Awalnya ia berfikir adiknya itu pergi ke toilet. Namun saat dirasanya Amiera terlalu lama belum kembali ia mulai merasa khawatir.


Alvin menitipkan Zein pada Bella. Ia mempercepat langkahnya menuju toilet wanita. Alvin ragu-ragu saat hendak masuk kesana. Beberapa wanita yang keluar dari toilet itu tersenyum seperti sedang menggoda.

__ADS_1


Alvin hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Ia pun mulai memanggil nama adiknya.


"Amiera! Amie, kamu didalam?"


Tidak ada jawaban dan sepertinya toilet itu sepi. Alvin masuk dan mulai mencari Amiera. Nihil, Amiera tidak ada di sana.


Alvin mulai kebingungan. Ia kembali ke tempat pertemuan berharap Amiera sudah ada di sana.


Beberapa tamu mulai berpamitan pada Tuan Salman. Saat Salman tidak sengaja melihat Alvin, ia merasa aneh dengan sikap putranya tersebut. Ia lalu menghampirinya.


"Ada apa, Vin? Mana Amiera? Dari tadi aku tidak melihatnya."


Alvin semakin bingung harus menjawab apa.


"Mungkin Amiera sedang berada di taman, Dad. Dia pasti bosan dengan acara seperti ini," ujar Alvin mencoba beralasan.


"Mungkin? Maksudmu dia tidak bilang dulu padamu? Cari dia! Minta Mike juga untuk mencarinya." Tegasnya.


"Baik, Dad."


Alvin meminta Mike membantunya mencari Amiera. Sebisa mungkin mereka tidak terlihat panik agar tidak ada tamu yang mencurigainya.


Alvin dan Mike berbagi tugas. Mereka berkeliling mencari Amiera. Sampai para tamu undangan meninggalkan tempat tersebut, Amiera belum juga di temukan.


"Bagaimana Vin?" tanya Salman.


"Belum ketemu, Dad."


Salman nampak cemas.


"Sudah dilihat di CCTV hotel ini?"


Alvin dan Mike terperanjak. Mereka sama sekali tidak terpikir kesana.


"Dasar bodoh!" umpat Salman.


"Maaf, Tuan." Mike membungkuk pada Salman.


"Tunjukkan padaku dimana ruangan CCTV," pintanya dengan nada dingin.


Mike mempersilahkan Tuan Salman berjalan menuju lift. Alvin bergegas mengikuti mereka.


Bella yang sedang duduk sambil memangku Zein yang tertidur merasa heran melihat kekhawatiran di wajah tiga pria itu. Saat ia melihat ponsel yang baru saja diambilnya dari dalam tas, Bella mengernyitkan dahinya melihat ada panggilan tak terjawab dari Rendy.


"Ada apa Rendy memanggilku? Tapi aneh juga dari tadi aku tidak melihatnya," gumam Bella.


Bella mencoba menelepon Rendy. Sayangnya saat panggilan belum tersambung, ponselnya mati.


"Aish, menyebalkan." Gerutunya.


Salman dan dua pria bersamanya menunggu pintu lift terbuka. Saat pintu itu terbuka, mereka buru-buru masuk dan menutup pintu itu kembali. Mereka tidak menyadari ada Sophia di sana. Sophia tidak sempat keluar lift karena tiga pria itu mendahului langkahnya.


Sophia memperhatikan raut wajah ketiganya. Ia sempat tersenyum tipis sambil mengangguk hormat. Wanita itu menduga-duga ada apa gerangan sampai wajah bos besarnya begitu tegang.

__ADS_1


"Jangan-jangan mereka mencari Amiera. Wah, kalau begini tugasku jadi lebih mudah. Aku tidak perlu meyakinkan mereka untuk mendatangi kamar itu. Dengan sendirinya mereka datang hanya dengan satu kalimat dariku. Heh, habislah kau malam ini Amiera. Kau masuk dalam jebakanku dan juga Mark. Dengan begitu, Rendy akan merasa jijik padamu dan tidak akan pernah melihatmu lagi." Batinnya.


__ADS_2