
Happy reading...
Cuaca pagi menjelang siang hari ini sangatlah cerah. Warna langit yang biru terlihat kontras dengan awan tipis yang menghiasinya.
Seorang pria duduk di kursi yang berada di bawah pohon sambil menengadahkan wajahnya mengagumi kekuasaan Sang Pencipta. Begitu juga dengan beberapa pasang mata yang menatap kagum padanya dari kejauhan dari salah satu sudut sekolah.
"Pantas saja Jeng Mey cantik, Bapaknya aja ganteng gitu."
"Iya, benar. Kalau bibitnya seperti ini sih turunannya pasti kualitas unggulan."
"Kenalan yuk, siapa tahu orangnya ramah. Syukur-syukur kalau duda," ucap seorang diantara mereka.
"Memangnya mau Jeng, kalau Bapak itu duda?"
"Mau dong. Lihat body-nya, main tiga ronde pasti masih kuat. Hihihi.."
Para ibu-ibu itu terkekeh pelan mendengar ucapan salah satu teman mereka. Pria Timur Tengah yang tengah menunggu cucunya itu menarik perhatian mereka. Gurat wajahnya yang eksotis berpadu dengan raut wajah yang datar membuat pria itu terlihat berkharisma.
"Budi, jam berapa anak-anak istirahat?" Tanyanya pada pria yang berdiri di belakangnya.
"Sebentar lagi, Tuan."
Ia kembali menatap jauh dengan tatapannya yang menerawang. Ini pengalaman pertamanya mengantar ke sekolah.
Pagi ini Meydina disibukkan dengan rengekan Fatima. Ia pun menawarkan diri untuk menggantikan putrinya mengantar kedua cucunya ke sekolah.
Tidak jauh dari posisi mereka, Uli berdiri sambil sesekali mencuri pandang pada Salman dan supirnya. Kemudian ia menoleh saat ujung matanya menangkap sosok majikannya. Cepat-cepat ia bergegas menghampiri sang majikan.
"Pak Andre, Non Zenita belum keluar. Sebentar lagi istirahat," ujar Uli.
"Iya, saya tahu. Oh iya, Mbak. Dimana orang tua anak yang bernama Zein dan Amar?" tanya Andre, Papa Zenita.
"Hari ini mereka diantar Kakeknya, Pak. Itu bapak yang sedang duduk di sana," tunjuk Uli.
Andre mengangguk pelan dan berjalan mendekati Salman.
Ibu-ibu yang berada di kantin sekolah terlihat heboh. Mereka berbisik-bisik mempertanyakan sosok pria tampan yang baru saja datang. Uli yang melihat hal itu hanya bisa mengulumkan senyumnya.
"Selamat siang, Tuan!" sapa Andre.
Salman menoleh, menatap datar pada pria yang menghampirinya.
"Selamat siang, anda siapa?"
"Perkenalkan, nama saya Andre. Orang tua salah satu siswa di sini juga." Sahutnya.
"Oh," jawab Salman singkat. Ia tidak menghiraukan uluran tangan Andre yang menunggu balasannya.
Andre merasa kikuk, dalam hati ia bertanya-tanya siapa pria yang ada dihadapannya ini.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa anak-anak berhamburan dari kelas mereka.
"Kakek!" seru Zein dan Amar bersamaan.
__ADS_1
Salman terlihat senang. Ia menyembut kedua cucunya dengan sebuah ciuman.
"Budi, siapkan makanan anak-anak." Titahnya.
Salman mengantar kedua cucunya ke tempat cuci tangan. Sementara itu, Andre mengernyitkan keningnya seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Papa!" seru Zenita.
"Hai, Sayang!" Andre memangku putrinya.
"Hari ini Papa nggak kerja?"
"Papa baru pulang, Zeni. Kan kerja shift malam." Sahutnya.
"Ayo sekarang cuci tangan dulu. Mbak Uli sedang menyiapkan makan," ajak Andre.
Zenita terlihat riang. Gadis cilik itu merasa senang dengan kehadiran ayahnya di sekolah. Dari kejauhan Bunda Nia guru mereka tersenyum senang melihat kebahagian ketiga anak asuhannya.
"Om Doktel!" seru Zein saat berpapasan dengan Andre.
"Hai!" sahut Andre. Ia masih coba mengingat-ingat apakah anak itu pernah menjadi pasiennya.
Zein yang ber-tos-ria dengan Andre langsung diminta mencuci tangannya lagi oleh Salman.
"Zein? Zein..." Batinnya mengingat-ingat.
"Mami Zein. Dan ini Papinya Zein."
"Papa, ayo!" Ajakan Zeni menyadarkan lamunannya.
Andre mengikuti langkah putrinya.
"Rabbit, duduk sini!" seru Zein.
"Zein, kenapa memanggil temannya dengan nama binatang?" tanya Salman dengan tatapannya yang datar.
"Dia suka woltel, Kek. Sepelti rabbit," kelakar Zein. Amar terkekeh mendengar ucapan kakaknya. Begitu juga Zenita.
Salman merasa heran, dengan sikap ketiga anak tersebut.
"Kakek, kakak Zein pororo."
"Amar, mario bross. Hehe," timpal Zenita.
Ketiga anak itu kembali terkekeh menertawakan panggilan mereka.
Andre mengulumkan senyum begitu juga dengan Salman. Anak-anak melahap habis makan siang mereka. Andre sesekali melirik pada Salman dengan banyak pertanyaan bergelayut dalam benaknya.
Setelah makan, anak-anak berhamburan ke area bermain. Mereka berebut ingin menggunakan sarana permainan. Andre mendampingi putrinya, sedang Zein dan Amar didampingi Bunda Nia.
Salman menatap haru keceriaan kedua cucunya. Namun tatapannya berubah saat ada yang mendorong Zein karena berebut ingin mendapat giliran permainan.
Salman merogoh ponselnya kemudian menelepon Aldo. Pada Aldo, ia minta agar sarana bermain anak-anak di sekolah itu ditambah.
__ADS_1
Saat bel masuk berbunyi, anak-anak kembali ke ruangannya. Mereka melambaikan tangan dengan riangnya. Tidak lama kemudian terdengar nyanyian khas anak-anak menggema dari dalam kelas.
"Tuan, perkenalkan saya Andre."
"Saya sudah dengar tadi. Jadi untuk apa anda memperkenalkan diri lagi?" tanya Salman datar.
"Maaf, boleh saya tahu siapa anda? Karena putri saya semenjak bertemu Zein dan adiknya selalu saja bercerita tentang mereka," ujar Andre canggung.
Mendengar tentang kedua cucunya, Salman mulai tertarik untuk terlibat pembicaraan.
"Apa yang putri anda bicarakan?" tanya Salman masih dengan ekspresinya yang datar.
Andre dengan ragu menceritakan tentang putrinya yang semangat pergi sekolah karena ingin segera bertemu dengan kedua temannya. Tanpa ia duga, Salman terlihat antusias mendengarkannya.
"Jadi anda seorang Dokter?"
"Benar, Tuan. Dan kalau saya tidak salah, anda tuan Al-Azmi. Benar?" tanya Andre ragu.
"Iya, benar. Saya Salman Al-Azmi," sahut Salman.
"Tuan, saya senang sekali bertemu anda di sini. Ini kebetulan yang luar biasa," ujar Andre yang terlihat bahagia.
Salman merasa heran melihat ekspresi pria dihadapannya.
"Ah, maaf. Saya terlalu senang. Saya satu diantara yang beruntung pernah merasakan bekerja di Al-Azmi hospital yang dipimpin Dokter Said. Saya sangat mengagumi beliau. Ilmu kedokterannya luar biasa. Dan Al-Azmi hospital benar-benar rumah sakit yang mengutamakan pelayanan yang terbaik untuk pasiennya." Tuturnya.
"Oh." Salman kembali dengan ekspresi datarnya. Ia sudah antusias karena mengira Andre akan menceritakan perihal kedua cucunya. Tapi yang terjadi, pria itu membicarakan tentang rumah sakit miliknya yang berada di Timur Tengah.
Budi membukakan pintu mobil untuk Salman dan kedua cucunya. Mereka berdua membalas lambaian Zenita dan Papanya.
"Bye, Rabbit! Bye, Om Doktel! Bye, Ibu-ibu!"
"Amal, say good bye sama ibu-ibu yang itu," tunjuk Zein.
"Nggak mau. Amar nggak kenal, Kak."
"Ya udah, Kakak aja. Bye..."
Salman mengulumkan senyumnya melihat tingkah Zein.
"Budi, apa mereka selalu seperti ini?"
"Iya, Tuan. Tapi biasanya ibu-ibu itu tidak, hanya Nona Zenita saja." Sahutnya.
"Oh ya? Heh," seringai Salman.
Di dalam mobil terdengar celotehan Zein dan Amar yang saling bersahutan. Sesekali mereka mengajak Salman dan Pak Budi bernyanyi. Pak Budi merasa canggung karena jika bersama Meydina, ia sudah terbiasa.
Salman menatap ke depan dengan senyuman. Rasanya ia sudah tidak sabar melihat cucu-cucunya berkumpul dan tumbuh besar bersama. Namun jika saat itu tiba, ia tidak tahu apakah ia masih ada bersama mereka.
Salman menoleh ke kursi belakang. Melihat senyum mereka adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya.
"Terima kasih, Tuhan. Mereka anugerah yang tiada hentinya ku syukuri," batin Salman.
__ADS_1