
Happy reading...
"Nona, saya dengar anda tadi hampir tertabrak mobil. Apa benar tidak terjadi sesuatu pada anda?" tanya Rey.
"Apa aku terlihat mengalami sesuatu? Tidak kan," sahut Amiera datar.
"Tidak, Nona."
"Kalau begitu jangan dibesar-besarkan."
"Amiera, kamu yakin tidak memerlukan kartu nama ini?" Diana memperlihatkan kartu nama yang tadi diberikan si pengemudi mobil.
"Tidak. Jika kamu mau, ambilah! Jika tidak, buang saja."
"Hmm, sayang kalau dibuang. Mungkin suatu saat akan ada gunanya untukku," gumam Diana memasukkan kartu nama itu ke dalam sakunya.
Amiera menghela nafasnya. Kecerobohannya hampir saja mendatangkan masalah baru dalam kehidupannya.
Sebelumnya, ia harus berkali-kali menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja pada Mike. Pria itu mendapat laporan mengenai kejadian yang menimpanya dari para bodyguard bayangan yang selalu ada dimanapun ia berada.
"Hai, Ladies!" sapa Brian dari ambang pintu.
"Selamat sore, Tuan Brian!" ujar Diana.
Brian hanya tersenyum dan menghampiri meja Amiera.
"Lama tidak bertemu Amiera, apa kabar?"
"Baik."
"Mau aku antar pulang?" Tawarnya.
"Tidak, terima kasih."
"Tapi aku akan tetap menunggumu. Kalau kamu mencariku, aku ada di ruangan Julie. Oke?"
Amiera menggeleng pelan melihat kepergian Brian dari ruangannya. Ia tidak habis pikir mengapa pria itu memaksakan kehendaknya.
"Amiera, aku rasa Tuan Brian menyukaimu," ujar Diana.
"Betul itu, Nona. Aku juga berfikir begitu," timpal Veya.
"Jangan bergosip. Satu jam lagi kita pulang. Sebaiknya selesaikan tugas kalian." Sahutnya.
Sebuah mobil menepi di pelataran butik. Si empunya turun dan masuk ke dalam butik tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang karyawan butik.
"Apa Amiera sudah pulang?"
"Nona Amiera masih ada di atas. Mau saya panggilkan?"
"Tidak usah. Kalau boleh tahu, jam berapa Amiera biasa pulang?"
"Sebentar lagi, Tuan." Sahutnya.
"Baiklah. Aku akan menunggu di depan."
Waktu terus berlalu, Amiera dan rekan-rekannya bersiap untuk pulang. Mereka berempat terlihat senang karena pekerjaan mereka selesai lebih awal.
Saat Amiera tidak masuk kerja, setiap hari mereka keteteran. Walaupun dibayar berkali-kali lipat, tetap saja tidak bisa menutupi rasa lelah yang tergambar pada raut wajah mereka. Kini mereka menyadari bahwasanya setiap orang memegang peranan penting dalam sebuah tim.
"Amiera, tunggu!"
Amiera yang hendak menuruni tangga menoleh pada Brian.
"Ada apa?"
"Kamu lupa ya, aku kan mau mengantarmu pulang." Sahutnya.
"Sepertinya kamu yang lupa. Tadi aku sudah menolaknya," ujar Amiera santai.
Julie terkekeh mendengarnya. Kakak dari Brian itu menepuk pelan bagian belakang kepala sang adik.
"Maafkan dia, Amiera. Dia memang seperti ini." Ujarnya.
Amiera hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
"Tapi aku serius ingin mengantarmu." Brian tidak patah arang.
Amiera menggeleng. Seorang karyawan yang sudah bersiap akan melangkah keluar berbalik menghampiri Amiera.
__ADS_1
"Nona, ada yang menunggu anda."
"Aku? Siapa?"
Amiera menoleh pada ke arah yang ditunjuk karyawan itu.
"Siapa?" tanya Julie.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu," sahut Amiera.
Saat mereka keluar dari butik, pemilik mobil itu keluar.
"Kak Rendy?" gumam Amiera dengan raut wajahmya yang senang.
"Rendy?" gumam Brian.
Sementara itu, Julie yang memang tidak mengenal pria tersebut hanya mengikuti langkah Brian yang mengekor di belakang Amiera.
"Sudah pulang?" tanya Rendy dengan senyumnya.
Amiera mengangguk cepat.
"Hai, Brian!" sapa Rendy.
"Hai, Ren! Ngapain kamu di sini?" tanya Brian heran.
"Menjemput Amiera."
Brian terlihat heran dan menatap curiga.
"Kamu lupa ya, aku kan tinggal di gedung yang sama dengan Amiera."
"Brian, aku rasa hari ini kamu benar-benar pelupa. Tadi juga kamu lupa aku sudah menolak diantar olehmu," ucap Amiera.
"Hai! Aku Julie."
"Rendy. Senang bertemu denganmu," ucap Rendy.
"Baiklah, Amiera. Kami pulang dulu. Ayo, Brian! Lebih baik kamu menemaniku belanja ke supermarket."
Mau tidak mau Brian pun menuruti sang kakak. Mengendarai mobilnya meninggalkan butik.
"Jadi ini mobil barunya?" tanya Amiera sambil tersenyum.
"Sebenarnya ini mobil bekas. Hanya saja mesinnya masih sangat bagus dan aku suka modelnya yang klasik. Kamu tidak keberatan kan?"
Amiera menggeleng cepat.
"Kita langsung pulang? Atau mungkin kamu ingin pergi ke suatu tempat?"
"Bagaimana kalau pulang saja. Nanti malam makan di atas ya," pinta Amiera.
"Oke," jawab Rendy singkat.
Amiera nampak bahagia melihat Rendy yang sudah mulai terbiasa dengannya.
Selama perjalanan pulang, tidak banyak yang mereka bicarakan. Rendy hanya menjawab singkat setiap pertanyaan istrinya. Amiera juga tidak membicarakan tentang insiden yang hampir saja menimpanya.
Mereka menaiki lift dan Rendy berhenti di lantai apartemennya. Amiera melambai dengan senang melihat Rendy yang juga tersenyum padanya.
Saat berjalan menuju pintu apartemennya, Amiera menautkan kedua alisnya. Pasalnya, pintu yang berada tidak jauh dari pintunya sedikit terbuka.
"Sejak kapan ada penghuninya?" gumam Amiera heran.
"Hai, kamu yang tadi siang kan?"
Suara seorang pria pemilik penthouse di depannya mengagetkan Amiera.
"Kamu?" Amiera terkejut karena ternyata tetangganya itu pria yang tadi siang hampir menabraknya.
"Jangan bilang kita bertetangga. Kamu tinggal di situ?" tanya pria itu yang tak lain adalah Dave. Ia menunjuk pada pintu dengan dua penjaga di depannya.
"Iya, aku memang tinggal di situ." Sahutnya pelan.
"Wah! Ini kebetulan yang menyenangkan. Kamu pasti sudah tahu namaku dari kartu nama yang ku berikan. Tapi aku akan memperkenalkan diriku secara pribadi. Perkenalkan, aku tetangga barumu. Namaku Dave. Siapa namamu, Nona cantik?"
"Aku, Amiera."
"Senang bertemu denganmu, Amiera."
"Kapan-kapan aku boleh berkunjung ke penthouse-mu kan?"
__ADS_1
Amiera mengangguk pelan sambil tersenyum canggung.
"Aku permisi dulu," pamit Amiera.
"Silahkan," sahut Dave.
Dave menatap punggung Amiera. Salah seorang penjaga sudah membukakan pintu dan mempersilahkan Amiera masuk. Sejak awal ia sudah bertanya-tanya siapa pemilik penthouse di depannya. Apakah orang penting, kerena ada penjaga di depan pintunya.
Memang ada dua penthouse di bagian atas gedung tersebut. Bila dilihat dari udara, keduanya menghadap ke arah yang berlawanan. Dua penthouse itu tentunya di desain berbeda dengan luas yang berbeda pula.
Di dalam kamarnya, Rendy yang sudah bersiap menyempatkan diri melihat sebentar pekerjaannya yang tadi tertunda karena harus ke showroom untuk mewujudkan keinginannya membeli mobil.
Sebenarnya ia tidak terlalu ingin membeli mobil, toh mobil kantor juga ada. Namun entah kenapa ia ingin mengantar jemput Amiera dengan kendaraan yang dibeli dari hasil keringatnya.
Rendy sebetulnya mampu membeli yang lebih dari itu, hanya saja mengingat ia yang mungkin tidak akan menetap di London, membuatnya berpikir ulang untuk menghambur-hamburkan uang. Ia ingin menyiapkan masa depannya dengan uang yang dimilikinya.
Apalagi memiliki istri selevel Amiera, membuatnya harus bekerja ekstra agar bisa mewujudkan masa depan itu tanpa kehilangan harga dirinya sebagai pria di mata sang mertua.
Sebuah pesan diterima Rendy. Rupanya Amiera khawatir ia ketiduran seperti sebelumnya. Setelah membalas pesan istrinya, Rendy pun bergegas menuju tempat Amiera.
"Selamat malam, Tuan! Silahkan masuk!"
"Terima kasih."
"Tunggu! Apa aku juga boleh ikut masuk?"
Rendy menoleh dan menatap heran pada pria yang sedang bertanya padanya itu.
"Maaf. Anda siapa?"
"Aku tetangga baru Amiera. Oh iya, tadi Amiera sudah memperbolehkan aku berkunjung. Kebetulan aku memesan makanan agak banyak, jadi mau sekalian mengajaknya makan malam."
"Tetangga baru?" gumam Rendy. Matanya melirik pada pintu yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.
"Kak, kenapa tidak langsung masuk?" tanya Amiera dari dalam. Ia kemudian menghampiri Rendy dan terkejut mandapati Dave juga ada di sana.
"Hai, Amiera! Ayo kita makan malam bersama!" Ajaknya sambil mengangkat plastik makanan yang dipegangnya.
Amiera terlihat bingung. Rendy menatapnya penuh tanya.
"Kak, Dave ini tetangga baru kita."
"Oh! Jadi dia, Kakakmu. Perkenalkan, aku Dave."
"Rendy."
Rendy menerima uluran tangan Dave.
"Amiera, tidak apa kan kalau aku makan malam dengan kalian. Aku juga membawa makanan. Ini cukup untuk kita bertiga. Bagaimana Rendy, kamu tidak keberatan?"
"Tentu tidak, silahkan!"
"Amiera, apa pekerjaan ayahmu? Dia pasti orang penting, sampai-sampai penthouse ini harus dijaga." Tanyanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan utama.
"Daddy-ku hanya seorang pengusaha," jawab Amiera ragu.
Dave mengangguk-angguk pelan.
"Ruang makanmu dimana? Aku akan menaruh ini di meja."
"Di sana," tunjuk Amiera.
Dave tanpa sungkan melangkah menuju meja makan. Amiera mengikutinya dari belakang. Dave bertanya pada Amiera saat merasakan ada sesuatu yang janggal.
"Apa di sini tidak ada pelayan? Sepi sekali."
"Tentu ada. Hanya saja aku sudah membolehkan mereka beristirahat."
"Kamu majikan yang baik sekali," puji Dave.
Pria itu menaruh makanan yang dibawanya. Kedua maniknya berbinar melihat makanan yang sudah tersedia di meja makan.
"Ini kamu sendiri yang membuatnya?"
"Tidak. Ada pelayan yang membantuku," jawab Amiera jujur.
Ia menyiapkan satu piring lagi di atas meja. Amiera merasa canggung dengan kehadiran Dave. Rencana makan malam romantis yang hanya akan dilewatinya bersama Rendy gagal gara-gara kehadiran tetangga barunya.
Sementara itu, Dave merasa senang dan menatap kagum ke sekeliling ruangan tempat tinggal Amiera.
"Jika siang hari tempat ini pasti lebih mengagumkan. Boleh aku berkunjung lagi besok?" Tanyanya tanpa rasa malu.
__ADS_1
Amiera hanya menjawabnya dengan senyuman masam.
"Bawel sekali pria bernama Dave ini," batin Rendy kesal.