Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
penolakan


__ADS_3

Happy reading...


Suasana di dalam ruangan itu mulai terasa canggung. Rafael tidak menyangka akan mendengar penolakan secepat itu dari ayah kekasihnya. Di sisi lain Alya juga merasakan hal yang sama.


Alya mengira orang tuanya akan menyambut hangat Rafael. Itu sebabnya ia bersikap semanis mungkin pada pria itu di depan keluarganya. Kini Alya menoleh pada Rafael. Gurat kecewa terlihat jelas dari raut wajahnya. Hati Alya jadi tak tega melihatnya.


"Pa, Ma, kenapa sih? Apa kurangnya Rafael? Belum kenalan, belum apa-apa kok udah nggak setuju," protes Alya.


Ia menggenggam tangan Rafael yang duduk disampingnya. Pria itu menunduk seolah pasrah.


"Papa tidak setuju, titik."


"Pa!" seru Alya melihat Wira yang berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Al, udah biarin dulu Papamu," cegah Nura saat melihat Alya yang akan menyusul Papanya.


"Papa kenapa, Ma? Alya nggak ngerti!"


Alya tidak menghiraukan Mamanya, ia berlalu menyusul Wira ke ruang kerjanya.


Sementara itu Evan yang merasa tidak enak hati pada Rafael, menepuk beberapa kali pundak pria itu. Rafael hanya menyunggingkan senyum yang dipaksakan pada Evan. Nura merasa serba salah dan Alena merasa tidak seharusnya saat ini ia berada di sana.


Di ruangannya, Wira mengacak kasar rambutnya.


"Kenapa harus laki-laki itu?" Geramnya. Kelebatan kalimat yang pernah di dengarnya kembali terngiang di telinga Wira.


"Raf, loe sendiri kapan insafnya, hah? Celap-celup terus, nggak bosan?"


"Bosan? Nggak laah... Nggak akan ada bosannya.."


"Kalo gue nggak pake 'bungkusan', bertebaran anak gue. Bisa satu RT."


Saat pernikahan Alvin, tanpa sengaja Wira mendengarkan obrolan Alvin dan ketiga sahabatnya. Saat mereka kembali bergabung dengan para tamu, Wira memperhatikan wajah pria yang tadi kalimatnya sangaat mengganggu pendengarannya itu.


"Rafael... Kenapa harus dia, Alya?" geram Wira dengan tangan yang terkepal.


"Pa! Kenapa Papa seperti ini?" tanya Alya yang masuk tanpa permisi.


Wira memutar badannya agar mengahadap putrinya. Pria paruh baya itu menatap lekat wajah putri yang sangat dikasihinya itu.


Sebagai Ayah, Wira berusaha menjaga putrinya sebaik mungkin. Nasihat, larangan, bahkan ancaman sering ia ucapkan untuk menghindarkan putrinya dari pergaulan yang tidak baik. Dan sebagai ayah, ia juga ingin putrinya menikah dengan pria baik-baik. Tapi apa ini, mengapa pria seperti Rafael yang dibawanya?


"Kamu tidak dengar perkataan Papa tadi, Alya? Papa tidak setuju." Tegasnya.


"Iya, tapi kenapa?"

__ADS_1


"Kamu tahu seperti apa pria itu? Dia bukan pria baik, Sayang. Dia suka mempermainkan perempuan. Papa tidak mau melihat kamu kecewa, Alya."


Alya terdiam mendengar penuturan Papanya. Apa itu artinya keluarganya sudah mengenal Rafael?


Di ruang tamu, Rafael yang menyadari kehadirannya tidak di harapkan berniat pamit pada Nura dan Evan.


"Tante, Om, maaf jika kehadiran saya mengganggu ketenangan keluarga ini. Saya permisi, salam untuk Om Wira. Terima kasih," pamit Rafael.


Nura hanya menjawab dengan senyuman kecut. Sementara itu, Evan mengantar Rafael ke depan.


"Raf. Kalau Om boleh tahu, apa kamu berniat serius pada Alya?" tanya Evan.


"Saya serius, Om. Sejak pertama bertemu Alya, saya sudah tertarik dan berniat serius dengannya. Tapi melihat sikap Om Wira, sepertinya beliau tidak menyukai saya."


"Om kenal betul bagaimana Wira. Dia pasti punya alasannya sendiri. Saran Om, kalau kamu benar serius, buktikan pada kedua orang tua Alya kalau kamu pria bertanggung jawab yang bisa di percaya."


"Iya, Om. Saya akan mencobanya, terima kasih."


"Oke, semangat ya. Hati-hati, jangan ngebut."


"Siap, Om."


Evan menatap kepergian Rafael dengan perasaan bimbang. Ia mengerti alasan dibalik sikap Wira tadi. Namun ia juga bisa melihat kesungguhan di mata pria muda itu.


London


Di kota ini, butik milik Julie cukup terkenal dan diminati kalangan menengah ke atas. Di tambah lagi foto gaun rancangan Amiera yang diunggah pelanggannya kemarin mendapat banyak tanggapan positif dari para netizen.


Tidak sedikit yang ingin mengetahui siapa Designer dibalik gaun indah itu. Alhasil, sejak pagi butik milik Julie banyak didatangi pengunjung dan juga yang membuat janji ingin memesan baju impian mereka di sana.


"Wah, hebat kamu Amiera. Belum satu bulan bekerja popularitasmu sudah diatas awan. Aku menyesal memberikan pesanan kemarin itu padamu," decih Diana.


"Jauh sebelum ini aku sudah terkenal, kau belum tahu saja," canda Amiera santai.


"Sombong. Kau belum tahu kan gaunku dipakai di ajang bergengsi?"


Amiera hanya mengangkat bahunya sedikit. Ia tidak terlalu menanggapi ucapan Diana.


Veya, asisten Diana datang dengan raut wajah yang sangat aneh.


"Nona, apa anda sudah dengar beritanya?" ucap Veya heboh.


"Berita apa?" tanya Diana penasaran.


"Pengantin pria dari wanita yang memesan gaun kemarin, datang ke tempat pernikahan dengan menggunakan kursi roda. Wajahnya babak belur dipukuli oleh orang yang tidak dikenal. Ih, seram sekali. Lihatlah ini, Nona!"

__ADS_1


Veya memperlihatkan salah satu foto yang di dapatnya dari salah satu kenalannya itu. Kedua wanita itu terlihat bergidik ngeri melihat wajah si pria yang memar dan bengkak hampir di semua bagian wajahnya. Juga tangannya yang menggunakan penyangga membuat mereka membayangkan betapa sadisnya si pelaku itu.


Di sisi lain, Amiera cukup merasa takut. Takut kalau-kalau ada penyelidikan dalam kasus itu.


Ddrrtt...


Ponselnya yang bergetar sukses membuat Amiera terkejut. Cepat-cepat ia meraih ponselnya.


"Daddy!" Batinnya.


Amiera terlihat ragu menerima panggilan itu, akan tetapi jika tidak diterima Daddynya pasti murka.


📱 "Ha-halo, Dad."


Diana, Veya dan Rey serempak menoleh pada Amiera.


📱 "Sebentar, Dad. Amie ke luar dulu."


Amiera meninggalkan ruangannya karena merasa tidak nyaman dengan tatapan rekan-rekannya.


📱 "Ya, Dad."


📱 "Apa yang kau lakukan semalam itu di luar, Amiera!" hardik Salman di ujung sana.


📱 "Amie hanya mengantarkan pesanan pelanggan, Dad," sahut Amiera pelan.


📱 "Apa kau bilang, pelanggan? Selarut itu? Keluar dari pekerjaan itu, Amie!"


📱 "Tapi, Dad. Amie baru saja memulainya. Amie tidak mau. Kali ini saja izinkan Amie melakukan apa yang Amie inginkan, Dad. Amie mohon.."


Suara Amiera terdengar berat, gadis itu hampir saja menangis.


Entah apa yang dirasakan Salman di sana. Pria itu terdiam sejenak seolah sedang menimbang kata.


📱 "Kita bicara lagi nanti. Jangan menangis! Jika kau masih cengeng lebih baik kembali lagi kesini."


📱 "Amie tidak menangis." Dustanya.


📱 "Aku meminta Mike menemuimu. Dengarkan dia dan jangan membuatku khawatir. Kau paham?"


📱 "Iya, Dad. Terima kasih, i love you."


Tidak ada jawaban dari seberang sana selain bunyi ponsel yang dimatikan. Amiera bingung harus berbuat apa jika Daddynya tetap memaksanya untuk berhenti bekerja.


"Mike? Apa itu artinya Mike tahu aku kerja di sini? Ah, bodohnya aku. Dia tentu saja tahu. Bukankah para bodyguard itu suruhannya," gumam Amiera merutuki diri.

__ADS_1


__ADS_2