Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
persalinan Amiera (2)


__ADS_3

Happy reading...


Sudah hampir 20 jam Amiera merasakan kontraksi. Selama itu juga anggota keluarganya bergantian menjaga. Karena sakit yang teramat, bahkan Amiera sudah tidak mampu berjalan lagi.


Di ruang bersalin, Amiera hanya bisa meringis kesakitan. Nura dengan setia menemani karena yang lain punya tanggung jawab terhadap keluarganya sendiri.


"Ma.. Hiks, Amie sudah tidak tahan." Ringisnya.


"Sabar, Sayang."


"Sabar ya, Bu. Masih pembukaan enam," ujar seorang perawat.


"Kenapa Kak Rendy belum datang, Ma?" Rengeknya.


"Menurut Alvin jadwal penerbangannya diundur, Sayang."


"Amie mau ada Kak Rendy.."


"Sabar, Amiera. Sekarang sebaiknya kamu fokus pada persalinanmu saja ya," bujuk Nura.


Amiera mau tak mau pasrah dan mencoba menerima apapun takdirnya. Selama ini ia berharap bisa melahirkan dengan didampingi Rendy, suaminya. Namun bila Tuhan berkehendak lain, Amiera harus bisa menerimanya. Semoga saja semua berjalan lancar selama proses persalinan.


Di sisi lain rumah sakit, Rendy yang baru turun dari taksi berjalan tergesa-gesa menuju bagian resepsionis. Setelah diberi arahan, setengah berlari ia menuju ruang bersalin.


Perasaannya yang campur aduk sulit untuk digambarkan. Tadi, setibanya di bandara ia menelepon Amiera. Namun ponsel istrinya itu tidak aktif. Dan saat menelepon Meydina, ia diberi tahu bahwa Amiera sudah berada di rumah sakit. Dan sejak pagi sampai saat ini masih merasakan kontraksi.


"Pa.."


"Ren, syukurlah kamu akhirnya datang. Amiera ada di dalam," ujar Wira.


"Tenangkan dirimu dulu, Ren," ujar Alvin.


"Iya, Kak. Apa masih belum?"


Wira menggeleng pelan. Rendy pun pamit masuk ke dalam ruang bersalin.


Rendy melambatkan langkahnya saat tatapannya tertuju pada punggung wanita paruh baya yang sedang mengusap-usap punggung istrinya. Terdengar ringisan dari balik wanita itu, dan sudah pasti itu ringisan istrinya.


"Amie..."


Nura menoleh dan tersenyum bahagia melihat putranya baik-baik saja. Sebagai seorang ibu, ia sempat merasa khawatir mendengar keberangkatan Rendy yang diundur karena cuaca buruk.


"Terima kasih, Ma." Ucapnya sambil mencium punggung tangan Nura.


"Mama tunggu di luar ya.." Ucapnya sambil menoleh pada Amiera.


Rendy menatap haru pada Amiera. Begitu juga Amiera yang menatapnya dengan kedua maniknya yang berkaca-kaca.


"Kamu pasti bisa, Sayang." Ucapnya sambil mengecup lembut kening Amiera.


Amiera mengeratkan pelukannya sambil terisak di dada suaminya. Bersamaan dengan kontraksi hebat yang tiba-tiba saja dirasakannya.


"Aah!" pekik Amiera. Dokter dan beberapa perawat datang menghampiri. Dokter langsung memeriksa kesiapan jalan lahir kemudian dengan raut wajahnya yang tenang mulai meminta Amiera mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Ikuti aba-aba saya ya, sebentar lagi pembukaan lengkap. Rileks tapi tetap fokus," ujar sang dokter.


Amiera menuruti setiap aba-aba yang yang didengarnya. Entah mengapa kehadiran Rendy menjadi penyemangat tersendiri baginya. Dengan Rendy di sampingnya, ia merasa kuat dan mampu melewati semuanya.


Di luar ruangan, Nura dan Wira menunggu dengan cemas. Sesekali Nura mengintip dari kaca pintu ruangan itu. Tidak jauh dari mereka, Alvin dan juga Evan tak kalah khawatir. Waktu dari Amiera merasakan kontraksi sampai proses persalinan terbilang cukup lama.


Menit demi menit pun berlalu terasa begitu lama. Malam yang dingin terasa sejalan dengan perasaan yang menegang. Angin yang berhembus diharapkan membawa serta kabar gembira dari dalam ruangan.


Tangisan bayi seketika membuat mereka yang mendengarnya terkesiap. Nura bahkan sampai berlari kedalam ruangan karena sudah tidak sabar ingin melihat cucu pertamanya yang baru saja dilahirkan.


"Selamat Opa Wira," ujar Evan yang kemudian memeluk adiknya.


"Terima kasih," sahut Wira haru.


"Selamat, Om." Giliran Alvin yang memeluk Wira.


"Kira-kira anak mereka laki-laki atau perempuan ya?" ujar Evan penasaran.


"Sabar, Pa. Sebentar lagi kita tahu. Tante Nura udah masuk aja karena senangnya," kelakar Alvin.


"Dia pasti sangat senang sekaligus lega," ujar Evan dan diangguki oleh Alvin dan juga Wira.


Di dalam ruangan..


Rendy tak hentinya mencium kening Amiera saat melihat bayi mereka yang masih merah itu berusaha mencari p*ting susu ibunya. Seorang putra telah lahir di tengah-tengah keluarga mereka. Bahagia, itu pasti. Ia masih tidak percaya dan sampai meneteskan air mata melihat bayi mungil itu lahir setelah berada selama sembilan bulan dalam kandungan Amiera.


"Lucunya... Dia pasti ganteng seperti kamu, Ren."


"Nggak dong, Ma. Dia pasti lebih ganteng dari Papanya. Lihat, hidungnya juga mirip Amiera." Ucapnya bangga sekaligus haru.


"Sama-sama, Ma. Terima kasih sudah menemani Amie," sahut Amiera dengan senyum bahagianya. Walau sebenarnya ia sedang merasakan sakit karena perawat sedang menjahit bekas jalan lahir putranya.


"Sudah memberitahu Meydina?"


"Oh, iya. Hampir saja lupa," kekeh Rendy.


Rendy dan Nura pamit ke luar karena para perawat itu akan menyelesaikan tugasnya pada Amiera dan juga bayinya. Rendy menghubungi Meydina sambil melangkah keluar dan sesekali menoleh pada istrinya.


***


Meydina melangkah menuruni anak tangga dengan perasaan bahagia. Ia sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan kabar gembira yang didengarnya pada sang ayah.


📱 "Kak Alvin, udah dulu ya. Ini ada Rendy menelepon. Dia pasti juga nggak sabar ingin beritahukan pada Mey."


Setelah panggilan dari Alvin ditutup, Meydina pun menerima panggilan Rendy.


📱 "Selamat, Ren! Senangnya yang udah jadi Papa. Papa apa Daddy nih manggilnya?" goda Meydina.


📱 "Terima kasih, Mey. Nggak nyangka aku udah jadi bapak ya."


📱 "By the way, laki-laki atau perempuan? Tadi aku tanya kak Alvin, katanya belum tahu baru dengar tangisannya aja."


📱 "Laki-laki, Mey."

__ADS_1


📱 "Asik dong ada teman main Zein dan Amar. Sudah ada nama?"


📱 "Belum tahu, aku sepenuhnya menyerahkan pada Amiera. Karena kan dia yang mengandungnya."


📱 "Aku salut lho, Ren. Baru jadi bapak aja udah bijaksana, apalagi nanti kalau udah anak dua atau tiga." Kelakarnya.


📱 "Bisa aja kamu, Mey."


📱 "Ren, tahu nggak? Kalau menurutku ya, anakmu itu memang ingin lahir disaksikan sama bapaknya. Iya kan?"


📱 "Iya, Mey. Mama juga bilang begitu."


📱 "Aku mau ngasih tahu Ayah dulu ya, bye."


Meydina yang memang sudah berada di depan kamar Salman mengetuk sekali kemudian masuk ke dalam kamar tersebut. Ia tersenyum melihat ayahnya yang masih terjaga sambil menyandarkan punggungnya di tempat tidur.


"Ayah belum tidur?"


"Belum, Mey. Ayah mengkhawatirkan Amiera dan bayinya. Apa suaminya sudah datang?"


Meydina tersenyum menghampiri Salman. Jika sudah malam, ia memang melarang sang ayah mengaktifkan ponsel agar tidurnya tidak terganggu. Siapa sangka ternyata Salman sangat patuh pada putrinya itu.


"Selamat, Ayah! Cucu ayah bertambah satu," ujar Meydina yang memeluk ayahnya.


"Benarkah? Amiera sudah melahirkan?" tanya Salman haru.


Meydina tersenyum dan mengangguk berulang-ulang. Ia kemudian menghubungi Rendy agar bisa bicara dengan Amiera lewat panggilan video.


📱 "Hai, Amiera! Selamat ya, Sayang. Mana Baby-nya, Kakak mau lihat."


📱 "Terima kasih, Kak. Ini..."


📱 "Waah, lucunya. Hai, Sayang! Ini Auntie Mey dan ini Kakek."


Mendenger ada Salman di dekat Meydina, Amiera kembali mengarahkan kamera ponsel pada dirinya.


📱 "Amie..." Salman seolah tak mampu berkata-kata. Ia hanya bisa menatap haru dan mengangkat ibu jarinya.


📱 "Dad. Amie sudah menjadi seorang ibu."


📱 "Iya, Sayang. Kamu hebat, Daddy bangga padamu."


📱 "Lihatlah, Dad."


📱 "Dia tampan.." Ucapnya sambil mengusap layar ponsel.


📱 "Daddy belum tidur?"


📱 "Belum. Daddy akan tidur setelah mendengar kabar bahagia darimu."


📱 "Kalau begitu sekarang Daddy tidur ya. Ini sudah larut malam, Daddy harus istirahat."


Salman hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya. Kamera ponsel pun kembali pada Meydina.

__ADS_1


📱 "Istirahat ya, Amie. Besok Kami semua akan datang menengokmu dan juga Baby."


📱 "Iya, Kak. Selamat malam." Amiera menutupnya dengan senyuman.


__ADS_2