
Happy weekend and happy reading...
Meydina tersentak saat ada seseorang membuka pintu kamar anak-anaknya. Rupanya Meydina ketiduran di kursi dengan Zein masih dalam gendongannya.
Sebelumnya setiap Meydina hendak membaringkan Zein di kasurnya, putra sulungnya itu bangun dan merengek ingin di gendong lagi. Beruntung kedua adiknya tidur sangat lelap.
"Mey, Sayang..."
"Kakak dari mana aja sih? Lihat ini udah jam berapa?" tanya Meydina dengan nada suara yang cukup tinggi.
Maliek terkejut mendapati ekspresi wajah Meydina yang kesal. Saat ini memang sudah hampir tengah malam.
"Sayang, maaf aku nggak bilang dulu. Tadi waktu mau pulang.."
"Kakak dari club kan?" tanya Meydina sinis.
"Iya, Mey. Tapi aku nggak mabuk, aku cuma.." Lagi-lagi ucapan Maliek terpotong.
"Apa mereka lebih penting daripada anak-anak?" tanya Meydina masih dengan ekspresi yang sama.
"Bukan gitu, Sayang." Maliek melangkah mendekati istrinya, namun Meydina berjalan mundur dua langkah. Ia merasa heran dengan sikap Meydina yang tidak biasa. Di tambah lagi Zein yang ada dalam gendongannya.
"Zein kenapa, Mey?"
"Kenapa Kakak baru pulang? Kenapa ponsel Kakak nggak aktif?" tanya Meydina dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Maliek semakin bingung. Ia melangkah mendekati Meydina dan memeluknya. Pria itu tidak perduli walau Meydina menolak pelukannya.
"Maaf, Sayang. Aku minta maaf," bisik Maliek.
"Hiks..."
Maliek terkejut mendengar Meydina terisak. Ia melepas pelukannya, lalu menatap wajah Meydina.
"Kenapa, Sayang? Aku minta maaf, aku janji tidak akan pulang larut lagi," ucap Maliek dengan suara lirih.
"Mi..."
Tatapan Maliek beralih pada putranya. Pria itu mengusap kepala putranya, dan terkejut saat merasakan suhu tubuh Zein yang panas.
"Mey, Ze-Zein demam?" tanya Maliek.
Meydina mengangguk pelan sambil mengusap sisa air matanya.
"Mi, tenggolokan Kakak cakit." Rengeknya.
"Sayang, aku ambilin jaket dulu ya. Kita bawa Zein ke rumah sakit," ucap Maliek. Pria itu bergegas keluar kamar hendak ke kamarnya di lantai atas.
Di depan pintu kamar, Maliek bertemu Alvin.
"Ada apa, Liek?" tanya Alvin heran.
"Gue mau bawa Zein ke rumah sakit, Vin. Panasnya tinggi," sahut Maliek yang kemudian meninggalkan Alvin.
Sebelumnya, Alvin yang melewati kamar anak-anak tidak sengaja mendengar suara Meydina yang seperti sedang menginterogasi Maliek. Dari nada suaranya, ia bisa mendengar suara Meydina yang bergetar.
Mendengar Meydina terisak, Alvin hendak masuk ke kamar. Langkahnya terhenti, saat ia sadar sudah ada Maliek disana. Tidak akan baik jika ia ikut campur urusan suami istri itu.
"Mey."
"Kak Alvin," sahu Meydina yang sedang mendekap putranya.
"Jagoan Daddy. Kenapa, Sayang?" tanya Alvin sambil mengusap lembut kepala Zein. Pria itu langsung menoleh pada Meydina saat perasakan panas di kening Zein.
"Daddy," ucap Zein malas.
"Udah di kasih obat, Mey?"
__ADS_1
"Udah, Kak. Tapi panasnya nggak turun-turun," sahut Meydina.
Maliek datang membawa jaket Meydina dan memakaikannya pada istrinya.
"Ayo, Sayang!" Ajaknya.
"Tapi Mey belum manggil babysitter anak-anak, Kak."
"Udah Mey, nggak usah di pikirkan. Nanti Kakak yang akan panggilkan," ujar Alvin.
Meydina menatap sesaat pada kedua anaknya, setelah itu ia dan Maliek meninggalkan rumah menuju rumah sakit.
Alvin masuk ke dalam kamarnya, bersamaan dengan Laura yang baru keluar dari kamar mandi.
"Hubby, darimana dulu? Aku lihat tadi kamu sama Maliek pulang bareng," tanya Laura. Ia mendekati Alvin dan memeluknya.
"Aku dari club sama Maliek dan dua temanku lainnya. Sayang, bisa tolong bangunkan babysitter Amar dan Fatum?" pinta Alvin.
Laura menatap heran pada suaminya.
"Meydina sama Maliek membawa Zein ke rumah sakit, Zein demam." Alvin menjelaskan.
"Sejak kapan? Tadi aku sama Mey dikamar anak-anak, Zein baik-baik saja. Tapi memang agak pendiam sih," ujar Laura.
"Panggil dulu babysitternya ya," pinta Alvin lagi. Kemudian mengecup kening dan bibir Laura.
Laura mengangguk dan meninggalkan Alvin.
***
Selama perjalanan ke rumah sakit, suasana di dalam mobil Maliek terasa hening. Maliek yang sedang fokus pada kemudinya sesekali menoleh pada Meydina yang duduk di sampingnya.
Meydina mengusap-usap pipi Zein yang tertidur namun tidak pulas. Dalam hati Maliek merutuki dirinya sendiri. Ia memang mengatakan akan pulang agak larut pada istrinya. Saat akan pulang, Riky mengajaknya berkumpul di club.
Awalnya Maliek berniat tidak akan lama. Namun tanpa terasa, hampir tiga jam waktu yang ia habiskan bersama ketiga sahabatnya. Dan sialnya lagi, ponselnya mati.
"Udahlah, Kak. Nggak usah dibahas lagi," sahut Meydina datar tanpa menoleh.
Maliek pun hanya diam.
***
Cahaya matahari pagi ini sangat cerah, seolah tak ada yang berani menghalangi sinarnya. Salman yang baru keluar kamarnya meminta pelayan mambawakan sarapannya ke teras depan rumah.
Sambil menunggu, pria itu jalan-jalan menikmati pemandangan di sekitar rumahnya. Beberapa pelayan dan tukang kebun yang berpapasan menyapanya hormat.
Salman melewati dua pelayan laki-laki yang sedang mencuci mobil. Mereka pun membungkuk hormat pada tuannya.
"Aku tidak melihat mobil Maliek, apa dia tidak pulang?" tanya Salman datar.
"Maaf, Tuan. Menurut penjaga di depan, Tuan Maliek pulang sebentar kemudian keluar lagi bersama Nyonya dan juga Tuan Muda Zein," sahut salah satu pelayan itu.
Salman mengerutkan keningnya. "Maliek membawa Meydina dan Zein bersamanya, tapi mau kemana?" batin Salman.
"Hei, Kau! Minta pelayan memanggilkan pengasuh Zein, sekarang!" Tegasnya.
Pelayan pria itu, bergegas ke dapur untuk menyampaikan pesan Tuan Salman. Tak menunggu lama, pengasuh Zein datang menghampirinya.
Pengasuh itu menceritakan semuanya. Mulai dari ia dan dua babysitter lain yang di bangunkan Laura, kemudian meminta mereka menjaga Amar dan Fatima tadi malam.
Mendengar hal itu, Salman kembali ke dalam rumahnya. Saat melewati kamar anak-anak, sayup-sayup Salman mendengar celotehan Amar. Lalu Salman meneruskan langkahnya menuju kamar Alvin.
Salman mengetuk keras pintu kamar Alvin. Membuat si empunya kamar terkejut tentunya. Dengan tampilan khas orang bangun tidur, Alvin membuka pintu kamarnya.
"Dad?" Alvin terkejut mendapati daddynya berdiri di depan kamarnya.
"Kemana Maliek membawa Meydina?" suara bariton Salman menyentak kesadaran Alvin.
__ADS_1
"Maliek membawa Mey ke rumah sakit, Dad." Sahutnya.
"Meydina sakit?" tanya Salman dengan raut wajah yang terkejut.
"Bukan Mey, tapi Zein. Semalam Zein demam, karena panasnya tidak turun maka mereka membawa Zein ke rumah sakit."
"Mengapa tidak ada yang memberitahuku, hah!" seru Salman yang terlihat kesal.
"Hei, Kau yang disana. Ambilkan ponselku di kamar!" titahnya pada seorang pelayan.
"Zein baik-baik saja, Dad. Semalam Alvin sudah menanyakannya. Dia hanya terkena radang tenggorokan," papar Alvin.
"Hanya kau bilang?" pekik Salman.
Alvin seketika bungkam. Ia sangat tahu Zein kesayangan Daddynya. Setelah menerima teleponnya, Salman menenlepon Meydina.
Sepertinya panggilan Salman di jawab oleh Maliek, menantunya. Hal itu karena Salman yang sedang khawatir habis-habisan memarahi lawan bicaranya.
Tidak lama kemudian nada suara Salman melembut. Setelah satu helaan nafas, Salman menutup panggilannya.
"Bagaimana, Dad?"
"Mereka akan pulang setelah dokter yang memeriksanya pagi ini datang." Sahutnya.
Kemudian Salman kembali melangkah menuju kamar anak-anak dan meminta pengasuh mereka untuk membawanya ke teras depan sekalian sarapan.
***
"Apa Ayah akan kesini?" tanya Maliek.
"Sepertinya tidak akan, Mey sudah melarangnya."
Maliek mengangguk-anggukan kepalanya. Pria itu pasrah saat tadi Salman memarahinya.
"Pi, Kakak mau puyang," rengek Zein.
"Sebentar lagi ya, Sayang," jawab Maliek yang kini sedang menghibur putranya.
"Suster, jam berapa dokternya datang?" tanya Meydina pada Perawat yang belum lama ada di ruang observasi itu.
"Dokter yang bertugas pagi ini sudah tiba, Bu. Mungkin sebentar lagi kesini." Sahutnya.
Benar saja, pintu ruangan itu ada yang membuka. Seorang dokter yang tersenyum ramah memasuki ruangan itu.
"Selamat pagi, Jagoan." Sapanya pada Zein, pasiennya.
"Selamat pagi, Om Dokter. Ayo bilang, Sayang," pinta Maliek.
"Celamat pagi, Om Doktel," ucap Zein.
"Pinternya. Jagoannya Papa ya?"
"No. Kakak jagoannya Mami," sahut Zein polos sambil menunjuk kearah Maminya.
"Oh, ya?" Dokter itu menoleh pada Meydina yang sedang berbalas pesan dengan seseorang.
Meydinapun menghampiri mereka sambil tersenyum.
"Kamu, yang waktu itu kan?" tanya sang Dokter.
Meydina menatap sekilas. Pria di depannya nampaknya tak asing. Tapi mereka bertemu dimana? Baru saja pikiran itu terlintas dan ternyata langsung terjawab oleh pria itu sendiri.
"Kamu yang waktu itu naik motor kan? Kamu ingat? Kita bertemu di depan lift basement." Tuturnya.
"Oh, iya benar. Sekarang saya ingat," sahut Meydina.
Tanpa mereka sadari, Maliek sedang memperhatikan mereka dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1