
Happy reading...
Senja mulai menyapa. Langit yang menjingga seolah mengantar siapa saja yang pulang ke rumah setelah lelah bekerja. Tak terkecuali Rendy yang sedang mengendarai mobilnya.
Rendy nampak fokus pada kemudi. Pria itu tidak mengacuhkan wanita di sampingnya yang sedari tadi mengoceh kemana-mana.
"Ren, dinner dulu di sana yuk!" Ajaknya.
"Aku capek, Sophia. Aku ingin cepat sampai di rumah. Kalau kamu mau, aku bisa turunkan kamu di sana."
"Ayolah, Ren. Sebentar saja," rayu Sophia.
"Aku sudah katakan, aku tidak bisa." Tegasnya.
"Baiklah, kita ke apartemen saja." Ujarnya kemudian.
Rendy membuang kasar nafasnya. Sebisa mungkin ia tidak bersikap ataupun berkata kasar pada Sophia. Bagaimanapun juga sosok yang sedang duduk di sampingnya ini adalah wanita.
Sesampainya di basement gedung apartemen, Rendy memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju lift. Dan tentu saja Sophia mengekor dibelakangnya. Ia kesulitan menyamai langkah besar Rendy.
Selama dalam lift, tatapan Sophia tidak lepas dari Rendy. Pria itu nampak sangat tampan saat sedang tersenyum dengan tatapannya yang tertuju pada layar ponselnya.
"Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Sophia mencoba melihat pada layar ponsel Rendy namun segera dijauhkan oleh si empunya.
"Bukan urusanmu," ujar Rendy.
"Aku kan hanya ingin tahu," delik Sophia.
"Kamu sungguh ingin tahu?"
"Hmm." Angguknya dengan raut wajah senang.
"Lihatlah. Ini istriku dan keluarganya. Dan hari ini keponakanku merengek mengajak Amiera berenang. Hehe, yang benar saja. Meydina bahkan melarang Amiera mendekati kolam renang karena khawatir terpeleset." Tuturnya.
"Siapa Meydina? Apa wanita cantik yang berada di samping Amiera itu?" tanya Sophia dengan raut wajah masam.
"Iya. Dia dulu sahabatku, kakak Amiera. Dia cantik kan? Tapi Amiera terlihat lebih cantik, apalagi dengan perutnya yang besar." Kelakarnya.
Rendy nampaknya tidak perduli, dengan raut wajah Sophia yang merah padam. Pria itu berlalu begitu saja saat pintu lift terbuka.
Sophia bergegas menyusul Rendy. Namun justru dihadapkan dengan tatapan aneh dari pria tersebut.
"Mau apa kamu mengikutiku? Itu pintu apartemen Dave." Tunjuknya.
"Iya, aku tahu. Tapi sepertinya dia tidak di rumah."
__ADS_1
"Apa? Kalau begitu tanyakan sandi pintunya dan tunggu dia di dalam."
"Rendy, tunggu! Aku tunggu di rumahmu saja ya, please."
"Ada-ada saja," dengus Rendy yang mulai merasa kesal.
Rendy melangkah menuju kamarnya. Namun kemudian membalikkan badan karena Sophia mengikuti langkahnya. Hampir saja Sophia menabraknya.
"Mau apa? Tunggu di sofa dan jangan berbuat yang tidak-tidak! Kamu lihat itu? Mereka tidak akan segan menyeretmu meskipun kamu seorang wanita." Tunjuknya pada beberapa bodyguard yang terlihat dari kaca.
Sophia tersenyum masam melihat sekilas pada para penjaga itu. Ia kemudian manoleh pada pelayan yang berada tidak jauh dari posisinya dan memberinya tatapan tidak ramah. Dengan berat hati, ia pun menuruti ucapan Rendy. Melangkah menuju sofa.
"Hei, Kau! Beri dia minum atau apa saja terserah," titah Rendy pada pelayan tersebut.
Rendy kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan pelayan yang mengangguk hormat padanya.
Sophia terlihat kecewa mendengar suara pintu kamar yang dikunci. Dengan malas ia memutarkan pandangan ke sekitar dan mau tak mau mengakui kemegahan tempat tinggal Amiera tersebut.
Sementara itu, Rendy mendengus kesal. Baru saja ia menelepon Bella menanyakan perihal Dave. Dan alangkah terkejutnya ia mengetahui kebenarannya dari Bella. Pria itu pagi ini pulang ke negaranya atas permintaan orang tuanya.
"Apa-apaan ini? Sophia membohongiku? Sial!" Umpatnya kesal.
Rendy bergegas pergi ke kamar mandi. Ia berencana akan video call dengan Amiera setelah dirinya terlihat segar.
Di sisi lain, seorang wanita yang tengah mengemudikan mobilnya mengeratkan pegangannya pada kemudi setelah panggilannya ditutup. Dengan cepat ia memutar arah dan melaju secepat yang ia bisa.
"Selamat malam, Nona." Penjaga yang menyapanya membukakan pintu. Dengan langkah besar ia menghampiri wanita yang sedang duduk di sofa.
"Miss Bella, a-ada apa anda ke sini?" tanya Sophia yang tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya melihat Bella ada di sana.
"Harusnya aku yang menanyakan itu padamu. Sedang apa kamu di sini?" tanya Bella ketus.
"Saya, saya sedang menunggu Dave. Kebetulan tadi Rendy meminta saya menunggu di sini."
"Oh ya? Jadi kamu tidak tahu kalau Dave diminta pulang oleh orang tuanya?"
"A-apa, benarkah?" Sophia tergagap.
"Hmm, dan sebaiknya kamu pulang denganku sekarang." Tegasnya.
"Tapi, saya sedang menunggu Rendy. Kalau Miss mau pulang, silahkan."
"Heh. Mau aku beri tahu sesuatu?"
"Apa itu, Miss?"
__ADS_1
"Selama Amiera tidak ada, penthouse ini dalam pengawasan Mike. Kamu belum tahu Mike seperti apa, heh? Dia tidak suka jika ada sesuatu yang tidak seharusnya justru terjadi dan dia tidak akan segan menyelesaikan dengan caranya."
"Saya tidak melakukan apa-apa, Miss." Kilahnya.
"Tapi tidak seharusnya kamu ada di sini. Kalau Mike sampai tahu, dia tidak akan segan melemparkanmu dari luar sana." Tunjuknya.
Raut wajah Sophia berubah pucat. Sedikitnya ia pernah mendengar bagaimana kejamnya Mike pada siapa saja yang dianggapnya sampah. Dan bisa saja apa yang dikatakan Bella padanya barusan benar-benar akan terjadi.
"Terserah, pilihan ada padamu. Aku mau pulang saja. Sepertinya Rendy langsung istirahat. Dia pasti lelah karena langsung bekerja setelah perjalanan jauhnya."
Bella beranjak dari duduknya. Namun langkahnya terhenti mendengar panggilan Sophia.
"Miss, sa-saya akan ikut dengan Anda. Bolehkan?" Tanyanya pelan. Bella hanya menjawab dengan kedua bahu yang diangkat sedikit.
Sophia meraih tasnya dan bergegas mengikuti langkah Bella. Sebelum mencapai pintu, ia menoleh sejenak pada pintu kamar Rendy yang masih tertutup rapat.
Sophia merasa kecewa. Karena selain malam ini tidak berkesempatan lebih dekat dengan pria pujaannya, ia juga harus bisa melupakan pria itu selamanya. Karena walau ia menginginkan Rendy jadi miliknya, nyatanya ia lebih menginginkan nyawanya tetap ada.
Di sisi lain tempat itu, Rendy yang sedang malakukan panggilan video dengan Amiera menyunggingkan senyumnya setelah sekilas membaca pesan yang diterimanya.
📩 Miss Bella [Sudah beres. Aku pastikan dia tidak akan berani datang lagi.]
📱 "Ada apa, Kak? Kakak membaca pesan dari siapa?"
📱 "Dari Miss Bella, Sayang. Dia memberitahukanku bahwa pekerjaannya sudah selesai."
📱 "Pekerjaan apa?"
📱 "Mengusir serangga."
Rendy terkekeh pelan melihat Amiera yang memperlihatkan ekspresi bingung. Sekilas ia bisa melihat Meydina yang sedang terlelap di samping Amiera.
Malam sudah larut, akan tetapi tidur Amiera terganggu karena rasa kurang nyaman yang menderanya.
📱 "Sayang, istirahatlah. Kamu harus menjaga kesehatanmu."
📱 "Amie tahu, Kak. Sebentar lagi ya, Amie masih rindu."
📱 "Terlebih lagi aku. Aku ingin sekali mengusap perutmu yang seksi itu."
📱 "Kak Rendy mau lihat? Baby sepertinya tahu, dia bergerak."
Rendy menatap haru saat Amiera mengarahkan kamera ponsel pada perutnya. Istrinya itu bahkan menyalakan lampu dengan remot yang sedang dipegangnya.
📱 "Kakak melihatnya?"
__ADS_1
📱 "Iya, Sayang. Aku melihatnya," ucap Rendy sambil menggerakkan jarinya di layar ponsel membayangkan dirinya menyentuh langsung bagian perut Amiera yang sedang memperlihatkan benjolan yang berubah-ubah.
"I love u, Sayang." Batinnya.