
Happy reading...
Derap langkah kaki terdengar saling bersahutan satu dengan lainnya. Tawa riang anak-anak juga terdengar menggema di lorong salah satu lantai rumah sakit ternama di ibukota.
"Baby, ayo cepat! Sini Kakak gendong," ujar Zein saat Fatum tertinggal jauh darinya. Amar dan Queena sudah berlarian di depan mereka.
Maliek terkekeh pelan melihat Zein yang berusaha menggendong Fatima di punggungnya.
"Udah Kak, jalan aja. Adiknya berat," ujar Maliek.
"Iya, Pi. Baby belat," sahut Zein yang hampir terhuyung. Zein menggandeng adiknya dan berlari kecil agar bisa menyusul Amar yang sudah bersama Alvin.
Dibelakang, Salman yang ditemani Meydina dan Laura mencoba berjalan santai. Sebenarnya mereka sudah tidak sabar ingin segera bertemu anggota baru dalam keluarga mereka, namun tidak mungkin mereka seheboh Zein dan juga yang lainnya.
"Wira, selamat ya!" ucap Salman.
"Selamat juga untuk anda, Tuan. Cucu anda bertambah satu," sahut Wira.
"Ya, selamat untuk kita berdua." Kekehnya.
Setelah saling menyapa, mereka pun masuk ke dalam ruangan. Keempat cucu Salman berjingkrak kegirangan melihat bayi mungil yang masih merah itu sedang dalam pangkuan Nura.
"Haai, Mommy!" seru Meydina pada Amiera yang tersenyum menyambutnya.
"Kak Mey, Kak Laura..." Amiera memeluk keduanya bergantian.
"Selamat ya! Kamu hebat," puji Meydina.
"Terima kasih, Kak."
"Hai, Papi!" goda Meydina pada Rendy.
"Apaan sih, Mey. Papa, bukan Papi."
"Eh iya ya, Papi kan bapaknya anak-anak gue. Hehe.."
"Dasar Loe," kekeh Rendy pelan.
Salman menatap haru pada Amiera. Ia tidak menyangka putrinya yang manja itu kini sudah menjadi seorang ibu.
"Mami! Baby-nya marah," ujar Fatima.
"Bukam marah, Sayang. Memang bayinya masih merah," sahut Maliek yang kemudian menggendong Fatima agar bisa lebih jelas melihat bayi Amiera.
"Sudah diberi nama? Siapa namanya?" tanya Laura.
"Hmm, siapa ya?" Amiera tersenyum menoleh pada suaminya.
"Arkana Putra Atmadja," sahut Rendy.
"Hai, Baby Arka! Kenalkan ini Queena, kalau ini.."
"Kakak Zein, ini Amal, kalo ini Baby Fatum." Zein meneruskan kalimat Laura dengan percaya dirinya.
"Udah ada Baby Arka, Kak. Jadi Fatum aja," protes Meydina.
"Enggak, Mi. Ini juga Baby," sahut Zein sambil menunjuk pada Fatima yang berada dalam dekapan Maliek.
__ADS_1
"Oke, kita jadi punya Baby dua!" seru Wira.
"Hole!" Zein bertepuk tangan diikuti Fatima.
"Kakak sayang banget ya sama Fatima? Coba Auntie mau dengar, sayang Amar atau Fatima?"
"Baby." Sahutnya cepat.
"Hmm, Queen atau Fatima?"
"Baby, Auntie.."
"Sayang Mami atau Baby?" goda Meydina.
"Mami," sahut Zein yang langsung memeluk Meydina yang berdiri di sampingnya.
"Amar juga, sayang Mami." Amar tak ingin kalah dengan kakaknya, ikut memeluk Meydina di sisi lainnya. Meydina hanya bisa terkekeh pelan dengan tingkah kedua jagoannya.
Ruangan itu semakin ramai dengan kedatangan Resty dan Bram. Juga anggota keluarga Atmadja lainnya. Mereka saling berfoto dan mengunggahnya di sosial media.
Rendy yang tidak biasa dengan hal-hal berbau sosial media hanya bisa tersenyum saat beberapa foto yang diunggahnya dibanjiri komentar teman-temannya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang terkejut mengetahui Rendy sudah menikah. Dan keterkejutan pun semakin bertambah saat mereka mengetahui Rendy menikahi adik Meydina.
Satu persatu anggota keluarga Al-Azmi pun pulang. Mereka sudah sepakat akan menggelar syukuran. Selain itu juga Nura meminta pengertian besannya untuk mengizinkan Amiera tinggal di rumahnya.
Salman tentu mengizinkan. Terlebih ini untuk kebaikan Amiera dan bayinya. Karena bagaimanapun ia tidak boleh lagi memaksakan kehendak pada anak-anaknya yang sudah berkeluarga.
***
Malam mulai menyapa, di ruangan itu hanya ada Alya. Rendy sedang membantu Amiera di kamar mandi. Rafael dan Wira pamit pulang sebentar. Sementara Nura sedang menerima panggilan telepon di luar ruangan.
"Semoga Auntie bisa segera menjadi Ibu. Supaya kamu ada teman main kalau ke rumah Opa," gumam Alya.
"Aamiin," sahut Nura.
Alya nampak terperanjak. Ia terdengar berdehem pelan untuk mengalihkan perasaannya.
"Ma..."
"Doa Mama selalu menyertai harapanmu, Al." Ucapnya.
"Terima kasih, Ma."
Nura mengusap lembut pucuk rambut Alya. Sebagai wanita sekaligus ibu, ia memahami benar bagaimana perasaan putrinya.
"Kebahagiaan kami adalah kebahagiaanmu juga, Sayang. Jangan dijadikan beban. Biarlah semua berjalan sesuai kehendak Tuhan."
Alya tersenyum dengan kedua maniknya yang berkaca-kaca. Ia merasa lega karena Sang Mamalah yang selama ini selalu bisa memahaminya.
***
Sejak kepulangan Amiera dari rumah sakit, suasana rumah Wira Atmadja selalu ramai. Selain kerabat, tetangga dan juga teman silih berganti berdatangan. Raut wajah Nura pun tak lepas dari senyuman, meskipun lelah tak membuatnya kehilangan semangat.
Setelah semua tamu pulang, Nura membawakan Amiera makan malam. Seperti hari-hari sebelumnya, Rendy selalu menemani sambil membiasakan diri menggendong bayinya.
"Ma, biar pelayan saja yang membawakannya. Mama pasti capek. Istirahat, Ma."
"Mama memang capek, Amiera. Tapi capek Mama hilang setiap kali melihat cucu Mama."
__ADS_1
"Mama bisa saja. Mama harus istirahat, Amie nggak mau kalau Mama sakit."
"Iya, Ma. Kalau Mama sakit, nanti siapa yang gantian jagain Baby-nya," ucap Rendy.
"Iya deh, Mama mengalah. Oma mau istirahat dulu ya, Sayang. Besok pagi kita berjemur lagi," ujar Nura kemudian mencium gemas cucunya.
Rendy menatap haru pada Nura yang sedang berlalu. Sudah lama ia tidak melihat rona bahagia itu dari wajah mamanya.
"Habiskan, Sayang." Pintanya pada Amiera.
"Iya, Kak. Mau?" Tawarnya sambil mengangkat sendok.
"Nanti saja. Papa akan makan setelah Mama sama Baby kenyang, oke Sayang?" Celotehnya seolah mengajak bicara pada bayinya.
Amiera ternyum tipis melihat tingkah Rendy. Ia bisa melihat jelas perbedaan sikap suaminya tersebut.
Di bagian lain rumah itu, Alya tersenyum kecut manatap pantulan wajahnya di cermin. Terbayang raut wajah bahagia kedua orang tuanya saat pertama kali memperkenalkan anggota baru dalam keluarga mereka. Bahagia dan pastinya bangga. Itu yang ingin mereka sampaikan dari raut wajah tersebut.
"Sayang, hei! Kok melamun? Hmm, sepertinya ada yang bakalan minta tas baru, atau sepatu? Atau liburan ke luar negeri," goda Rafael mesra.
Pria itu mengecup dan memeluk istrinya dari belakang. Rafael tahu benar perasaan Alya beberapa hari ini, namun ia mencoba mengalihkan pada hal lain dari pada harus membahasnya.
"Enggak. Alya nggak akan minta," kilah Alya.
"Oh ya, Sayang. Bagaimana kalau lusa kamu temani aku ke negara J? Ada lokasi yang harus aku survei. Mau ya?"
Alya mengangguk pelan. Tak lama raut wajahnya memeperlihatkan ekspresi tak biasa.
"Kamu pakai parfum apa sih? Kok bau," ujar Alya sambil mengendus baju yang dipakai suaminya.
"Bau, masa sih? Aku kan pakai parfum yang biasa. Kan kamu yang belinya juga," sahut Rafael yang kini menegakkan badannya dan mengendus bajunya sendiri.
"Ah enggak kok, Yang. Tadi sore aku mandi." Ujarnya lagi.
"Apanya yang nggak bau? Jelas-jelas Kakak bau," gerutu Alya.
"Terus, kamu mau aku bagaimana? Aku ganti deh ya bajunya," ujar Rafael sambil menuju lemari pakaian.
"Jangan cuma ganti baju dong, sekalian mandi." Ucapnya ketus.
Rafael menatap heran pada istrinya. Sekali lagi ia memastikan aroma tubuhnya yang menurutnya sama seperti biasanya.
"Aneh, apa hidungku yang bermasalah?" Batinnya.
"Mandi nggak!"
"Iya, Sayang. Aku akan mandi," sahut Rafael cepat.
"Kalau nggak mandi tidurnya di sofa," tunjuk Alya.
"Jangan dong. Aku mandi, Yang. Sekarang, nih lihat aku udah lepas baju."
"Sana di kamar mandi lepasnya!"
Rafael pun menuruti ucapan istrinya. Pria itu melangkah menuju kamar mandi dengan tanda tanya besar dalam benaknya.
"Bini gue kenapa ya?" gumamnya heran.
__ADS_1