Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
Honeymoon (tamat)


__ADS_3

Happy reading...


Histeria anak-anak beradu dengan suara baling-baling saat helikopter yang mereka tumpangi mendarat di helipad. Landasan itu terletak tidak jauh dari bangunan bergaya klasik berwarna merah bata.


Di salah satu sisi, beberapa pelayan pria dan wanita sudah menunggu. Mereka membungkuk hormat pada tuan yang sangat jarang mereka temui itu.


Zein dan ketiga saudaranya saling berkejaran. Mereka seolah merasakan kebebasan dalam balutan pesona pulau yang memukau.


"Papi! Mau main di pantai," pinta Amar sambil menunjuk bibir pantai.


"Pantainya yang di sebelah sana, Amar. Bersih, ombaknya juga tidak besar," tunjuk Salman.


"Asik! Queen juga mau ya, Kek." Salman mengangguk sambil terus melanjutkan langkahnya.


"Daddy, tunggu sebentar. Kita foto dulu."


Amiera meminta salah satu pelayan memotret mereka semua. Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka.


"Chesee!"


Kilatan blitz kamera bergantian memotret kebersamaan mereka. Setiap pasangan sibuk ber-swafoto mengabadikan keindahan di setiap bagian dari pemandangan di sekitar mereka.


Dari balkon atas, Meydina dapat melihat langsung ke arah pantai yang berpasir putih itu. Anak-anak berlarian dengan ditemani Riky dan juga Rendy yang menggendong Baby Arka.


Gelak tawa mereka terdengar menggema saat Rafael mengejar Riky yang menggendong Fatima. Alya, Amiera dan juga Alena masih disibukkan dengan kegiatan mereka yang ber-selfie ria dan membagikannya di sosial media.


"Kak, nanti malam kita bakar ikan yuk! Wah senangnya, Mey bisa puas makan seafood selama di sini."


"Boleh, gimana kalau kita buat nuansa ala-ala kemah gitu? Pasti seru," sahut Laura antusias.


"Oke."


"Apa yang oke, Sayang?" tanya Maliek yang tiba-tiba memeluk Meydina dari belakang.


"Papi nanti mancing ya?"


"Mancing?" Maliek terlihat heran sambil menoleh pada Alvin yang juga sedang memeluk Laura.


"Boleh," sahut Alvin.


"Beneran? Mami mau bakar ikan hasil pancingan Papi," pinta Meydina manja.


"Tapi nggak gratis ya." Maliek membalikkan tubuh Meydina dan tanpa aba-aba melahap bibir istrinya.


"Ada Kak Alvin sama..."


Kalimat Meydina terpotong oleh gerakan bibir Maliek. Wanita itu tidak mengetahui sedari tadi Maliek sudah mengkode Alvin agar meninggalkan mereka berdua.


Dari balik pintu kaca Alvin tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya pada Laura.


"Ke kamar yuk, mumpung Queen lagi di bawah." Bisiknya, langsung menarik pinggang Laura.


"Hubby, kita baru sampai."


"Aku tidak perduli, Sayang. Kamu berhutang satu malam padaku."


"Apa, hutang? Semalam Queen bangun atas keinginannya, kenapa jadi aku yang disalahkan?" Protesnya.


"Aah, sudahlah. Sebentar saja, kita main cepat. Oke?"


"Cepat apanya? Pembohong," gerutu Laura dengan senyum yang terkulum.


***


Setelah makan siang, para orang tua beristirahat. Terutama Alya yang mudah sekali merasa lelah. Membuat Rafael harus benar-benar extra memperhatikannya.

__ADS_1


Sedangkan Anak-anak seolah tak kenal lelah. Masih dengan semangatnya, mereka bermain di bibir pantai dengan ditemani beberapa pelayan yang memperhatikan dari dekat.


Sedari tadi Zein terus saja memekik setiap kali ia melihat kelomang. Ia merasa geli dengan gerakan hewan yang sejenis dengan kepiting tersebut.


"Amal! Jangan dikasih ke Baby!" Serunya. Zein melarang Amar yang memberikan seekor kelomang untuk dipegang adiknya.


"Ini buat Kakak," ujar Amar yang menyodorkan beberapa kelomang yang dikumpulkannya dalam wadah kecil.


"Hiii, Amal nakal! Papi!" Pekiknya berlari menuju ke arah Maliek yang menghampiri mereka.


"Kakak masih belum berani pegang?"


"Geli, Pi. Hiii," ujar Zein sambil bergidik melihat kelomang-kelomang itu bergerak keluar dari dalam wadah.


"Iiiy itu, Pi! Keluar dari cangkangnya!" Pekiknya lagi.


Maliek terkekeh melihat ekspresi putra sulungnya. Kemudian ia berteriak memanggil anak-anak.


"Sayang, siapa yang mau buat istana pasir?" tanya Maliek yang sudah menenteng peralatan bermain anak.


"Queen, Uncle!"


"Fatum juga, Pi."


"Kakak! Kakak, Pi. Kakak," seru Zein.


"Amar juga," sahut Amar sambil mengacungkan telunjuknya.


"Ayo, ke sana! Pasirnya lembut, Kakek juga sudah ada di sana." Ajaknya.


"Hore! Ayo, Pi. Ayo!" seru Amar.


Maliek membagikan beberapa peralatan seperti ember kecil, sekop, juga berbagai cetakan lucu yang akan mereka gunakan nanti. Mereka berjalan beriringan dengan semangatnya menuju sisi lain dari pulau tersebut.


***


"Salman, tunggu aku!" Serunya.


"Ayolah, Sayang. Kau bahkan tidak bisa menghindari ombak itu." Kekehnya.


Wanita itu terus berlari menggapai pria di depannya. Saat pria itu berbalik, seketika ia menghambur dalam pelukannya.


Gelak tawa terdengar menggema dari keduanya. Sebisa mungkin pria itu menghindari ombak yang kian tinggi menerjang mereka berdua.


"Anita," gumam Salman dengan senyum yang tersungging di wajahnya.


"Ayah, kenapa melamun sendirian?" tanya Meydina yang memasangkan syal di leher ayahnya.


"Ayah tidak sendirian, Mey. Disini ada kenangan ayah dengan ibumu. Dan lihatlah, anak-anak terlihat gembira bermain pasir di sana. Ayah merasa saat ini Anita sedang melihat kita." Ujarnya.


Meydina melingkarkan tangannya di lengan Ayah Salman. Ia menyandarkan kepala di pundak pria paruh baya itu.


"Saat ini Ibu sudah bahagia. Ayah juga harus bahagia," ucap Meydina pelan.


"Ayah bahagia, Mey. Sangat bahagia. Sekarang Ayah menyadari, kebahagiaan itu datang dari keluarga kita sendiri. Melihat senyum dan tawa ada di wajah kalian, sudah cukup membuat Ayah merasa senang."


"Meydina sayang Ayah." Ucapnya sambil menggenggam tangan Salman.


"Ayah juga sangat menyayangimu," sahut Salman sambil menarik genggaman tangan itu dan mencium punggung tangan Meydina.


Lagi-lagi gelak tawa dan pekikan anak-anak mengalihkan perhatian keduanya. Amar dan Queen nampak puas dengan istana pasir hasil karya mereka. Begitu juga dengan Fatima yang tertawa geli melihat istana yang dibangun Rendy lambat laun terkikis oleh ombak yang semakin mendekati mereka.


"Ayo, Uncle. Tambah lagi pasilnya," pinta Zein pada Rendy.


Amiera yang memangku putranya terkekeh melihat tingkah Zein yang meminta Rendy menguburnya dalam pasir dan hanya menyisakan bagian kepalanya.

__ADS_1


"Udah ya. Uncle takut nanti kamu susah bernafas."


"Belum, itu kakinya masih kelihatan."


"Kak, ombaknya makin maju. Ya pasti kena dong," ujar Amiera.


"Iya nih Uncle, kulang dalem." Sahutnya.


Rendy yang mengulumkan senyumnya itu pun menuruti keinginan Zein dengan terus menambahkan pasir dibagian kakinya.


Di sisi lain, Maliek, Alvin, Rafael dan Riky sedang memancing. Mereka ditemani seorang pelayan pria yang sepertinya sudah lihai dalam hal memancing.


Keempat pria itu tak kalah hebohnya saat ada ikan yang menyambar umpan mereka. Gelak tawa juga menggema manakala Maliek yang tak lihai melepas ikan dari kailnya harus merelakan ikan hasil pancingannya kembali ke laut lepas.


Sementara itu, Laura dan Alena dibantu beberapa pelayan mempersiapkan segala perlengkapan yang mereka butuhkan. Alya hanya terduduk menyaksikan sambil menikmati camilan yang disediakan.


"Sayang, udah yuk. Mandi dulu, mau bakar ikan nggak?" Meydina mengajak anak-anak beranjak dari tempatnya. Angin sore semakin kencang, anak-anak juga sudah mulai kedinginan.


"Uncle, tolongin Kakak! Susah ini bangunnya," pinta Zein.


"Tinggalin Kakak yuk!" ajak Amar.


"Ayo!" seru Queena.


"Ayo, bye Kakak!" ujar Fatima.


"Baby, tunggu Kakak! Mami!" pekik Zein.


"Ada Uncle Rendy, Kak."


Rendy lagi-lagi hanya bisa terkekeh sambil menyirami pasir yang menutupi tubuh Zein dengan air. Sementara itu Amiera menghampiri Salman.


"Dad, ke sebelah sana yuk. Anginnya sudah mulai kencang."


Salman mengangguk dan menyempatkan mencium Baby Arka. Ia terlihat gemas pada cucunya yang terlihat menggemaskan dengan kedua pipi yang gembil.


Kebersamaan mereka sore ini terasa hangat. Anak-anak dengan segelas susu hangat di tangan mereka. Para pria yang sedang membakar ikan hasil pancingan juga beberapa hewan laut yang sudah di sediakan. Selain hewan laut, daging kambing juga ada mengingat Salman yang alergi terhadap seafood.


"Papi, Kakak mau coba bakal ikan."


"Boleh, ini pegang. Jangan terlalu dekat, Kak. Panas..."


"Uncle, Amar juga mau."


"Siap. Sebentar ya, kita ambil lagi. Yang ini udah mateng," sahut Riky.


Aroma yang tercium benar-benar menggugah selera. Membuat mereka sudah tidak sabar ingin segera menikmatinya.


"Mommy, lihat! Langitnya bagus, mataharinya mau sembunyi!" seru Queena.


Semua tatapan teralihkan. Terpesona oleh keindahan alam yang terbentang nyata di depan mata. Sunset menjinggakan bentangan langit di atasnya. Nampak indah dengan pantulan yang terlihat di lautan lepas.


Disaksikan setiap orang yang ada di sana, Salman menatap satu persatu putri yang ada di kedua sisinya. Di kecupnya pucuk kepala mereka secara bergantian. Suasana haru meyeruak, namun langsung berubah saat Zein terdengar memekik.


"Papi, ikannya gosong!"


Mereka menoleh dan seketika tergelak melihat raut wajah Zein yang menatap jijik pada ikan yang sudah hitam legam.


...Tamat...


-----------


Nantikan extra part-nya ya...


Terima kasih😊

__ADS_1


__ADS_2