Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
modus


__ADS_3

Happy reading...


Senja telah menghilang digantikan malam yang mulai merangkak saat Riky mengantarkan Alena pulang ke rumahnya. Dalam diamnya, sesekali gadis itu menyunggingkan senyuman kala mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.


"Senyum-senyum sendiri. Ajakin aku juga dong," goda Riky.


"Apaan sih Kak Riky?" kilah Alena.


"Itu kamu senyum sendiri, kalo ada yang lucu dibagi dong sama aku. Biar ada yang nemenin, nggak senyum sendiri."


"Nggak ada yang lucu. Kalau dipikir lagi, Mama orangnya baik. Papa juga lucu," ujar Alena tersipu.


"Aku kira kamu akan berasumsi negatif tentang Mama. Selama di rumahku tadi, Mama hampir tidak membiarkanmu duduk. Ambikan ini, bawakan itu, potong ini..."


Alena terkekeh pelan melihat gaya bicara Riky yang dibuat-buat. Tadi saat dirumah pria itu, ia diminta Mama membantunya membuat soto ayam kesukaan Papa.


Entah mengapa dibalik sikap Mama yang terkesan judes, Alena justru merasa wanita itu sebenarnya baik dan perhatian. Selama mereka memasak, Mama menanyakan banyak hal tentang keluarganya. Mama tidak menyangka jika Alena adik Alvin, karena ternyata Mama pernah mengenal almarhumah Tante Lucy.


***


Ada yang berbeda dengan pemandangan malam ini. Bobi mengernyitkan keningnya melihat Alvin, Maliek dan Rafael datang dengan dua orang wanita bule. Ia hanya mengangguk hormat saat mereka melewatinya dan berlalu ke ruangan yang biasa mereka gunakan.


"Bob, buatkan yang biasa ya!" pesan Rafael.


"Siap, Bos!" Sahutnya.


Setelah ketiga pria itu menikah, Bobi hanya diminta menyuguhkan koktail hasil racikannya. Ia menggelang pelan saat menyaksikan beberapa wanita-wanita seksi yang terlihat kecewa karena penolakan dua pria yang dulu terkenal casanova.


"Hai, Bob!"


"Malam, Bos Riky! Tidak biasanya kalian membawa wanita," ujar Bobi pelan.


"Mereka kenalan kami yang kebetulan sedang berkunjung ke sini." Sahutnya.


"Oh, pantas saja. Tadinya kupikir Tuan Alvin dan Bos Rafael kumat lagi," kelakar Bobi.


"Bisa saja kamu, Bob. Ada Maliek, tidak akan mungkin mereka berani melakukannya."


"Benar juga."


Riky pun pamit. Ia menyusul ketiga sahabatnya yang datang bersama Bella dan juga Julie. Tadi saat dalam perjalanan mengantar Alena, Rafael memintanya datang ke tempat ini.


Suasana terasa ramai, Alvin dan Rafael dengan santainya berkelakar dengan Bella dan Julie. Sementara Riky hanya menanggapi seperlunya, begitu juga dengan Maliek.


"Kenapa loe Raf? Suntuk banget," tanya Alvin yang menangkap raut wajah tak biasa dari sahabatnya itu.


"Iya, benar. Gue perhatikan loe ketawa tapi sepertinya pikiran loe nggak di sini. Kenapa, Alya ngelarang loe kesini?" tanya Riky.


"Nggak juga. Selama kesininya sama kalian, boleh-boleh aja." Sahutnya.


"Terus?" tanya Riky.


"Gue bingung deh, belakangan ini Alya kok aneh ya?" keluh Rafael.


"Aneh kenapa?" tanya Alvin mulai penasaran.


"Masa gue dibilang bau? Padahal gue udah mandi, udah wangi masih aja diprotes. Mana udah dua hari ini gue dikasih jatah cuma sekali." Keluhnya lagi.


"Ya ampun. Nggak Loe, nggak Maliek, sama maniaknya. Memangnya sehari berapa kali? Tiga kali? Udah seperti minum obat aja," dengus Riky.


"Kamu masih perjaka, Rik?" celetuk Julie.


Riky terkesiap lalu tersenyum kikuk dan sontak di sambut gelak tawa teman-temannya kecuali Maliek. Bella mengulumkan senyum saat Riky melirik padanya.


"Dia sama Maliek itu duo suci, beda sama Gue dan Alvin..."


"Duo bejat," timpal Riky.


"Bukan bejat, enak aja. Kalau maksa itu baru bejat," kilah Rafael.


"Terserah Loe deh," sahut Riky malas.


"Loe ngatain Gue maniak, sebentar lagi Loe bisa-bisa ngalahin Maliek. Ya nggak, Liek?"


Maliek hanya mengangguk sambil tetap fokus pada layar ponselnya. Pria itu tidak menyadari sedari tadi Julie menatap kagum padanya.


"Kalian masih lama nggak? Mey udah nyuruh gue pulang. Loe mau pulang sekarang nggak, Vin?" tanya Maliek.

__ADS_1


"Boleh. Gue juga janji nggak lama di sini," sahut Alvin.


"Pengen dong gue juga ada yang nyuruh pulang. Bini gue lagi ilfeel sama gue, ah jadi malas pulang."


"Paling juga bini loe hamil," ujar Maliek asal.


"Wah! Yang benar, Liek?" Rafael tiba-tiba berseru membuat Maliek merasa heran.


"Mana gue tahu," sahut Maliek bingung.


"Bisa jadi. Seingat gue, Mey juga dulu gitu. Iya kan, Liek?" tanya Alvin.


"Iya juga sih," sahut Maliek pelan.


"Aamiin, semoga aja iya. Gue pulang duluan ya, bye ladies!" Rafael terlihat senang dan tanpa basa-basi meninggalkan tempat tersebut.


"Bye..." sahut Bella dan Julie bersamaan.


"Ada-ada aja," kekeh Riky.


"Gimana tadi, Rik? Nyokap loe nggak masalah kan sama Alena?" tanya Alvin.


"Loe tahu Nyokap Gue gimana, Vin. Tapi untungnya Alena bisa melihat sisi baik dari Nyokap."


"Syukurlah. Terus, kalian sudah ada rencana menikah?" tanya Alvin lagi.


"Entahlah, Vin. Alena sepertinya belum yakin sama gue. Padahal gue udah ngebet," sahut Riky malas.


"Udah pengen tahu rasanya ya, Rik?" goda Bella.


"Hehe, tahu aja. Tapi aku maunya sama istriku. Cari aman," sahut Riky sambil menyesap minumannya.


"Aku kagum sama kamu," puji Bella yang juga menyesap minumannya.


Riky menatap heran pada Alvin yang tengah berbisik pada seorang wanita diambang pintu. Tidak hanya Riky, bahkan yang lainpun merasakan hal yang sama.


Dua orang wanita berpenampilan seksi masuk menghampiri Riky. Dengan gerakan tangannya, Alvin meminta Bella dan Julie menjauh dari Riky.


Meski tidak mengerti maksud Alvin, keduanya menurut juga. Dua wanita seksi tadi nampak menggoda Riky yang kebingungan. Ingin menolak, tapi Alvin justru memintanya bersikap santai. Alhasil, Riky pun pasrah saat Alvin memotretnya bersama dengan dua wanita tadi.


"Apa maksudmu, Vin?" tanya Bella heran.


"Kalian saksinya ya, aku tidak berbuat macam-macam," tegas Riky.


"Santai saja, kamu akan lihat hasilnya besok." Alvin menggoyangkan ponselnya. Riky masih belum mengerti dan tak mau ambil pusing. Sementara maliek, hanya menyeringaikan senyumnya.


***


Sinar mentari mulai menampakkan diri. Sejuknya udara pagi mulai menyapa kulit ari. Dengan enggan Alena bangkit dari tidurnya. Mengembalikan kesadaran sepenuhnya sambil menyalakan ponsel yang semalam ia matikan.


Belum sepenuhnya gadis itu tersadar, ia sudah dikejutkan dengan beberapa foto yang diterimanya dari Alvin. Serta sebuah pesan yang kirimkan kakaknya tersebut.


📩 Kak Alvin [Ikat dia sebelum para wanita itu berhasil merayunya!]


"Ikat? Memangnya Kak Riky kambing," gerutu Alena kesal.


Di luar ia mendengar suara pintu gerbang yang dibuka. Tidak lama kemudian terdengar suara klakson dari mobil yang baru saja datang.


"Tuh, kambingnya datang. Gimana cara ngikatnya? Kak Riky kan bukan anak kecil," gumam Alena.


Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu. Alena dengan enggan membukanya. Menyambut Riky dengan raut wajahnya yang ditekuk.


"Kenapa, Sayang? Kok cemberut?" tanya Riky yang memeluknya dari belakang.


"Kak Riky semalam darimana?" tanya Alena ketus sambil melepas tautan tangan Riky di pinggangnya.


Riky yang merasa heran, cepat-cepat melihat ponselnya.


"Tidak ada pesan ataupun panggilan tak terjawab dari Alena," batin Riky heran.


"Kok nggak dijawab?" Alena kembali naik ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya.


"Aku dari club, Sayang. Sama Alvin dan yang lainnya," sahut Riky menghampiri Alena.


"Hanya mereka?" selidik Alena.


"Sama Bella dan juga Julie."

__ADS_1


"Siapa lagi?"


"Sudah. Hanya mereka," sahut Riky yang belum mengerti apa yang terjadi.


"Bohong," dengus Alena.


"Kenapa sih, Yang? Kamu beneran PMS ya? Dari kemarin emosi kamu naik turun. Gemes deh jadinya." Riky mencubit ujung hidung Alena dan mengecup sekilas bibirnya.


Bukannya membalas, Alena justru menyelimuti Riky dan membuat pria itu berbalut selimut.


"Kamu apa-apaan sih, Len? Aku jadi nggak bisa gerak," tanya Riky pasrah saat Alena yang sudah berdiri sedang berusaha mengikatkan kedua ujung selimutnya dengan posisi Riky yang terngkurap.


"Kata Kak Alvin, Kak Riky harus diikat. Ya udah, Alena ikat begini aja."


"Alvin?"


"Jadi ini yang dimaksud Alvin semalam. Ah, dia nggak tahu adiknya ini nggak peka." Batinnya pasrah.


"Aku engap, Sayang."


"Biarin," sahut Alena yang menelentangkan posisi Riky.


"Kamu tega ih sama aku."


"Kalau mau protes, bilangnya sama Kak Alvin. Kak Riky nakal kalau nggak lagi sama Alena." Gerutunya.


"Nakal? Kamu lama-lama ngikutin Zein ya? Bukan ini maksud Alvin, Sayang."


"Memangnya Kak Riky tahu, Kak Alvin bilang apa?"


"Kan tadi kamu yang bilang, Alvin nyuruh kamu ngikat aku."


"Memang iya," sahut Alena polos.


"Bukan ngikat begini. Tapi ikat aku dalam pernikahan. Paham?"


Alena yang menyadari kekonyolannya pun hanya bisa tersipu malu. Raut wajahnya yang memerah membuat Riky merasa gemas.


"Hmm, merahnya. Pasti malu ya?" goda Riky.


"Enggak. Kenapa harus malu?" Kilahnya.


"Ah masa sih? Buka dong, Sayang. Kamu sengaja ya biar aku pingsan. Terus kamu bisa ngasih aku nafas buatan. Iya kan? Hmm, modus."


"Enggak. Enak aja. Kenapa harus modus segala. Kalau mau cium ya cium aja," delik Alena.


"Kalau nggak modus, coba buktikan!" tantang Riky yang memajukan bibirnya.


Dengan malu-malu Alena mengecup bibir Riky. Namun pria itu nampak kecewa.


"Ah! Sayangnya aku masih begini, jadi nggak bisa lama. Nggak mau tahu ah, kalau sudah dibuka kamu harus cium lagi," protes Riky.


"Berarti Kak Riky dong yang modus? Ih, dasar!" Umpatnya kesal dan semakin kesal saat Riky menertawakannya.


"Buka dong." Pintanya.


"Nggak mau, biarin aja gitu." Deliknya.


"Kan mau lagi," ucap Riky sambil menggerak-gerakkan bibirnya yang dimajukan.


"Nggak!"


"Jangan nyesel lho ya. Besok aku kan pergi lagi," goda Riky.


"Iih, Kak Riky gitu."


Alena yang tersipu itupun membuka ikatan selimut tipisnya.


 


Hai, Readers!


Terima kasih untuk dukungan kalian selama ini. Mohon maaf masih banyak typo🙏


Kita ada dibagian akhir cerita ya. Kalau boleh author mau tahu, kalian ingin cerita ini sampai dimana? Mengingat cerita ini merupakan drama keluarga yang kompleks, bukan menceritakan satu pasangan saja.


Komen ya, siapa tahu bisa dipertimbangkan. Terima kasih😁

__ADS_1


__ADS_2