Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
menunggu


__ADS_3

Happy reading...


Jika biasanya sepulang kerja Amiera akan membersihkan diri dan istirahat, maka tidak untuk petang ini. Gadis cantik itu sedang memperhatikan bagaimana pelayannya mempersiapkan hidangan pasta.


Tadi sore saat pulang bersama, Amiera mengundang Rendy untuk makan malam di apartemennya. Entah serius atau tidak, pria itu berkelakar bahwasanya ia bersedia jika Amiera sendiri yang memasaknya. Dan tantangan itupun spontan di sanggupi oleh Amiera.


"Tunggu dulu, maksudmu setelah menumis ini baru masukkan saus pasta itu, bagitu kan?" tanya Amiera.


"Benar, Nona." Angguknya. Ini kali kedua ia membuat hidangan yang sama dan Nonanya belum mengerti juga.


"Nona, bagaimana jika pasta pelengkapnya saya buatkan. Jadi Nona tinggal merebus spageti dan menghangatkan sausnya," usul pelayan itu.


Amiera menolak usul tersebut, karena itu artinya ia membohongi Rendy. Maka ia pun meminta pelayan itu sekali lagi membuatnya.


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Amiera sudah bersiap dengan gaun sederhana dan make-upnya yang senatunal mungkin.


Saat keluar dari kamarnya, suasana dalam apartemennya sangat sepi. Para pelayan dan penjaga memang mempunyai tempat mereka sendiri di bagian samping apartemennya.


Sambil menunggu, Amiera yang kini telah menggunakan apron mengeluarkan beberapa bahan yang sudah di siapkan pelayannya di dalam lemari pendingin.


Dengan susah payah gadis itu mengiris bahan pelengkap untuk saus pastanya. Namun begitu senyum manis masih saja menyertai aktivitasnya.


"Aww!" Pekiknya.


Tanpa sengaja ujung jarinya teriris. Amiera segera mencari plester untuk lukanya.


Hampir satu jam sudah berlalu, namun yang di tunggu belum juga datang. Karena penasaran, Amiera pun menelepon ponsel Rendy. Namun sayang ponselnya tidak aktif.


"Mungkin ponselnya sedang dicas jadi dimatikan," gumam Amiera menghibur diri.


Amiera sudah membayangkan tahap demi tahap cara membuat pasta, namun sudah hampir jam sembilan yang ditunggu masih belum datang juga.


Sementara itu di apartemen Rendy, suasana sangat hening dan juga gelap. Hanya lampu dari luar yang terlihat dari kaca jendela yang belum ditutup.


Rendy mengerjapkan matanya, ia terkejut dengan suasana kamarnya. Cepat-cepat ia menyalakan lampu dan alangkah terkejutnya saat melihat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam.


"OMG, gue kan ada janji sama Amiera. Aduh, gimana ini? Kok bisa sih gue ketiduran," gumam Rendy.


Pria itu bergegas ke kamar mandi, kemudian cepat-cepat mengganti bajunya dengan pakaian casual. Saat membuka pintu, Rendy terkejut mendapati Amiera sedang jongkok di depan apartemennya.


"Amiera?"


"Hai, Ren. Sorry, gue kira loe nggak ada di dalam."


"Ee, gue yang harusnya minta maaf. Sorry, Amie. Gue tadi ketiduran," ujar Rendy dengan raut wajah yang gugup.


Amiera tersenyum tipis. Ia merasa lega setidaknya Rendy tidak melakukannya dengan sengaja.


Mereka pun akhirnya memutuskan menikmati makanan yang dibawa Amiera di apartemen Rendy. Saat mengambilkan piring dan garpu, berkali-kali Rendy mengucap kata maaf pada gadis itu.


"Gimana, enak Ren?" tanya Amiera dengan wajah antusiasnya. Rendy mengangguk dengan senyuman yang dipaksakan.


Gadis itu tersenyum memandang Rendy yang sudah minum untuk kesekian kalinya.


"Kok kamu minum terus? Kan nggak pedas," tanya Amiera.

__ADS_1


"Iya ini, ee.. Aku kan baru bangun tidur Amie, jadi tenggorokanku kering." Dustanya.


"Oh..."


Sekilas Rendy melihat ujung jari Amiera yang terbungkus plester. Pria itu yakin Amiera terluka saat berusaha membuatkan makanan untuknya.


Rendy mencoba memaksakan diri untuk menghabiskan makanannya, ia tidak ingin melihat raut wajah Amiera yang kecewa. Namun ia menolak saat Amiera ingin menambahkan lagi spageti ke atas piringnya.


"Ini masih banyak, Ren. Sayang kalau dibuang," ujar Amiera.


"Aku udah kenyang, Amie. Terus kenapa kamu sendiri nggak makan?"


"Tadi sambil nunggu kamu, aku makan buah. Jadi kenyang deh," sahut Amiera.


Amiera menatap sisa spageti buatannya. Karena merasa sayang jika dibuang, ia pun menyuapkan makanan itu.


Satu detik...


Dua detik...


Dan... Amiera berlari menuju wastafel.


"Uwek! Kok rasanya asin banget!" Pekiknya.


Rendy mengulumkan senyumannya sambil memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Amiera mengetahui ekspresinya tersebut.


"Kamu ngerasain kan, Ren? Ini tuh asin banget," ucap Amiera yang kini menuangkan air minum yang ketiga kalinya.


"Menurutku nggak terlalu kok. Buktinya punyaku habis," dusta Rendy sambil berdehem.


"Normal dong, ada-ada aja kamu ini." Kekehnya pelan.


Amiera tersenyum puas mendengar ucapan Rendy. Melihat senyum Rendy, setidaknya usahanya tidak sia-sia.


***


Dentuman suara musik yang memekakan telinga berpadu dengan gemuruh suara manusia yang sedang terbuai dosa. Di salah satu meja, seorang pria sedang menikmati minumannya dengan raut wajah yang menahan amarah.


Untuk pertama kali dalam hidupnya seorang wanita berani menghardiknya. Terlebih wanita itu hanya seorang pegawai di tempat kakaknya.


"Rupanya sikap lembut tidak mempan padamu, Amiera. Kau terlalu sombong dengan wajah cantik itu." Geramnya.


***


Hari berlalu, Amiera dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Calon mempelai wanita yang sengaja datang ke butik dengan ibunya merasa sangat puas dengan hasil kerja Amiera. Julie pun tentu bangga akan kinerja Designer barunya itu.


"Bagaimana dengan setelan prianya? Kapan akan diambil?" tanya Julie.


"Mungkin nanti sore," jawab pelanggannya.


Ibu wanita itu mendelik pada Amiera lalu bertanya, "Dimana kau membeli jam itu? Terlihat seperti asli. Tapi mana mungkin kau sanggup membelinya. Walaupun kau seorang designer, tapi kau masih pemula."


Amiera hanya tersenyum tipis.


" Kau benar, aku memang pemula. Dan aku membeli ini di tempat yang mungkin kau tidak akan sanggup membelinya," sahut Amiera santai.

__ADS_1


Ibu wanita itu menatap tajam pada Amiera. Beruntung putrinya cepat-cepat mengajaknya pulang. Jika tidak entah apa yang akan dilakukannya.


Julie terlihat bernafas lega. Hampir saja di ruangan itu terjadi perang dunia ketiga.


"Amiera, kau mengingat wajah pria itu kan? Aku harus pergi, jadi jika dia datang kau berikan saja. Aku sudah memberi tahunya bahwa aku tidak ada di butik," tutur Miss Julie.


"Baiklah," sahut Amiera.


Sejujurnya ia tidak ingat wajah pria itu. Tapi rasanya tidak mungkin ada orang lain yang akan mengambilnya.


***


Menjelang sore, pria itu belum datang juga. Bahkan sampai waktu butik akan di tutup, calon mempelai pria itu masih juga belum datang.


"Diana, kau tahu nomor ponsel Miss Julie? Tolong tanyakan padanya, apa yang harus aku lakukan dengan baju ini."


Sambil mendelik Diana pun menelepon Miss Julie.


"Apa katanya?" tanya Amiera.


"Sebentar, Miss akan menghubunginya," sahut Diana datar.


Setelah beberapa menit, Julie menelepon dan meminta Amiera mengantarkan baju pria itu ke alamat yang dikirimkannya. Dengan berat hati, Amiera pun menyanggupinya.


Amiera turun dari taksi di depan sebuah gedung apartemen. Ia kemudian menelepon pria itu dengan nomor yang diberikan atasannya.


Suasana di sana terasa sepi, karena memang bukan jalan utama. Lampu-lampu di pinggir jalan terlihat sudah mulai menyala.


Sial bagi Amiera, pria itu meminta ia datang langsung ke apartemennya. Namun mengingat tatapan pria itu terakhir kali mereka bertemu, Amiera dengan tegas menolaknya.


"Dasar br*ngsek. Kurasa dia sengaja melakukan ini. Jika dia punya waktu, kenapa tidak datang ke butik?" gerutu Amiera.


Hampir setengah jam Amiera berdiri dengan tangan mengangkat gantungan baju pesanan pelanggannya itu. Saat Amiera hendak meneleponnya lagi, seorang pria berjalan ke arahnya.


"Kau keras kepala, Nona." Ucapnya.


"Ini baju anda! Saya harus pergi sekarang."


"Secepat itu? Kau yakin tidak ingin sekedar mampir atau mungkin menginap di tempatku, Sayang?" tanya pria itu dengan tatapan yang sayu dan senyuman yang mengeringai.


Amiera bisa mencium aroma alkohol dari mulut pria itu. Tiba-tiba rasa takut menghinggapinya saat menyadari tempat itu terlalu sepi dan ia hanya seorang diri.


"Maaf, tapi saya hanya ingin memberikan ini." Tegasnya.


Amiera memberikan setelan baju itu pada pria yang terlihat enggan menerimanya. Ia tidak perduli lagi jika baju itu akan jatuh. Yang ia inginkan hanya pergi dari tempat itu.


Namun sayang, saat Amiera memutar badannya, tangan pria itu dengan cekatan meraih tangannya.


"Kau mau kemana, Sayang?" ucapnya sambil berusaha menarik tangan Amiera.


Bersamaan dengan itu, ada seseorang yang menepuk pundak pria itu dari belakang. Dan saat pria itu menoleh...


Bugh.


Satu pukulan telak mendarat di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2