
Happy reading...
Siang ini panasnya begitu terik. Maliek melangkahkan kakinya memasuki sebuah restoran khas Jepang untuk menemui salah satu kliennya.
Perawakannya yang tinggi tegap dengan wajahnya yang rupawan menarik perhatian pengunjung di restoran tersebut, terutama kaum hawa. Kaca mata hitam yang dikenakannya membuatnya semakin terlihat sempurna.
Seorang pelayan menggeser pintu ruangan VVIP yang telah di pesan kliennya. Kali ini mau tidak mau Maliek sendiri yang menemuinya karena Riky sedang berada di London.
"Selamat siang, Maliek! Apa kabar?" sapa seorang pria.
"Siang, kabar baik. Lho kok kamu, Gas?" tanya Maliek heran. Ia dan pria itu bersalaman.
"Iya. Kaget ya? Udah lama kita nggak ketemu. Tadi waktu aku telepon Kiran katanya mau ada janji sama kamu. Jadi sekalian aku jemput aja dia dan ikut gabung di sini. Nggak apa-apa kan?" Tanyanya.
"It's OK," sahut Maliek santai.
Pria itu bernama Bagas. Salah satu teman kuliah Maliek dulu. Awalnya ia dan Maliek cukup dekat. Namun sejak Maliek mengenal ketiga sahabatnya, Bagas seolah menghindarinya.
Tidak lama kemudian, seorang wanita seksi terlihat memasuki ruangan tersebut. Wanita itu bernama Kiran, adik bagas dan merupakan klien Maliek.
"Sudah lama, Kak Maliek? Maaf Kiran barusan dari toilet."
"Nggak juga. Aku baru datang," sahut Maliek.
Kiran duduk di sebelah Maliek. Pakaiannya yang seksi memamerkan kemolekan tubuhnya membuat Maliek merasa risih.
Saat mereka sedang membicarakan pekerjaan, Bagas pamit keluar karena ada yang meneleponnya.
"Maaf ya, Kakakku tadi memaksa ingin bertemu denganmu."
" Tidak apa, kami memang sudah lama tidak bertemu dan selama ini aku tidak pernah mendengar kabarnya. Tinggal dimana dia?" tanya Maliek.
"Dia, dia tinggal di negara S. Ada bisnis keluarga kami yang harus diurusnya di sana," sahut Kiran.
"Oh."
Tidak lama, Bagas kembali sekalian pamit pada mereka. Ia juga meminta Maliek mengantarkan Kiran ke kantornya.
"Bisa kan, Liek? Sorry, aku udah lancang nyuruh orang sehebat kamu buat nganterin adikku."
"Kamu berlebihan. Aku akan antar dia, jangan khawatir."
Bagas pun meninggalkan mereka. Maliek berpindah posisi duduk. Ia merasa kurang nyaman berada di ruangan itu hanya berdua dengan Kiran.
***
London
"Mi, Mami..." dengan botol susu kosong di tangannya, Zein berjalan keluar kamar memanggil-manggil maminya dengan suara pelan.
Seorang pelayan menghampiri, namun Zein mengelengkan kepalanya.
"Mami! Kakak mau susu," rengek Zein.
Zein naik ke atas sofa dan membenamkan wajahnya pada bantal sofa. Ia menangis sejadi-jadinya. Mungkin Zein sudah menyadari bahwa maminya tidak ada di sana.
Salman keluar dari kamarnya. Suara tangisan Zein menggema dalam ruangan tersebut.
"Zein, kenapa Nak?"
"Kakek!" Serunya.
Zein turun dari sofa dan berlari ke arah Salman.
"Zein mau apa? Kenapa nangis, Sayang?" tanya Salman pada Zein yang kini berada dalam dekapannya.
"Kakak mau susu. Kakak mau Mami," isak Zein.
"Alvin belum bangun?"
"Kakak mau Mami, bukan Daddy!" Sahutnya.
__ADS_1
Salman kebingungan menghadapi sikap Zein. Ia kemudian berseru memanggil-manggil Alvin sambil berjalan menuju kamar Alvin.
"Vin, Alvin!" panggil Salman.
Alvin yang mendengar suara Salman terhenyak. Ia terkejut melihat tidak ada Zein di tempat tidur maupun di bagian lain kamar itu.
Alvin segera turun dari tempat tidurnya, bersamaan dengan Salman yang membuka pintu. Alvin bernafas lega melihat Zein ada dalam dekapan Kakeknya.
Alvin mengambil alih Zein. Anak kecil itu langsung melingkarkan tangannya di leher Alvin.
"Mau susu?" tanya Alvin dan dijawab anggukan oleh Zein.
"Kita bikin yuk!" ajak Alvin sambil berjalan keluar kamarnya.
"Mamu Mami juga," ucap Zein pelan.
"Kakak kan lagi sama Daddy, sama Kakek di rumah auntie. Kakak lupa ya? Janji apa sama Mami dan Papi?"
Zein terdiam. Sesampainya di ruang makan, Alvin meminta seorang pelayan membuatkan susu Zein. Sementara itu ia dan Zein mencuci muka di wastafel.
"Daddy jolok, nggak gosok gigi." Ujarnya.
Alvin terkekeh pelan.
"Papi suka gosok gigi kalau bangun tidul, mami juga." Celotehnya.
"Tapi Daddy tetap ganteng kan?"
"Bau..." Zein memijit hidungnya.
"Kakak bohong kan? Hah." Alvin menghembuskan nafasnya ke wajah Zein lalu tergelak.
"Iih, Daddy!" Serunya.
Alvin tertawa dan medudukkan Zein di sofa lalu membiarkannya menikmati susu botolnya.
Salman diam-diam memperhatikan kedekatan Alvin dengan Zein. Ia merasa terharu melihat Alvin yang sangat menyayangi kedua putrinya juga sangat menyayangi Zein.
***
"Kakak hari ini jalan-jalannya sama auntie dan uncle Riky ya," ucap Alvin di suapan terakhir Zein.
"Daddy?"
"Daddy harus meeting, Sayang. Nanti pulangnya ke kantor daddy, oke?"
"Oke."
***
Amiera dan Riky membawa Zein jalan-jalan ke berbagai tempat di kota itu. Mereka bermain di taman kota dan juga wahana bermain anak-anak. Zein sangat menikmati harinya. Ia tak hentinya tertawa riang saat didudukkan di pundak Riky.
Setelah menikmati makan siang di sebuah restoran pizza, mereka memutuskan untuk menuju kantor Al-Azmi Corp. Di perjalanan, Zein tertidur.
Saat tiba di gedung Al-Azmi Corp, Amiera dan Riky yang meletakkan Zein dalam dekapannya menuju ruangan Mike. Keluar dari lift, mereka berpapasan dengan Bella dan juga Sophia.
Riky seolah tak acuh. Pria itu tidak menyapa Bella. Ia berlalu begitu saja ke ruangan Mike.
"Hai, Amie! Dari mana?"
"Dari taman bermain. Menghibur Zein agar tidak jenuh."
"Hanya berdua dengan Riky?"
"Hmm," angguk Amiera.
Amiera melirik pada Sophia. Wanita itu kini tidak searogan biasanya. Mungkin karena ada Bella atau karena ia sudah mengetahui siapa Amiera sebenarnya.
Di sisi lain, Sophia hanya bisa mendelikkan matanya. Entah mengapa rasa bencinya pada Amiera kian bertambah. Amiera yang cantik tertanya memiliki segalanya. Dan hal itu membuatnya merasa semakin iri pada Amiera.
"Hai, Ren!"
__ADS_1
"Hai!"
Mereka berpapasan dengan Rendy dan seorang pria di depan ruangan Mike. Pria itu tampak memperhatikan Amiera.
"Hai, aku Mark! Anda cantik sekali, Nona." Pria itu memperkenalkan diri.
"Amiera, dia salah satu PM di sini. Kebetulan dia juga temanku yang lebih dulu bekerja di perusahaan ini. Mark, ini Amiera. Putri Tuan Salman," ujar Rendy memperkenalkan.
Pria bernama Mark itu nampak terkejut. Ia pun tersenyum malu.
"Maaf, Nona Muda." Ucapnya.
"Tidak usah berlebihan. Biasa saja," sahut Amiera.
"Miss Bella, lama tidak bertemu." Bella hanya menjawab dengan anggukan pelan.
"Hai, Sophia! Kau juga di sini? Kita seperti sedang reuni." Kelakarnya.
Sophia nampak tersenyum. Ia dan Mark memang cukup dekat.
***
"Bagaimana, Tuan?" tanya Mike.
Salman tidak langsung menjawab pertanyaan Mike. Ia nampak sedang berpikir.
"Menurut Alvin sebaiknya kita menunda kepulangan kita, Dad. Dua hari lagi tidak akan jadi masalah kan?"
"Tapi bagaimana dengan Zein? Kau lihat sendiri bagaimana dia pagi ini. Dan rencana kepulanganmu ke negara K? Bukankah kau juga akan ke rumah orang tua Laura?" tanya Salman.
Alvin berpikir sejenak, lalu menjawabnya.
"Kalau Alvin bisa kapan saja. Lagi pula investor dari sana juga akan datang. Betulkan Mike?"
"Betul," angguk Mike.
"Sekarang tinggal kita mempertimbangkan Zein," ucap Alvin.
Akhir pekan ini, para investor dan beberapa klien penting Al-Azmi Corp dari berbagai negara berencana berkumpul di London. Keberadaan Salman di kota itu, dijadikan kesempatan oleh mereka untuk bertemu dengan Salman.
"Telepon saja Kak Meydina, Dad!" usul Amiera.
"Amie benar, kita hanya perlu persetujuan Meydina. Atau bagaimana kalau kita minta mereka kesini?" usul Alvin.
"Kakak kangen Kak Laura ya?" goda Amiera.
Alvin bersemu, ia kemudian memelototi Riky yang seperti ingin menertawakannya. Diam-diam Riky memperhatikan raut wajah Bella. Wanita itu memperlihatkan senyuman tipis yang entah apa artinya.
Salman mengeluarkan ponselnya. Ia melakukan video call dengan Meydina. Di sana sudah menjelang malam, pastinya Maliek juga sudah pulang.
Salman nampak tersenyum melihat Meydina yang sedang berbaring dengan Amar. Saat Alvin menanyakan Maliek, Meydina mengarahkan kamera ponselnya pada suaminya.
Maliek sedang mengayun-ayun Fatima yang berada dalam dekapannya. Pria itu bersenandung pelan agar putri kecilnya tertidur. Pemandangan langka tersebut sontak membuat dua sahabatnya menganga. Saat bersama keluarga kecilnya, Maliek benar-benar berbeda.
Saat Salman mengutarakan niatnya, Meydina terlihat kecewa. Ia sudah sangat rindu pada putra sulungnya. Namun Maliek mencoba memberinya pengertian. Akhirnya, Meydina pun menyetujuinya.
"Enak di eloe dong," ujar Alvin pada Riky.
"Kali-kali laah, Vin. Gue jarang banget bisa liburan. Loe tahu sendiri kan gimana Maliek."
"Emang gimana?"
"Sebelas dua belas sama mertuanya," bisik Riky.
"Sialan, loe! Ngatain Daddy gue, heh?"
"Kan emang iya," sahut Riky santai.
"Gue bilangin tahu rasa loe."
"Jangan dong, bisa habis gue kalau dua orang itu marah."
__ADS_1
Alvin menyeringai. Ia dan Riky berjalan meninggalkan gedung tersebut. Mereka berencana bernostalgia dengan mengunjungi kampus tempat mereka dulu menimba ilmu.