Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
tamu tidak terduga (1)


__ADS_3

Happy reading...


Semilir angin pagi terasa sejuk menembus pori. Hangatnya mentari memberi semangat memulai hari. Dari balik jendela kamarnya, Rendy tersenyum mendengar suara mamanya yang sedang berjemur bersama Baby Arka.


Sejak kemarin sore, Rendy sengaja mematikan ponselnya. Dan pagi ini, banyak sekali notifikasi pesan masuk juga panggilan tak terjawab. Saat membaca sebuah pesan, ia terlihat menyeringai. Kemudian ia pun menelepon asistennya untuk membicarakan pekerjaan.


"Sudah bangun, Sayang?" tanya Rendy setelah mengakhiri panggilannya.


Amiera tersenyum tipis.


"Baby sedang berjemur?" Tanyanya saat Rendy mengecup keningnya.


"Iya."


"Sepertinya dia lapar," ujar Amiera sambil memegang p*yudaranya yang mengeras.


"Papanya juga lapar," timpal Rendy dengan ekspresi menggoda melirik pada bagian dada istrinya.


"Papa kalau lapar ya sarapan," sahut Amiera yang kini sedang mengikat rambutnya.


"Sarapan sehat kan minum susu," ujar Rendy masih dengan godaannya.


"Apaan sih?" Amiera tersipu karena tatapan Rendy.


"Tadi malam berapa kali bangun?"


"Berapa ya? Tiga kali kalau nggak salah," sahut Amiera.


"Kalau siang Baby tidur, kamu juga tidur ya." Pintanya.


"Iya kalau Amie ngantuk, Kak. Kalau enggak?"


Rendy hanya tersenyum sambil menatap lekat pada wajah cantik istrinya. Raut wajahnya berubah saat melihat Amiera yang memukul-mukul pelan kepalan tangan pada pundaknya.


"Kenapa, pegal? Sini aku pijat!"


Rendy memijat pundak Amiera yang sudah membelakanginya. Mungkin karena posisi menyusui membuat bagian tersebut terasa kurang nyaman bagi ibu dari putranya tersebut.


"Enak?" tanya Rendy dan dijawab anggukan oleh Amiera.


"Nggak gratis lho." Candanya.


Amiera menatap penuh tanya pada suaminya yang sedang tersenyum.


"Kan belum boleh? Bekas jahitannya juga belum kering," ucap Amiera.


"Pake yang lain kan bisa," ujar Rendy santai.


"Ish, Kak Rendy!" pekik Amiera pelan dengan kedua matanya yang membulat sempurna.


Rendy terkekeh melihat ekspresi Amiera yang terkejut karena ia menggesekkan sesuatu yang mengeras di punggung istrinya itu.


"Udah ah, Amie mau cuci muka. Bisa-bisa sebentar lagi Mama kesini karena Baby-nya lapar." Gerutunya.


"Sekalian ya, Sayang!" bujuk Rendy yang mengikuti Amiera ke kamar mandi.


"Nanti ada Mama, Kak." Tolaknya.


"Sebentar aja. Aku kunci dulu pintunya," ujar Rendy setengah berlari menuju ke arah pintu.


Amiera hanya menyeringai sambil menggelengkan kepalanya. Pada akhirnya menolak pun percuma. Mau tak mau ia menuntaskan hasrat suaminya dengan cara lain.


***


Pagi ini kediaman Evan kedatangan tamu bulanan. Siapa lagi kalau bukan Riky. Pria itu sebulan sekali pulang dan pasti tidak akan melewatkan untuk menemui Alena di rumahnya.

__ADS_1


"Kak, nanti ke rumah Om Wira ya." Pintanya.


"Jam berapa?"


"Agak siang," sahut Alena dari teras depan. Riky menyanggupi dengan menganggukkan kepala. Pria itu membantu Evan yang sedang memeriksa mesin mobilnya.


"Kamu lihat nanti Rik. Wira dan Nura nggak ada bosan-bosannya menceritakan tentang cucu pertama mereka," kelakar Evan.


"Mereka pasti sangat senang ya, Om."


"Iya. Kalian kapan nyusul?"


Uhhuk... Uhhuk..


Evan dan Riky menoleh pada Alena yang sedang menepuk-nepuk pelan dadanya. Gadis itu kemudian meminum kembali teh hangat yang tadi membuatnya tersedak.


"Kamu kenapa, Lena? Mendengar pertanyaan Papa kok langsung tersedak. Kapan kalian menikah? Papa juga kan ingin nambah cucu," goda Evan dengan sengaja.


"Papa sok tahu. Bukan karena itu Alena tersedak." Kilahnya.


"Oh ya?" goda Evan.


"Iya juga nggak apa-apa. Ya kan, Om?"


Evan mengangguk sambil terkekeh pelan. Riky menghampiri dan meminum sisa kopi di cangkirnya.


"Suapin dong, Sayang." Pintanya.


"Yee, manja. Kakak kan punya tangan," delik Alena.


"Tanganku kotor ada olinya, Sayang."


Alena pun menyuapkan gorengan yang sudah digigitnya.


"Kenapa? Masih kesal? Papamu hanya bercanda." Ujarnya.


"Kamu lagi PMS ya? Nggak biasanya aku pulang wajahmu ditekuk gitu," ujar Riky sambil mengunyah makanannya.


"Mungkin," sahut Alena kembali menyuapkan gorengan pada Riky.


"Jam berapa ke rumah Rendy?"


"Kan tadi Lena sudah bilang agak siang," sahut Alena kesal.


"Pulangnya ke rumahku ya," ajak Riky.


"Mau ngapain?" Alena terlihat heran.


"Mama sudah lama ingin ketemu kamu. Kebetulan orang tuaku sedang ada di rumah."


Alena terdiam. Riky bisa melihat ekspresi Alena yang merasa bingung dengan permintaannya.


"Kenapa? Kamu nggak mau? Nggak apa-apa kalau memang belum..."


"Bukan begitu, Kak." Alena cepat menimpali ucapan Riky.


"Lalu apa?"


"Alena malu. Alena kan belum pernah bertemu orang tua yang belum dikenal. Bagaimana kalau nanti kesan mereka jelek?"


"Kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti," kekeh Riky.


"Kalau Alena malu-maluin gimana? Alena kadang nggak bisa jaga image, Kak."


"Kenapa harus jaga image? Jadilah dirimu sendiri. Aku suka kamu yang seperti ini." Ucapan Riky berhasil membuat wajah Alena merona.

__ADS_1


Tanpa disadari keduanya, Evan yang mendengar semuanya hanya mengulumkan senyumnya. Ia semakin yakin pada sosok Riky. Selain apa yang sudah didengarnya dari Alvin, ia juga bisa melihat sendiri bagaimana pribadi calon menantunya tersebut.


***


Suasana rumah Nura kembali ramai dengan suara anak-anak. Siapa lagi kalau bukan Zein dan ketiga saudaranya. Alya, Meydina dan Laura sedang asik mengobrol dengan Amiera. Sementara Resty dan Nura sedang bersama Baby Arka.


"Rendy nggak bilang pergi kemana?" tanya Meydina.


"Enggak, Kak. Tadi dia cuma bilang mau jemput teman," sahut Amiera.


Tidak lama terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Anak-anak berhamburan karena mengira yang datang adalah Rendy. Namun tak lama kemudian, Zein berlari ke dalam rumah sambil celingukan.


"Nyari apa, Kak?" tanya Amiera.


"Sstt, jangan bilang-bilang ya Auntie. Ada Auntie Alena," ujar Zein yang bersembunyi di belakang sofa.


Berselang beberapa menit, Alena masuk ke dalam rumah dan menyapa dengan gaya cerianya yang khas. Dibelakangnya, Riky yang menggendong Fatima juga menyapa pada mereka yang ada di sana.


"Tadi perasaan Alena lihat Kakak Zein, kemana ya?" tanya Alena yang mengetahui bahwa Zein sedang bersembunyi darinya.


"Auntie, Kakak sembunyi," ujar Amar.


"Oh ya?"


Anak-anak pun mencari Zein.


"Di sini Auntie!" seru Queena.


"Aaah, Queen nakal! Kenapa bilang sama Auntie," pekik Zein dan berlari kepangkuan Meydina.


Alena yang menghampirinya pun mengelitiki Zein sampai anak itu kewalahan. Dan memekik meminta Alena menghentikan aksinya.


"Kak Riky kapan datang?" tanya Meydina.


"Tadi malam, Mey." Sahutnya.


"Al, Rafael kerja?"


"Iya," sahut Alya.


"Kamu nggak ikut? Bukannya sejak kamu berhenti kerja suka ikut sama Rafael," tanya Riky.


"Nggak ah, lagi malas. Sekarang kan sudah ada Baby Arka, lebih baik di rumah aja." Sahutnya.


Dari luar rumah terdengar suara mesin mobil yang dimatikan. Amar berlari ke arah pintu, diikuti Queena dan juga Zein. Sementara Fatima sedang asik dipangkuan Riky.


"Itu, mobil Uncle!" seru Amar.


"Iya, Uncle," sahut Queena.


Rendy terlihat menyapa anak-anak. Pria itu melangkah masuk namun berhenti lagi. Zein berlari menghampiri Maminya.


"Mami, ada olang." Ucapnya pelan.


"Orang siapa, Kak?" tanya Meydina heran.


"Ayo masuk!" seru Rendy.


Semua orang yang ada di ruangan itu saling menatap heran. Tak terkecuali Amiera. Ia penasaran siapa teman yang di jemput suaminya.


Dua orang wanita masuk dengan langkah ragu. Amiera yang semula terkejut pun tersenyum bahagia melihat keduanya. Di sisi lain, ada yang tak kalah terkejutnya.


"Bella?" gumam Riky.


 

__ADS_1


Hai, Readers!


Happy weekend, sehat selalu untuk kalian😊


__ADS_2