
Happy reading...
Rumah tangga Amiera dan Rendy dari hari ke hari semakin harmonis. Pada hari kerja, sebisa mungkin mereka meluangkan waktu untuk sarapan dan makan malam bersama.
Saat weekend, keduanya akan menikmatinya dengan berbagai cara. Terkadang mereka jalan-jalan di taman kota atau mengunjungi beberapa tempat wisata menggunakan transportasi umum, bus atau kereta.
Raut wajah Rendy juga terlihat lebih cerah. Begitu juga sikapnya yang tidak sekaku biasanya.
"Tuan. Menurut salah seorang engineer kenalan saya dalam proyek yang dipegang Tuan Alex, ada beberapa kejanggalan yang mencurigakan di sana."
"Tuan Alex? Dia PM pengganti Mark kan? Kejanggalan seperti apa misalnya?"
"Menurutnya, ada ketimpangan posisi yang diakibatkan oleh kurangnya pengawasan dari Tuan Alex yang membuka peluang beberapa staf untuk melakukan kecurangan."
Rendy menyimak penjelasan asistennya. Ia memang belum pernah bertemu secara langsung dengan PM baru yang bernama Alex itu. Kalaupun ada beberapa pertemuan, selalu diwakilkan oleh asisten dan sekretarisnya.
"James, siapa yang merekomendasikan Alex pada Tuan Mike?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi sepertinya Tuan Mike terburu-buru saat memutuskan untuk memilihnya."
Rendy tertegun. Ia tahu benar proyek itu bukan proyek sembarangan. Dan pastinya nominal uang yang dimainkan di dalamnya juga sangat besar.
"Itu baru dugaan, Tuan. Sebaiknya kita tidak ikut campur dalam permasalahan perusahaan Al-Azmi. Saya permisi dulu, Tuan."
Rendy menghela nafasnya. Ia melangkah keluar ruangannya. Menatap luas lahan yang sedang dalam tahap awal pembangunan.
Beberapa hari terakhir ini ia dan timnya sudah menempati kantor sementara yang bertempat di lokasi pembangunan. Ia juga jarang ke kantor Al-Azmi karena dalam posisi ini, ia hanya salah satu PM yang dipilih dari perusahaan lain.
Namun sebagai menantu dari pemilik Al-Azmi Corp, ia tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja didengarnya. Ada nama baik dan uang Salman yang sedang dipertaruhkan.
Dirogohnya ponsel dalam saku celananya. Rendy kemudian menghubungi Mike. Dan meminta semua data staf yang bekerja di sana termasuk Alex.
Mike awalnya terdengar ragu, memang tidak sembarang orang boleh mengetahuinya. Namun mengingat siapa Rendy saat ini, Mike pun berjanji akan sesegera mungkin mengirimkan datanya.
***
Senja sudah berganti malam saat Rendy mamasuki area gedung apartemen. Sudah satu minggu ini ia memutuskan pindah ke penthouse Amiera. Sedangkan apartemennya ia jadikan sebagai ruangan kerja.
Sejak dari ambang pintu, senyum Amiera yang pertama kali dilihatnya. Wanita itu terlihat bahagia dan bergegas mendekatinya.
"Capek?" tanya Amiera yang langsung memeluknya.
Rendy mengacak lembut pucuk kepala Amiera lalu mencium keningnya. Wanita ini seakan tidak perduli bau keringat yang menempel seharian di bajunya.
"Capek ku hilang setiap kali aku pulang, Sayang." Ujarnya.
Amiera yang mendongakkan wajahnya memudahkan Rendy mengecup lembut bibirnya.
"Mau makan dulu atau mandi dulu?" Tawarnya.
"Hmm, makan dulu deh. Perutku keroncongan mencium bau makanan." Sahutnya.
Amiera terlihat senang dan menarik tangan suaminya dengan gayanya yang manja. Rendy mengulumkan senyum menatap gemas pada istrinya.
Setelah menikmati makan malam, Rendy membersihkan diri di kamar mandi. Sementara itu, Amiera sedang bersemangat memilih gaun tidur yang akan dikenakan untuk menggoda suaminya.
Aktivitas mereka di siang hari yang melelahkan nyatanya tidak membuat keduanya dapat dengan mudah memejamkan mata. Apalagi mereka baru saja mereguk indahnya mahligai pernikahan.
Hampir satu jam mereka larut dalam permainan. Dimana keduanya ingin menunjukkan kemahirannya dalam memuaskan pasangan.
__ADS_1
Sudah tiga kali Rendy membuat Amiera mendapatkan pelepasannya. Namun Amiera tidak ingin terlihat lelah sampai suaminya menyerah. Ia justru semakin liar mendominasi permainan dengan gerakannya yang menggoda.
Di atas nakas ponsel Rendy berdering. Sekali dua kali masih bisa diabaikan. Namun lama kelamaan mengganggu juga. Mau tidak mau Rendy akhirnya meraihnya juga. Nama James tertera di layar ponselnya.
Rendy menutup panggilan telepon itu. Melihat Amiera yang sudah kelelahan, ia pun mengakhiri permainan dengan semangat empat lima.
Pria itu selalu suka melihat kedua manik istrinya yang membulat sempurna saat ia menghujamkan senjatanya. Racauan Amiera yang menyebutkan namanya disela-sela des*hannya membuat Rendy semakin semangat memompa.
Setelah mendapatkan pelepasannya, Rendy pun ambruk di samping istrinya. Keduanya bermandikan peluh. Dengan nafas yang terengah mereka tersenyum dan saling mengakui kehebatan masing-masing.
"Akhir pekan ini kita mau kemana, Kak?"
"Sepertinya aku tidak bisa, Amie. Ada hal yang harus aku lakukan. Maaf ya," ucap Rendy sambil mengelus pipi Amiera yang berbaring di atas dadanya.
"Kenapa minta maaf? Amie juga mau bilang kalau akhir pekan ini Amie harus ke kampus. Sebentar lagi ujian semester di mulai. Jadi Amie juga akan sibuk. Tidak apa kan?"
Rendy menatap wajah Amiera yang juga menatapnya sambil tersenyum. Tatapannya kemudian beralih lagi pada layar ponselnya.
"Ada apa, Kak? Apa sedang ada masalah?" Amiera merasa heran melihat kening suaminya yang berkerut.
"Tidak ada."
Karena penasaran, Amiera menelusup hingga bagian leher Rendy.
"Siapa itu?"
"Bukan siapa-siapa. Tidurlah, ini sudah malam." Ucapnya sambil mencium kening Amiera.
"Apa kakak mengenal wanita yang bersama pria itu?" Telisiknya dengan raut wajah tak suka.
Rendy terkekeh menyadari istrinya yang sedang salah paham.
"Mark diberhentikan? Apa karena masalah malam itu?"
Rendy bingung menjawab pertanyaan istrinya. Amiera memang tidak pernah tertarik pada sebuah berita. Dia pasti tidak tahu kalau pria yang sedang dibicarakannya sudah meninggal.
"Aku tidak tahu, Sayang. Tapi yang pasti, saat aku kembali Mark sudah digantikan."
"Bukankah seharusnya kita berterima kasih padanya? Karena dia kita menikah," ujar Amiera polos.
"Kita menikah karena memang sudah takdir kita, Amie. Kurasa Mark hanya sebagai penjembatan saja," sahut Rendy.
"Apa Kakak akan menikahi Amie jika saja peristiwa malam itu tidak pernah ada?"
"Kalau memang kita berjodoh ya pasti menikah. Hanya saja jalan menuju kesananya mungkin akan berbeda. Sudahlah, ayo kita tidur."
Rendy meletakkan ponselnya kembali. Satu kecupan sebelum tidur menghantarkan Amiera menjemput mimpi indahnya.
Berbeda dengan Amiera yang sudah terlelap, Rendy masih belum bisa tertidur. Baru saja ia mendapat laporan bahwa Alex memang sudah beberapa kali terlibat kasus penggelapan uang.
Ia kembali mengambil ponselnya. Dan mengirim pesan pada Mike agar memanggil staf keuangan pada proyek yang dipegang Alex esok pagi ke perusahaan.
***
"Mami, kita mau kemana?" tanya Zein yang mengikuti langkah Meydina. Di dalam mobil sudah Amar yang mendahuluinya.
"Kita mau ke sokalah kakak," sahut Meydina.
"Amal juga, Mi?"
__ADS_1
"Iya, sama Amar juga."
"Kenapa, kalau nggak sama Amar memangnya kakak nggak mau sekolah?" tanya Maliek sambil memasangkan sabuk pengaman pada kedua putranya.
"Kakak mau sekolah sama Amar, Pi."
Zein menoleh pada adiknya. Amar terlihat senang sambil memukul-mukul kaca jendela.
Hari ini Maliek dan Meydina akan mendaftarkan kedua putra mereka di sebuah playgroup. Walau mereka beda usia, Amar justru lebih memperlihatkan antusiasnya dalam mempelajari sesuatu.
Suasana dalam mobil sangat ramai. Kali ini Meydina sengaja tidak membawa seorang babysitter-pun bersama mereka. Fatima yang berada dalam pangkuannya seolah tidak mau kalah dengan sang kakak. Kakinya berjingkrak-jingkrak saat mendengar Maliek yang bernyanyi bersama kedua kakaknya.
Maliek memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung sekolah. Lukisan di dinding yang diberi cat yang berwarna-warni menjadi ciri khas tersendiri.
Saat memasuki area sekolah, Zein dan Amar terlihat gembira melihat berbagai jenis permainan ada di sana. Maliek yang kini menggendong Fatima pun ikut menemani mereka.
Meydina memasuki ruang kepala sekolah. Ia menyerahkan dokumen persyaratan untuk mendaftarkan kedua putranya di sana. Setelah selesai, ia dan juga kepala sekolah itu keluar untuk menyapa kedua putranya. Kebetulan di sana juga ada beberapa guru yang menghampiri mereka.
"Kakak Zein! Amar! Sini, Sayang!" seru Meydina.
Amar dan Zein berlarian menuju Maminya. Maliek dan Fatima menyusul dibelakangnya.
"Salam sama bu guru, Kak."
"Halo, kakak siapa namanya?"
"Zein, Zein Maliek Blamasta." Sahutnya.
"Wiih, pinter. Kalau ini adiknya siapa namanya, Sayang?"
"Amar," sahut Amar singkat. Ia langsung mencium tangan Guru yang menyapanya.
"Amal Maliek Al-Azmi. Itu Baby Fatum Bu Guyu," tunjuk Zein pada Fatima yang sedang menatap mereka.
"Oh, ini Baby Fatum. Kalau yang mau sekolah siapa ya?"
"Kakak sama Amal." Zein menarik tangan Amar ke atas.
"Oke, Kakak Zein sama Amar dua minggu lagi ketemu ibu guru di sini ya? Nanti kalian akan punya banyak teman. Suka nggak punya teman?"
Dua putra Maliek itu memberikan jawaban yang berbeda. Jika Amar mengangguk, maka lain halnya dengan Zein. Putra sulung Maliek itu menggeleng.
"Kenapa kakak Zein nggak suka? Di rumah punya teman nggak?"
"Nggak punya. Sudah ada Amal, Baby, sama Queena. Ada Kakek, Opa, Oma, Uncle, sama Auntie Alena. Mami juga ada. Kalau Papi kelja," sahut Zein dengan tatapannya yang lekat pada sang guru.
Guru itu tersenyum mendengar jawaban calon anak didiknya. Maliek dan Meydina tersenyum tipis menaggapinya.
"Nanti setelah Kakak sama Amar sekolah, kalian jadi punya banyak teman. Bisa bermain di sini, belajar bersama, nyanyi bareng teman, semuanya sama teman. Kalian pasti suka. Semangat nggak mau sekolah?"
Keduanya mengangguk cepat. Setelah berpamitan, mereka meninggalkan tempat tersebut.
Maliek dan Meydina membawa ketiga buah hati mereka ke taman bermain lalu mampir ke restoran pizza. Zein dan Amar terlihat sangat bahagia.
"Kenapa, Mi?" tanya Maliek yang heran melihat ekspresi Meydina yang tidak biasa.
"Anak-anak harus sering diajak keluar seperti ini, Pi. Kasihan mereka, walaupun di rumah tidak kekurangan apapun juga tetap harus bisa bersosialisasi dengan tempat-tempat umum seperti ini. Mami nggak mau nantinya mereka jadi pribadi yang individualis. Apalagi tidak punya rasa empati pada lingkungan sekitarnya," ucap Meydina pelan.
Maliek tersenyum lalu memperhatikan kedua putranya yang sedang asik menikmati pasta dan pizza yang dipesannya. Amar dan Zein memang berbeda. Namun begitu ia berharap keduanya bisa tumbuh menjadi anak-anak yang baik sesuai harapan mereka.
__ADS_1