
Happy reading...
Setibanya di butik, ketiga rekan Amiera hanya bisa saling melirik. Diana yang biasanya gencar menyindir Amiera, entah mengapa saat ini seperti tidak bisa berkata-kata. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka sambil sesekali melirik pada wanita yang baru saja mentraktir mereka.
Disisi lain, Amiera yang menyadari sikap rekannya bersikap tak acuh seakan tidak perduli. Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Miss Julie datang bersama pelanggan yang memesan gaun pengantin yang dibuatkan Amiera.
"Amiera, Nona ini ingin melihat sudah sampai tahap mana gaun pesanannya," ujar Miss Julie.
"Silahkan," sahut Amiera.
Amiera menunjukkan hasil kerjanya. Dibantu Miss Julie yang memberikan penjelasan pada pelanggannya tersebut. Dari raut wajahnya, pelanggan itu sepertinya terkesan.
"Satu minggu lagi bisa?" Tanyanya.
"Bisa," sahut Amiera.
"Baiklah. Sejujurnya aku terkesan. Pengerjaannya belum selesaipun sudah terlihat sangat elegan. Apalagi jika sudah selesai, aku akan tidak sabar ingin segera mengenakannya." Ujarnya.
Miss Julie tersenyum puas. Keluarga gadis yang saat ini jadi pelanggannya cukup dihindari oleh teman-temannya sesama Designer karena terlalu rewel dan juga bawel.
Seperti siang ini, awalnya Julie tidak berencana datang ke butik. Namun karena pelanggannya ini memaksa, mau tidak mau ia datang juga. Beruntung Brian bisa mengantarnya, karena Julie tidak bisa mengemudi. Jadi kemana-mana ia akan diantar Brian atau supir keluarganya.
"Amiera, bagaimana kalau kita berkencan besok?" tanya Brian, saat Julie mengantar pelanggannya ke bawah.
"Kencan? Tidak, terima kasih," sahut Amiera dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Kenapa? Kencan tidak harus dengan seseorang yang berstatus pacar kita kan?"
"Entahlah. Aku tidak pernah kencan," sahut Amiera jujur.
"What! Kamu serius?" tanya Brian tidak percaya.
"Serius. Daddy tidak terlalu suka aku dekat dengan pria," jawab Amiera.
"OMG. Apa daddymu masih hidup di zaman batu? Lalu selama ini apa saja yang kamu lakukan?"
"Jaga mulutmu! Jangan bicara yang tidak baik tentang Daddyku. Dan selama ini aku melakukan apapun yang aku suka," delik Amiera.
"Apa itu artinya kamu tidak suka pacaran?" tanya Brian penasaran. Karena menurutnya, wanita secantik Amiera tidak mungkin tidak pernah punya pacar.
"Tidak. Aku ingin seperti Kakakku. Pacaran sebentar lalu menikah," jawab Amiera tanpa menoleh. Jemarinya sedang asik menari di atas keyboard, sementara pandangannya fokus ke layar monitor.
"Wah, ternyata keluargamu semua primitif ya," ujar Brian sarkasme.
Brakk.
Satu gebrakan yang tiba-tiba di meja Amiera tidak hanya mengagetkan Brian, tapi juga mengagetkan semua orang yang ada di ruangan tersebut. Diana yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, cepat-cepat meraih sesuatu didekatnya agar tidak ketahuan.
"Keluar dari ruangan ini!" usir Amiera dengan tatapan yang tajam.
"Ayolah, Cantik. Tidak perlu marah begitu," ujar Brian santai.
"Keluar!" hardik Amiera.
"Oke, oke..." Brian terlihat menyeringai.
__ADS_1
Pria itu pun keluar dari ruangan khusus Designer tersebut.
"Kau kenapa?" tanya Julie yang berpapasan dengan Brian di depan ruangannya.
"Tidak ada apa-apa. Oh iya, Kak. Nanti pulang dijemput supir ya. Aku ada pekerjaan."
"Tidak usah. Aku akan pulang diantar Bella," sahut Julie.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu." Pamitnya.
***
Sementara itu di gedung Al-Azmi Corp, cabang London...
Bella baru saja tiba bersama asitennya, Sophia. Mereka sudah memantau langsung jalannya proyek yang dipegang Bella.
Baru kali ini Bella mengajak Sophia ke lapangan (tempat proyek) dan itu sukses membuat Sophia kewalahan. Sophia yang memakai high heels menolak memakai sepatu proyek yang ditawarkan salah satu staf di sana. Alhasil, wanita itu kesulitan mengikuti langkah Bella yang menggunakan sepatu jenis hikking boots.
"Apa kakimu sakit?" tanya Bella.
"Iya, Miss. Sepertinya lecet," ringis Sophia.
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Bukankah dari kemarin aku sudah memberitahumu? Kau seharusnya sudah paham tentang hal sepele seperti ini. Jangan membuatku repot. Aku bukan ibumu yang bisa memanjakanmu, kau paham?" tegas Bella.
Sophia mengangguk pelan. Ia menatap sinis kearah punggung Bella yang berlalu meninggalkan ruangannya.
"Ku ingatkan kau, Sophia. Jangan membuat Miss Bella marah untuk kedua kalinya. Sebaiknya pandai-pandailah menempatkan dirimu jika masih ingin bekerja di perusahaan ini." Mya memperingatkan.
Bukannya berterima kasih, Sophia justru mendelik pada sekretaris Bella tersebut.
Sophia merasa beruntung sekaligus bangga karena bisa bekerja di perusahaan sebesar Al-Azmi Corp, karena kebanyakan teman-temannya tidak lolos seleksi di perusahaan ini.
Sementara itu di ruangan Mike, pria bule itu sedang membicarakan sesuatu dengan Bella. Setelah pembicaraan mereka selesai, Mike menanyakan perihal Amiera kepada Bella.
"Kapan terakhir kali kau bertemu Nona Amiera?"
"Beberapa hari yang lalu saat kami makan siang," sahut Bella.
"Dia tidak membicarakan apa-apa denganmu? Tentang pekerjaan mungkin," tanya Mike lagi.
"Tidak. Memangnya ada apa? Dia ingin bekerja?"
"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya saja. Bella, sering-seringlah menemaninya. Dia belum banyak teman di sini," pinta Mike.
"Iya, aku tahu. Aku juga sudah berencana akan menginap di apartemennya akhir pekan ini," tutur Bella.
"Syukurlah," sahut Mike.
"Mike, jika kau harus memilih antara aku atau Amiera, mana yang akan kau pilih?"
"Apa maksudmu?"
"Tidak, aku hanya bertanya."
"Ku harap pilihan seperti tidak akan pernah ada. Tapi kalaupun ada, aku ingin memilihmu. Tapi maaf, karena Amiera putri Tuan Salman jadi aku akan memilihnya," jawab Mike.
__ADS_1
Bella hanya menganggukkan kepala. Ia sadar betul jasa Tuan Salman pada keluarganya. Terutama pada almarhum kedua orang tuanya.
"Mau pulang bersamaku, Adikku sayang?" tawar Mike dengan senyumnya.
"Tidak. Aku sudah ada janji dengan Julie," sahut Bella.
"Julie siapa?" tanya Mike penasaran.
"Temanku Julie Winston," sahut Bella.
"Jadi kau akan menjemputnya?"
"Hmm," angguk Bella.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di rumah." Ujarnya.
***
Bella mengemudikan mobilnya menuju butik Julie. Mereka berencana berbelanja di salah satu mall ternama di kota itu.
Deringan ponsel mengalihkan perhatiannya, untung saja ia sudah sampai di tempat temannya itu. Sementara itu, Julie sedang berbincang dengan Diana sambil menuruni anak tangga. Sampai di pintu keluar, ia kaget melihat sudah ada Bella di ujung tempat parkir butiknya.
"Saya pulang dulu, Miss," pamit Amiera.
"Baiklah, hati-hati." Sahutnya.
Dalam hati Julie merasa cemas jika Bella bertemu dengan Amiera. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan temannya itu. Tapi sepertinya kecemasan Julie sia-sia, karena Amiera berjalan berlawanan arah dengan Bella yang sedang menerima panggilan di ponselnya.
Posisi Bella yang membelakangi mereka tidak memungkinkan wanita itu untuk melihat Amiera.
"Hai, Bella! Sudah lama?"
"Belum. Aku baru saja tiba dan salah satu klienku menelepon."
"Apa aku sedang mengganggu waktumu?"
"Tentu saja tidak. Ayolah, kita hilangkan penat dengan berbelanja. Aku sedang kesal memikirkan sikap asistenku yang manja." Keluhnya.
"Oh, ya? Aku jadi penasaran berapa lama dia akan bertahan dengan bos seperti dirimu," kelakar Julie.
Bella hanya tersenyum menanggapinya. Ia dan Julie pun terlibat pembicaraan yang menyenangkan sepanjang perjalanan mereka.
Di tempat lain, Amiera yang baru saja turun di halte nampak terkejut mendapati Rendy juga ada di sana.
"Hai, Ren. Nggak nyangka ketemu kamu di sini." Ucapnya.
"Kebetulan aja," sahut Rendy singkat.
Amiera mengulumkan senyumnya. Kemudian mereka pun naik bus yang akan membawa ke halte yang berada di dekat gedung apartemen mereka.
Sesampainya di halte, keduanyapun turun. Mereka terlibat pembicaraan ringan dan sesekali Amiera terlihat terkekeh. Sementara Rendy bersikap lebih santai dengan ekspresi datarnya.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang mengikuti mereka. Orang itu menatap lekat pada kedua punggung yang sudah melangkah masuk ke dalam lobi apartemen tersebut.
"Heh, jadi dia tinggal di sini." Decihnya.
__ADS_1