
Happy reading...
Waktu terus berlalu, Amiera nampak tidak bersemangat menyuapkan makanannya. Lain halnya dengan dua pria yang bersamanya. Berada di bagian kiri dan kanannya. Mereka sangat antusias melihat banyaknya makanan di meja.
"Apa kalian benar-benar adik kakak? Kalian tidak mirip sama sekali," selidik Dave. Menatap penuh tanya pada Rendy yang terduduk dihadapannya.
"Kamu ini berisik banget sih, makan saja dulu. Lagi pula Amiera memanggilku kakak bukan berarti aku kakaknya kan?" gerutu Rendy.
"Itu artinya kalian memang bukan kakak beradik. Apa kalian berkencan?"
Amiera mendelik tidak suka pada Dave yang dirasanya lancang untuk seseorang yang baru kenal.
"Dia istriku. Puas? Sekarang diamlah. Ocehanmu merusak selera makanku," decih Rendy.
Dave tergelak mendengar pengakuan Rendy. Pria itu mengira Rendy sedang bercanda. Sementara itu Amiera tertegun tak percaya mendengarnya. Ini kali pertama Rendy mengakuinya sebagai istri.
Amiera menatap Rendy dengan senyum yang mengembang. Rendy berdehem pura-pura tidak menyadari tatapan Amiera. Diliriknya Dave yang sedang minum. Karena tertawa akibatnya pria itu jadi tersedak.
"Kau dengar itu Amiera? Aku tidak percaya kalau kamu..."
"Aku memang istrinya," sahut Amiera cepat sambil tersenyum lebar.
"Dan kami masih pengantin baru. Aku harap kamu mengerti hal itu. Jadi setelah makananmu habis, pergilah!" tegas Rendy. Tangannya menggenggam tangan Amiera yang berada di atas meja. Amiera sampai terkejut dengan sikap Rendy tersebut.
Dave tertegun melirik keduanya silih berganti. Lalu tatapannya mengarah pada genggaman tangan mereka.
"Baiklah, aku akan pergi setelah ini." ucapnya pelan.
Mereka kembali menikmati makan malam. Kali ini Amiera jadi bersemangat menyuapkan makanannya. Sesekali ia melirik pada Rendy.
"Terima kasih atas makan malamnya, Amiera! Kamu yakin tidak akan menawariku dessert? Kamu pasti punya sesuatu yang bisa dijadikan makanan penutup," ujar Dave masih dengan tingkahnya yang tidak tahu malu.
Dari sikapnya terlihat jelas bahwa Dave enggan meninggalkan apartemen Amiera.
"Ini sudah malam, Dave. Pulanglah, kamu lihat para penjaga itu kan? Jangan sampai mereka menyeretmu keluar dari sini. Kita ini bertetangga, jadi sebaiknya kita hidup berdampingan tanpa mengganggu privasi masing-masing," tutur Amiera.
Dave mengangguk mengerti, ia pun melambai pada Rendy yang sedang menatap tajam padanya. Satu helaan nafas dibuang Amiera setelah pintu tertutup. Sekalinya ia hidup bertetangga, malah tetangga seperti Dave yang didapatnya.
Amiera duduk disamping Rendy yang kini sedang fokus dengan ponselnya. Ia bergelayut manja di lengan suaminya.
"Ada apa?" tanya Rendy heran.
Amiera menggeleng sambil tersenyum. Ia mengangkat sebelah tangan Rendy yang tadi dipegangnya dan meletakkannya di atas pundak. Sementara itu kedua tangannya ia tautkan di pinggang Rendy.
"Kakak deg-degan ya? Kedengaran tahu," ucap Amiera yang dengan sengaja meletakkan telinganya dibagian dada kanan Rendy.
"Ya deg-degan lah, aku kan masih hidup." Elaknya.
Rendy mencoba kembali fokus pada ponselnya. Amiera yang ingin tahu mengintip pada layar ponsel suaminya.
"Siapa James?" Tanyanya sambil mendongak.
"Asistenku," sahut Rendy singkat.
Rendy melirik pada Amiera yang sedang mendongak memperhatikan wajahnya. Pria itu mengulumkan senyumnya sambil membuang muka saat Amiera mengerucutkan bibirnya.
"Aku akan mengambil laptopku dulu, Amie. Masih ada pekerjaan yang belum selesai." Ujarnya.
Amiera menggeleng sambil tetap mengerucutkan bibirnya. Sesaat pandangan mereka beradu. Lalu Rendy menunduk sedikit dan...
__ADS_1
Cup.
Satu kecupan didaratkan Rendy pada bibir Amiera. Sontak Amiera terkesiap dengan gerakan Rendy yang cepat dan tiba-tiba.
"Sekarang lepaskan aku. Aku akan ke bawah dulu sebentar," ujar Rendy dengan wajah merona.
Seperti seseorang yang terhipnotis, Amiera melepaskan tautan tangannya. Ia menatap Rendy yang beranjak lalu melangkah keluar apartemennya dengan tatapan yang kosong.
Suara pintu yang ditutup menyadarkannya. Ia menepuk-nepuk pelan sebelah pipinya.
"Baru saja Rendy mengecupku kan?" gumam Amiera. Jari-jarinya menyentuh bibir dan tersenyum sendiri.
"Dia istriku..."
"Dia istriku..."
"Dia istriku..."
Pengakuan Rendy menggema dalam benak Amiera. Diraihnya bantal sofa lalu dipeluknya erat. Amiera kegirangan dengan kakinya yang digerak-gerakkan.
Di sisi lain, di dalam lift Rendy sedang meraba bagian dadanya. Detak jantungnya berpacu sangat cepat seakan ingin melompat dari tempatnya.
"Ada apa denganku? Satu kecupan saja sudah membuatku berdebar seperti ini. Apalagi kalau... Ah! Ada apa dengan pikiranku ini? Tapi kan dia istriku," gumam Rendy.
Rendy menggeleng-gelengkan kepalanya sangat cepat, seakan ada sesuatu dalam pikirannya yang ingin ia hilangkan.
***
Lain adiknya, lain pula kakaknya. Bila adiknya masih menimbang-nimbang, sang kakak sedang berjuang. Perjuangan Alya yang sedang mengimbangi permainan suaminya di atas ranjang.
Ini kali kedua Rafael meminta jatahnya. Setelah sebelumnya Alya sudah dibuatnya terkulai tidak berdaya.
Saat ini Rafael membiarkan Alya yang mendominasi. Dengan sisa tenaganya, Alya mencoba memberikan service terbaiknya.
Dengan kedua tangan yang bertumpu di atas dada suaminya, Alya bergerak-gerak menggoyangkan pinggulnya. Rasa perih itu masih terasa, namun apa daya Rafael meminta ronde kedua.
Rafael menatap gemas pada dua bukit kembar yang bergerak mengikuti gerakan pinggul Alya. Dengan cepat diraih keduanya dan membuat Alya mau tak mau mendekatkannya pada wajah suaminya.
Seperti bayi yang kelaparan, Rafael melahap salah satunya dan memainkan lidahnya di sana.
"Hubby. Aku lelah," bisik Alya.
Rafael mengerti bahwa istrinya itu belum terbiasa. Ia dengan cepat membalikkan posisi agar Alya tidak usah terlalu bekerja keras.
Rafael menghunuskan senjatanya dengan satu hentakan dan mulai menggerakkannya dengan tempo yang sangat cepat. Raut wajah Alya yang tersiksa dalam kenikmatan seakan membakar semangatnya untuk terus memompa.
Dan akhirnya, satu lenguhan yang keluar dari bibir Rafael mengakhiri penderitaan Alya untuk sementara. Karena nyatanya rasa perih itu di area pribadinya semakin menjadi.
"Terima kasih, Sayang." Ucapnya dengan nafas tersenggal, lalu mengecup kening dan bibir Alya.
Rafael ambruk di samping Alya. Ia mengusap peluh di keningnya sambil mengatur kembali nafasnya yang terengah-engah.
"Masih sakit?" tanya Rafael yang menarik selimut agar istrinya tidak merasa kedinginan.
"Sakit sekali. Kamu ini memperlakukanku seperti j*lang. Lembut hanya diawal, selebihnya kamu sangat kasar." Gerutunya.
"Maaf, Sayang! Aku janji lain kali akan lebih lembut. Aku sudah menahannya terlalu lama, Alya. Mengertilah," pinta Rafael.
"Menahan apanya? Setiap hari aku membantumu mengeluarkannya. Kadang aku sampai menahan rasa ingin muntah," delik Alya.
__ADS_1
"Tetap saja sensasinya berbeda. Begini saja sebagai permintaan maafku, hari ini kita belanja apapun yang kamu inginkan. Kamu boleh membeli tas, sepatu, perhiasan atau apa saja terserah."
"Benarkah?" tanya Alya dengan sorot mata yang berbinar.
"Tentu."
"Apapun? Yang branded juga boleh?" Tanyanya antusias.
Rafael mengangguk. Alya memeluknya senang. Seakan keluhannya yang baru saja disampaikan sirna seketika itu juga. Rafael balas memeluk istrinya. Ia merasa gemas dengan mood Alya yang mudah sekali berubah.
"Sayang, bagaimana kalau kamu berhenti bekerja?"
"Apa, berhenti?"
Alya melonggarkan pelukannya. Ditatapnya Rafael yang mengangguk seakan meyakinkan.
"Sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Apapun keinginanmu aku akan berusaha memenuhinya. Aku tidak ingin kamu merasa lelah. Terlebih lagi, kita sudah pantas memiliki seorang anak."
"Anak? Kamu ingin aku cepat hamil? Bagaimana jika nanti setelah aku berhenti bekerja, aku tidak kunjung hamil juga?"
"Bukan begitu maksudku, Sayang. Intinya kamu berhenti bekerja. Itu saja dulu. Hamil atau tidak hamil itu bukan urusan kita. Semoga saja Tuhan mengabulkan keinginan kita. Kita cukup mengusahakannya setiap malam dengan beberapa ronde permainan. Benarkan?"
Alya mengerutkan keningnya.
"Sepertinya aku menangkap maksud lain dari ucapanmu itu."
Rafael terkekeh dan memeluk Alya kembali.
***
Suara pintu yang diketuk membangunkan tidur Alya.
"Non Alya! Ditunggu Ibu sama Bapak di bawah," ujar seorang pelayan dari luar.
"Iya, Mbak. Sebentar!"
Alya menatap malas pada pintu kamar mandi. Suara gericik air terdengar mengiringi suara Rafael yang bernyanyi dengan suara pelan. Pagi ini pria itu nampaknya sangat senang. Dan Alya hanya menyeringai mendengarnya.
Beberapa menit kemudian...
"Sudahlah, Sayang. Jalan saja seperti biasanya. Kamu justru terlihat aneh bila seperti itu," ujar Rafael.
Rafael menggaruk pelan tengkuknya. Entah apa yang harus diperbuatnya menghadapi tingkah konyol istrinya.
"Tapi aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di bagian ini," sahut Alya sambil menunjuk ke area pribadinya.
"Itu hanya perasaanmu saja, Al. Ayo kita kebawah, tidak enakkan jika orang tuamu menunggu terlalu lama."
Alya kembali mencoba berjalan sambil menahan sisa perih yang dirasanya. Ia tidak ingin terlihat aneh saat berjalan dihadapan orang tuanya. Rafael hanya tersenyum sambil mengacak pelan rambut basahnya.
Setibanya di ruang makan, Mama Nura nampak mengulumkan senyuman. Wanita paruh baya itu menyapa anak menantunya yang baru saja turun setelah ditunggu agak lama.
Tidak seperti biasanya, pagi ini Papa Wira bersikap ramah pada Rafael. Dua pria beda usia itu terlibat perbincangan ringan dan terlihat senyuman terukir di wajah Wira saat bicara dengan menantunya.
Alya dan Mamanya saling menatap mengisyaratkan tanya. Namun begitu keduanya merasa senang dan berpura-pura tidak peka agar kedua pria itu tidak merasa canggung.
Hai, semua...
__ADS_1
Happy weekend😍