Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
Mama...


__ADS_3

Happy reading...


Pagi di kediaman Wira Atmadja sudah diawali dengan suara tangisan Baby Arka. Dengan sigap Nura membantu menantunya menggantikan popok bayinya.


Seorang babysitter sudah ditugaskan untuk membantu Amiera oleh Meydina. Namun Nura sebisa mungkin ingin mengurus sendiri cucunya.


Rendy tersenyum saat tangis bayinya reda. Pria itu menemani mamanya sambil mengalihkan perhatian Arka dengan celotehannya.


Setelah semua selesai, Nura membawa Baby Arka keluar. Ia menghampiri suaminya yang sedang menikmati kopi di meja makan bersama Rafael, menantunya.


"Morning, Boy!" sapa Rafael.


"Morning too, Uncle!" sahut Nura menirukan suara anak kecil, membuat Wira mengulumkan senyum.


"Alya belum bangun?" tanya Nura kemudian.


"Sudah, Ma. Sedang di kamar mandi," sahutnya pelan sambil memainkan jari mungil Arka.


"Ma, mungkin nggak kalo perempuan hamil itu sensitif pada bau tertentu?"


"Mungkin saja. Misalnya dia mual kalo mencium bau menyengat. Ada yang nggak suka bau sabun atau bau apa aja yang sekiranya membuat dia tiba-tiba merasa tidak nyaman."


"Kalau bau parfum mungkin nggak, Ma?"


"Mungkin saja. Memangnya siapa yang nggak suka bau parfum, Alya?"


Belum sempat Rafael menjawab, suara pintu kamar atas yang ditutup kasar mengalihkan perhatian mereka. Alya menuruni anak tangga dengan raut wajah yang teramat kesal.


"Yang! Kamu dipanggil-panggil kok nggak nyaut? Istrinya muntah-muntah kok ditinggalin, bukannya ngambilin air atau apa gitu." Dengusnya kesal.


"A-aku nggak tahu kamu muntah, Beib. Aku pikir kamu mau mandi," sahut Rafael yang segera menghampiri Alya.


"Jangan-jangan kamu hamil, Al. Coba beli testpack, Raf," anjur Mama Nura.


"Naah, iya. Semalam juga Maliek bilang begitu. Aku beli sekarang ya," ucap Rafael dengan semangat.


"Memangnya Maliek bilang apa?" delik Alya.


"Maliek bilang kamu hamil," sahut Rafael jujur.


"Kok lebih tahu Maliek daripada kamu? Kan kamu suaminya," tanya Wira heran.


"Mungkin karena Maliek lebih berpengalaman, Pa. Meydina kan sudah tiga kali hamil," bela Nura.


Wira mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Rafael tersenyum kikuk. Tak lama kemudian, ia pamit pergi ke apotik.


"Semoga saja ya, Al." Ujarnya.


"Aamiin," sahut Papa Wira.


Keduanya tersenyum pada Alya yang tersipu sambil mengusap pelan bagian perutnya.


***


Sementara itu di kamar hotel, Bella dan Julie sedang menikmati sarapan mereka. Keduanya berencana akan menikmati liburan mereka selama di negara ini dengan tour guide yang ditawarkan Rafael.


Mereka beruntung selama di sini mendapatkan semua fasilitas gratis karena menginap di hotel milik keluarga Rafael. Juga diistimewakan karena merupakan tamu besan dari pemilik hotel.


"Mataku seakan dimanjakan selama beberapa hari di sini," ujar Julie pelan.


"Hmm, kamu benar. Ku dengar negara ini pemandangan alamnya sangat indah. Beruntungnya kita," sahut Bella.


"Sayangnya para pria tampan itu sudah berkeluarga," dengus Julie.


Bella menoleh, lalu terkekeh.


"Riky belum," ujar Bella.


"Tapi dia sudah punya kekasih. Dan sepertinya tipe pria yang setia."


Bella menyeringai sambil berkata, "Kamu benar."

__ADS_1


"Jangan bilang kamu menyukai Maliek, menantu Al-Azmi itu." Ujarnya lagi.


"Kalaupun aku menyukainya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi dia memang tampan. Beruntung sekali Nona Al-Azmi itu."


"Jangan main-main dengan kedua Nona Muda itu. Apalagi dengan Kakak Amiera. Kudengar dari Mike, bahkan Tuan Salman selalu patuh padanya."


"Ah Bella, berhentilah bicara. Kamu membuat nyaliku semakin menciut." Sahutnya.


"Sudahlah. Kita nikmati saja kebebasan kita. Aku akan berkeliling menikmati pesona negeri ini. Kapan lagi Mike memberiku libur panjang. Iya kan? Setelah kembali nanti, aku akan disibukkan dengan proyek baru. Dan Dave, oh my God! Dia mambuatku gila dengan keinginannya itu."


"Kenapa? Menurutku Dave pria yang baik," ujar Julie.


"Kamu benar, tapi pernikahan? Huft."


"Hei, jangan terpaku pada masa laluku. Kamu pasti bisa menjalaninya dengan baik. Kalau aku pernah gagal, jadikan itu pelajaran untukmu. Oke?"


"Apa itu artinya kamu menyarankanku menerima lamaran Dave?" Bella menatap penuh tanya pada Julie, sahabatnya. Dan wanita dihadapannya itu mengangguk pasti.


"Baiklah, akan ku pertimbangkan. Sementara ini, biarkan Dave berusaha meyakinkan Mike." Ujarnya.


"Ayo, kita harus bersiap untuk petualangan kita!" seru Julie.


"Oke! Kalau begitu kita akan mulai dengan belanja," sahut Bella dengan semangat dan disambut tawa ringan oleh sahabatnya.


***


Sebuah mobil menepi di depan salah satu Universitas ternama di kota ini. Dari balik kaca jendela, seorang wanita tengah memperhatikan suasana sekitar kampus tersebut.


Beberapa mahasiswa nampak berlalu lalang, sesekali terdengar canda tawa dari mereka. Namun wanita itu masih menajamkan penglihatannya mencari sosok yang sedang ia tunggu.


"Kemana dia? Menyusahkan, membuatku mau tak mau mencarinya." Gerutunya pelan.


Ia melangkah turun, saat supir membukakan pintu. Setelah memposisikan hand bag-nya, langkahnya terlihat anggun memasuki area kampus.


Beberapa pasang mata mulai memperhatikannya. Namun tatapannya mengarah lurus tanpa perduli dengan sekitar.


Gelak tawa beberapa mahasiswi mengalihkan perhatian wanita itu. Membuat salah satu diantara mereka langsung mengatupkan mulutnya yang sedang terbuka.


"Mama? Bukannya Mama kamu sudah meninggal, Len?" tanya seorang teman di samping Alena.


"Ee, ini..." Alena terlihat gugup.


"Saya Mamanya Riky, mertua Alena." Akunya.


"Kapan kamu menikah?" bisik temannya heran.


"Aku juga nggak tahu," sahut Alena bingung.


"Kelasmu sudah selesai?" tanya Mama.


"Sudah, Ma. Hari ini hanya ada satu kelas," sahut Alena kikuk.


"Kalau begitu, ikut Mama. Temani Mama belanja. Mama tunggu di depan ya," pinta Mama datar.


Alena mengangguk pelan. Ia hanya bisa tersenyum pasrah pada teman-temannya yang menatap penuh tanya.


"Mama mertuamu seperti ibu-ibu pejabat, Len."


"Begitulah. Aku pergi dulu ya, mau bilang sama Kak Rendy nggak usah jemput." Sahutnya.


"Oke. Hati-hati, Len. Di depan camer jangan cengengesan nggak jelas," gurau tamennya.


"Iya, aku tahu. Daah.."


Sambil berlalu, Alena menelepon Evan. Ia juga menelepon Rendy agar tak menjemputnya. Selama beberapa hari ini, Evan memang meminta Rendy menjemput Alena menggantikan dirinya.


"Maaf, Ma. Tadi Alena bilang dulu sama Papa."


"Kamu pulang kemana?" Tanyanya datar.


"Alena mau ke rumah Om Wira. Nanti Papa jemput Alena di sana." Sahutnya ragu.

__ADS_1


"Ya sudah, bilang sama supir dimana rumahnya."


"Lho, bukannya tadi Mama bilang mau belanja?"


"Saya berubah pikiran. Kenapa, nggak boleh?" Ketusnya.


"Bo-boleh, Ma."


Mama Riky menyeringai saat mendengar Alena menyebutkan alamat yang akan ditujunya pada supir. Entah apa yang diinginkan wanita paruh baya itu. Tatapannya penuh selidik membuat Alena salah tingkah dibuatnya.


Sepanjang perjalanan, suasana didalam mobil terasa hening. Berbanding terbalik dengan suasana dalam hati Alena yang dipenuhi tanya. Setelah satengah jam lebih, mereka tiba di kediaman Wira.


Di teras rumah, Rendy sedang bermain bersama Zein dan Amar. Dari dalam rumah, Queena dan Fatima berlarian sambil membawa mainan di tangan.


"Kak! Ada Auntie Alena!" seru Amar.


"Oh iya, sama siapa itu? Mami..." Zein berlari ke dalam rumah hendak memberitahukan pada Maminya.


"Oma, siapa?" tanya Queena yang menyambut kedatangan Alena dan Mama Riky yang turun dari mobilnya.


Mama Riky tersenyum pada Queena dan Amar juga Fatima.


"Aduh lucu-lucunya. Kalian siapanya Alena?" tanya Mama Riky yang membungkukkan badannya menyapa anak-anak.


"Oma siapanya Auntie?" Amar balik bertanya.


"Mamanya. Kalian?"


"Oma bohong ya. Auntie Alena kan nggak punya Mama," sahut Queena polos.


"Sekarang punya dong. Ini, Mamanya." Ujarnya sambil menunjuk pada dirinya sendiri.


Alena merasa terenyuh mendengar pengakuan Mama Riky tersebut. Rendy mengulumkan senyum sambil menatapnya.


"Siang, Tante!" sapa Meydina yang datang bersama Zein dan juga Nura. Mereka penasaran ingin melihat siapa tamu yang disebutkan Zein.


"Selamat siang. Ini pasti Meydina ya? Istri Maliek."


"Iya, Tante. Tante?" Meydina melirik pada Alena.


"Mamanya Kak Riky," sahut Alena pelan.


"Ma, kenalkan ini Tante Nura, ini Kak Rendy," ujar Alena memperkenalkan.


"Auntie culang, Kakak nggak dikenalin." Deliknya.


"Oh, kalau ini Oma kenal. Zein kan? Oma pernah lihat foto Zein di ponsel Uncle."


"Oh, ya? Kalau Amal, Oma kenal nggak?"


"Amal?"


"Amar, Ma. Ini Amar. Kalau ini Queena, dan ini Fatima," ujar Alena.


"Satu lagi ada Alka, Oma. Ke dalam, yuk!" ajak Zein.


"Iya, Tante. Mari silahkan," sahut Meydina. Nuta dengan senang hati menyambut tamunya. Sesekali ia menggoda Alena dengan tatapannya.


"Duuh, maafkan Oma ya. Oma datang tidak bawa apa-apa," sesal Mama Riky.


Mereka saat ini sedang bersama Amiera yang sedang menyusui Baby Arka.


"Nggak apa-apa, Jeng. Saya juga tidak punya apa-apa buat disuguhkan," sahut Nura.


"Maaf ya, saya baru sempat bersilaturahmi. Maklum saya selalu di tempat dinas menemani Papanya Riky. Wah, senang ya Jeng Nura sudah punya cucu."


"Iya. Sebentar lagi cucu saya dua," ujar Nura sambil menunjuk Alya dengan ujung matanya.


"Kak Alya hamil?" tanya Alena dan dijawab anggukan pelan oleh Alya sambil tersenyum.


"Wah, senangnya. Semoga saya juga bisa segera menimang cucu." Ujarnya.

__ADS_1


"Tuh, Len. Ayo dong, segera kabulkan harapan Tante," goda Meydina., membuat Alena tersipu malu mendengarnya.


__ADS_2