Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
hari pertama sekolah


__ADS_3

Happy reading...


Pekikan Zein dan Amar di pagi buta sudah menggema. Tidak hanya di dalam kamar mereka, tapi juga di ruang keluarga. Mungkin karena semalam mereka tidur lebih awal atau karena terlalu semangat mau sekolah.


"Amal, kita ke kamal Mami sama Papi, yuk!" Ajaknya.


"Ayo," angguk sang adik.


"Jangan dong, Tuan Muda. Mami dan Papi-nya pasti masih tidur," ujar salah satu babysitter mereka.


"Bialin ya, Amal. Baby juga ada di kamal atas," sahut Zein dengan santainya.


Zein dan Amar berpegangan tangan meniti anak tangga. Dua orang babysitter mengekor di belakang mereka.


"Pi! Mi! Ayo, sekolah!" seru keduanya.


Beberapa kali mereka mengetuk pintu sampai akhirnya pintu dibuka oleh Papi mereka yang terlihat masih mengantuk.


"Pi, ayo sekolah! Kakak mau pelgi sekalang," ujar Zein. Putra sulung Maliek itu nyelonong masuk dan naik ke atas tempat tidur, sementara Amar minta digendong papinya.


"Ini masih pagi, Kak. Mataharinya juga baru keluar," sahut Maliek dengan suaranya yang serak. Ia lalu mencium pipi Amar dengan gemas.


"Kata Ibu Gulu jangan kesiangan, Pi."


"Iya, Papi tahu. Sekolah kakak masuk jam delapan, ini masih jam enam, Sayang."


Zein yang merasa kecewa pun mengganggu tidur Fatima. Ia mencolek-colek pipi chubby adiknya.


"Kak, kasian Baby Fatum jangan di ganggu."


Maliek merebahkan kembali tubuhnya. Ia tidur terlentang dengan Amar yang bermain dengan bulu-bulu halus di dadanya.


Meydina yang baru saja keluar dari kamar mandi menyapa kedua putranya dengan pujian. Tak ayal Zein menepuk-nepuk wajah Maliek yang mulai kembali terlelap.


"Pi! Ayo, Pi! Mami udah mandi," ucap Zein.


"Ayo kemana, Kak?"


"Sekolah," jawab Amar.


"Ya nanti dong sayang, sekolahnya juga belum di buka. Masih di kunci," sahut Meydina.


"Sama siapa di kuncinya, Mi?"


"Sama Ibu Guru yang kemarin,"


"Kenapa di kunci, Mi? Kan kakak sama Amal mau sekolah," celoteh Zein.


"Ya, karena... Karena apa ya? Mmm, karena nggak ada siapa-siapa jadi dikunci," sahut Meydina.


"Ibu Gulu-nya kemana, Mi?"


"Di rumahnya dong," sahut Meydina sambil berlalu menuju walk-in closet.


"Telus rumahnya dimana, Mi? Kok nggak di sekolah?"


"Mami nggak tahu rumah Bu Guru dimana, Kak."


"Kenapa Mami nggak tanya Bu Gulu?"


"Untuk apa?"


"Minta kunci sekolah," sahut Zein.


Dengan mata yang masih terpejam, Maliek terkekeh menertawakan Meydina yang kewalahan dengan celotehan putra mereka.


Meydina pun mengajak kedua putranya ke bawah. Ia berencana membutkan sarapan dan juga bekal untuk mereka.


***


Hari pertama sekolah, Maliek sendiri yang akan mengantar jemput Meydina dan anak-anak. Zein dan Amar nampak senang dan tak henti-hentinya cekikikan sambil bertepuk tangan.


Setiba di depan pintu gerbang, anak-anak bergantian mencium punggung tangan Papi mereka. Meydina pun pamit dan Maliek melambaikan tangan pada kedua putranya.


Hal serupa juga terjadi pada anak-anak lainnya. Ada yang diantar sampai depan sekolah dan ditemani pengasuhnya, ada juga yang ditemai ibu mereka seperti Zein dan Amar yang ditemani Mami Meydina.


"Pa. Zeni mau dijemput Papa," rengek seorang anak perempuan.

__ADS_1


"Hari ini Papa sibuk, Sayang. Nanti kalau papa ada waktu pasti Papa jemput. Kalau tidak sempat, naik taksi sama Mbak ya."


Gadis cilik itu terlihat kecewa, namun berusaha tersenyum di depan papanya. Pria itu menatap sendu, lalu berlalu meninggalkan halaman sekolah putrinya.


Riuh suara anak-anak saling bersahutan. Mereka nampak malu-malu berkenalan dengan teman baru. Zein dan Amar nampak sangat bahagia, Meydina merasa lega karena awalnya ia menyangka mereka akan kesulitan berbaur dengan teman-teman barunya.


Tatapan Meydina mengarah pada seorang anak yang hanya berdiri bersama pengasuhnya. Anak itu diam seperti memisahkan diri dari yang lainnya.


Seorang guru menghampirinya dan membujuknya. Anak itu mau mengikuti sang guru namun menggeleng saat diperkenankan memasuki area bermain.


Satu persatu anak-anak berbaris. Kebetulan kelas Zein dan Amar hanya ada lima belas orang dengan guru pendamping sebanyak lima orang.


Tiga orang anak dipanggil dan diperkenalkan pada seorang guru pendamping mereka.


"Zein Maliek, Amar Maliek, dan Zenita Putri, ayo maju ke depan! Kalian akan didampingin oleh Bunda Nia."


Meydina mengangguk saat Zein yang menoleh padanya. Zein yang dipanggil oleh Bunda Nia pun menggandeng Amar menghampiri.


"Zenita mana ya?" tanya Bunda Nia.


"Di sini, Bu," jawab pengasuhnya.


Meydina menoleh dan tersenyum mengetahui anak bernama Zenita itu adalah anak yang tadi diperhatikannya. Anak itu pendiam, bahkan sangat pendiam.


Guru yang dipanggil Bunda Nia itupun menghampiri dan membujuknya. Malu-malu ia berkenalan dengan Zein dan Amar.


***


Selama menunggu, Meydina ditemani oleh pengasuh Zenita yang bernama Uli. Beberapa ibu-ibu muda mengajaknya berkumpul dan Meydina yang merasa canggung mengajak serta Uli bersamanya.


Ibu-ibu itu mendelik tidak suka pada Uli, mungkin karena diantara mereka hanya Uli yang berbeda.


"Jeng Mey, masih muda anaknya udah dua. Jarak umurnya juga dekat banget. Jangan-jangan dulu MBA ya?"


Meydina tertohok mendengar ucapan salah seorang ibu muda tersebut.


"Kebetulan anak saya sudah tiga, Bu. Yang paling kecil baru belajar merangkak," sahut Meydina bangga.


"Jangan panggil 'bu' dong. Kesannya saya ini sudah tua, panggil 'jeng' gitu." Deliknya.


"Eh Jeng Mey, hati-hati lho kalau anaknya banyak nanti ditinggal suami karena nggak sempat mengurus diri," ucap seorang lainnya.


Meydina semakin bingung harus menjawab apa. Ia merasa tidak nyaman berada diantara mereka.


"Permisi ibu-ibu, saya mau menunggu di sana saja. Anak saya ada yang masih agak manja, biar kalau ibu gurunya memanggil saya bisa dengar."


"Oh, silahkan! Sekalian pengasuh itu dibawa sekalian," sahut salah satunya dengan raut wajah jijik melihat pada Uli.


Meydina mengajak Uli menjauhi ibu-ibu itu. Mereka duduk di kursi di samping kelas Zein.


"Jangan diambil hati ya," ucap Meydina disela-sela obrolan mereka.


"Nggak apa-apa, Bu. Ibu-ibu seperti itu pasti inginnya berkumpul dengan yang sederajat seperti mereka," sahut Uli.


Meydina menyeringai tipis. Ternyata tipe orang-orang pemilih seperti itu masih saja ada.


***


Jam istirahat pun tiba. Anak-anak berlarian keluar kelas. Beberapa guru terdengar berseru memperingatkan mereka agar berhati-hati.


"Mami!" seru Zein dan Amar bersamaan.


"Suka kenalan sama teman-teman?"


"Suka, Mi. Banyak, satu olang, dua olang, ..."


Zein berhitung menggunakan jarinya.


"Hai, siapa namanya cantik?" sapa Meydina.


"Zeni," sahut Zenita malu-malu.


"Mami, dia dali tadi diem aja."


"Kenapa, Sayang? Sama kakak Zein udah kenalan belum?"


Zein menggeleng begitu juga Amar.

__ADS_1


Meydina pun berkenalan dengan anak perempuan itu, begitu juga kedua putranya. Meydina mengajak serta Zenita dan pengasuhnya untuk menikmati bekal yang dibuatnya.


Meydina memperhatikan anak itu. Ia merasa iba pada Zenita. Dari cerita yang didengarnya, anak itu kehilangan ibunya sejak hari pertama ia dilahirkan. Dan selama ini ia dibesarkan oleh ayahnya yang sibuk dengan pekerjaannya.


Anak-anak berlarian di area bermain. Beberapa ibu guru juga mendampingi mereka sampai bel masuk berbunyi.


Meydina tersenyum mendengar suara anak-anak yang bernyanyi bersamaan. Ia teringat kenangannya dulu saat Ibu Anita mengantarnya ke taman kanak-kanak. Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat, kini ia yang mengantar anak-anaknya ke sekolah.


Saat jam pulang sekolah tiba, Maliek sudah menunggu di luar gerbang sekolah. Zein dan Amar berlari menuju Papi mereka.


"Mbak Uli, sudah ada yang jemput?"


"Sebentar lagi, Bu. Tadi Bapak mengirim pesan akan menjemput."


"Oh, ya sudah. Saya duluan ya, nggak apa-apa kan saya tinggal?"


"Tidak apa-apa, Bu."


"Zeni, Mami Zein pulang dulu ya. Bye," pamit Meydina.


Zenita hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.


Beberapa ibu-ibu nampak terpesona melihat sosok Maliek. Tatapan mereka membuat Maliek salah tingkah. Maliek segera mengajak anak-anaknya masuk ke dalam mobil. Ia tidak ingin Meydina salah paham pada dirinya.


"Jeng, itu suaminya ya?"


"Iya. Memangnya kenapa, Bu?"


"Jangan panggil ibu dong, Jeng. Suaminya oke loh, Jeng. Ganteng." Ucapnya.


"Iya lah suami saya ganteng, orang saya-nya juga cantik. Permisi ya, Bu. Saya pulang duluan," delik Meydina.


Meydina dengan raut wajahnya yang kesal masuk kedalam mobil dan mendelik pada Maliek yang sedang menahan tawa.


Tanpa menunggu lama, Maliek mengemudikan mobilnya meninggalkan area sekolah. Dari kaca spion Meydina melihat ada ibu-ibu yang melambai pada mobilnya.


"Besok diantar jemput Pak Budi, Papi di kantor aja." Ucapnya kesal.


"Mami kok marahnya sama Papi sih? Mau gimana lagi, resiko punya suami ganteng ya gini." Godanya.


"Terus Papi suka dilihatin gitu sama ibu-ibu, heh? Aneh, udah ibu-ibu tapi nggak mau dipanggil ibu. Panggil 'jeng' gitu," gerutu Meydina sambil menirukan gaya bicara wanita tadi di akhir kalimatnya.


Maliek terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya. Baru kali ini ia melihat Meydina sekesal ini. Ia kemudian mengalihkan pandangan pada kedua anaknya. Zein dan Amar sedang asik dengan mainan yang baru saja dibelinya.


"Kakak sama Amar tadi belajar apa, Sayang?"


"Nggak belajal, Pi. Cuma kenalan telus nyanyi," sahut Zein.


"Coba, Papi mau dengar gimana waktu Kakak kenalan sama teman-teman."


"Gini nih, Pi. Teman-teman namaku Zein Maliek Blamasta. Itu adikku Amal Maliek Al-Azmi. Aku suka belenang, Amal suka main lego. Udah gitu aja," ujar Zein.


"Pinter. Kalau Amar gimana, Sayang? Papi mau dengar," tanya Maliek.


"Amar nggak, Pi. Nggak boleh sama kakak," sahut Amar polos.


"Lho, kenapa?"


Meydina dan Maliek saling menatap.


"Kan udah, Pi. Tadi sama Kakak dikenalin. Jadi nggak usah ke depan lagi Amar-nya," sahut Zein santai.


Maliek dan Meydina mengulumkan senyuman mereka.


"Bu Guru bilang apa?" tanya Meydina.


"Kata Bu Gulu, ya udah nggak apa-apa mungkin Amal masih malu," sahut Zein.


"Amar nggak malu, Pi. Tangan Amar ditarik Kakak disuruh duduk," sahut Amar.


"Kakak, kan teman-teman juga mau kenal Amar. Masa nggak boleh," ucap Meydina.


"Bialin, Mi. Amal sama kakak aja. Amal kan masih kecil," sahut Zein.


Maliek mengacak gemas rambut putra sulungnya itu. Dan tentunya Zein selalu tidak suka diperlakukan seperti itu.


"Papi nggak sopan," ucap Zein.

__ADS_1


__ADS_2