
Happy reading...
Wajah Brian nampak sumringah melihat Amiera duduk disampingnya. Namun sedari tadi tidak sepatah katapun terucap dari bibir manis gadis itu.
"Amiera, kemana aku harus mengantarmu?"
"SB Towers Apartment," sahut Amiera tanpa menoleh. Ia sedang berbalas pesan dengan seseorang.
Brian menautkan kedua alisnya.
"Bukankah itu apartemen yang sama dengan Rendy? Tapi security itu mengatakan tidak ada nama Amiera di sana," batin Brian heran.
Deringan ponsel terdengar dan Amiera mengangkatnya.
📱 "Halo, Dad."
📱 "............"
📱 "Amie dalam perjalanan pulang ke apartemen, Dad. Jangan khawatir."
📱 "........."
📱 "Adik dari Miss Julie."
📱 "......"
📱 "Iya. Daddy tahu semuanya. Bahkan namanya juga," kekeh Amiera.
📱 "......"
📱 "Baiklah. Di sana saat ini sudah larut malam kan? Daddy istirahatlah, i love you. Mmuach."
Amiera mengulumkan senyuman sambil menutup panggilannya. Gadis itu sangat senang karena baru kali ini Daddynya sangat perhatian padanya. Sangat berbeda dari sosok Daddynya yang dulu dingin dan tidak mau tahu apapun tentang dirinya.
Sementara itu Brian merasa heran dengan sikap Amiera.
"Daddy?" Batinnya.
Sampai di depan gedung apartemen, Brian yang merasa sangat penasaran dengan sosok Amiera bersikeras ingin singgah.
"Ayolah Amiera, dimana sopan santunmu? Aku sudah mengantarmu. Tapi jangankan menawarkan untuk mampir, aku ingin mampirpun kau menolaknya."
"Aku tidak minta diantar, kamu yang ingin mengantarku. Ingat?" dengus Amiera
Di sisi lain, Rendy yang melihat Amiera merasa heran karena wanita itu pulang bersama Brian. Setengah berlari ia pun mendekatinya.
"Hai, Amiera. Ada apa?" tanya Rendy.
Belum sempat Amiera menjawab, Brian mendahuluinya.
"Hai, Ren! Kamu masih ingat namanya? Wah, aku tidak menyangka. Oh iya Rendy, bagaimana kalau kita berdua berkunjung ke apartemen Amiera. Tidak keberatan kan?"
"Berkunjung?" gumam Rendy sambil melirik pada Amiera yang terlihat bingung.
"Iya. Tidak salah kan kalau kita berkunjung ke tempat seseorang. Amiera, Rendy ini teman satu timku saat di kampus. Bagaimana, kau setuju?" tanya Brian.
Amiera yang tidak tahu harus menjawab apa itupun hanya nyengir dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu. Ayo!" seru Brian.
Pria itu hendak menggandeng Amiera, namun dengan cepat ditepis oleh gadis itu. Brian sempat merasa heran karena mereka menggunakan lift di sisi yang berbeda. Ia melirik pada Rendy dan di balas Rendy dengan mengangkat kedua bahunya.
Saat melangkah keluar lift, rasa heran sekaligus penasaran dalam hati Brian bertambah. Di lantai itu hanya ada dua pintu yang salah satunya dijaga dua orang berpakaian serba hitam.
Brian sangat terkejut karena ternyata pintu yang dituju Amiera adalah pintu yang berpenjaga. Dua penjaga itu terlihat sangat hormat pada Amiera dan membukakan pintu untuk mereka.
Keterkejutan Brian semakin menjadi saat melihat bagian dalam apartemen Amiera itu.
"Wow! Sebuah penthouse yang sangat mewah," puji Brian dalam hati.
"Duduklah. Apa kalian akan makan malam di sini?" tanya Amiera canggung.
"Tentu, kenapa tidak?" jawab Brian spontan.
Rendy dan Amiera terkejut melihat reaksi spontan Brian.
"Baiklah, aku akan minta pelayan menyiapkannya untuk kita."
Amiera melangkah ke dapur dan meminta pelayan menyiapkan makan malam serta menghidangkan camilan untuk kedua tamunya. Setelah itu ia kembali pada dua pria tadi.
"Tidak apa kan kalau ku tinggal sebentar. Aku akan mengganti pakaianku," ucap Amiera.
"Tidak apa. Pergilah ke kamarmu," sahut Rendy.
Amiera mengangguk pelan. Kemudian langkahnya terhenti saat mendengar lengkingan suara Brian.
"Amiera, mau ku temani?"
Amiera berbalik sambil menatap tajam.
Amiera kembali melangkah ke kamarnya dengan perasaan kesal.
"Menyebalkan. Mengapa aku harus bertemu pria seperti dia," geram Amiera sambil melempar sling bagnya ke atas tempat tidur.
***
Sambil menunggu Amiera, Brian tidak malu berkeliling melihat-lihat dan mengagumi tempat itu. Ia juga bisa melihat beberapa penjaga ada di bagian lain penthouse itu.
Melihat pemandangan yang tidak biasa itu, Brian menghampiri Rendy yang tengah menikmati camilan sambil memainkan ponselnya.
"Ren, apa kamu tidak merasa aneh?" tanya Brian dengan suara pelan.
"Apanya yang aneh?" tanya Rendy heran.
"Apa kamu lupa, security itu mengatakan tidak ada nama Amiera di apartemen ini. Dan pemilik penthouse yang baru adalah pria bernama Mike. Apa itu tidak aneh?"
Rendy menatap heran sambil menggeleng pelan.
"Apa mungkin Amiera seorang sugar baby?"
"Ehhem, ehhem..."
Rendy berdehem mendengar ucapan Brian. Hampir saja ia tersedak karena tidak percaya kata itu terpikir oleh kenalannya itu.
"Apa, Sugar baby?"
__ADS_1
"Iya. Bisa saja kan? Pria bernama Mike itu adalah Sugar Daddynya Amiera. Kamu tahu, tadi saat di mobil aku mendengar dia bicara dengan seseorang yang dipanggilnya Daddy. Dan juga lihatlah sikapnya, ia seakan enggan kita datang kesini. Apalagi kalau bukan karena dia takut ketahuan menjadi sugar baby dari seorang pria kaya. Iya kan?" tutur Brian.
Rendy sampai melongo mendengar penuturan Brian. Ingin rasanya ia terbahak dan menyangkal ucapan Brian. Namun ia urungkan karena tidak ingin Brian mengetahui kebenaran tentang Amiera.
Suara pintu kamar Amiera yang terbuka mengalihkan perhatian mereka. Brian menatap kagum pada Amiera yang terlihat segar dengan pakaiannya.
Bukan gaun indah yang menjuntai atau pakaian seksi yang menggoda, melainkan hanya piyama polos berwarna lembut yang dikenakan Amiera. Tapi sukses membuat Brian tak mampu mengedipkan mata saat mengaguminya.
"Berhentilah menatapku seperti itu. Dasar pria aneh," gerutu Amiera.
"Hehe maaf. Kamu sangat cantik, pantas saja bisa jadi sugar.. Aww!" Brian melirik Rendy yang menginjak kakinya.
"Maaf, aku tidak sengaja."
Seorang pelayan memberi tahu bahwa makan malam sudah siap. Mereka bertiga pun menuju meja makan. Hidangan yang tersaji sangat menggugah selera.
"Aku akan makan banyak malam ini," gurau Rendy.
"Makanlah sampai kenyang," sahut Amiera datar.
"Ku harap rasanya tidak asin," sindir Rendy.
Amiera membulatkan matanya ke arah Rendy. Dan pria itu hanya mengulumkan senyuman.
"Brian makanlah. Semakin cepat kamu makan, maka akan semakin cepat juga kamu pergi. Selamat menikmati," ujar Amiera.
"Terima kasih, Amiera. Aku akan sangat menikmatinya agar bisa berlama-lama di sini." Balasnya.
Mereka pun mulai menikmati hidangan makan malam sambil di selingi obrolan ringan.
"Jadi, Amiera ini karyawan kakakmu?"
"Hmm, dia seorang Designer pemula yang handal. Ku dengar karena gaun rancangannya ada yang mengunggah ke media sosial, butik Julie jadi sangat ramai."
"Benarkah?" tanya Rendy menatap pada Amiera.
Amiera mengangguk bangga.
"Good job! Itu artinya kamu sangat berbakat di bidang ini, Amiera." Pujinya.
Suasana di ruangan itu ramai oleh suara kekehan juga candaan Brian dan Rendy. Amiera merasa senang karena tidak merasa sendiri lagi. Setelah makan malam selesai, pelayan menyajikan hidangan penutup.
Mereka kembali menikmati hidangan penutup di sofa. Mereka juga terlihat asik dengan ponsel mereka.
"Ada-ada saja," gumam Brian sambil menyeringai.
"Ada sesuatu yang menarik?" tanya Rendy.
"Amiera, lihatlah ini!"
Brian memperlihatkan layar ponselnya pada Amiera dan Rendy. Dalam foto itu ada foto Amiera dan seorang wanita yang merupakan salah satu pelanggan butik.
"Oh, itu wanita tadi siang yang meminta foto denganku," jawab Amiera santai.
"Bukan itu yang ku maksud. Tapi beberapa komentar netizen."
"Memangnya apa yang dikatakan para netizen itu, Brian?" tanya Rendy yang mulai malas menanggapi ocehan Brian.
__ADS_1
"Banyak dari mereka yang mengatakan kalau Amiera itu putri Al-Azmi. Aku bacakan ya.. 'Setahuku itu adalah Amiera Al-Azmi, putri pengusaha kaya asal Timur Tengah. Aku baru tahu kalau dia seorang designer juga.'.."
Brian meneruskan bacaannya ke komentar netizen yang lainnya. Sementara itu, Amiera dan Rendy saling menatap. Entah jawaban apa yang akan mereka berikan pada Brian.