Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
perkelahian


__ADS_3

Happy reading...


Amiera mulai merasa risih menyadari tatapan Mark.


"Anda sangat cantik, sangat-sangat cantik." Pujinya.


"Terima kasih," sahut Amiera canggung.


"Minuman itu juga cocok untuk anda. Manis dan alkoholnya pun tidak terasa," ujar Mark.


"Alkohol? Maksudmu minuman ini beralkohol?" tanya Amiera dengan ekspresi terkejut.


"Iya. Minuman disebelah sana semuanya beralkohol. Hanya saja kadarnya sangat sedikit. Tidak mungkin kan kalau para tamu sampai mabuk di depan Tuan Salman. Hanya sekedar perasa saja. Dan yang sedang anda minum itu yang paling enak karena memang rasa manisnya lebih dominan," papar Mark.


Amiera menatap bingung pada gelas yang masih berisi sisa minumannya. Tatapannya lalu mencari-cari sosok Sophia. Saat sosok itu terlihat diantara para tamu, dalam hati ia menggeram.


"Sial. Apa dia sengaja melakukannya? Untung saja Mark memberitahuku. Kalau sampai Daddy melihatku meminum ini, bisa semalaman aku dimarahi."


"Mau saya ambilkan yang lain? Di sebelah sana itu sirup. Tidak beralkohol sama sekali," ujar Mark.


Mark meminta gelas Amiera. Setelah Amiera memberikannya, Mark kemudian meletakkannya di meja yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada. Amiera menatap Mark yang berjalan menuju meja yang tadi ditunjuknya. Kemudian melemparkan tatapannya itu pada Rendy.


Lagi-lagi ia memergoki Rendy yang salah tingkah menghindari tatapannya. Hati Amiera terasa berbunga mengetahui Rendy diam-diam memperhatikannya.


"Ini."


"Terima kasih," ucap Amiera sambil tersenyum menerima gelas minuman dari tangan Mark.


Di sisi lain, Rendy sesekali mencuri pandang pada gadis yang sedang bersama pria yang dikenalnya itu. Entah mengapa ia merasa tidak suka Mark berdiri dekat dengan Amiera.


Rendy tahu bagaimana Mark saat di bangku kuliah. Walaupun tidak terlalu dekat, Rendy mengetahui bahwa Mark seorang casanova.


Rendy mengalihkan pandangan saat pria dihadapannya mengajaknya bicara. Pria itu salah satu klien Al-Azmi Corp yang pembangunan hotelnya akan dalam tanggung jawab Rendy sebagai seorang Project Manager.


Beberapa saat kemudian, Rendy kembali menoleh pada Amiera. Pria itu mengerutkan dahinya saat tidak melihat Amiera di tempatnya semula.


"Kemana dia?" Batinnya.


Rendy celingukan mencari sosok Amiera. Tiba-tiba saja rasa khawatir mulai menghinggapinya saat sosok Amiera belum juga terlihat olehnya.


"Anda mencari seseorang, Tuan Rendy?" tanya pria dihadapannya.


"Kurang lebih seperti itu. Maaf Tuan, saya permisi sebentar." Pamitnya.


"Silahkan, jangan sungkan! Setelah proyeknya dimulai, kita akan sering bertemu."


Rendy mengangguk hormat dan berlalu ingin mencari Amiera.


***

__ADS_1


Amiera merasakan ada yang berbeda dalam dirinya. Desiran hangat mulai terasa menjalar menghadirkan satu keinginan yang ia tidak tahu itu apa.


Amiera berlalu menjauhi ruangan tempat diadakannya acara. Ia berjalan menuju lift yang akan membawanya jauh dari Daddynya. Amiera tidak ingin baik Salman atau Alvin sampai melihatnya.


"Amiera! Kau mau kemana?"


Amiera menoleh pada Mark. Pria itu berlari kecil menghampirinya. Tanpa sengaja tatapan Amiera langsung mengarah pada bibir pria itu. Sebisa mungkin Amiera menepis bayangan yang mulai mengotori pikirannya.


"Aku mau mencari angin segar sebentar. Sepertinya aku agak mabuk," ujar Amiera.


"Mabuk? Tidak mungkin kamu mabuk. Minuman itu alkoholnya sangat rendah," sahut Mark.


"Entahlah. Mungkin karena aku tidak terbiasa."


Amiera kembali menuju lift.


"Biar aku temani," ucap Mark. Ia ikut masuk ke dalam lift.


Amiera hendak memijit tombol angka namun didahului oleh Mark.


"Kenapa ke atas? Aku kan ingin ke bawah. Tadi aku melihat ada taman di bawah dan aku ingin kesana," ujar Amiera.


"Kalau kau mabuk, kepalamu pasti terasa berat kan?"


Amiera mengangguk cepat.


Tanpa mereka ketahui, Rendy yang mencari Amiera keluar ruangan sempat melihat Mark sebelum pintu lift benar-benar tertutup. Ia merasa yakin Amira bersama pria itu.


"Sial. Mereka menuju lantai paling atas," umpat Rendy saat melihat angka dan tanda panah di sisi pintu lift.


Rendy terlihat sangat kesal karena lift disebelahnya juga sedang digunakan. Ia bergegas menuju tangga dan berlari menuju sepuluh lantai dari tempatnya semula.


***


Ting..


Pintu lift yang membawa Amiera dan Mark terbuka. Mereka berjalan sangat pelan karena Amiera sepertinya sedang menahan rasa pening di kepalanya.


Mark mencoba memegang tangan Amiera yang sudah tampak gelisah namun ditepis. Dalam diamnya Mark terlihat menyeringai.


"Aku ingin tahu sampai kapan kau bisa menahan hasratmu, Amiera." Batinnya.


"Mark, kamar yang mana?" tanya Amiera.


"Yang itu. Yang paling ujung," tunjuk Mark. Lagi-lagi Amiera menepis tangannya yang ingin membantu memapah gadis itu agar cepat sampai.


Mark sudah mulai kesal karena langkah Amiera sangat lama. Di sisi lain Amiera merasa dirinya tidak baik-baik saja. Ia merasa ingin memeluk dan mencium seseorang.


Sebisa mungkin ia tidak menatap atau bersentuhan dengan Mark. Ia tidak ingin kalau sampai kehilangan kontrol diri saat bersama pria yang baru saja dikenalnya.

__ADS_1


Sampai di ujung lorong, ada satu pintu yang tidak berhadapan dengan pintu kamar lainnya. Mark membuka pintu kamar tersebut dan mempersilahkan Amiera masuk.


"Amiera," gumam Rendy. Ia berlari menuju pintu yang masih terbuka sedikit.


Didalam kamar, Mark menepuk-nepuk bagian sofa yang akan diduduki Amiera.


"Silahkan, Nona. Saya akan ambilkan air minum untuk anda." Ujarnya.


"Letakkan saja di meja," ucap Amoera sambil memijit-mijit pelipisnya.


Setelah meletakkan gelas, Mark berniat mengunci pintu kamar. Tepat saat pintu akan tertutup, Rendy sekuat tenaga mendorongnya.


"Rendy!" pekik Mark dalam hati.


"Mau kamu apakan Amiera, hah!" bentak Rendy. Ia kemudian berjalan menuju sofa.


Bugh.


Satu pukulan keras dari Mark mendarat di punggung Rendy, membuat pria itu terhuyung.


"Rendy," ucap Amiera setengah berteriak. Ia berlari menghampiri Rendy.


"Sial! Kamu sudah merusak rencanaku." Umpat Mark. Ia menarik baju bagian belakang milik Rendy dan kembali memukulnya.


"Mark!" seru Amiera.


"Diamlah, j*lang! Setelah ini kita bersenang-senang." Ujarnya.


Amiera ingin marah tapi emosinya tertutup bir*hi yang mendominasi. Sementara itu, Rendy yang mendengar ucapan Mark yang merendahkan Amiera merasa sangat geram.


Saat Mark hendak memukulnya kembali, Rendy menepisnya dan membalas satu pukulan keras di wajah pria itu. Mark terhuyung sambil mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.


Emosinya kian memuncak. Mark berusaha menghantamkan kepalan tangannya ke wajah Rendy namun lagi-lagi Rendy bisa menghindar dan balik menyerangnya. Rendy menendang perut pria itu kemudian meninjunya lagi.


Amiera histeris melihat perkelahian dua pria di hadapannya. Mark sudah mulai kehabisan tenaga. Pukulan Rendy berhasil membuatnya merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Namun Mark pantang mengalah. Ia mencoba lagi ingin memukul Rendy dengan sisa tenaganya. Dan Rendy dengan sekuat tenaga memukulnya. Rendy juga menyeretnya menuju pintu.


Mark akhirnya menyerah. Susah payah ia berdiri dan meninggalkan kamar yang pintunya di tutup oleh lawannya.


Rendy mencoba mengatur nafasnya yang terengah. Ia benar-benar kehabisan tenaga. Tangga sepuluh lantai sudah cukup membuatnya lelah. Beruntung ia bisa menyingkirkan Mark dan merusak rencananya.


--------


Hai readers....


Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya?


Happy weekend 😊

__ADS_1


__ADS_2