Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
keputusan Salman (bagian 1)


__ADS_3

Happy reading...


Mobil yang dikendarai Mike membawa mereka ke sebuah bandara tempat pesawat pribadi Salman berada. Rendy terlihat pasrah setelah berkali-kali menolak dibawa kesana. Salman bahkan tidak memberinya kesempatan mengganti pakaian.


Salman, Amiera dan Rendy lebih dulu masuk ke dalam pesawat. Zein yang berada dalam dekapan Alvin mulai terusik dan terlihat senang saat mengetahui dirinya akan naik pesawat.


"Mike, tolong lihat CCTV hotel itu. Entah kenapa aku merasa yakin ada orang lain dibalik kejadian ini," pesan Alvin.


"Baik, jangan khawatir. Kalau pun memang ada, aku tidak akan melepaskannya," sahut Mike.


Alvin mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Bella ia berpesan, "Katakan pada pemilik butik itu, untuk sementara Amiera cuti kerja. Ku dengar dia temanmu."


"Julie memang temanku. Aku akan sampaikan pesanmu."


Bella dan Alvin saling berpelukan, tentunya dengan Zein dalam dekapan Alvin. Riky memperhatikan mereka. Ia menduga-duga sepertinya Alvin tidak mempunyai perasaan lain terhadp Bella.


Riky pun berpamitan pada Mike. Saat berpamitan pada Bella, wanita itu memeluknya.


Riky tertegun saat mendengar bisikan Bella di telinganya.


"Maaf tentang malam itu."


Bella tersenyum tipis dan melambaikan tangannya pada mereka.


"Bye, My Prince!" seru Bella pada Zein.


"Bye, Auntie!" balas Zein.


Tidak lama kemudian dari salah satu sisi bangunan bandara, Mark dan Bella menatap pesawat yang mengudara.


"Ayo kita pulang. Besok aku banyak pekerjaan," ujar Mike. Mereka sangat lelah. Saat ini sudah dini hari dan mereka belum istirahat sama sekali.


***


Pagi di kediaman Salman...


"Nggak boleh, Mey."


"Kenapa nggak boleh, Kak? Kan perginya sama Pak Budi, sama Bibi juga."


"Aku nggak suka kamu masuk-masuk pasar, Mey. Desak-desakkan sama siapa aja. Dan jangan mentang-mentang ada Pak Budi kamu jadi bisa pergi kemana saja."


"Ya udah kalau begitu sama Kak Maliek. Ayo dong, Kak!" rengek Meydina.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Nggak biasanya pengen ke pasar," tanya Maliek heran.


"Mey lagi kangen masakan ibu. Mey mau beli dan pilih sendiri udang, kerang, cumi-cumi, dan jenis hewan laut yang dijual di pasar ikan itu. Mumpung nggak ada Ayah. Masakan Bibi sama enaknya dengan masakan ibu." Ujarnya.


Hari ini, Mey memang meminta Bibi yang sekarang bertugas menjaga rumah ibunya untuk datang. Ia ingin dimasakan menu seafood yang dulu sering dibuatnya bersama ibu Anita.


Kalau sudah membawa-bawa orang tua, Maliek tidak bisa berbuat apa-apa. Kebetulan pagi ini masih jam enam lebih. Masih ada waktu untuknya bersiap nanti.


"Oke deh, Mami sayang. Pangeranmu ini yang akan menemani."


Meydina mengulumkan senyumnya.


"Tapi naik motor ya," pinta Meydina.


"Apa? Nggak ah. Aku nggak pinya SIM-nya kalau motor. Naik mobil aja," tolak Maliek.


Meydina mendelikkan matanya. Pasangan itu kemudian bersiap menggunakan baju santai mereka. Kebetulan dua buah hati mereka belum bangun, jadi mereka tidak perlu berpamitan apalagi Amar pasti merengek minta dibawa.


Sesampainya di pasar ikan, Maliek enggan keluar dari mobilnya.


"Buka dong, Kak!"


"Bau, Mey. Di luar bau banget," ucap Maliek.


"Ya memang begini kalau di pasar ikan. Jangan norak deh. Buka pintunya!"


Maliek mau tidak mau menekan tombol untuk membuka pintu mobilnya.


"Ayo, turun! Katanya mau nemenin," gerutu Meydina.


Mau tidak mau, Maliek pun turun dari mobilnya. Ia mengikuti langkah istrinya sambil menutupi mulut dan hidungnya.

__ADS_1


"Sayang, jangan jauh-jauh."


Maliek menarik lengan Meydina yang berlalu mendekati seorang penjual di sana.


"Kak Maliek yang cepetan," geram Meydina.


Maliek menahan rasa mualnya selama berdiri memperhatikan Meydina yang sedang memilih dan memilah hewan laut yang akan dibelinya. Beberapa orang di sana ada yang menatap aneh padanya.


Setelah beberapa kios didatangi dan Meydina pun sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, buru-buru Maliek mengajaknya pulang. Saat tiba di parkiran, Maliek tertegun.


"Kenapa, Kak?" tanya Meydina heran.


"Mey, masa iya dimasukkan ke mobil. Nanti mobilnya bau, Mey."


"Idih. Udah dibilangain tadi bawa motor aja. Sini kuncinya," gerutu Meydina.


Meydina membuka bagasi mobil Maliek dan meletakkan beberapa kantong plastik di sana. Maliek hanya menatap pasrah sambil tersenyum masam.


Tidak lama setelah meninggalkan area pasar ikan, Maliek memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket. Ia ingin membeli segelas kopi instan panas untuk menetralkan perutnya.


Maliek dan Meydina duduk di kursi yang ada di depan minimarket tersebut.


"Mey, kita seperti orang pacaran ya."


"Pengennya. Kita udah punya anak tiga, Kak."


"Ya nggak apa-apa, anggap aja kita masih pacaran."


"Terus anak-anak mau dikemanakan?"


Maliek terlihat sedikit kesal karena istrinya tidak menanggapi bualannya.


"Kak Maliek?"


Suara seseorang yang menghampiri mereka membuat mereka menoleh.


"Kiran."


"Ternyata benar. Tadinya saya kira salah lihat orang." Ujarnya.


"Ini kan perempuan yang waktu itu. Yang katanya adik teman Kak Maliek," batin Meydina.


Kiran yang menyadari kehadiran Meydina, cepat-cepat mangulurkan tangannya.


"Perkenalkan, saya Kiran."


"Meydina."


"Meydina ini istriku," ujar Maliek.


"Oh, maaf."


Dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya Kiran sedang jogging di sekitar tempat itu. Pakaiannya ketat dan juga seksi.


Maliek beranjak dari duduknya, begitu juga Meydina.


"Kita duluan ya," ujar Maliek yang berlalu menuju mobilnya.


"Sayang!" panggil Maliek yang membukakan pintu untuk Meydina.


Meydina tersenyum dan pamit pada Kiran. Dalam hati Kiran bergumam, "Heh, ternyata anak konglomerat pun bisa dibohongi. Dia tidak tahu suaminya punya affair sama sekretarisnya sendiri."


Sementara itu di dalam mobil, Maliek yang sedang fokus mengemudi tiba-tiba memekik.


"Aww! Kamu kenapa, Sayang?" tanya Maliek sambil meringis dan mengusap-usap pahanya yang dicubit Meydina.


"Ada juga ya orang luar yang manggil Kak Maliek seperti Meydina?" delik Meydina.


"Ya ada dong, Sayang. Amiera, Alena, mereka manggil aku, Kak Maliek."


"Bukan mereka. Mereka kan saudari Mey. Yang tadi, perempuan tadi!"


"Oh. Maksud kamu, Kiran?"


"Iya. Seksi gitu, Kak Maliek suka kan?" Tuduhnya.

__ADS_1


"Ini bibir kalau ngomong suka sembarangan," ucap Maliek sambil mencolek gemas bibir Meydina.


"Enggak, Mey. Yang lebih seksi dari dia juga banyak kok. Tapi nggak ada tuh yang bisa ngalahin keseksian kamu. Apalagi kalo udah pake lingerie. Beuh! Anganku melayang, Mey."


Meydina jadi tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Sekali lagi ia mencubit paha suaminya.


***


Menjelang malam, kediaman Salman kedatangan tamu yang tidak terduga. Keluarga Atmadja bertamu dan membuat Meydina juga Laura heran melihatnya.


"Ada apa, Pa?" tanya Laura pada Evan.


"Papa juga belum tahu. Tadi Alvin menelepon dan meminta Om Wira ke rumah ini. Karena kebetulan Papa sama Alena sedang ada di sana, ya sekalian ikut kesini."


"Om juga kaget Mey. Dari tadi meduga-duga ada apa ini sebenarnya," ujar Wira.


"Iya, Mey. Kira-kira kamu tahu nggak?" tanya Nura yang sedang memangku Fatima.


Meydina dan Laura saling bertukar pandangan. Mereka kompak menggelengkan kepala.


Dalam diamnya, Maliek juga merasa heran. Baru saja ia mendapat pesan dari Riky.


📩 Riky [Liek, mertua loe ngamuk.]


"Ada apa ini? Kenapa Ayah Salman ngamuk? Dan kenapa juga Alvin tiba-tiba meminta mereka kesini." Batinnya.


Maliek semakin heran karena pesannya tidak dibalas Riky dan panggilannya pun dialihkan. Saat akan menelepon Alvin, terdengar suara mobil dari luar.


Maliek dan Evan bergegas keluar dan tak lama kemudian terdengar percakapan yang cukup serius di luar.


Wira baru saja akan beranjak dari duduknya saat Salman masuk dan Evan menyusulnya dari belakang. Tapi, kenapa ada Rendy?


"Rendy! Kamu kenapa, Nak?" pekik Nura.


Meydina berlari ke arah mereka. Begitu juga Alya dan Alena yang sedang bermain dengan Amar juga Queena.


"Ren, loe kenapa?" tanya Meydina panik.


Meydina menghampiri Ayahnya.


"Yah, ada apa ini. Siapa yang memukuli Rendy sampai begitu?"


"Tuan Salman, ada apa ini? Ada apa dengan putra saya?" tanya Wira.


Ia menatap miris pada putranya. Alvin dan Amiera terlihat dari ambang pintu.


"Mami!" seru Zein yang sudah dalam dekapan Papinya.


"Amiera, Kak Alvin sebenarnya ada apa ini?" tanya Meydina bingung. Ia memeluk Amiera. Lalu bergantian menggendong putranya yang mulai merengek.


Meydina menciumi wajah putranya. Sementara itu Laura memeluk Amiera.


"Hubby?" tatapan Laura penuh tanya.


"Kita duduk saja dulu," jawab Alvin yang kemudian menggendong putrinya.


"Amal, kakak sudah pulang!" seru Zein yang meronta ingin diturunkan.


Putra sulung Meydina itu berlari kepada adiknya. Amar bersorak sambil memberikan mainannya.


"Amal, kakak punya mainan. Ambil yuk!" Ajaknya.


"Uncle, mainan Kakak ada di mobil. Ambilin, uncle."


"Oke. Ayo!" sahut Aldo.


Aldo membawakan mainan yang sempat dibeli Zein saat jalan-jalan di London. Aldo kemudian membujuk ketiga anak itu untuk mengikutinya ke kamar Zein dan adik-adiknya.


Sementara itu, Salman masih terdiam.


"Yah, ada apa?" tanya Meydina.


Salman menatap sekilas satu persatu wajah-wajah yang hadir di sana.


"Begini, sudah ada kesalah pahaman antara saya dengan Rendy. Saya sudah meminta maaf pada Rendy dan sebagai permintaan maaf saya pada kalian, bagaimana kalau Rendy dan Amiera kita nikahkan." Tegasnya.

__ADS_1


"Apa! Menikah?" pekik mereka hampir bersamaan.


__ADS_2