
Happy reading...
Bising suara anak-anak sudah menggema di pagi buta. Riuh suara mereka seakan ingin menyaingi cicitan burung yang saling bersahutan.
Zein histeris saat Amar mencoba mainan pesawatnya. Tak lama terdengar suara Alvin yang melarang mereka main di dalam rumah. Suara mereka pun terdengar berpindah ke halaman luar. Sayup-sayup pekikan dua jagoan itu masih terdengar.
"Amal! Yang benal dong. Nanti pesawat kakak lusak. Kakak aja, Amal. Kembalikan..."
"Sebentar Kakak, Amar mau coba. Pinjam sebentar."
"Nggak boleh, Daddy. Amal nggak bisa."
Amiera tersenyum tipis manakala suara mereka terdengar. Masih dengan posisinya yang enggan beranjak dari tempat tidur, ia menatap suaminya yang terkekeh sambil membuka gorden jendela kamarnya.
"Mereka memainkan pesawat?"
"Iya. Zein itu lucu ya, dia sepertinya manja. Suka ngatur tapi masih cengeng," kekeh Rendy.
"Kak Rendy mau anak laki-laki atau perempuan?" tanya Amiera pada suaminya yang kini sedang memakaikan pakaiannya.
Mereka memang meminta Dokter yang memeriksa kandungan Amiera untuk tidak memberitahukan jenis kelamin calon anak mereka. Cukup memberitahukan bahwa semua hal dalam kandungan Amiera baik-baik saja.
"Yang penting Mommy sama Baby-nya sehat. Itu sudah cukup bagiku, Sayang. Aku buatkan susu ya," ucap Rendy yang sudah selesai memakaikan pakaian istrinya.
Amiera mengangguk cepat dengan senyum manisnya. Rendy menumpuk bantal agar Amiera bisa bersandar dengan nyaman. Tak lupa ia juga mengecup gemas bibir Amiera sebelum meninggalkan kamar.
***
Sudah beberapa hari sekolah Zein dan Amar libur. Anak-anak itu menghabiskan waktu dengan bermain di rumah. Semua tersedia di kediaman mereka. Jadi tidak ada kata bosan untuk mereka.
Sebelumnya, Maliek pernah berencana memboyong keluarganya berlibur ke luar negeri. Namun melihat Meydina yang sepertinya enggan meninggalkan ayahnya, rencana itupun ia urungkan.
"Uncle, mau itu!" tunjuk Amar.
"Oke," sahut Rendy yang menjinjitkan kakinya untuk memetik buah kersen.
Sambil menunggu Amiera bersiap, Rendy menghampiri anak-anak yang sedang bermain di luar.
"Mau pergi kemana, Ren?" tanya Meydina yang mengikuti langkah Fatima menghampiri kedua kakaknya.
"Ke rumah Mama, terus mau belanja keperluan Baby." Sahutnya.
"Sama Tante Nura?"
"Hmm," angguk Rendy yang kembali memetik buah itu.
"Ikut yuk, Mey." Ajaknya.
"Aku juga mau ke luar, Kak Maliek minta ditemani ketemu klien. Zein juga mau ikut sama Kak Alvin ke rumah Om Evan." Sahutnya.
"Ini, katanya kamu suka banget buah ini." Rendy mengulurkan tangannya yang menggenggam buah kersen.
"Nggak juga. Aku suka itu karena bawaan hamil. Dasar Kak Maliek aja nggak mau ribet metik di pinggir jalan." Sahutnya.
Mulut Meydina spontan terbuka saat Rendy memasukkan beberapa buah sekaligus ke mulutnya. Kemudian Rendy juga memakannya dan memberikan sisanya pada anak-anak.
"Enak?"
"Lumayan.." Sahutnya.
Meydina kemudian mengajak anak-anaknya ke dalam rumah karena mereka akan sarapan. Rendy menggendong Amar dan berlari kecil karena Zein mengejarnya.
"Ayah, ini coba. Mey membuatnya khusus untuk ayah.." Meydina menyodorkan semangkuk hummus, sarapan favorit ala Salman.
"Terima kasih, Mey. Semakin hari kamu semakin pintar ya.." Pujinya.
"Ayah bisa aja," sahut Meydina.
__ADS_1
Salman menatap satu persatu anggota keluarganya. Semua berkumpul pagi ini. Mereka menikmati sarapan kesukaan mereka.
Laura membuatkan pizza untuk anak-anak. Alvin dan kedua menantunya menikmati kopi dan camilan pendampingnya. Amiera sedang membuat roti isi dibantu Meydina yang juga membuatkannya satu.
Salman tersenyum, lengkap sudah kebahagiaannya. Hari ini keinginannya berkumpul bersama anak dan cucu sudah terwujud.
"Kebetulan Pak Aldo datang. Ayo ke sini sarapan, Pak."
"Terima kasih, Nona Mey." Aldo tersenyum pada Meydina.
"Itu siapa?" tanya Amiera pada pria yang mengikuti Aldo dari belakang.
"Tuan, ini..."
Salman mengangguk pelan dan berkata, "Minta dia menunggu sebentar di ruang tamu."
"Baik, Tuan."
"Siapa, Yah?" tanya Meydina yang sekilas menatap pada Aldo dan pria itu.
"Dia dokter yang akan merawatku," sahut Salman pelan dan kembali menyuapkan sarapannya.
Meydina dan kedua saudarinya saling menatap. Begitu juga Alvin dan kedua iparnya. Meydina menghampiri Salman dan duduk di sampingnya.
"Dad..." Alvin juga menghampiri Salman.
Salman menggenggam tangan Meydina dan mengecupnya.
"Maafkan Ayah sudah membuat kalian khawatir. Ayah sudah putuskan akan menjalani perawatan di rumah. Aldo sudah mengurus semuanya, dibantu dengan relasi Said tentunya. Jadi hari ini kamar ayah akan di atur sedemikian rupa karena ada beberapa alat medis yang harus ditempatkan di dalamnya." Tuturnya.
Salman dapat melihat kelegaan dari raut wajah anak-anaknya. Ia tersenyum pada Meydina yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan ayah, Mey." Ucapnya saat Meydina memeluknya.
***
Maliek menepikan mobilnya di halaman parkir rumah makan di dekat salah satu proyeknya. Ia memangku putrinya sementara Meydina menggandeng tangan putranya.
"Mey!" seru seorang pria.
Meydina terlihat menautkan alisnya. Beberapa saat kemudian ia pun mengenali pria yang memanggilnya.
"Putra. Kamu di sini?"
"Waah! Ini benar kamu, Mey? Apa kabar?"
"Kabarku baik. Kamu sendiri bagaimana?"
"Baik, baik.. Mey. Ayo masuk! Selamat pagi, eh siang.. Pak Maliek." Putra mempersilahkan tamunya duduk di kursi yang ada di salah satu sudut rumah makannya.
"Kamu kenal saya?" tanya Maliek heran.
"Siapa yang tidak kenal anda, Pak." Sahutnya canggung.
Maliek menyeringai dan menatap pria yang pamit akan mengambilkan minum untuk mereka.
"Siapa dia?"
"Temannya Rendy. Namanya Putra. Nggak nyangka bertemu dia di sini."
"Kok bisa kenal?"
"Dulu kan Mey pernah kuliah di kampus yang sama walaupun beda angkatan. Teman Rendy ya teman Mey lah, Kak." Sahutnya.
Maliek kembali menoleh dan kebetulan Putra sedang membawakan minuman di atas nampan yang dibawanya.
"Jangan mulai deh, Pi." Ucapnya yang mulai mengerti tatapan Maliek.
__ADS_1
"Enggak kok," kilah Maliek.
"Silahkan. Wah, gantengnya. Siapa namanya, Sayang?"
"Amar, Om."
"Amar, kenalkan Om Putra temannya Mama. Anakmu lucu-lucu, Mey. Mau Om buatkan apa Amar? Adik cantiknya juga, suka apa sayang? Es buah suka nggak? Om buatkan ya," tawar Putra.
"Terima kasih, Om." sahut Meydina.
Maliek menyeringai melihat Putra yang terlihat akrab dengan anak-anaknya. Tidak lama kemudian, ia pun pamit menemui klieannya di area proyek.
Selama menunggu Maliek, Putra menemani Meydina dan bercanda ria bersama kedua anaknya. Tanpa sepengetahuan Putra, Meydina mengirim foto kebersamaan mereka kepada Rendy.
"Hei, siapa ini?" tanya seorang pria yang datang menghampiri mereka.
"Beni?"
"Mey, eh Bu Bos. Apa kabar? Maaf tanganku masih kotor. Halo, jagoan!"
"Halo, Om. Teman Mami juga?" Amar menoleh pada Maminya.
"Iya, Sayang. Namanya Om Beni, teman Uncle Rendy." Sahutnya.
Beni pamit hendak mencuci tangannya dan Putra pamit akan menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Sama Pak Maliek ya, Mey. Tadi aku lihat dia ada di depan kantor lagi ngobrol sama owner."
"Iya. Kebetulan banget ya, hari ini bisa ketemu kamu sama Putra."
"Aku sih sama si Putra ketemu tiap hari, Mey. Lumayan ada teman yang punya rumah makan bisa numpang kasbon dulu, haha.. Coba kalau ada Rendy, kita sekalian reunian ya." Kelakarnya.
"Reunian kok nggak ngajak-ngajak," ujar seseorang dari belakang Beni.
Putra menoleh dan terkejut melihat orang yang baru saja disebutnya sudah ada di sana.
"Uncle! Auntie! Sini," ujar Amar yang menepuk kursi di sampingnya.
"Terima kasih, Amar," sahut Amiera.
Belum hilang keterkejutan Beni, melihat Amiera datang bersama Rendy dan sedang berbadan dua membuat keterkejutannya pun bertambah.
"Kalian..."
"Kenalkan ini istriku, Ben."
"Ren, loe nikah sama Amiera? Kapan, kok nggak ngundang?" tanya Beni.
"Ngapain juga ngundang loe, Beni. Ngarep," sahut Putra yang juga sama terkejutnya namun mencoba menutupi.
"Nggak ada undangan kok. Cuma acara keluarga sederhana aja," sahut Amiera.
"Kok bisa ke sini? Kebetulan atau gimana nih," tanya Putra.
"Tadi aku yang ngirim foto kita, Putra. Kirain nggak akan ke sini. Memangnya kalian nggak jadi belanja?"
"Nanti aja deh, Kak. Pulang dari sini, sekalian temenin ya. Mama lagi ada acara sama Papa di restorannya," sahut Amiera.
"Oke deh, kita belanja keperluan Baby."
"Amar ikut, Mi."
"Iya dong, Sayang. Masa di tinggal," sahut Amiera.
Meydina dan ketiga temannya membicarakan banyak hal. Mulai dari mengenang masa lalu sampai kegiatan mereka saat ini. Sesekali Amiera juga ikut dalam pembicaraan. Mereka ada di sana sampai Maliek selesai dengan urusannya.
__ADS_1
Happy weekend, Readers😊😘