Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
Dia juga cucuku


__ADS_3

Happy reading...


Jika dengan kehadiran dua anak saja suasana didalam mobil sudah sangat berisik, apalagi kalau empat orang? Histeria anak-anak itu membuat Meydina dan Pak Budi geleng-geleng kepala.


Hari ini Meydina mengajak serta Queena dan juga Fatima, putri kecilnya. Ia tidak tega meninggalkan dua gadis kecil itu di rumah melihat kedua jagoannya pergi ke sekolah.


Queena terlihat bersemangat begitu juga Fatima. Keduanya mengikuti Zein dan Amar menyanyikan lagu atau hanya sekedar bersorak gembira.


"Queen, ada temen Kakak sama Amal namanya Rabbit. Nanti kenalan ya."


"Bukan Rabbit, Kak. Zeni, namanya Zenita. Mami nggak suka ah, kakak manggil nama teman dengan panggilan begitu," protes Meydina.


"Rabbit nggak malah kok, Mi." Sahutnya.


"Zeni, Sayang. Bukan rabbit."


"Zeni, Kakak. Rabbit kan telinganya panjang, Zeni enggak. Sama dengan telinga kakak," ujar Amar.


"Iya Zeni, Mami. Ih, Amal diam. Jangan ikut-ikutan Mami." Deliknya.


"Kakak Zein, siapa namanya?" tanya Queen yang merasa bingung dengan perdebatan mereka.


"Namanya Zeni, tapi suka woltel kaya rabbit. Hihi..." Bisiknya.


Queena ikut terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Kita sudah sampai. Yuk, turun! Itu, Zeni juga baru datang," ujar Meydina.


Anak-anak pun turun dengan riangnya.


"Zein, Amar! Wah, ini siapa? Cantiknya," sapa Andre.


"Ini Queen, yang ini Baby Fatum, Om Doktel." Zein memperkenalkan.


"Hai, Queen! Hai, Baby... Kenalkan ini Zenita, putri Om." Ujarnya.


"Om Doktel panggilnya Fatum aja. Jangan panggil Baby," protes Zein.


"Oke,," sahut Andre sambil tersenyum.


Zein meminta Queen bersalaman dengan Zenita. Dan mereka pun dengan riangnya memasuki area playgroup, sekolah mereka.


Queen dan Fatima bermain di area permainan. Meydina dibantu Mbak Uli mengasuh kedua putri cantik itu. Sementara itu, seperti biasa ibu-ibu yang lain hanya sibuk menggunjing sambil sesekali menoleh ke arah Meydina.


Queen memang rencananya akan ikut bersekolah di tempat itu. Namun karena sebentar lagi akan libur, maka pendaftarannya pun diundur.


Sementara itu di kediaman Salman...


Alvin dan Laura baru saja keluar dari kamar mereka. Hari ini mereka berdua akan pergi ke luar karena ada keperluan.

__ADS_1


"Vin, Daddy mau bicara sebentar."


Suara Salman menghentikan langkah keduanya. Alvin berbalik dan mendekati Salman yang sudah duduk di sofa.


"Apa maksudmu dengan mundur dari posisimu dan digantikan orang lain, hah? Mengapa tidak membicarakannya dulu denganku? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan akan mundur tahun depan, jelaskan padaku alasan apa yang membuatmu melakukan ini!" Cecarnya.


Rupanya, orang kepercayaan Salman baru saja memberitahukan tentang Alvin yang melepas jabatan CEO-nya. Salman merasa kesal karena ia tidak dilibatkan dalam keputusan tersebut.


Di sisi lain, Alvin merasa bingung harus menjawab apa. Karena tidak mungkin baginya mengungkap alasan yang sebenarnya. Beruntung saat ia dan Laura bertemu pandang, sebuah ide pun datang.


"Dad, Alvin minta maaf. Alvin tidak bisa menutup telinga dari rengekan Queena yang sudah tidak sabar ingin sekolah di sini. Selain itu, Laura juga berkeinginan membuka cabang restoran orang tuanya di kota ini. Alvin benar-benar minta maaf." Ujarnya.


Salman terdiam mendengar alasan Alvin. Ia mengetahui bagaimana karakter Alvin selama ini. Bagi Alvin, keluarga di atas segalanya. Apalagi ini menyangkut anak dan istrinya.


"Apa kamu yakin bisa mempercayai orang itu? Penggantimu," tanya Salman datar.


"Daddy jangan khawatir. Alvin akan selalu memantau kinerjanya dari sini." Sahutnya.


"Baiklah, jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. Lalu dimana kira-kira kau akan membuka cabang restoran ayahmu, Laura?"


"Ee.. Laura belum tahu pasti, Ayah. Kami akan memcari lokasi yang strategis dan juga konsep yang sesuai terlebih dahulu," sahut Laura berusaha menutupi kegugupannya.


Salman mengangguk pelan dan berkata, "Coba tanya Wira. Dia pasti tahu banyak hal mengenai bisnis itu. Jika sudah ada tempat dan konsepnya, beritahu aku. Aku akan menghadiahkan tempat itu untuk Queena. Carilah tempat yang luas dan bangunlah restoran megah di tempat itu."


"Dad..."


"Tentu, Dad."


"Kalau begitu, mulailah mencari lokasi hari ini sebelum kamu mulai bekerja. Kalau kamu sudah berencana menetap di sini, maka kamu akan memegang kendali perusahaan kita."


"Baik, Dad."


"Pergilah," ucap Salman pelan.


"Terima kasih, Ayah."


"Tidak usah berterima kasih, aku belum melakukan apapun untukmu dan juga Queena."


Setelah berpamitan, Laura dan Alvin meninggalkan rumah itu. Dalam perjalanan, Alvin meminta maaf pada Laura.


"Sayang, maafkan aku. Karena menjadikanmu dan Queen sebagai alasan kepulangan kita."


"No, Hubby. Itu bukan hanya alasan, tapi memang kenyataan. Terima kasih, karenamu aku bisa mewujudkan keinginan orang tuaku. Mereka memang memintaku mengembangkan usaha mereka, tapi selama ini aku masih saja ragu. Berkat dirimu dan juga dukungan ayah, aku sekarang jadi semangat untuk memulainya."


"Syukurlah. Jadi sekarang mau kemana, ke tempat Om Wira atau ke apartemenku sesuai tujuan awal kita?"


"Mmm, aku ingin ke restoran Om Wira."


"Oke, Nyonya. Laksanakan," sahut Alvin yang dijawab senyuman manis oleh istrinya.

__ADS_1


***


Sepeninggalnya Alvin, Salman menghubungi Aldo. Dan saat ini, pria berumur itu sedang menunggu kedatangan Aldo di ruang kerjanya.


Senyum tipis terukir di wajah Salman manakala tatapannya tertuju pada foto Anita muda yang terbingkai di atas meja. Wajah cantik itu mirip dengan Meydina. Hanya saja bentuk mata dan garis wajah Meydina lebih tegas. Mungkin dua hal itu dimiliki Meydina dari dirinya.


Terbayang pertemuan pertamanya dengan Meydina di pesta Bramasta malam itu. Ia mengenali gaun Anita yang dikenakan putrinya tersebut.


Saat ini memorinya sedang memutar kenangannya dengan Anita, saat mereka menikmati indahnya kehidupan di awal pernikahan. Dulu mereka saling mencintai, dan perasaan itu tiada berubah sampai saat ini.


Walaupun dirinya sudah tergantikan oleh Fahri, namun tidak ada yang bisa menggantikan posisi Anita sampai saat ini. Entah akan seperti apa kehidupannya jika kesalahan itu tidak pernah dilakukannya.


Bahagia? Mungkin saja. Hidup bahagia dengan kedua buah hati mereka, Meydina dan juga Badr. Namun apakah ia bisa menjamin kalau Badr akan sebaik dan sepenyayang Alvin?


Dan Amiera, ia juga bersalah pada putri keduanya itu. Amiera memang tidak terdaftar secara hukum. Namun siapa yang perduli, toh semua keluarganya tahu Amiera adalah putrinya.


"Permisi, Tuan."


"Masuklah, Aldo."


Aldo menghampiri Salman sambil membawa beberapa berkas yang di minta tuannya. Ia mencuri pandang pada tuannya yang belakangan ini wajahnya terlihat teduh. Walaupun Salman hanya menganggapnya sebagai kaki tangan, bagi Aldo pria itu adalah panutan.


"Berhenti menatapku seperti itu," ujar Salman tanpa menoleh. Tatapan pria itu terlihat fokus pada berkas di tangannya.


"Ma-maaf, Tuan."


"Apa kamu berfikir aku akan segera mati?"


"Tidak, Tuan. Bagaimana mungkin saya berfikir seperti itu. Saya selalu berdoa semoga Tuhan memanjangkan usia anda." Sahutnya cepat.


Salman tersenyum tipis. Senyum yang belakangan ini sering dilihat Aldo.


"Aldo, menurutmu.. Apakah setelah kepergianku nanti ketiga anakku akan berebut harta warisanku?"


"Tuan, apa yang anda bicarakan? Anda akan kembali sehat. Anak dan cucu Tuan sudah berkumpul bersama. Kebahagiaan yang anda rasakan akan membantu proses kesembuhan anda. Saya yakin itu, Tuan."


"Aku tanya apa, kamu menjawab apa. Hehe.." Kekehnya.


"Maaf, Tuan." Aldo menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, lupakan saja. Oh iya Aldo, dua hari lagi temani aku pulang. Aku ingin mengurus sesuatu di sana. Dan selama kamu tidak ada, Alvin akan mengurus perusahaan."


"Baik, Tuan. Saya akan meminta mereka meyiapkan pesawat," sahut Aldo.


"Hmm, sekarang temani aku minum teh. Kamu mau?"


"Tentu, Tuan."


Salman tersenyum menatap pria yang sudah mengabdi cukup lama padanya itu. Ia bersyukur dikelilingi orang-orang jujur dan memiliki loyalitas yang tinggi sampai saat ini. Ia berharap, loyalitas mereka akan menurun pada pemegang tahta Al-Azmi selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2