
Happy reading...
Pagi yang cerah mengiringi setiap orang memulai aktivitasnya. Dua pasang kaki nampak berdiri menghentikan langkah di tempat yang baru saja mereka tapaki.
Dua anak manusia saling menatap penuh arti. Semangat untuk memulai terpancar dari manik mareka yang berbinar.
"Kakak! Amar! Ayo ke sini! Kok malah diam di situ?"
Meydina berbalik menatap heran pada kedua putranya. Sedari tadi perhatiannya terfokuskan pada pesan yang dikirim suaminya. Ia tidak menyadari kedua putranya berhenti mengikuti langkahnya memasuki halaman sekolah.
"Ayo, Amal!" ajak Zein dengan gerakan kepalanya.
"Oke, Kakak." Sahutnya.
Kedua anak itu berlari kecil sambil berpegangan pada strap bahu tas ransel sekolah mereka. Keduanya berbagi tatapan dengan senyum yang menggemaskan. Sampai tiba-tiba Meydina berseru mengingatkan.
"Amar! Lihatnya ke depan, nanti nabrak o.. rang."
"Mami!" seruan anak sebaya mereka memekakan telinga. Anak laki-laki itu menangis histeris membuat dua bersaudara menatap heran padanya.
"Dia kenapa? Kok nangis ya," ujar Zein pelan sambil membantu Amar berdiri.
"Ada yang sakit, Sayang?" tanya Meydina cepat-cepat mamastikan keadaan putranya.
"Nggak ada, Mi," sahut Amar.
"Kalau jalan itu lihat-lihat!" hardik seorang wanita.
"Mana yang sakit, Nak? Ada yang berdarah nggak? Udah ya, dasar anak-anak nakal!" Ucapnya lagi dengan nada kesal. Berlalu sambil mendelikkan matanya.
Meydina menatap heran tanpa sempat berkata apa-apa. Ia menoleh saat Pak Budi menghampirinya.
"Den Amar tidak apa-apa?" tanya Pak Budi dengan posisi badan yang membungkuk.
Amar menggeleng.
"Tidak apa-apa, Pak," sahut Meydina.
Pak Budi terlihat lega. Meydina mengusap-usap kaki Amar. Sementara kedua putranya menatap heran pada anak laki-laki tadi yang sedang menjulurkan sedikit lidah seperti mengejek mereka.
"Dia kenapa?" tanya Zein pada Amar yang menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Ayo, Sayang!" ajak Meydina yang menuntun tangan Amar dan Zein di tangan lainnya.
"Amar! Zein! Tunggu," seru Zenita yang berlari dari arah mobil Papanya.
"Rabbit!"
"Zeni!"
Kedua anak itu nampak senang dengan kehadiran teman mereka.
"Selamat pagi, Nyonya Maliek!"
"Selamat pagi, Pak Dokter!" sahut Meydina ramah.
"Nggak nyangka ya, Mey. Anak-anak sudah masuk Sekolah Dasar."
"Iya, Dok. Rasanya baru kemarin ya mereka di *p*laygroup."
"Ayo ke dalam!" Ajaknya.
Hari ini merupakan hari pertama kedua anak Meydina duduk di bangku sekolah dasar. Mereka bersekolah di salah satu sekolah bertaraf internasional.
Tidak hanya jadi hari pertama bagi kedua putranya, tapi bagi Fatima hari ini juga jadi hari pertamanya. Dengan ditemani Papi Maliek, gadis cantik yang chuby itu terlihat sangat bahagia di hari pertamanya.
Selain Maliek yang menemani Fatima, Alvin juga ada di sana untuk menemani putri semata wayangnya. Kehadiran dua pria tampan itu bak idol yang memanjakan mata para ibu-ibu muda.
"Liek, gue nitip Queena ya. Bawa ke rumah, nanti sore setelah gue jemput dia."
__ADS_1
"Maksud loe? Loe mau ke kantor sekarang?"
"Iya. Besok gue udah harus berangkat lagi. Jadi Queena akan ditemani pengasuh. Laura cuma ngater, biar pulangnya sama Fatima."
"Jangan dulu pergi, Vin!" Cegahnya.
"Kenapa? Kan ada loe. Gue harus meeting, Liek."
"Diam dulu di sini. Loe nggak lihat, tatapan ibu-ibu itu lebih horor dari Suzana."
Alvin menahan tawanya.
"Kalau mereka daun-daun muda bukan ibu-ibu, loe takut nggak?" goda Alvin.
"Nggak lah. Daun muda kan enak buat lalapan." Deliknya.
"Awas loe ya, kalau berani macam-macam!"
"Emang benar kan? Salah gue di mana?"
"Loe mau daun muda, hah?"
"Sebentar, daun muda? Jadi yang loe maksud daun muda itu..." Maliek tersenyum masam setelah menyadari kekeliruannya.
"Nggak. Gue nggak mau. Sumpah gue ada niatan, Vin." Maliek terkekeh pelan melihat raut wajah Alvin yang nampak kesal.
Tanpa mereka sadari, sikap mereka justru jadi tontonan yang menggemaskan bagi ibu-ibu di kantin yang ada di seberang area permainan.
***
Mobil yang dikemudikan Rendy menepi di depan sebuah butik yang sedang hangat dibicarakan di sosial media. Pria itu turun dan langkah besarnya menuju ke lantai dua bangunan itu.
Beberapa karyawan yang berpapasan menunjukkan rasa hormatnya. Rendy membuka pintu ruangan yang menjadi tempat istrinya bekerja.
"Hai, Sayang!" Sapanya.
Asisten Amiera yang berada di ruangan tersebut pamit dari ruangan. Ia tidak berani ada di sana jika mereka sedang berdua.
"Jangan terlalu lelah, Sayang." Ucapnya sambil menangkup wajah Amiera.
"Ini tidak melelahkan, tapi justru..."
Rendy tidak memberi Amiera kesempatan meneruskan kalimatnya. Tanpa aba-aba ia meraup bibir wanita cantik dihadapannya.
"Mau makan di mana, Sayang?" tanya Rendy mesra saat tautan bibir mereka terlepas. Pria itu menatap wajah Amiera sambil mengusap sisa salivanya.
"Daddy meminta kita makan siang di rumah," sahut Amiera. Wanita itu menarik tengkuk suaminya untuk menikmati kembali ciuman mereka.
Sudah hampir satu tahun Amiera menjalankan butik miliknya. Ia memutuskan menyudahi pendidikannya dan membangun karir di negara ini.
Walaupun belum genap setahun, butik yang dikelolanya berkembang dengan sangat pesat. Sudah banyak kaum sosialita yang menjadi langganannya. Membuat 'Amiera Boutique' kini jadi perbincangan di berbagai media.
Sejak Rendy bekerja di perusahaan Al-Azmi Corp, mereka tinggal di rumah milik mereka sendiri. Rendy dan Alvin juga bahu membahu mengukir nama perusahaan milik Salman semakin berkibar di bidangnya.
Satu bulan sekali Alvin mengunjungi kantor pusat yang berada di Timur Tengah. Banyak hal yang harus dikuasainya agar kelak mudah saat harus membimbing generasi Al-Azmi berikutnya.
***
Sejak kepulangan anak-anak dari sekolah, kediaman Salman kembali ramai. Setiap pagi Baby Arka menemaninya karena ia sengaja meminta Amiera menitipkannya di rumah itu selama bekerja.
Selain agar ia tidak kesepian, Salman juga kasihan pada Nura yang kewalahan dengan cucunya yang kembar.
"Kakek, lihat Fatum gambar apa."
Amar berlari kecil sambil memperlihatkan hasil karya adiknya.
"Apa ini ya? Cacing?" tanya Salman dengan tatapan menggoda pada Fatima.
"Bukan. Kak Amar tebak ini gambar apa?"
__ADS_1
"Ular?"
"Bukan! Ih, nggak ada yang benar." Deliknya.
"Apa dong, Baby?"
"Kakek panggil Fatum 'baby', seperti Kakak." Amar menunjuk pada Zein.
"Kata Bunda tadi di sekolah, ini benang kusut, Kek."
"Oh, benang kusut. Kakek kira itu gambar cacing lagi gulat," kelakar Salman.
"Bukan Kakek!" Fatima ikut tertawa bersama kakeknya. Sementara itu Amar sudah berlalu mendekati Zein dan Queena.
"Amal, tadi di sekolah ada anak aneh ya."
"Iya, aneh."
"Aneh kenapa?" tanya Queena penasaran.
"Masa nggak di apa-apain nangis. Dia yang nablak Amal, dia yang nangis. Aneh kan?" celoteh Zein.
"Nangisnya juga pura-pura," sahut Amar enteng.
"Iya, pula-pula. Dia bilang 'wlee' gitu ya Amal."
"Kalian kenalan nggak sama dia?" tanya Rendy yang sedari tadi menahan senyum mendengar obrolan ketiga keponakannya.
"Ih, nggak mau," decih Amar.
"Iya, kakak juga nggak mau. Aneh," sahut Zein.
"Kenapa? Siapa tahu sebenarnya dia ingin berteman," ujar Rendy.
"Nggak mau, Uncle. Dia aja nggak mau minta maaf sama Amar," ujar Amar ketus.
"Terus gimana dong? Dia kan teman kalian."
"Amal, besok tablak aja dia. Bial impas."
"Jangan dong, mungkin tadi dia nggak sengaja."
"Uncle nggak tahu, Ibunya malah ya Amal? Padahal kita nggak salah, awas aja kalau sekali lagi nablak Amal."
Rendy terkekeh melihat ekspresi wajah Zein.
"Memangnya kakak mau ngapain dia?"
"Kakak bilangin sama kakek, bial dimalahin." Deliknya.
Salman tersenyum mendengar penuturan Zein. Kekayaannya memang tak terhingga, namun kebahagiaan yang dirasakannya justru datang dari senyum dan celotehan mereka.
Bahagia itu sebuah rasa, yang akan selalu menjadi asa setiap manusia. Di setiap takaran yang berbeda, terselip kebahagiaan yang datang dari hal sederhana. Terkadang, melihat orang yang kita cintai bahagia sudah cukup untuk menghadirkan seulas senyum di wajah dan hati kita.
...-end-...
Hai, Readers!
Terima kasih atas semua dukungan kalian. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini. Mohon maaf bila kurang memuaskan🙏
Jangan lupa mampir ke cerita lain dari author ya😊
Ada Jodoh Wasiat Suami dan Majikanku Ayah Anakku.
Cerita ini juga akan ada sekuelnya ya... Maklum authornya belum bisa move on dari mereka😂😂
InsyaAllah akan ada cerita pasangan Riky-Alena, juga cerita anak-anak yang tentunya punya jalan cerita yang berbeda. Nantikan ya😌
__ADS_1
Terima kasih dan sampai jumpa😘😘