
Happy reading...
Hari demi hari berlalu, hubungan Riky dan Alena mengalir begitu saja. Sebisa mungkin Riky menyempatkan waktu bersama kekasihnya.
Rencana pemindahan Riky sebagai orang kepercayaan Maliek di kantor cabang perusahaan, membuat pria itu pastinya akan sedikit sekali memiliki waktu luang. Apalagi kantor cabang itu berada di luar kota.
Entah bagaimana nanti ia mengatur waktunya bersama Alena. Karena semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tanggung jawab yang diemban.
Sebelum hari keberangkatannya, Riky sengaja menghabiskan waktu lebih sering dengan Alena. Seperti malam ini, sepulang kerja Riky langsung mengunjungi rumah kekasihnya itu.
Malam mulai larut, suasana rumah sudah sangat sepi. Asisten rumah tangga sudah sedari tadi masuk ke kamarnya. Membiarkan nona rumah berdua bersama kekasihnya.
Dalam keheningan itu, ada nafas yang memburu. Televisi yang dibiarkan menyala seolah menjadi saksi dua sejoli yang sedang terbuai di sudut sofa.
Keduanya terlena seolah dunia ini hanya milik mereka. Pagutan bibir yang terlepas, menandakan mereka sudah hampir kehabisan nafas.
"Sudah malam, Kak," bisik Alena dengan nafasnya yang terengah mengecup lembut rahang pria-nya.
"Baru juga jam sembilan, Sayang," sahut Riky yang kemudian mengecup pundak wanita yang terduduk di atas kedua pahanya.
Alena tertunduk menyembunyikan wajahnya pada tengkuk leher Riky. Tangannya melingkar erat di leher pria itu. Riky tersenyum mendapati kekasihnya yang bersikap manja. Hatinya semakin berat meninggalkan Alena.
"Kalau Papa pulang bagaimana?" tanya Alena pelan sambil menatap lekat pada kedua manik Riky.
"Ya nggak apa-apa. Lebih bagus malahan kalau aku bisa bertemu Papamu. Susah sekali mengatur waktu bertemu dengannya," ujar Riky.
"Memangnya Kak Riky mau bilang apa sama Papa?"
"Aku mau meminta restunya untuk memiliki kamu sepenuhnya, Sayang," sahut Riky pasti.
Sambil tersipu, Alena kembali menyembunyikan wajahnya yang merona. Riky memeluknya erat, membiarkan kedua kaki Alena melingkar di pinggangnya.
"Pegal nggak?" Bisiknya malu-malu.
"Enggak," sahut Riky disertai gelengan kepala.
"Katanya Alena berat?"
"Mmm, waktu pertama sih iya. Tapi kok sekarang jadi enggak ya?" Kilahnya.
"Kak Riky bisa aja," ujar Alena dengan senyumnya yang malu.
Jika sedang begitu, Alena yang periang seketika jadi gadis yang lugu. Raut wajahnya yang ceria, berubah menjadi pemalu. Tentunya perubahan itu ditunggu oleh Riky yang selalu merindu.
__ADS_1
Sebuah notifikasi pesan masuk dan Alena membacanya. Gadis itu mengulumkan senyum saat membacanya.
"Siapa? Kok bacanya sambil senyum-senyum begitu," ucap Riky dengan tatapan curiga.
"Papa.."
"Bilang apa Papamu?" Riky pun membaca pesan yang diperlihatkan Alena.
"Papa tidak pulang malam ini," ucap Alena.
"Wah, haruskah aku mengambil kesempatan emas ini?" tanya Riky dengan sorot mata yang menggoda.
Sebagai salah satu PM yang memegang tanggung jawab sebuah proyek, Evan memang kerap memantau langsung di lapangan. Tidak terkecuali memantau proses pengecoran yang biasanya dilakukan pada malam hingga dini hari seperti saat ini.
"Kak Riky akan menginap?"
"Kamu mau aku menginap?" Riky balik bertanya.
Alena tidak menjawabnya. Sorot matanya terlihat bingung harus menjawab apa.
"Aku tidak akan menginap, Sayang." Ucapnya sembari menyelipkan rambut Alena ke belakang telinga.
"Kenapa?" tanya Alena spontan. Gadis itu langsung terlihat malu menyadari sikapnya.
"Hehe, hanya menguji." Kilahnya.
"Kita jangan mengecewakan Papamu. Kalau nanti sudah halal, aku akan pastikan kamu akan kesulitan keluar kamar," ujar Riky setengah bercanda.
"Memangnya mau ngapain di kamar terus? Bosan."
"Ooh, jadi kamu ingin di sofa begini ya? Atau mungkin di kamar mandi? Di dapur juga boleh biar ada variasi dan juga sensasi yang berbeda. Atau mungkin, di meja kerjaku? Atau..."
"Ish, apaan sih? Kak Riky pikirannya menjurus terus. Dasar emang piktor, pikiran kotor." Deliknya.
"Yee emang apaan coba?"
"Apa? Itu kan?"
"Itu, apa?"
"Ya.. Itu." Sahutnya malu.
"Kamu tuh yang piktor. Aku lagi ngomongin bersih-bersih, Sayang. Kali aja kamu bosan bersihin kamar, ya udah kamu bersihin kamar mandi, sofa, dapur, meja kerjaku.. Begitu lho maksudku."
__ADS_1
"Ah, bohong. Tadi bilang variasi sama sensasi, apa coba maksudnya?" tanya Alena tak mau kalah.
"Itu, ya... Gitu deh."
"Tuh kan.." Alena memukul gemas pundak Riky. Pria itu terkekeh pelan sambil menatap wajah Alena yang bersemu merah.
Waktu terus berlalu, dengan berat hati Riky harus pergi. Jika mengikuti kata hati, tentunya ia ingin menemani kekasihnya malam ini. Namun ia tidak mungkin mengingkari janji yang dibuatnya sendiri, yakni akan menunggu sampai Alena berstatus sebagai istri.
Bisa saja ia menginap. Akan tetapi siapa yang bisa menjamin godaan itu tidak akan menyergap. Mau tak mau Riky harus mencari jalan aman, agar ia tidak menyesal kemudian.
Sekali lagi mereka menautkan bibir mereka. Saling menukar saliva dengan permainan lidah di dalamnya. Walau sudah hampir kehabisan nafas, mereka seolah tak rela jika pagutan itu sampai terlepas.
"Aku harus pulang sekarang, Sayang," ucap Riky dengan suara yang berat. Pria itu takut kehilangan kendali atas dirinya yang sudah semakin terbawa b*rahi.
"Jangan pulang, Kak." Pintanya dengan nafas yang terengah.
"Jangan begini, Sayang. Nanti kita bisa kebablasan," ucap Riky pelan.
Riky tidak bisa menolak saat Alena menciumi bagian leher, wajah, dan telinganya. Sebisa mungkin ia menahan hasratnya yang bisa saja menggelapkan matanya.
Tidak lama kemudian Riky menautkan alisnya. Tidak mengerti dengan sikap Alena yang menghentikan aksinya dan menatapnya penuh tanya.
"Kenapa, Sayang?" Tanyanya heran.
"Ish, Kak Riky. Kenapa keras begitu sih?" tanya Alena polos sembari beranjak dari atas paha Riky.
Riky melongo dengan wajah yang bersemu. Ia menatap tak percaya pada Alena yang duduk seakan menjauhinya. Tak lama ia menyeringai, menyadari kepolosan Alena.
"Ini mengeras karena ulah kamu lho, Sayang. Ayo tanggung jawab," goda Riky sambil menunjuk pada resleting celananya yang menggembung.
"Idih apaan. Kok nyalahin Alena," sahut Alena datar.
"Bener nih nggak mau tanggung jawab? Nanti kamu nggak bisa tidur karena menyesal," ujar Riky masih dengan nadanya yang menggoda.
"Enggak ah," sahut Alena mengelengkan kepala.
Riky terkekeh melihat sikap Alena.
"Iya, deh. Nggak apa-apa. Tapi lain kali kalau begini lagi, tanggung jawab lho ya."
Alena membuang mukanya, menhindari tatapan Riky. Tak berselang lama, Riky pun pamit pulang. Alena mengantar sampai pintu gerbang dan mengakhiri malam mereka dengan lambaian tangan.
Sepanjang perjalanan, raut wajah Riky tak lepas dari senyuman. Ia bahkan sampai mengusap wajahnya mengingat kejadian yang baru saja dilewatinya bersama Alena.
__ADS_1
Kali ini, satu kesempatan telah dilewatkannya. Hampir saja ia menodai perasaan cintanya dengan nafsu semata. Riky membuang nafasnya pelan. Berharap bisa segera mengikat Alena dengan ikatan pernikahan.